Selasa, 21 Oktober 2014

Dari Jula Juli Jombangan hingga Ringin Contong Berbuah Berondong

Sabrank Suparno
Radar Jombang-Mojokerto, 18 Mei 2014

Lek nyang nJombang kampunge Sengon
Lemah geneng akeh wedhine
Najan gak sambang kirimo ingon
Lek gak seneng opo mestine


Empat baris parikan di atas adalah puisi Jombangan yang seluruh pelaku ludruk Jawa Timuran pasti mengenal. Selain menyampaikan kegamblangan isi tentang aturan rumah tangga, pelantunnyamengenalkan tanah Jombang disamping menyusun repetitif irama. Saya yakin para pelaku Ludruk tidak mengenal Octavio Paz yang mengatakan kelelahan ekstase seorang penyair adalah kerja menentukan isi dan sampiran berdasarkan irama. Namun pelantun parikan di atas memahami bahwa pengulangan bunyi, terkesan lebih nyamleng diucapkan dan didengar. Artinya, masih ada yang perlu dipertahankan dalam menyusun puisi, yakni kebersahajaan, kenyamlengan ketika menawarkan adol-tinukuantara pelantun dengan pendengar.

Demikianlah puisi Kwatrin RinginContong yang ditulis oleh Binhad Nurrohmat, penyair asal Jakarta yang kini menetap di Pondok Pesantren Alhambra Darul Ulum Rejoso Peterongan. Seluruh puisi dalam Antologi Kwatrin Ringin Contong setiap judulnya hanya berisi empat baris dan bersajak ABAB, AABB atau AAAA. Buku nyentrik setebal enam puluh halaman tersebut dicetak oleh Penerbit Miring, Ar Ruzz Media dan diselesaikan Binhad selama dua tahun ketika pelesiran ke berbagai tempat di Jombang. Alkhasil, terhitung 1 Mei 2014 buku ini resmi beredar di seluruh toko buku yang ada di Jombang.

Ada dua kemungkinan yang mempengaruhi Binhad Nurrohmat dalam menawarkan estetika ketika menggarap puisi Kwatrin Ringin Contong. Pertama, menyerap keseharian masyarakat Tanjung Pinang yang setiap pembicaraan mengunakan pantun berbalas atau yang di Jawa Timur dikenal dengan Parikan Jula Juli Jombang. Pengalaman puisi bersajak tersebut diamati Binhad ketika menjadi peserta Temu Sastra Indonesia 2010. Kedua, setelah dua tahun menetap di Jombang, tampaknya Binhad kesemsem budaya pondok pesantren yang kerap mengaji qasidah kitab kuning. Syair dalam puisi Kwatrin Ringin Contong tak ubahnya nadhom, Imriti atau Alfiah. Satu contoh empat baris nadhom Alfiah misalnya: Wayaktadi ridhon bi ghoiri suhti-Faiqotalfiyata Ibnu Mukti-wayaktadi ridhon bi ghoiri suhti-al hayyu qod yughlabu alfamayyiti. Selain mementingkan irama, nadhom Alfiyah di atas juga menyampaikan nilai bahwa ketika santri mampu berkarya yang mengalahkan kiainya, lalu sesumbar, tak ubahnya satu orang yang masih hidup pasti mampu mengalahkan seribu kiainya yang sudah mati.

Buku puisi Kwatrin Ringin Contong diniatkan khusus mengabadikan tempat tempat yang ada di wilayah Jombang.Terhitung dari 42 judul puisi di antaranya: Pelukis Morosunggingan, PasarPeterongan, Malam Jumat di Rejoso, Rel Terjulur ke Sumobito, Sayyid di Mojoagung, Pertigaan ke Denanyar, Pasar Burung Tunggorono, Iblis Tak Keluyurandi Diwek, Pelarian di Watugaluh, Trah Brantas, Dewa di Gudo, Bercumbu di Kudu,Komunis Curahmalang, Kemah Raja di Tembelang, Kekasih di Kedung Cinet, Es Tehdi Kebun Raja, Russell Wallace di Ngrimbi, Mojowarno Ahad Pagi, Pelesiran ke Wonosalam. Inilah keberanian puisi Kwatrin Ringin Contong, puisi yang disandarkan berdasarkan konsep nama suatu wilayah. Sementara sebagai pegiat sastra di Jombang saya belum menemukan kumpulan puisi khusus yang mengangkat perangkat sejarah di Jombang, kecuali esai, cerpen, prosa bebas, dan naskah derama.

