Langsung ke konten utama

MENOLAK KONON: SEBUAH PERTANGGUNGJAWABAN

Editor: Maman S Mahayana

Guna mengetahui serba sedikit proses penyusunan buku ASPI, berikut saya sertakan semacam Pertanggungjawaban Editor. Silakan dicermati.
“Penyair yang baik adalah penulis esai yang baik!” Ini bukan konon! Tetapi, begitulah keyakinan Sapardi Djoko Damono, salah seorang penyair terkemuka kita yang hingga kini masih terus berkarya. Maka, kita dapat melihat, esai-esai yang ditulis Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri atau Goenawan Mohamad—sekadar menyebut tiga nama—nyaris selalu hadir dengan penyajian yang mengalir lancar, renyah, dan sedap. Di sana, dalam esai-esai mereka, kalimat, ungkapan atau idiom, bahkan juga kata-kata tertentu kerap begitu trengginas, lincah, gesit, dan kadang kala juga tajam, keras, dan nyelekit, meski dikemas secara metaforis. Hampir selalu ada informasi baru dan ungkapan atau metafora yang segar dan inspiratif dalam esai-esai mereka.

Pernyataan Sapardi tadi terbukti banyak benarnya ketika kami—tim editor buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (selanjutnya disingkat: ASPI)—menghadapi hampir 900 email yang masuk yang berisi biodata para (calon) penyair Indonesia yang ditulis dalam bentuk esai. Sebagian besar penyair yang baik, biodatanya juga baik. Dengan begitu, editor tak perlu bekerja keras mengeditnya lagi. Hanya, dilakukan penyesuaian dan pemangkasan serba-sedikit dengan pertimbangan proporsionalitas, agar biodatanya tidak terlalu domplang dengan biodata penyair lain. Editing dilakukan sebatas pengurangan jumlah kata dan persoalan teknis penulisan.

Ketentuan dalam “Maklumat kepada Penyair Indonesia” yang disampaikan melalui facebook, whatsApp, dan media sosial lainnya, menetapkan, bahwa biodata yang ditulis dalam bentuk esai itu panjangnya tidak lebih dari 500 kata. Kenyataannya, kami menghadapi begitu banyak esai yang ditulis melebihi jumlah kata yang telah ditentukan. Tidak sedikit dari mereka itu yang bercerita tentang proses kreatif, tema puisi, keadaan rumah tangga, karier suami, kegemarannya menulis puisi sejak kecil—lalu berceritalah tentang masa kecilnya—dan kegiatan lain yang tidak ada hubungannya dengan puisi dan kepenyairan. Akibatnya, beberapa esai itu ada yang panjangnya bisa lebih dari lima belas halaman dengan jumlah kata mencapai 8000 kata. Wow!

Begitu banyak biodata yang dikirim langsung lewat e-mail ke alamat bukupuisi@gmail.com tanpa melewati kurator yang ditunjuk dan dimintai tolong memilih, memilah, dan memeriksa kebenaran data yang ditulis mereka, penyajiannya sebagian agak berantakan. Persoalan teknis penulisan yang sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), hasilnya jauh panggang dari api; kejernihan kalimat yang bersih dari informasi yang tidak relevan dengan dunia kepenyairan, masih bertaburan di sana-sini; data publikasi yang berkaitan dengan penerbitan buku, kerap diabaikan; penyusunan kalimat dalam membangun alinea dalam konteks kepenyairan, masih terseok-seok, dan pencantuman nama suratkabar dan majalah, terkesan sebagai senarai media massa cetak. Mirip daftar koran dan majalah di lapak penjual koran pinggir jalan yang menyediakan media massa cetak itu. Untungnya mereka tidak menyertakan daftar harganya sekalian.

Jika sudah begitu, timbul pertanyaan: apakah itu yang dimaksud Chairil Anwar, “Carilah makna kata sampai ke putih tulang?” Artinya, bagi penyair perlu kesadaran, bahwa senjata utama mereka adalah kata, kalimat–bahasa. Maka, kosa kata atau kata apa pun, janganlah mudah dimuntahkan begitu saja. Setiap kata ditapis, disaring, diolah, dipertimbangkan, dan dibenturkan dengan kata lain. Terjadi perkelahian dan perebutan kekuasaan antara kata yang satu dengan kata lain. Oleh karena itu, diandaikan, bahwa setiap kata yang hadir dalam sebuah puisi (yang baik), telah melewati seleksi dan pertimbangan yang sangat serius. Jadi, tidak sekadar jeplak! Nah, jika membedel dagingnya pun mereka belum berhasil, bagaimana mereka dapat menguak makna kata sampai ke putih tulang? Pembiasaan menapis kata, memilih diksi, dan menyandingkan dengan kata atau ungkapan lain, atau menawarkan metafora atau idiom baru yang lebih segar, bagi penyair boleh dikatakan harus sudah menjadi habitus. Maka, ketika ia menulis esai, pembiasaan itu mengalir atau mencelat begitu saja, karena dalam isi kepalanya, kata-kata terbiasa berloncatan, bersenda-gurau, kadang-kadang ngumpet atau saling mencakar.

