Langsung ke konten utama

Sastra dan Kuliner

Yusri Fajar *
KOMPAS, 27 Okt 2013

Sastra dan kuliner berhubungan tidak hanya dalam hal yang bersifat material dan fisikal, seperti bagaimana tokoh-tokoh dalam karya sastra mengonsumsi dan menikmati makanan, tetapi juga bersifat sosial kultural, yaitu bagaimana tokoh-tokoh tersebut mengonstruksi identitas budaya dan prinsip hidup mereka melalui makanan. Khazanah kuliner lokal, tradisional hingga modern, membangun citra tokoh dan lanskap kultural dalam karya sastra.

Dalam kajian sastra dan kuliner (literary and culinary studies), makanan dapat dilihat sebagai medium untuk membangun karakterisasi tokoh. Identitas lokal dan nasional dari tokoh bisa digambarkan melalui kecenderungan melestarikan makanan berakar lokal dan nasional dengan cara memasak, menghidangkan, hingga menikmatinya. Namun, dalam karya sastra bertema urban dan metropolitan, berbagai jenis makananfast food bisa menggambarkan gaya hidup tokoh-tokohnya sehingga citra tokoh menjadi modern dan kosmopolitan. Dalam sastra Indonesia, kajian sastra kuliner akan menarik karena kalau ditelisik beberapa karya mengandung isu-isu kuliner yang menyatu dengan tema yang digarap pengarang.

Dalam novel Pulang (KPG, Desember, 2012) karya Leila S Chudori, misalnya, dunia kuliner memainkan peran penting karena novel ini berkisah tentang kehidupan para eksil politik Indonesia di Eropa, khususnya Paris, Perancis, yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi dan budaya tanah air mereka, Indonesia. Untuk membangun relasi antara tanah kelahiran dan negeri tempat pengasingan serta menghidupkan memori dan nostalgia di kampung halaman, kuliner khas Indonesia digambarkan dengan dipadu unsur budaya lain, kesenian tradisional Indonesia, seperti wayang dan musik/lagu tradisional.

Kecintaan dan kerinduan tokoh eksil seperti Dhimas Suryo (dalam novel Pulang), yang menikah dengan perempuan Perancis bernama Vivienne, terhadap Indonesia dijembatani dengan deskripsi kebiasaan Dhimas untuk mengonsumsi dan memasak makanan-makanan khas Indonesia.

Kuliner dan identitas budaya

Pada konteks konstruksi identitas budaya, eksil Indonesia berupaya mempertahankan identitas dan selera kulinernya dengan membuka restoran Indonesia ”Tanah Air” di Paris yang menyajikan makanan-makanan khas Indonesia, seperti nasi kuning, tempe kering, ayam goreng kuning, kentang iris pedas, rendang padang, gulai pakis, dan gulai anam. Di tengah dominasi makanan khas Eropa dan kehidupan Barat yang harus dihadapi serta diadaptasi, tokoh-tokoh eksil yang digambarkan Leila S Khudori memiliki militansi untuk menunjukkan budaya Indonesia dan tetap mempraktikkannya. Perjuangan berat para eksil politik 1965 dalam menghadapi tekanan dan teror Pemerintah Orba terasa makin berat di Paris karena untuk mengobati kerinduan melalui makanan mereka harus mengeluarkan biaya lebih mahal demi membeli bumbu-bumbu semacam cabai merah, bawang merah, kunyit, jahe, daun jeruk, daun salam, dan bawang putih. Apalagi, tidak mudah mendapatkan bahan-bahan untuk bumbu tersebut.

Negosiasi identitas melalui kuliner digambarkan oleh Leila melalui tokoh gadis keturunan Indonesia-Perancis bernama Lintang (anak Dhimas Suryo dan Vivienne) yang berkata, ”Un très bon plat, Ayah!” (”enak sekali, Ayah!”) (hal 101) ketika dia menikmati masakan khas Indonesia yang dibuat Dhimas Suryo. Superioritas Barat yang dalam tradisi post-kolonial masih sering melekat dalam diri orang-orang Barat dan inferioritas budaya yang sering distereotipkan untuk orient dengan sendirinya terdekonstruksi dalam hal ini. Lebih jauh, Dhimas Suryo menunjukkan superioritasnya dalam urusan meracik bumbu (resep makanan Indonesia/oriental) dengan melarang Vivienne mengotak-atik urusan bumbu.

