Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2013

SEJUMLAH KONTROVERSI HADIAH SENI (SASTRA)

Hudan Nur *
esaihudannur.blogspot.com

“Budi Palopo dapat hadiah seni dari gubernur. Tahun depan aku njagoin Lan Fang. Tahun depannya lagi Tjahjono Widianto terus A. Muttaqin, S. Yoga ==> lha kok klik DKJT semua ya? Politiknya kayak TUK ya… atau sama juga DKL. Wah politicking jadi virus juga di seni. Bencana nih!” (sms seorang teman)

NAMPAKNYA keberlangsungan sejarah sastra memang harus bertengkar dan berludah-ludah. Tidak hanya menyuarakan ketertindasan sosial tetapi juga bertengkar dengan koleganya. Sehingga penyasastra yang idealnya soliter cenderung berklik.

Budi Dama: Guru Kepenulisan Kita

Kasnadi *
sastra-indonesia.com

Jika Anda pembaca sastra yang baik tentu kenal nama Budi Darma. Sosok menarik dalam dunia sastra Indonesia ini, banyak menulis novel, cerpen, dan juga esai. Keteladanannya dalam tradisi kepenulisan membulatkan niat Wahyudi Iswanto menulis biografinya. Di samping itu seorang Joko Pitono juga mngumpulkan pemikiran Budi Darma dalam judul Bahasa, Sastra, dan Budi Darma (2007). Pengarang kelahiran Rembang (Jawa Tengah) ini satu-satunya Doctor of Philosophy dari Amerika Serikat dengan spesialis penulisan kreatif sastra. Akhirnya, tidak salahlah jika ia dijadikan guru kepenulisan di Indonesia.

Memahat Mega Makna; Solidaritas dan Ekspresi Penyair

Alam Terkembang *
Riau Pos, 12 Mei 2013

Puisi dan Realitas

SEBUAHpuisi tak pernah alpa atau dusta pada realitas. Puisi membuka mata penyair pada setiap jengkal kejadian. Ia merekam apa saja yang ia lihat dan ia dengar. Tak terbatas oleh ruang dan waktu. Maka, puisi jualah yang mencatatnya dalam lembar sejarah yang tak pernah lekang. Antara puisi dan realitas tak bisa dipisahkan. Puisi selalu mengangkat yang lama ke permukaan agar tetap baru dan terbaharukan, untuk bisa dinikmati sepanjang waktu.

Makna Menuju Ruang Bahasa

Sayyid Fahmi Alathas *
Lampung Post, 12 Mei 2013

SEBUAH makna dalam karya sastra memiliki keistimewaan, apabila diamati dari segi struktur dan kosakata bahasa dalam pembentukan kalimat; melampaui ruang”realitas” bahasa, dimana teks yang terdapat pada karya sastra setiap baris dalam baitnya memiliki kandungan nilai estetika dan puitika bahasa.

Drama Pramoedya

Raudal Tanjung Banua *
Riau Pos, 12 Mei 2013

PRAMOEDYA Ananta Toer (Blora, 6 Februari 1925-Jakarta, 30 April 2006) tersohor sebagai novelis kenamaan Indonesia. Di tanah air kita yang masih bermasalah dengan identitas, sebuah status tak jarang menenggelamkan status yang lain. Meskipun seseorang punya potensi besar menyandang beberapa status sekaligus, baik karena bakatnya yang besar, etos kerjanya yang baik maupun tuntutan zaman yang mengharuskannya demikian. Selain lintas ilmu dan profesi, di dalam kesenian juga ada sosok yang menekuni semua genre secara bersamaan. Misalnya, sastrawan yang menulis puisi, cerpen, novel, drama, bahkan sekaligus sebagai pelukis.

Trilogi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Nafisatul Husniah *
Suara Karya, 10 Mei 2013

ING ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Sebaris kalimat penuh makna inilah yang dibawa Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara untuk membangun negeri ini melalui semangat juangnya. Hingga akhirnya tanggal 2 Mei yang merupakan tanggal kelahiran beliau, sampai sekarang terus diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional dan beliau sendiri dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional sesuai dengan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Membincangkan Kritik Puisi Apresiatif

Desi Sommalia Gustina *
Riau Pos, 28 April 2013

TAK sedikit kalangan beranggapan bahwa memahami puisi merupakan suatu hal yang sulit, terlebihlagi jika harus bertindak sebagai ‘kritikus’. Namun, Maman S Mahayana bilang, setiap pembaca karya sastra, pada dasarnya dapat bertindak sebagai ‘kritikus’ jika ia menuliskan tanggapan terhadapnya. Setidaknya seperti yang dilakukan oleh Soni Farid Maulana dalam buku kumpulan esainya yang berjudul Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi. Buku ini berisi 14 esai sastra. Sebagaimana judul buku, esai-esai dalam buku ini sangat kental dengan semangat mengapresiasi atas karya sastra bernama puisi.

Belajar Menulis dari Gede Prama

Kasnadi *
sastra-indonesia.com

Gede Prama adalah sosok yang menarik. Raut wajahnya nampak tenang, tutur bahasanya lembut, sehingga mampu menghanyutkan orang yang diajak bicara. Sorot matanya mengandung keteduhan, menyejukkan mereka yang menatapnya. Sesekali ketika dia berbicara di selingi dengan senyum kecil menambah damai bagi yang diajak bicara. Kadang-kadang dia diam sejenak, mengenang masa silam yang jauh. Dengan gerakan-gerakan kecil yang tetap terkendali dan terjaga semakin akrab dan senang bersanding dengannya. Semua itu merupakan pancaran jiwa yang matang. Karena itulah dia termasuk motivator hebat di Indonesia.

Mencurigai Puisi

Usman Arrumy
sastra-indonesia.com

Puisipuisi yang kutulis sewaktu silam, ternyata kupahami sebagai puisi yang bukan sungguhan. Ia, hanya coretan tanpa makna. dengan menjunjung tinggi keindahan ber-kata ternyata belum cukup untuk di vonis sebagai Puisi. Dulu pernah terlintas bahwa kata-kata yang kutulis itu adalah puisi, Juga. aku menganggap bahwa seluruh huruf yang kususun itru adalah puisi, tapi semenjak aku sering membaca puisi orang lain, aku merasa bahwa tulisanku, ternyata masih jauh belum layak menyandang identitas sebagai puisi.

Sastra-Indonesia.com