Seperti sudah disebutkan, sebagian besar biodata yang dikirim dalam bentuk esai itu, celakanya (atau lucunya?) ditulis secara berpanjang-panjang. Jadi, cenderung tidak menarik. Kami sangat menghargai niat baik dan usaha mereka memperkenalkan diri secara lebih lengkap. Tetapi kami sangat mempertimbangkan secara serius perkara jumlah halaman, ketebalan buku, dan proporsionalitas.

Di samping perkara tadi, ada pula penyair yang mengirimkan biodatanya dalam bentuk daftar riwayat hidup: Nama, Tempat Tanggal Lahir, Alamat, Daftar Karya, 1, 2, 3, dan seterusnya. Maka, editor bertugas menyusunnya kembali dalam bentuk esai. Jadi, pekerjaan editor tidak hanya memperbaiki teknis penulisan—yang sesuai dengan PUEBI, model penyajian, jumlah kata yang proporsional, tetapi juga membersihkan kalimat-kalimat yang buruk, tulalit, berantakan, dan tersengal-sengal. Mereka mesti disusun kembali dengan bahasa yang lebih cair dan tidak terkesan narsistik.

Itulah masalah yang sungguh berat dalam penyusunan buku ASPI ini: memangkas jumlah kata, memperbaiki dan membersihkan kalimat dari noda hitam, dan melakukan penyeragaman dalam teknis penulisan. Persoalan lain berkaitan dengan waktu penerbitan dan rencana peluncurannya yang sudah ditetapkan 4 Oktober 2017. Idealnya, penyusunan buku sejenis ini, perlu waktu lebih longgar dan dikerjakan dengan nyaman dan bahagia. Tetapi fakta berbicara lain.

Meskipun demikian, kami –termasuk Rida K Liamsi, salah seorang penggagas penyusunan buku ASPI ini—tetap bertekad hati dan bersiteguh menerbitkannya tepat waktu. Apalagi jika mengingat, bahwa buku yang memuat khusus biodata penyair Indonesia, sejauh ini, belum ada –dan mungkin juga tidak akan pernah ada. Dalam hal itulah pentingnya buku ini disusun dan diterbitkan. Mungkin suatu hari kelak, ada orang yang menyusun buku sejenis ini. Boleh jadi juga pemerintah, entah melalui Balai Pustaka yang makin senyap keberadaannya atau lewat Badan Bahasa, punya keberanian untuk menyusun buku biodata khusus penyair. Tetapi, pertanyaannya, kapan itu terjadi? Menunggu lebaran kuda? Tidak perlulah kita berharap banyak pada pemerintah, sebab sampai kini pun penghargaan pemerintah pada penyair—sastrawan dibandingkan pada para atlet atau selibritas, cenderung lebih kerap menyakitkan daripada memberi kebahagiaan. Nah, menunggu pemerintah menerbitkan buku sejenis ini, rasanya tidak beda dengan tindakan menunggu godot. Jadi, lupakan sajalah!

Memang, kita pernah berjumpa dengan buku-buku sejenis, sebagaimana yang disusun Pamusuk Eneste (Gramedia, 1982; Djambatan, 1990; Kompas, 2001), Korrie Layun Rampan (Balai Pustaka, 2000), Ahmadun Y. Herfanda, dkk (DKJ, 2003), Pusat Bahasa (2003), dan Hasanuddin WS (Titian Ilmu, 2004). Tetapi, buku-buku itu tidak khusus memuat biodata para penyair Indonesia. Dalam buku yang pernah terbit itu, novelis, cerpenis, dramawan, peneliti asing, penerjemah, bahkan juga nama peristiwa dan istilah sastra, termuat di dalamnya. Meskipun begitu, semua buku yang disebutkan tadi, ditambah dengan buku-buku dan referensi lain, tetaplah penting dan menjadi rujukan penyusunan buku ini. Dalam beberapa kasus, kami juga membuka Wikipedia sebagai informasi awal. Dari sana dicari sumber lain yang lebih terpercaya.