Berangkat dari nama tempat, kemudian pilihan diksi dalam satu kalimat yang mengangkat nama tokoh dan peristiwa diJombang, sepertinya sang penyair hendak menyembulkan elevansi tanya. Apa yang tersembunyi dibalik tema? Misal larik: Setelah bertapa Sungging menggurat raga// Permaisuri di lukisan tersedu dipeluk raja (hal. 9), Kebo Kicak tak menanamdi rel kepalanya // Di sekujur gerbong kuburan Surontanu tak ada (hal. 13), DiKali Tambak Beras mengucur darah pertama // Perih Wiraraja di Trowulan tahta Wijaya (hal. 31), Kapal Tionghoa di utara // Berlayar dewa ke Jawa (hal. 27). Dari gelagat pilihan tema tersebut penyair menyadari, bahwa beberapa tempat di Jombang tidak muncul begitu saja, melainkan ada sejarah yang melatarbelakangi. Penyair berkeyakianan bahwa wilayah dengan sejarah silam yang berperadaban tinggi berpotensi melahirkan karya dahsyat yang bisa digali dari berbagai sisi. Apalagi Jombang memang berbeda dengan kota sekitar di Jawa yang lahir berdasarkan tata letak kota hasil desain arsitektur Kolonial bersama Amangkurat. Jombang sangat perdikan. Mungkin dahulu tempat kecantolnya jubah Mpu Baradah ketika membelah kerajaan Erlangga menjadi Panjalu dan Jenggala dengan caramengucurkan kendi dari langit. Artinya suatu tempat yang wingit dan aura mistisnya mengalahkan kesaktian sang Empu. Maka tanah yang demikian kemudian terbebas dari pengaruh dua wilayah kerajaan yang terbagi. Batas wilayah itu juga berkemungkinan menjadi garis pembatas antara budaya Arek dengan budaya Mataraman. Meskipun dalam sistem tataletak kota dan pemerintahan akhirnya Jombang harus menyesuaikan dengan desain kota lain di sekitar.

Ketertarikan Binhad terhadap sejarah Jombang setara kegelisahan pemikir lain, bahwa penyair itu ibarat penggembala yang selalu kawatir dengan ribuan ternak miliknya. Apalagi ketika malam menjelang, penggembala menggiring seluruh ternaknya ke kandang kawatir dicuri,dirampok, disembelih orang. Sedang sang penggembala sendirian, tak ada yang mau menolong. Demikianlah kekalutan penyair, takut sejarah dan budaya lokal miliknya dicuri atau hilang tak jelas jluntrungnya. Siapa yang hendak mempertahankan? Kwatrin Ringin Contong seolah berteriak, “ke mana penyairJombang? Apakah kebablasan imajinasi menjadi sastrawan Indonesia lantas enggan menulis kota kelahirannya?”