Identitas Indonesia yang ingin ditunjukkan tokoh eksil Indonesia melalui urusan bumbu ini memberikan kesan bahwa praktik budaya membutuhkan pengetahuan dan kebiasaan dari pelaku budaya yang membawa akar budaya Indonesia. Bahkan dikisahkan, untuk menggerus bumbu tersebut, Dhimas menggunakan ulekan batu yang dikirim dari Indonesia. Begitu penting representasi kuliner di negeri orang hingga Leila S Chudori memberikan narasi dalam novel Pulang bahwa ”Restoran Tanah Air adalah duta kebudayaan di Paris yang sesungguhnya.” (hal 122).

Metafora kuliner

Jika novel Pulang lebih menekankan bagaimana kuliner mengonstruksi identitas kultural tokoh-tokoh di dalamnya, cerpen karya Damhuri Muhammad yang bertajuk Lelaki Ragi dan Perempuan Santan (Kompas, 29 September 2013) bisa digunakan sebagai contoh karya yang menggunakan khazanah kuliner sebagai metafora yang menjiwai cerita. Cerpen Damhuri berkisah tentang dinamika cinta dua anak manusia yang termetaforakan melalui makanan khas Sumatera Barat bernama lemang-tapai yang harus disantap secara berpasangan. Filosofi ”lemang” berhubungan dengan kesementaraan.
Sementara ”tapai” mewakili keabadian yang jika keduanya dipadukan akan saling melengkapi. Si pemuda dalam cerpen ini memilih bersetia menanti gadis pujaannya yang selalu mengirimkan lemang-tapai.

Pilihan yang melambangkan kesetiaan atas penantian dan keabadian cinta. Sang pemuda tak menghiraukan kiriman gulai kentang yang melambangkan pinangan dari gadis-gadis lain sebagaimana ditegaskan Damhuri dalam cerpen ini, ”Kuah yang kental, kentang yang kempuh sempurna, bagai mencerminkan kesungguhan niat dan ketulusan perasaan keluarga yang hendak beroleh menantu.” Penggalian makna kuliner berakar lokal yang dilakukan Damhuri makin memperkuat aspek estetis cerpen.

Metafora ”lelaki ragi” dan ”perempuan santan” mencapai kulminasi metaforisnya ketika tapai dan santan dikaitkan dengan perkembangan hubungan kedua anak manusia dari satu daerah itu yang mengalami keretakan. Si gadis pergi setelah mendapatkan godaan pekerjaan, yang masih ada kaitannya dengan dunia makanan, yaitu sebagai kasir restoran dan akhirnya menikah dengan induk semang tanpa memberitahu si pemuda yang setia menantinya. Lemang yang ditanak dengan santan digunakan Damhuri untuk menggambarkan ketidakabadian, bahkan pengkhianatan yang dilakukan oleh si gadis.

Dan, ragi yang menjadi bahan wajib untuk membuat tapai (yang makin diperam makin manis rasanya) menjadi metafora jati diri dan kesetiaan si pemuda dalam mencintai si gadis. Si pemuda bahkan hingga di akhir cerita memilih untuk tidak menikah sehingga ibunya sampai memiliki asumsi bahwa anaknya itu masih memendam rasa cinta dan ingin menunggu si gadis pujaannya yang telah menikah.

Metafora kuliner dalam cerpen Damhuri dengan demikian memiliki peran penting, tidak hanya berkaitan dengan bagaimana meracik estetika dan teknik penceritaan melalui metafora makanan yang dikaitkan dengan karakterisasi tokoh, tetapi juga untuk menggerakkan plot dan menghadirkan ketegangan serta konflik dalam cerpen. Sebagai bagian dari fenomena kebudayaan yang telah lama mengakar di bumi Nusantara, tentunya kuliner Nusantara bisa menjadi bahan kreatif penulisan yang makin memperkaya identitas sastra Indonesia. ●

*) YUSRI FAJAR, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya.
https://jiwasusastra.wordpress.com/2015/08/05/sastra-dan-kuliner/

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com