Dalam beberapa buku antologi puisi bersama, seperti Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968), Laut Biru Langit Biru (1977), Tonggak 1—4 (1987), Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002), Kalimantan Timur dalam Sastra Indonesia (2011), Negeri Poci 1-4 (2016), Yang Tampil Beda setelah Chairil (2016), Matahari Cinta Samudera Kata (2016), dan sejumlah buku lain yang sejenis, ada juga biodata beberapa penyair. Tetapi tentu saja, selain biodatanya terlalu ringkas, juga jumlah penyair Indonesia yang tercantum di sana, tidak sebanding dengan kenyataannya. Tambahan pula, belakangan ini, buku-buku puisi berterbitan di mana-mana, dan kegiatan baca puisi merembet dan meluas ke berbagai daerah di seluruh Indonesia, maka sangat mungkin dinamika dan kegairahan berpuisi dan kiprah para penyair dalam menerbitkan buku puisi, telah mengubah peta kesusastraan kita, khususnya dunia perpuisian Indonesia. Betapapun kecil kiprah dan peranannya, semangat memberi apresiasi pada kinerjanya, sepatutnya disematkan pada mereka. Dalam konteks itulah—salah satunya—yang menjadi bahan pertimbangan penerbitan buku ASPI ini, mesti segera diwujudkan.
***

Di tengah pudarnya pamor media cetak, bahkan beberapa di antaranya sudah betul-betul almarhum, di antara gonjang-ganjing pemberlakuan pajak yang absurd dan tidak masuk akal untuk para penulis buku, dan makin enggannya beberapa pihak—terutama penerbit—menerbitkan buku sejenis ini, bahkan juga buku-buku sastra pada umumnya, Yayasan Hari Puisi—seperti kata pepatah Melayu: “Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang!” merasa perlu menerbitkan buku ASPI dengan tujuan—terutama—memberi apresiasi pada para penyair kita, baik yang baru muncul dan tumbuh berkembang, maupun yang sudah almarhum. Tujuan lain adalah sebagai usaha pendataan, seberapa banyak bangsa Indonesia melahirkan penyair, berapa banyak pula buku puisi yang sudah terbit, bagaimana pula pemetaan penyair kita di berbagai kota di Indonesia, dan seterusnya, dan seterusnya.

Untuk menjangkau nama-nama penyair di berbagai daerah, kami meminta bantuan beberapa sahabat—penyair yang mengetahui peta kepenyairan di daerahnya. Mereka, antara lain, Amin Wangsitalaja (Samarinda), Anwar Putra Bayu (Palembang), Badaruddin Amir dan Gunawan Monoharto (Barru dan Makassar), D. Kemalawati dan Helmi Has (Aceh), Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Gunoto Sapari (Semarang), Isbedy Stiawan (Lampung), Iverdixon Tinungki (Manado), Iyut Fitra (Padang), Kurniawan Junaedhie (Jakarta), Micky Hidayat dan Jamal T Suryanata (Banjarmasin), Nurel Javissyarqi (Lamongan), Ramayani Riance (Jambi), Ramon Damora (Batam), Syaifuddin Ghani (Kendari), Suryadi San (Medan), Tjahjono Widarmanto (Ngawi), Warih Wisatsana dan Wayan Jengki Sunarta (Bali), Yo Sugianto dan Umi Kulsum (Yogyakarta), Yohanes Sehandi dan Julia Daniel Koten (NTT), dan beberapa nama dari daerah lain yang dengan suka rela mengirimkan biodata para penyair yang dikenalnya –mohon maaf jika ada nama yang luput disebutkan di sini.

Indonesia sebagai bangsa yang begitu beragam dengan wilayah yang luar biasa luasnya, mustahil mengabaikan peranan tokoh-tokoh dari berbagai kota dan pelosok Tanah Air. Di sinilah para kurator dan kontributor dari berbagai daerah itu sangat penting. Tetapi, mereka juga terkendala oleh keterbatasan ruang dan jangkau komunikasi. Oleh karena itu, sangat mungkin masih banyak nama yang tercecer, yang luput dari pengamatan atau rikuh dan berbesar hati untuk tetap berkiprah di wilayahnya, tanpa mesti terpublikasikan namanya ke luar wilayah tempat mukimnya.
***

Sebagai usaha pendataan, buku ini tidak berpretensi melegitimasi kepenyairan seseorang. Harus diakui, masih berlaku pernyataan: “Banyak penulis puisi, tetapi sedikit yang menjadi penyair!” Buku ini tidak dapat menghindar dari pernyataan itu. Meskipun begitu, pernyataan Chairil Anwar yang mengatakan: “Yang bukan penyair, tidak perlu ambil bagian” tidak berlaku bagi penyusunan buku ini. Sesiapa pun, punya hak menulis puisi, punya hak pula menjadi penyair. Perkara bagus atau berbobot tidaknya puisi mereka, biarlah publik sastra sendiri yang menilainya. Tetapi, kami merasa perlu mengapresiasi langkah mereka yang menulis puisi—apalagi menerbitkannya dalam bentuk buku. Nama-nama mereka dengan sejumlah karyanya, perlu didata, dicatat, dan diapresiasi, bahwa mereka pernah mempublikasikan puisi-puisinya dan menerbitkannya dalam bentuk buku. Mereka mesti ditempatkan sebagai bagian dari kepenyairan Indonesia. Maka judul “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” tidak berarti semua yang menjadi entri buku ini, sudah menjadi penyair (mapan), melainkan apa yang mereka lakukan, peranan dan keterlibatannya dapat dianggap: tidak terpisahkan dengan dunia kepenyairan Indonesia. Itulah yang menjadi dasar pemikiran pilihan judul tersebut.