Namun, sebagai persembahan catatan tentang sejarah Jombang, Kwatrin Ringin Contong baru sepersen saja meski puisi berjudul Ringin Contong sendiri ditulis dalam empat pengamatan, yakni RinginContong Pagi, Ringin Contong Siang, Sore dan Malam. Harusnya buku KwatrinRingin Contong setebal Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulanyang digarap Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto edisi Oktober 2010 yang mencapai 829 halaman. Sebab masih banyak fenomena sejarah dan budaya Jombang yang belum ditangkap imajinasi penulis. Misal: Geger batu ajaib Ponari yang mematahkan teori bahwa supaya profesional menyembuhkan orang harus merampungkan fakultas kedokteran. Begitu juga supaya kaya harus menjadi interpreneur yang handal. Ponari cukup dengan batu temuan mampu menyembuhkan ribuan pasien dan cukup waktu beberapa bulan saja sudah menjadi milyuner dan tak perlu menunggu dewasa. Fenomena si Jagal Rian juga menghentakkan kesadaran, bahwa manusia berparas ganteng belum tentu berperilaku baik. Artinya jangan menilai orang berdasarkan ketoke, tapi berdasarkan nyotone. Fenomena Jombang berikutnya adalah penampakan Manggar Emas, yakni bakal buah kelapa yang mencorong seperti emas disekitaran Mojongapit sebelum tahun 1965. Ada lagi fenomena Kaca Benggala, yakni gedek rumah milik si miskin di sekitaran Desa Kandangan Kecamatan Kesamben berfungsi sebagai cermin. Posisi rumah tetap gedek bambu, cuma siapa yang melintas di depan rumah tersebut seperti melintas di depan kaca raksasa. Persis layar lebar pada film. Kejadian unik sekitar tujuh tahun lalu itu hanya berlangsung satu minggu lalu kembali seperti sediakala. Bahkan, membincang perihal Ringin Contong, menurut cerita tetangga saya, Pak Senipan (alm) bahwa”besok lek ono rejane zaman, Ringin Contong bakale nguwoh brondong (besok jika ada keramaian sejarah, Ringin Contong akan berbuah berondong: snackdari jagung popcorn).” Dongeng dari sesepuh Pak Senipan terbukti bahwa ketika rezim Soeharto berkuasa, orang yang berani menganggu partai berlambang pohon beringin pasti diberondong peluru tembak.

Untuk menulis tentang sejarah tentang Jombang, Binhad masih terlalu sepintas. Perlu lebih banyak minum sumber air dan merasakan bercak lumpur sawah di Jombang, apalagi memasuki pedesaan yang terpencil sekalipun yang diperkirakan tidak ada hal yang menarik. Siapa sangka misal di tanah Lincak Sastra Dowong ternyata ada selonjor patok batu peninggalan Majapahit. Atau dipekuburan Desa Tengaran Peterongan ternyata ada prasasti tergolong tua sebagai data peninggalan manusia purba Jombang. Masih banyak sejarah budaya Jombang yang berpotensi sebagai bahan untuk menebalkan mini epik puisi puisi Binhad selanjutnya.

*) Tulisan ini sebagai makalah bedah buku Kwatrin Ringin Contong karya Binhad Nurrohmat pada Jumat, 16 Mei 2014 di Elek Comik Center, JL. Adityawarman 3 Jombang. 

Tidak ada komentar:

