Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2012

Membaca Suara Hati Rakyat di Buku Kumpulan Puisi “Jejak Mata Pena”

Tosa Poetra
http://sastra-indonesia.com/

Seminggu yang lalu, setelah lelah dari pagi sampai sore kerja di bengkel, saya langsung pulang. Biasanya saya jalan-jalan dulu sebelum pulang. Ya, hari itu memang diharuskan saya segera pulang, karena hari itu di rumah ada acara genduri setahun Yudistira, anak laki-laki saya yang kecil. Sampai di rumah, saya melihat ada paket di meja belajar saya, kiriman dari saudari saya yang bekerja di Hongkong.

Politik Bahasa dan Kita

Oyos Saroso H.N. *
Lampung Post, 29 Okt 2008

SETIAP peringatan Bulan Bahasa, saya selalu teringat saat-saat masih menjadi pelajar sekolah lanjutan tahun 1980-an di Jawa Tengah. Ketika itu, sekolah kami selalu mengadakan peringatan dengan mempraktekkan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik, artinya sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Benar berarti tepat pemakaiannya sesuai dengan keadaan atau situasi.

Presiden Kebudayaan

Radhar Panca Dahana *
Gatra, 9 Juli 2009

Ir. Soekarno membantah tudingan para sejawatnya soal ide Pancasila yang ia cetuskan pada sidang BPUPKI, 1 Juni 1945, sebagai hasil analisis yang mentah dari data yang miskin. Ia menjelaskan dengan panjang lebar riwayat negeri ini, jauh sebelum Hindu (India) datang, riwayat negeri-negeri yang jauh, dengan cermat, detail, dan di luar kepala. Hingga kutipan ujar-ujar pemikir dan filsuf ternama di masa lalu hingga yang kiwari.

Godaan untuk Sastra Jawa

Bandung Mawardi
Solo Pos, 7 Mei 2oo9

Kumpulan pertanyaan: Apa sastra Jawa? Apa sastra berbahasa Jawa? Apa sastra Jawa dengan aksara Jawa? Apa sastra Jawa dengan aksara Latin? Apa sastra Jawa dengan bahasa Indonesia? Kumpulan pertanyaan pelik itu susah menemukan jawaban jika sekadar masuk melalui pintu tunggal. Jawaban mesti masuk melalui sekian pintu untuk pengajuan argumentasi yang mengandung persamaan, kemiripan, atau pertentangan. Ketegangan mencari dan menemukan jawaban adalah konsekuensi dari ikhtiar mengurusi “Jawa” dalam cakupan aksara, bahasa, sastra, kultural, tradisi, modernitas, atau lokalitas.

Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia

Abdurrahman Wahid
Kompas, 26 November 1973

Sebagai objek sastra, pesantren boleh dikata belum memperoleh perhatian dari para sastrawan kita, padahal banyak di antara mereka yang telah mengenyam kehidupan pesantren. Hanya Djamil Suherman yang pernah melakukan penggarapan di bidang ini, dalam serangkaian cerita pendek di tahun-tahun lima puluhan dan enam puluhan. Juga Mohammad Radjab, sedikit banyak telah menggambarkan tradisi hidup bersurau di kampung, dalam otobiografinya yang berjudul Semasa Kecil di Kampung. Walaupun demikian, karya dua orang penulis itu belum lagi dapat dikatakan berhasil mengungkapkan hidup kejiwaan di pesantren. Paling banyak karya mereka baru memantulkan nostalgia akan masa bahagia yang mereka alami semasa kecil dalam lingkungan pesantren.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com