Apakah nama-nama mereka layak dimasukkan sebagai entri buku ini? Tentulah sangat layak, tokh penerbitan buku ini penekanannya bukan sebagai alat legitimasi kepenyairan, melainkan sebagai usaha pendataan yang boleh jadi lebih lengkap dibandingkan dengan buku-buku sejenis yang pernah ada. Jadi, tak perlulah merasa diri lebih layak dan memandang orang lain, tidak layak. Cara bersikap seperti itu, selain terkesan arogan dan sok hebat, juga tidak mencerminkan sosok penyair sejati yang berjiwa besar: rendah hati dan menghargai setiap pekerjaan apa pun, sejauh untuk kebaikan umat manusia.

Begitulah, masuknya nama-nama yang mungkin belum layak disebut penyair sebagai entri buku ini, tokh tetap tidak akan menghancurkan reputasi dan kewibawaan para penyair besar kita. Penyair yang lewat karyanya menempatkan namanya sebagai tonggak dalam sejarah perpuisian Indonesia, tetap saja namanya menjulang sebagai tonggak, meski ia dikepung dan dikerubuti oleh para penyair kacangan atau calon penyair. Lalu mengapa harus risau dengan nama-nama baru, nama-nama yang belum dikenal atau nama-nama yang termasuk sebagai penggembira? Menunjukkan jiwa besar, bersikap bijaksana, dan terbuka menerima kedatangan calon penyair dan para penulis puisi lainnya, jauh lebih mustahak dibandingkan berpikir sempit menempatkan diri sebagai lalat dalam gelas. Santai sajalah, tokh waktu jualah yang nanti akan menyeleksi kiprah kepenyairan mereka dalam konstelasi perpuisian Indonesia.

Meskipun demikian, jangan salah duga pula menganggap para editor dan kurator berpangku tangan dan membiarkan semua data yang dikirim lewat e-mail dimasukkan begitu saja tanpa seleksi. Pertimbangan mereka diminta mengirimkan biodata + foto terbaru, semata-mata agar kami memperoleh data lebih lengkap dengan foto terbaru. Kami sangat menyadari, bahwa para penyair mapan yang malas, emoh atau tidak mau mengirimkan biodatanya, akan mengabaikan seruan kami. Ya, tidak apa-apa. Tokh kami juga punya data mereka, baik yang terdapat pada buku-buku antologi puisinya, maupun buku antologi puisi bersama. Buku-buku yang digunakan sebagai referensi dalam penyusunan buku ASPI ini, juga menyediakan data mereka. Jadi, begitulah. Semua data itu diperiksa, dicermati, ditapis, dan diseleksi lagi. Ada proses pemilahan dan pemilihan. Tidak samabruk, tidak asal masuk! Adapun prosesnya dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, semua data yang dikirim lewat e-mail diunduh dan disusun kembali secara alfabetis. Pilihan penyusunan berdasarkan urut abjad, selain paling aman, juga lebih mudah dibandingkan dengan penyusunan urut kacang (kronologis) berdasarkan urutan tarikh lahir. Meskipun cara ini lebih mudah, di dalam proses pengunduhan dan penyusunannya, persoalan data yang masuk ke empat e-mail yang tersedia, terkendala oleh lambatnya para penyair mengirimkan biodatanya. Meski batas waktu pengiriman sudah berakhir dan kami sudah menyatakan tak lagi menerima e-mail biodata, masih saja ada yang mengirimkan biodatanya. Bahkan, sampai saat proses editing dan nama-nama sudah diperiksa para kurator, masih ada juga yang iseng mengirim biodatanya. Proses ini ternyata memakan waktu yang cukup lama, karena pada dasarnya, kami tidak berharap ada nama penyair yang tercecer, padahal ia layak diapresiasi.