A Rodhi Murtadho A. Ginandjar Wiludjeng A. Junianto A. Kurnia A. Qorib Hidayatullah A. Yusrianto Elga A.S Laksana A’yat Khalili Aang Fatihul Islam Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi WM Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Razak Abdul Rosyid Abdul Wahab Abdurrahman Wahid Abu Salman Acep Iwan Saidi Acep Zamzam Noor Adam Chiefni Ade P. Nasution Adhitia Armitriant Adi Prasetyo Adrizas AF. Tuasikal Afriza Hanifa Afrizal Malna Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Buchori Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahda Imran Ahid Hidayat Ahmad Baso Ahmad Faishal Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Naufel Ahmad Rofiq Ahmad S. Zahari Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ahsanu Nadia Aini Aviena Violeta Ainul Fiah Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Akhmad Sofyan Hadi Akhmad Taufiq Akhudiat Akmal Nasery Basral Alam Terkembang Alang Khoiruddin Alex R. Nainggolan Alfian Dippahatang Ali Audah Ali Mahmudi CH Ali Rif’an Almania Rohmah Ami Herman Amien Wangsitalaja Aminah Aminullah HA.Noor Amir Sutaarga Anam Rahus Anata Siregar Andari Karina Anom Andina Dwifatma Andong Buku #3 Andre Mediansyah Andri Awan Anett Tapai Anggie Melianna Anindita S Thayf Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anton Bae Anton Kurnia Anton Wahyudi Anwar Nuris Ardi Bramantyo Ardus M Sawega Arie MP Tamba Arie Yani Arief Joko Wicaksono Arief Junianto Ariera Arif Bagus Prasetyo Aris Kurniawan Arman A.Z. Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Asmaul Fauziyah Asti Musman Atafras Awalludin GD Mualif Ayu Wulan Sari Aziz Abdul Gofar Azizah Hefni Bagus Takwin Bahrul Ulum A. Malik Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kempling Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Beno Siang Pamungkas Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Koran Bernando J Sujibto Berthold Damshauser BI Purwantari Binhad Nurrohmat Bobby Gunawan Bonari Nabonenar Brunel University London Budaya Budi Darma Budi P. Hatees Budiman S. Hartoyo Burhanuddin Bella Camelia Mafaza Catatan Cerbung Cerpen Chairul Akhmad Chamim Kohari Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Ari Murtono Dahta Gautama Daisuke Miyoshi Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Danusantoso Dareen Tatour Darju Prasetya David Kuncara Denny Mizhar Denza Perdana Desi Sommalia Gustina Desiana Medya A.L Dewan Kesenian Lamongan (DKL) Dewi Indah Sari Dewi Susme Dian Sukarno Didik Harianto Didik Kusbiantoro Dina Jerphanion Dina Oktaviani Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur Dipo Handoko Diyah Errita Damayanti Djoko Pitono Djoko Saryono Doddy Wisnu Pribadi Dody Kristianto Dody Yan Masfa Donny Anggoro Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr Junaidi SS MHum Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi Wiyana Dyah Ratna Meta Novia Dyah Sulistyorini Ecep Heryadi Eddy Pranata PNP Edeng Syamsul Ma’arif Eep Saefulloh Fatah EH Kartanegara Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Hendrawan Sofyan Eko Hendri Saiful Eko Windarto Elnisya Mahendra Elva Lestary Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Sulwesi Endo Suanda Eppril Wulaningtyas R Esai Evan Ys F. Moses F. Rahardi Fadlillah Malin Sutan Fahmi Faqih Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Fajar Kurnianto Fanani Rahman Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Febby Fortinella Rusmoyo Felix K. Nesi Festival Sastra Gresik Gabriel Garcia Marquez Galang Ari P. Galuh Tulus Utama Gampang Prawoto Gandra Gupta Ganug Nugroho Adi Gerson Poyk Ghassan Kanafani Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gunoto Saparie H.B. Jassin Habibullah Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim HD Halimi Zuhdy Hamberan Syahbana Han Gagas Hanibal W. Y. Wijayanta Hardi Haris del Hakim Haris Saputra Harri Ash Shiddiqie Hartono Harimurti Hary B Kori’un Hasan Aspahani Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana HE. Benyamine Hendra Junaedi Hendra Makmur Heri CS Heri Latief Heri Listianto Herman RN Herry Lamongan Heru CN Heru Nugroho Hikmat Gumelar HL Renjis Magalah Hudan Nur Hujuala Rika Ayu Huminca Sinaga IBM. Dharma Palguna Ibnu Wahyudi Ida Farida Idris Pasaribu Ignas Kleden Ignatius Haryanto Iksan Basoeky Ilham Khoiri Imam Cahyono Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indiar Manggara Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Indrian Koto Ira Puspitaningsih Irfan Budiman Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Iskandar Zulkarnain Ismail Marzuki Iva Titin Shovia Iwan Kurniawan Jabbar Abdullah Jafar Fakhrurozi Jalan Raya Simo Sungelebak Jamal D. Rahman Jamal T. Suryanata Javed Paul Syatha Jayaning S.A JILFest 2008 Jody Setiawan Johan Edy Raharjo Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Juan Kromen Julika Hasanah Jurnalisme Sastrawi Jusuf AN Juwairiyah Mawardy Ka’bati Karanggeneng Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Keith Foulcher Kemah Budaya Panturan (KBP) Khansa Arifah Adila Khoirul Inayah Khoirul Rosyadi Khudori Husnan