Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Belajar Manusia Kepada Sastra

Untuk 50 tahun Majalah Horison, 26 Juli 2016 Emha Ainun Nadjib caknun.com
Sastra Generasi Millenial
Sejak hampir dua dekade yang lalu lahir Generasi Millenial, juga dalam sastra. Kaum muda usia 18 sd 39-an tahun yang seakan-akan merupakan “putra langit”, bukan anak-anak yang dibesarkan oleh tata nilai kepengasuhan di bumi. Memang indikator kelahiran adalah semakin dominannya peradaban IT, tetapi tidak bisa disebut sebagai kontinyuitas dari karakter kebudayaan generasi sebelumnya yang melahirkan IT. Anak-anak itu seperti makhluk baru yang lebih genuin, seolah-olah ada pengasuh yang lain yang tidak berada di bumi.

IDENTITAS PUISI MELAYU RIAU (1) Puisi Mantra, Puisi Islam, Puisi Maritim

Marhalim Zaini
http://riaupos.co

SESUNGGUHNYA, menelisik perkembangan puisi Melayu Riau, tak dapat serta merta memisahkan diri dari perkembangan kesusastraan Melayu secara luas. Sebab, begitu menyebut “Melayu Riau” untuk dunia sastra, dunia puisi, maka ingatan kita seolah diajak berkelana ke rentang sejarah yang panjang. Terutama, ketika—rentang sejarah itu—tak dapat pula dicecah-cecah secara administratif, sehingga takboleh tidak, harus pula menyebut sejarah perkembangan kesusastraan Riau-Lingga. Namun begitu, dalam konteks tulisan ini, saya hendak membatasi diri untuk menengok lebih spesifik terhadap teks-teks puisi yang lahir, setelah masa itu. Pembatasan ini lebih bertujuan untuk melihat gerak dinamika puisi-puisi “modern” Melayu Riau, dalam lalu lintas perpuisian modern Indonesia.

Membunyikan yang Tanpa Bunyi

Seno Gumira Ajidarma
Majalah Tempo, 6 Okt 2008

ONOMATOPE adalah fenomena keberadaan suatu kata berdasarkan kemiripan bunyi. Dalam kolom ini pernah saya perbincangkan ihwal kata kokok sebagai kata dalam bahasa Indonesia, yang tidak terhindarkan kedekatannya dengan onomatope kokok ayam jantan dalam bahasa Jawa, kukuruyuk, ataupun bahasa Sunda, kongkorongok. Kokok yang sama terbunyikan kembali secara berbeda, karena wacana lisan masing-masing yang juga berbeda.

Esai: Gaya Tulisan yang “Bukan-Bukan”

Ahmad Naufel
http://riaupos.co

Pada medio Desember 2015 hingga akhir Januari 2016, i:boekoe (Indonesia Buku) menyelenggarakan Kelas Esai dengan “guru utama” si empu arsip, Muhiddin M. Dahlan. Sebagai empu arsip, Muhiddin memiliki segudang contoh esai yang melintasi zaman ke zaman. Muhiddin, mengenalkan esai-esai zaman pra kemerdekaan hingga pasca 70 tahun Indonesia merdeka pada kami.

Taktik Mendikbud Meredam Para Sastrawan

Yohanes Sehandi *
Pos Kupang, 1 Agu 2017

MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy, mempunyai taktik tersendiri meredam sorotan dan kritikan para sastrawan Indonesia terhadap berbagai kebijakan kementeriannya di bidang pendidikan dan kebudayaan. Hal itu terjadi pada waktu Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) ke-2 yang berlangsung di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, pada 18-20 Juli 2017.

Dialektika Generasi Teater Modern di Cirebon (1-5 Habis)

Edeng Syamsul Ma’arif cirebontrust.com

Apa kabar generasi teater di Cirebon? Mencengkeram bola-gagasan keberdirian dan kebertahanan atau membiarkannya terbang bersama pesimisme wacana publik yang telah menelikungnya ke dalam ruang gelap dan pengap? Keras kepala dengan estetika dan manajemen kelompoknya atau merelakan sekujur tubuh dilindas eksistensi kapiran masa lalu?

Semisal Resensi Ini-Itu Berthold Damshäuser

Nurel Javissyarqi
Sebenarnya ingin ngelenceki bukunya, namun belum ada kesempatan jauh, maka sekadarlah ucapan terima kasih, sebab bahasa Indonesia sudah diperkenalkan di Jerman dengan ketekunan penuh piawai, atau ini ikut-ikutan bijak seperti tulisannya; “Sebagai dosen bijaksana saya suka sekali kalau mahasiswa banyak bertanya.”

Sastra-Indonesia.com