Kedua, bersamaan dengan proses penyusunan biodata yang dikirim lewat e-mail, kami melacak data penyair lain yang tersebar di banyak buku antologi puisi, buku leksikon sastra, buku antologi yang diterbitkan berkaitan dengan acara atau program tertentu, surat-surat kabar, dan majalah sastra dan budaya, seperti Pandji Poestaka, Poedjangga Baroe, Indonesia, Horison, Basis dan majalah lain yang relevan. Di samping itu, kami juga memanfaatkan map-map sastrawan Indonesia yang menjadi koleksi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, sebuah lembaga yang paling lengkap dalam menyimpan berbagai arsip yang berkaitan dengan kiprah sastrawan Indonesia. Di tengah keprihatinan dan kesabaran para pegawai PDS H.B. Jassin, mereka masih menunjukkan dedikasi dan loyalitasnya melayani kami mencari bahan-bahan yang diperlukan. Buku lain yang juga kami jadikan rujukan penting adalah karya E.U. Kratz, Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah: Drama, Prosa, Puisi (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988).

Ketiga, proses penggabungan dan penyusunan kembali data yang berasal dari kiriman e-mail dan data yang kami telusuri lewat sejumlah buku, suratkabar, majalah, dan sumber-sumber lain yang terpercaya. Dari penggabungan data itu, tercatatlah sekitar 1600 entri biodata penyair. Pernyataan “sekitar” menegaskan, bahwa proses pengumpulan data sebenarnya belum final. Selalu ada nama yang terselip, tercecer, luput dari ingatan dan baru muncul belakangan. Pada tahap ini, kami juga mencermati nama-nama yang biodatanya meragukan atau yang tidak punya keterlibatan dengan dunia kepenyairan. Jadi, dalam proses ini, editor menggabungkan data yang dikirim lewat email dan data yang kami cari sendiri dalam sejumlah buku antologi puisi atau sumber lain. Menyusunnya kembali secara alfabetis dan mencermati kemungkinan ada nama yang tercecer, mengeluarkan nama yang sama yang mengirimkan biodatanya lebih dari dua kali, dan menandai nama-nama yang meragukan atau yang biodatanya disusun dengan kecenderungan menyampaikan informasi bohong.

Keempat, dalam proses penyusunan secara alfabetis, kami menandai dengan:
(1) warna merah untuk nama-nama yang kemungkinan dikeluarkan sebagai entri. Kriterianya: (a) bukan penyair, tidak ada karyanya yang berupa antologi puisi, tidak pernah karyanya masuk dalam buku antologi puisi bersama, (b) puisinya baru masuk dalam satu atau dua antologi tingkat lokal, (c) puisinya baru masuk dalam satu atau dua antologi tingkat nasional yang tanpa seleksi atau proses kuratorialnya begitu longgar, sehingga siapa pun yang mengirimkan puisinya, akan diloloskan dan dimuat dalam buku antologi puisi tersebut, (d) data yang disampaikan orang yang bersangkutan, meragukan atau dicurigai palsu. Misalnya, puisinya dimuat di banyak majalah sastra dan koran nasional, tetapi di daerahnya sendiri namanya tidak dikenal sebagai penyair atau sama sekali tidak pernah ikut kegiatan sastra. Jika ada data yang meragukan seperti itu, kami mengkonfirmasikannya kepada kurator di daerah atau pada teman penyair yang tinggal satu kota dengan orang yang datanya meragukan itu, (e) adanya masukan dari teman kurator di daerah, bahwa nama itu pernah atau sering melakukan plagiasi, (f) tidak pernah menulis puisi dalam bahasa Indonesia, meskipun ia dikenal sebagai penyair berbahasa daerah.

(2) warna kuning untuk nama-nama yang patut diperhatikan para kurator, kemungkinan masuk atau tidaknya nama-nama itu sebagai entri. Kriterianya: (a) dilihat dari segi usia, dia senior, tetapi editor tidak (belum) pernah mendengar nama itu sebagai penyair, (b) kemungkinan dia sastrawan tetapi tidak pernah dikenal sebagai penyair. Pertimbangan kurator digunakan sebagai dasar memasukkan atau mengeluarkannya sebagai entri.
(3) warna hijau untuk nama-nama yang perlu data tambahan. Dalam hal ini, kurator diminta untuk memberi referensi atau buku lain yang mungkin diketahui kurator.

Daftar nama yang sudah tersusun secara alfabetis dengan beberapa nama yang diberi tanda warna merah, kuning, dan hijau itu, kami kirimkan kepada para kurator, agar dicermati dan disetujui. Dalam proses ini, ada pula nama-nama yang diusulkan para kurator. Nama-nama baru yang diusulkan itu, kami periksa lagi dengan melacak jejak kepenyairannya berdasarkan sejumlah buku referensi.

