Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Identitas Melayu dalam Sastra Serumpun

Ahmadun Yosi Herfanda
sembahyangrumputan.blogspot.com

Sastra, menurut Umar Kayam, adalah refleksi dari masyarakatnya. Karena itu, identitas suatu bangsa, antara lain dapat dilihat pada karya sastranya. Atau, sebaliknya, ketika suatu bangsa membutuhkan penguatan identitas, karya sastra berpeluang untuk memberikannya.

Membaca Sastra Pesantren

Ahmad Baso *
www.nu.or.id 20/05/2012

Sastra pesantren dalam beragam bentuknya –hikayat, serat, kisah, cerita, puisi, roman, novel, syiir, nazoman– adalah buah karya orang-orang pesantren dalam mengolah cerita, menulis-ulang hikayat, hingga membuat karya-karya baru, baik lisan maupun tulisan.

Berguru pada Anak-anak

Siti Khoeriyah *
http://sastra-indonesia.com

Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wadzurriyyaatinaa qurrota a’yun waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa. Itulah doa yang senantiasa terlantunkan, dengan harapan anak-anak jadi sholih-sholihah. Tiada orang tua yang ingin anaknya tidak baik, tentu semua berharap anaknya hebat, bisa membanggakan orang tua dan keluarganya.

Mozza Anakku

M. Nurdin *
http://sastra-indonesia.com

Mohon maaf, saya bukan ahli menulis cerita seperti jaman lagu Gelas-gelas Kaca yang penuh penderitaan, konon katanya inspiratif. Atau bukunya Pariman Siregar, Master from Minder yang membara, mengisahkan 10 sampai 12 kali episode peperangan, 13 sampai 15 dari 172 halamannya menyemangati orang.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com