Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2014

Redland Movie (TanahmeraH ArtSpace)

Sastrawan yang Tak Merawat Bahasa

Budi P. Hatees
www.riaupos.co 20 April 2014

Sastrawan bekerja dengan bahasa. Bahasa itu mereka pakai sebagai alat untuk mengekspresikan segala hal yang dirasakan dan/atau dipikirkan dalam karyanya. Begitu pula penyair, memakai bahasa untuk menulis sajak. Lantaran bahasalah, sajak tidak membuat pembaca lebih pintar atau lebih hebat, tetapi membuat pembaca lebih paham terhadap realitas yang ada. “Ukuran yang paling sesuai dengan sajak,” kata Aristoteles, “adalah performativitas: sukses-tidaknya ia menciptakan efek katarsis guna menekan nafsu-nafsu rendah.”

Beragam Tafsir Sastra Islam

Afriza Hanifa
www.republika.co.id 29 Juli 2013

Kebudayaan, kesenian, dan kesusastraan Islam ialah manifestasi rasa, karsa cipta, dan karya manusia dalam mengabdi kepada Allah.
Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta, Negeri 5 Menara, 99 Cahaya Langit Eropa, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, dan Hafalan Shalat Delisa merupakan contoh beberapa novel fiksi Islami yang beberapa waktu terakhir menjadi bestseller di Indonesia. Sebagiannya bahkan difilmkan di layar lebar.

Penyair dan Keruntuhan Sejarah

Faisal Kamandobat
Kompas, 12/01/14

Sejauh mana sosok manusia bernama penyair mampu mengada dalam sejarah? Martin Heidegger (1947) menyebut puisi sebagai media terbaik manusia untuk mengada, karena puisi memiliki karakteristik yang paling mampu menghadirkan makna dunia yang melimpahi dan meneguhkan kesadaran.

Hantu-hantu Kebenaran

Yasraf Amir Piliang *
Kompas, 04/11/09

Sebuah rekaman pembicaraan—yang dicurigai berisi rekayasa ”kriminalisasi” Komisi Pemberantasan Korupsi—hari-hari ini layaknya ”batu bertuah” dalam cerita misteri, yang diperebutkan, didiskusikan, dianalisis, ditranskrip, digandakan, ditayangkan, dan didesiminasikan secara luas.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com