Kelima, daftar nama yang sudah diperiksa dan disetujui para kurator, kami edit biodatanya, dipangkas jumlah katanya, disesuaikan format penulisannya, diseragamkan referensi yang digunakan sesuai PUEBI. Pada proses penyuntingan bagian inilah, nama-nama yang awalnya tercatat sekitar 1600 entri, menyusut jadi 1526 entri setelah melalui proses kuratorial. Jangan salah, beberapa nama—entah sengaja atau tidak—mengirimkan beberapa kali biodatanya, juga fotonya dengan berbagai pose. Untuk tidak menambah stress, kami mengambil biodata yang dikirim terakhir. Lalu, bagaimana pula fotonya yang tampil dengan berbagai pose? Tentu saja kami mengambilnya cukup satu, sisanya biar makhluk entah berantah menyimpannya di ruang angkasa.

Dari sana, dimulailah proses penyuntingan. Tim editor dihadapkan pada 1526 entri para (calon) penyair, baik yang masih hidup, maupun yang sudah wafat. Inilah tugas berat berikutnya, yaitu mengedit, menyunting, dan memangkas kembali jumlah kata, karena dengan jumlah entri yang sebanyak itu, kemungkinan ketebalan buku bisa mencapai 1500 halaman atau lebih.

Demikianlah, pada bagian ini, proses editing dan penyuntingan lebih menekankan pada pemangkasan jumlah kata. Tujuannya, jangan sampai buku itu melebihi 1500 halaman. Tetapi, persoalan pemangkasan jumlah kata ini pun bukan perkara mudah. Informasi penting tentang kepenyairan dan data lain yang berkaitan dengan kiprahnya, hendaklah tidak dihilangkan. Sementara itu, waktu yang tersedia begitu mendesak, dan naskah harus segera dikirim ke penerbit untuk segera disetting, dibuat dummy-nya, lalu naik cetak. Dengan kesadaran bahwa tim editor punya keterbatasan waktu dan kekuatan fisik, kami bersepakat untuk meminta tolong para sahabat –yang kami kenal sebagai penyair yang baik—yang punya kerelaan sebagai manusia istiqomah, sering dan rajin memberi pertolongan, dan punya kesadaran untuk mengangkat martabat dan harkat perpuisian Indonesia ke tingkat yang lebih tinggi. Para sahabat yang dimintai tolong itu juga dikenal sebagai editor dan penyunting yang andal, punya reputasi yang baik dan terpercaya.

Dalam kesempatan ini, di antara perasaan malu dan rasa syukur, kami menyampaikan penghargaan yang tinggi dan ucapan terima kasih yang tulus dan mendalam kepada para sahabat yang sudah bersedia meluangkan waktu ikut terlibat dalam proses editing dan penyuntingan. Mereka adalah: (1) Ahmadun Yosi Herfanda, (2) Amin Wangsitalaja, (3) Bambang Kariyawan, (4) Fakhrunnas MA Jabbar, (5) Handoko F Zainsam, (6) Rini Intama, (7) Umi Kulsum, (8) Yo Sugianto, (9) Wenny Suryandari, (10) Nila Hapsari, (11) Julia Utami, (12) Cut Hani Bustanova, (13) Lucki Purwantini, (14) Rinidiyanti Ayahbi, (15) Ali Satri Effendi, dan (16) Zham Sastera. Di saat-saat kritis, mereka dengan ikhlas telah menyelamatkan kami dari waktu yang begitu mepet dan stress yang makin memuncak.

Terima kasih juga kami sampaikan kepada para mahasiswa Program Studi Indonesia FIB-UI: (1) Mita Mihtahul Jannah, (2) Annisa Luthfia, dan (3) Lestari Ningsih yang ikut bertungkus lumus membantu proses penyelesaian editing dan penyuntingan. Penguasaan mereka mengenai PUEBI telah banyak meringankan pekerjaan editor.
***

Pentingkah penyusunan buku ASPI ini? Jawabnya: bisa penting, bisa juga tidak, bergantung dari sudut pandang mana melihatnya. Bagi perpuisian Indonesia dan sebagai bentuk apresiasi bagi mereka yang terlibat dalam lingkaran dunia kepenyairan kita, tentu saja buku ASPI ini penting. Sejarah sastra Indonesia telah mencatat: begitu banyak nama yang tercecer atau sengaja ditenggelamkan, lalu hilang dari catatan sejarah. Mereka berkiprah, berkarya, dan punya peranan penting dalam komunitasnya, maka eloklah kita mencatat dan menempatkannya dalam posisi yang sewajarnya. Dengan begitu, bangsa ini tidak melupakan peran, kiprah, dan kontribusi mereka dalam peta perpuisian Indonesia, sebesar atau sekecil apa pun sumbangannya.