Ki Ompong Sudarsono Kirana Kejora Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Sastra Ilalang Indonesia Korrie Layun Rampan Kostela Kritik Sastra Kukuh S Wibowo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswaidi Syafi'ie L.N. Idayanie Laili Rahmawati Lamongan Lan Fang Langgeng Widodo Lathifa Akmaliyah Leila S. Chudori Lely Yuana Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Liza Wahyuninto Lucia Idayanie Lukman A Sya Lutfiah Lynglieastrid Isabellita M Arman AZ M Ismail M Thobroni M. Afifuddin M. Arwan Hamidi M. Lukluk Atsmara Anjaina M. Lutfi M. Luthfi Aziz M. Nurdin M. Yoesoef M.D. Atmaja M.S. Nugroho Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Mahmud Syaltut Usfa Mahmudi Arif Dahlan Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Marhalim Zaini Martin Aleida Maruli Tobing Mas Ruscita Mashuri Masuki M. Astro Matroni Matroni Muserang Media: Crayon on Paper Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mia Arista Mia El Zahra Mikael Johani Misbahus Surur Misran Mohamad Ali Hisyam Mohammad Eri Irawan Much. Khoiri Muh. Muhlisin Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Amin Muhammad Aris Muhammad Muhibbuddin Muhammad Rain Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun Muhammadun AS Muhidin M Dahlan Mujtahid Mujtahidin Billah Mukti Sutarman Espe Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujungpangkah Gresik Munawir Aziz Musfarayani Musfi Efrizal Nafisatul Husniah Nandang Darana Naskah Teater Nelson Alwi Ni Made Purnamasari Nikmatus Sholikhah Nina Herlina Lubis Nina Susilo Ning Elia Noor H. Dee Noval Jubbek Novel-novel berbahasa Jawa Novelet Nunuy Nurhayati Nur Azizah Nur Hamzah Nur Kholiq Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Aini Nurul Anam Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Okty Budiati Orasi Budaya Akhir Tahun 2018 Otto Sukatno CR Oyos Saroso H.N. Pagan Press Pagelaran Musim Tandur Palupi Panca Astuti Parimono V / 40 Plandi Jombang Pawang Surya Kencana PDS H.B. Jassin Petrus Nandi Politik Politik Sastra Pradana Boy ZTF Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringadi AS Prof Dr Fabiola D. Kurnia Prosa Puisi Puji Santosa Puji Tyasari Puput Amiranti N Purnawan Andra Purnawan Kristanto Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pustaka Ilalang Group PUstaka puJAngga Putu Wijaya Qaris Tajudin R. Ng. Ronggowarsito Rachmad Djoko Pradopo Radhar Panca Dahana Rahmat Kemat Hidayatullah Rahmat Sularso Nh Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rasanrasan Boengaketji Raudal Tanjung Banua Redland Movie Reiny Dwinanda Resensi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Riki Dhamparan Putra Riki Utomi Ririe Rengganis Risang Anom Pujayanto Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Roso Titi Sarkoro Rozi Kembara Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rusmanadi S Yoga S. Jai S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saiful Amin Ghofur Saiful Anam Sainul Hermawan Sajak Salamet Wahedi Salman S. Yoga Samsudin Adlawi Samsul Anam Sanggar Lukis Alam Sanggar Pasir Sanggar Rumah Ilalang KSII Santi Puji Rahayu Sapardi Djoko Damono Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra dan Kuasa Simbolik Sastra Jawa Timur Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sayyid Fahmi Alathas SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Setia Naka Andrian Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sinopsis Siti Khoeriyah Siti Muyassarotul Hafidzoh Siti Sa’adah Siwi Dwi Saputra Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Slamet Rahardjo Rais Soegiharto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Sri Weni Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugi Lanus Sukron Ma’mun Sulaiman Djaya Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sungging Raga Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Supriyadi Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suyanto Syaf Anton Wr Syaifuddin Gani Syaiful Amin Syarif Wadja Bae Sylvianita Widyawati TanahmeraH ArtSpace Tarmuzie (1961-2019) Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Presetyo Teguh Setiawan Teguh Winarsho AS Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tia Setiadi Tirto Suwondo Tita Tjindarbumi Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tosa Poetra Tri Nurdianingsih Triyanto Triwikromo TS Pinang Tu-ngang Iskandar Tulus S Ulul Azmiyati Umar Fauzi Umar Fauzi Ballah Umar Kayam Umbu Landu Paranggi Universitas Indonesia Universitas Jember Usman Arrumy Utari Tri Prestianti Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wan Anwar Wawan Eko Yulianto Wawancara Wina Bojonegoro Wita Lestari Wong Wing King Wowok Hesti Prabowo Xu Xi (Sussy Komala) Y. Thendra BP Y. Wibowo Yanusa Nugroho Yasraf Amir Piliang Yayat R. Cipasang Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yopi Setia Umbara Yudhi Herwibowo Yudi Latif Yusri Fajar Yusuf Ariel Hakim Yuval Noah Harari Zacky Khairul Uman Zainuddin Sugendal Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zed Abidien Zehan Zareez Zhaenal Fanani Zubaidi Khan Zuniest