Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Emha Ainun Nadjib: Dari Langit ke Bumi, Dari Bumi ke Langit

Wita Lestari
Jurnal Nasional, 21 Juli 2013

Cak Nun merupakan sosok yang tak pernah membosankan untuk didengarkan. Cara pandang dan cara penyampaian gagasannya selalu unik.

MASIH dengan rambut gondrong ikal sebahunya, berkemeja putih lengan pendek dengan celana panjang abu-abu gelap, sosok Emha Ainun Nadjib atau dikenal dengan sapaan Cak Nun akhirnya muncul di ambang pintu ruangan buka puasa bersama di kantor IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Jl Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (12/7) sekitar pukul lima sore.

Sehelai Selendang Seikat Mawar, Antologi Puisi Hari Kelahiran

Tita Tjindarbumi *
Lampung Post, 28 Juli 2013

SETIAP judul dan cover buku tak muncul begitu saja. Ada kisah yang berarti ketika penulis menentukan judul dan perwajahan bukunya. Demikian pula, buku mungil yang ditulis oleh Angeline K. Tahir, yang diterbitkan untuk mensyukuri Tangis Pertama Hari lahir.

Buku setebal 117 halaman yang dikemas cantik berukuran mungil bersampul biru, lengkap dengan buket mawar dan untaian mutiara menggambarkan kelembutan hati sang penulis penyuka bunga hidup, dengan mawar sebagai pilihan. Sementara untaian mutiara menggambarkan citra rasa yang tinggi sekaligus kelembutan hati pemilik buku puisi yang diwarnai dengan foto-foto sahabatnya.

Goenawan Mohamad: “MANIKEBU TIDAK RELEVAN LAGI”

A. Kurnia
http://komunitassastra.wordpress.com

Di bawah ini adalah petikan wawancara tertulis yang saya lakukan dengan Goenawan Mohamad, yang jawabannya saya terima pada tanggal 25 Agustus 2007 lalu. Rencananya akan saya gunakan sebagai bahan tesis saya, akan tetapi petikan wawancara ini saya kira bemanfaat untuk dibaca, mengingat debat ramai di beberapa mailing list di internet akhir-akhir ini.

Lelaki yang Selalu Memancing di Atas Batu

Cucuk Espe *
Radar Surabaya, 14/10/2012

Aku temukan dia. Lelaki itu. Dia masih tetap duduk di atas batu besar yang menjorok ke sungai. Gagang pancing warna hitam terjepit di sela retakan bebatu. Tepat di depannya. Keduanya tidak bergerak meski terik terasa membelah ubun-ubun. Arus sungai yang tenang memang menjadi kesukaan ikan air tawar. Namun, sejak aku mengetahui lelaki itu memancing, belum satu pun ikan yang di dapat. Entah mengapa, dia tetap setia memancing, duduk bersila di atas batu. Ini adalah pemandangan yang ganjil. Ya, menurut kebanyakan orang –termasuk aku– lelaki itu menyuguhkan keganjilan yang sulit dimengerti.

Catatan Sementara untuk Selamanya: Sebuah Hakikat Hidup yang Fana

Imammuddin SA
sastra-indonesia.com

“Seperti gerimis membasah kering tanah setelah bersetubuh dengan kemarau laga”. Itulah yang pas kiranya untuk menyambut hadirnya kumpulan puisi “Persinggahan Bayang-Bayang” karya Bambang Kempling. Setelah sekian lama kancah persajakan di belantara kesusastraan Lamongan sempat mengering, kini semua itu telah terhapus sudah dengan kehadiran “Persinggahan Bayang-Bayang”. Keberadaannya sebagai pengobat rindu yang mengendap-mengeram di dada para pecinta sastra khususnya puisi.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com