Ada kerendahhatian dari sikap para ulama kita dulu tentang kiprah dan kontribusi mereka dalam kehidupan bangsa ini. “Biarlah, malaikat yang mencatatnya!” Sikap itu tentu saja tidak salah. Tetapi, ketika generasi baru menggantikan mereka, usaha mencari benang merah pada masa lalu, pelacakan jejak para pendahulu kita yang telah berperan penting bagi masyarakat zamannya, kerap terkendala oleh missing link, rumpang, seolah-olah perjalanan kebudayaan—kesusastraan kita dibatasi oleh garis demarkasi lama—baru, tradisional—modern. Di situlah pencatatan sejarah menjadi penting. Dalam konteks itu, pencatatan biodata penyair Indonesia penting artinya, tidak sekadar pendokumentasian nama-nama, melainkan menyambungkan kembali sebuah perjalanan kebudayaan—kesusastraan dan perpuisian Indonesia, tanpa garis demarkasi itu. Bukankah setiap perkembangan kebudayaan pada hakikatnya berlangsung kontinu dan berkesinambungan.

Adanya pembagian angkatan, aliran atau generasi pada dasarnya sekadar usaha untuk melihat sebuah perkembangan. Faktanya perkembangan yang kemudian tidak terlepas dari peristiwa yang terjadi sebelumnya. Jadi, masa depan hadir lantaran ada masa kini, dan masa kini bergerak tidak terlepas pula dari peristiwa masa lalu. Begitulah. Perkembangan kebudayaan-kesusastraan dan perpuisian Indonesia, hakikatnya juga lantaran tidak terlepas dari masa lalu yang melatarbelakanginya. Maka, usaha-usaha yang dilakukan kini, tidak lain, sebagai salah satu bagian dari investasi masa depan. Dengan demikian, buku ini penting agar generasi berikutnya tak gamang lagi menyimak masa lalu, terbebas dari sebutan tunasejarah, dan punya kesadaran, bahwa sebelum mereka berkiprah, ada yang sudah melakukan itu: generasi sebelumnya. Boleh jadi sejumlah besar penyair masa kini tidak mengenal penyair generasi Angkatan 45 atau generasi Pujangga Baru. Nah, buku ini –salah satunya—dapat diperlakukan sebagai langkah awal pengenalan pada generasi masa lalu kita.

Tidak hanya itu. Mengingat buku ini menghimpun biodata para penyair dari seluruh Indonesia, maka informasi tentang para penyair di pelosok Tanah Air dapat dimaknai sebagai pintu terbuka bagi terjadinya ajang silaturahmi, saling mengenal sesama saudara, sesama penyair, siapa pun dia dengan latar belakang etnik mana pun dan dengan agama apa pun. Gerak kehidupan kepenyairan Indonesia tidak lain adalah representasi keindonesiaan kita.

Perlakukanlah buku ini sebagai langkah awal pengenalan sesama kita yang dipersatukan oleh kecintaan pada puisi. Bukankah leluhur kita sejak awal sudah akrab dengan puisi? Bukankah Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 –seperti yang diyakini Sutardji Calzoum Bachri—tidak lain adalah sebuah puisi yang membayangkan Indonesia? Jika Ben Anderson (1986) mengatakannya sebagai komunitas bayangan (imagined community), maka puisi yang berjudul “Sumpah Pemuda” itu tidak lain adalah metafora Indonesia. Dengan begitu, selama bangsa ini hidup, selama itu pula puisi tak pernah mati! Kitalah yang menghidupinya! Begitulah, puisi mesti menjadi senjata rohani membangun manusia Indonesia yang lebih cerdas dan kreatif, sambil tetap menerima segala perbedaan dan menghormati segala gagasan yang konstruktif.

Dalam konteks yang lebih luas, pencatatan biodata penyair dari seluruh Indonesia ini juga dapat dimaknai sebagai “potret” baru peta perpuisian Indonesia. Ia tidak lagi terpusat di Jakarta atau di Pulau Jawa dan Sumatera, melainkan di segenap pelosok Tanah Air. Puisi kita tidak lain adalah potret keindonesiaan yang di sana ada ruh kultural: etnik, urban, hibrida, juga diaspora; desa, kota, negara. Itulah potret Indonesia yang terus bergerak dalam proses menjadi. Seperti kata Sutardji Calzoum Bachri: NKRI bagi penyair—bagi seniman sejati, adalah harga hidup. Para penyair dan mereka yang bergerak dalam permainan kreativitas itulah yang menghidupkan NKRI sebagai negara yang bermarwah, bermartabat, dan berperadaban luhur.
***

“Tidak ada kamus yang sempurna!” Begitulah nasib yang digariskan pada kamus apa pun. Selalu ia terbit dalam keadaan yang tak lengkap, tidak sempurna. Buku ASPI ini pun tidak dapat melepaskan diri dari suratan takdir itu: tidak lengkap. Mungkin masih ada yang tercecer, luput dari pencatatan, ketelingsut atau ngumpet di antara deretan nama-nama. Tentu saja ketidaklengkapan itu bukanlah kesengajaan. Jadi, maklumi saja, meskipun kami coba bekerja keras menghasilkan yang terbaik –dan terlengkap.

