Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2012

Pergulatan Sastra Pesantren; Sebuah Harapan

M. Arwan Hamidi *
http://ind.lakpesdam-ponorogo.org/

Prof. Drewes, sarjana bahasa Jawa, Melayu dan Arab dari Leiden, dalam bukunya Javanese Poems Dealing wuth, or Atributed to the Stain of Bonang (1968), pernah mengkritik sangat tajam ahli antropologi dari Amerika, Clifrord Geertz mengenai pengamatannya tentang Islam di Jawa: “kalau kita membaca pengamatan Geertz mengenai Islam di Jawa, maka kita akan mendapat kesan seolah bangsa Jawa adalah bangsa yang buta huruf. Karya sastra Islam sama sekali tidak disebut: tidak satu kitab kuningpun yang disebut dan juga karya sastra Islam dalam bahasa Jawa dibaitkan secara total….” (Karel A. Steenbrink, 1988).

Sastra Pesantren dalam Pergulatan

K. Ng. H. Agus Sunyoto
http://pesantrenbudaya.com/?id=28

KH Abdurrahman Wahid (1973) memberikan abstraksi tentang sastera pesantren dalam dua definisi, pertama, karya-karya sastera yang mengeksplorasi kebiasaan-kebiasaan di pesantren,. Kedua, adanya corak psikologi pesantren dengan struktur agama (warna religius) yang kuat. Sementara Ahmad Tohari (2003) menegaskan bahwa sastera pesantren adalah sastera yang membawa semangat budaya dan tradisi pesantren, yaitu sastera yang membawa spirit religius ala pesantren dan ditulis oleh komunitas pesantren sendiri.

Membaca Tembang Tolak Bala (Beberapa Catatan Sekilas)

Raudal Tanjung Banua
http://sastra-indonesia.com/

Membaca novel Hans Gagas, Tembang Tolak Bala (LKiS Yogyakarta, Mei 2011) kita mendapatkan gambaran yang kaya tentang reog Ponorogo, tidak sekedar penampilannya yang atraktif dan indah, melainkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan di “belakang panggung”—dan ini jauh lebih menantang.

Petanda Kata Pentas Sastra 2012 Dari PP Al Anwar Paculgowang

Santri Primitif Telah Mati
Anjrah Lelono Broto *)
http://www.kompasiana.com/anjrah_lelono_broto

Memang tak sesakti yang dibuat pujangga asli / Mohon dimaklumi / Sekaligus dinikmati / Baris kata yang tak tahu diri / Yang digubah di warung kopi // Mereka yang terlupa masa lalu / Dan tak peduli masa depan / Mereka yang mengadu nasib dengan sebatang rokok / Dan secangkir kopi / Mereka yang mencurahkan perasaan di ujung / Pena dan secarik kertas / Mereka yang berkelana di antara maya dan nyata // Sang pujangga pinggiran // Aku tak pandai berkarya / Aku tak terlalu mengarti tentang sastra / Namun hari ini / Ku beranikan diri / Untuk memanggungkannya // Di antara para pujangga //

Si Lembut yang Melahirkan Gerakan Islam Kultural

Hartono Harimurti
http://www.suaramerdeka.com/

SUARA memang memengaruhi keterpilihan seseorang menjadi presiden. Tentunya pikiran kita langsung tertuju pada jumlah suara. Namun untuk Presiden AS yang termuda, John F Kennedy, ”suara enak”-lah yang lebih menentukan. Itu yang dikatakan Nurcholish Madjid saat bersilaturahmi dengan jajaran Redaksi Suara Merdeka di Kaligawe beberapa waktu lalu.

RONGOWARSITO: Dari Santri Bengal Jadi Pujangga Agung

Mulyadi SA
majalah Misteri, edisi 20 Sep-04 Nov 2008

Nama Raden Ngabehi Ronggowarsito memang sudah tidak asing lagi. Dia adalah seorang pejangga keraton Solo yang hidup pada 1802-1873. Tepatnya lahir hari Senin Legi 15 Maret 1802, dan wafat 15 Desember 1873, pada hari Rabu Pon. Pujangga yang dibesarkan di lingkungan kraton Surakarta ini namanya terkenal karena dialah yang menggubah Jangka Jayabaya yang tersohor hingga ke mancanegara itu. Hingga sekarang kitab ramalan ini masih menimbulkan kontroversi.

Ketika Seputar Ponorogo Menulis Puisi

Eko Hendri Saiful *
Tabloid Seputar Ponorogo, edisi II 10-16 Jan 2012

Sejauh mana sosok yang bernama media mampu mengada dalam sejarah? Jawabannya mungkin tergantung seberapa ia mampu menulis sebuah puisi humanis. Puisi tidak hanya kumpulan kata yang dirangkai dengan nalar estetika, melainkan wujud konkret dari kesadaran manusia akan pentingnya berefleksi dan berempati. Memahami ungkapan Martin Heidger (1947) ,puisi merupakan sarana terbaik bagi manusia untuk mengada karena memiliki karakter yang paling mampu menghadirkan makna dunia serta meneguhkan kesadaran.

Meramu Tradisi dan Modernitas

A. Yusrianto Elga*
http://www.jawapos.com/

Buku ini adalah dedikasi seorang Zamakhsyari Dhofier terhadap dunia pesantren yang telah membesarkan namanya. Sebelumnya, Pak Zam -demikian panggilan akrabnya- juga menerbitkan buku bertajuk kepesantrenan yang telah diterbitkan dalam tiga bahasa (Indonesia, Jepang, dan Inggris). Buku yang semula merupakan disertasi itu berjudul Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai (terbit 1982).

Sastra-Indonesia.com