Sebagai buku yang paling lengkap memuat biodata penyair Indonesia, tentu saja buku ASPI dapat digunakan sebagai rujukan penting bagi siapa pun hendak memasuki dan mengetahui dunia kepenyairan –dan perpuisian—Indonesia. Para pengamat asing dapat pula memanfaatkan buku ini sebagai langkah awal memasuki potret perpuisian kita. Jika ia hendak meneliti perkembangan perpuisian di suatu daerah di Indonesia, ia dapat dengan mudah melacak biodata para penyair yang lahir dan mukim di daerah itu. Silakan menghubungi para penyairnya, datang ke sana, melihat dan mencermati dinamika masyarakatnya, segalanya dapat ditelusuri lebih cepat dan mudah.
***

Akhirnya, tidak dapat tidak, kami mesti menyampaikanrasa syukur dan terima kasih kepada pihak-pihak yang dengan segala kerelaannya, telah membantu kami, sehingga buku ASPI mewujud sebagaimana yang menjadi harapan dan tekad kami sejak awal. Dalam hal ini, kami berutang banyak pada penyair Rida K Liamsi yang telah menggagas buku ini, memantau perkembangannya, dan membiayai seluruh ongkos penerbitannya. Atas segalanya itu, kami menyampaikan terima kasih yang mendalam. Terima kasih juga kami sampaikan pada para sahabat kurator dan sekaligus contributor yang di tengah kesibukannya, mereka masih meluangkan waktu membantu kami, melacak keberadaan penyair di wilayahnya, dan mengirimkan biodatanya dengan bahasa yang tidak merepotkan (lihat daftar kurator dan kontributor). Terima kasih juga kepada para sahabat yang tiba-tiba mendapat “musibah” menjadi editor dadakan (lihat catatan dalam proses penyuntingan). Terima kasih kami sampaikan juga kepada dewan kurator: Rida K Liamsi, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Hasan Aspahani.

Dalam proses penyusunan buku ASPI ini, kami juga kerap diselamatkan oleh arsip dan bahan-bahan lain yang tersedia di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih kepada Mbak Ariany Isnamurti dan Mbak Nel beserta segenap karyawan PDS H.B. Jassin.

Kami yakin, masih banyak nama yang telah membantu kami. Izinkan kami memohon maaf tidak menyebutkan semua nama itu.
Akhirnya, hanya satu harapan kami yang utama, yaitu semoga buku ini bermanfaat bagi kehidupan kepenyairan kita dan bagi sastra Indonesia.

Bojonggede, 18 September 2017

Editor:
Maman S Mahayana
Ko-editor:
Jimmy Johansyah
Nana Sastrawan
Sihar Ramses Simatupang
Sofyan RH Zaid

TIM PENYUSUN
Editor:
Maman S Mahayana

Ko-editor:
Jimmy Johansyah
Nana Sastrawan
Sihar Ramses Simatupang
Sofyan RH Zaid

Kurator:
Rida K Liamsi
Sutardji Calzoum Bachri
Abdul Hadi WM
Ahmadun Yosi Herfanda
Hasan Aspahani

Kurator dan Kontributor:
Amin Wangsitalaja (Samarinda)
Anwar Putra Bayu (Palembang)
Badaruddin Amir dan Gunawan Monoharto (Barru dan Makassar)
D. Kemalawati dan Helmi Has (Aceh)
Fakhrunnas MA Jabbar (Riau)
Gunoto Sapari (Semarang)
Isbedy Stiawan (Lampung)
Iverdixon Tinungki (Manado)
Iyut Fitra (Padang)
Kurniawan Junaedhie (Jakarta)
Micky Hidayat dan Jamal T Suryanata (Banjarmasin)
Nurel Javissyarqi (Lamongan)
Ramayani Riance (Jambi)
Ramon Damora (Batam)
Syaifuddin Ghani (Kendari)
Suryadi San (Medan)
Tjahjono Widarmanto (Ngawi)
Warih Wisatsana dan Wayan Jengki Sunarta (Bali)
Yo Sugianto, Hasta Indriyana, dan Umi Kulsum (Yogyakarta)
Yohanes Sehandi dan Julia Daniel Kotan (NTT)
https://www.facebook.com/dewamahayan/posts/10212471847365432

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com