Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2012

Teater Papua dan Manusia yang Berharap

Dorothea Rosa Herliany
http://www.jawapos.com/

Sekumpulan perempuan berbalut pakaian rumbai-rumbai dari kulit pohon (saly) dan tas di kepala (noken) meratap sedih sambil menari-nari. Genderang tifa, triton, dan sejumlah alat musik tradisional menyihir suasana menjadi pilu. Seorang di antara pemain dengan suara lengking dan terasa menyayat menyanyikan syair neno, neno, nene, wadoi kwonso sup ineno / yore mamo mamo / wadoi kwonso sup mambesak / sup ineno // neno, neno, nene, manseren nanggi, wado i / kwonso papua sup ineno / yoro mamo mamo wadoi / kwonso nona papua sup ine (Ya Tuhan, turunlah dan tinggal bersama kami di negeri mambesak ini, Tuhan Langit, berkati negeri Papua serta kekayaannya). Saat itu, ikon yang menjadi hero mereka, Angganetha, akan dibunuh dengan dipenggal kepalanya oleh tentara Jepang.

Festival Penulis Tanpa Penulis

Eka Kurniawan *
Kompas, 07 Okt 2007

DALAM buku esai terbarunya, The Curtain, Milan Kundera menyinggung perihal sastra dunia (atau dalam istilah Goethe, Die Weltliteratur) dengan mengatakan: “Tidak, percayalah, tak akan ada yang mengenal Kafka saat ini—tak seorang pun—jika ia tetap menjadi seorang Ceko.”

Konteks pernyataannya tersebut adalah meski Franz Kafka seorang Yahudi dan menulis serta tinggal di Ceko, pada kenyataannya Kafka dikenal sebagai penulis Jerman. Menurut Kundera, hanya karena menulis dalam bahasa Jerman dan kemudian diperkenalkan sebagai penulis Jerman, Kafka bisa kita kenal sekarang ini.

Periode Aplikasi Festival Sastra "UWRF" Dibuka

http://bali.antaranews.com/

Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) kembali membuka kesempatan bagi para penulis muda Indonesia untuk menghadiri festival sastra itu di Ubud, Kabupaten Gianyar, yang berlangsung Oktober 2012.

Direktur sekaligus penggagas UWRF Janet De Neefe, Senin mengatakan, perhelatan kesusastraan tahunan terbesar di Indonesia ini merupakan kegiatan yang kesembilan kalinya dengan mengusung tema "Bumi Manusia", yang diinspirasi oleh salah satu karya penulis besar Indonesia, almarhum Pramoedya Ananta Toer. Sedangkan pada festival-festival sebelumnya selalu mengambil tema dari kebijakan lokal masyarakat Bali.

Soal Estetika Sastra Internet

TS Pinang
Republika, 20 Mei 2001

Munculnya beberapa situs sastra di internet belakangan ini ternyata memancing kritik yang cukup serius baik dari para pengamat maupun pegiat sastra itu sendiri. Dinamika di mailing list penyair sendiri ternyata sempat bikin gerah Faruk HT, kritikus sastra dari UGM. Agus Noor yang cerpenis pernah mengungkapkan kekecewaannya terhadap karya-karya cerpen internet yang terpajang di situs www.cybersastra.net. Ahmadun Yosi Herfanda di Republika (Minggu 29 April 2001) juga setidaknya mengungkapkan kegelisahan yang sama menanggapi akan diluncurkannya kompilasi karya puisi internet (cyber) oleh Yayasan Multimedia Sastra dalam waktu dekat ini.

Politik Sastra: Sastra Sebagai Barang Biasa

Muhammad Taufiqurrohman*
http://bahas.multiply.com/

Sastra adalah sebuah produk kebudayaan ‘biasa’. Ia adalah makhluk biasa-biasa saja yang lahir dalam sebuah rentang peradaban umat manusia. Sebagaimana produk-produk kebudayaan yang lain ---sebut saja politik, ekonomi, hukum dan lain sebagainya--- ia datang ke dunia dengan segala karakteristik, kodrat, keperluan, kepentingan, kelemahan juga kekurangan yang dibawanya. Juga saya pikir, sebagai barang ia tak ubahnya tempe penyet, busway, batu-nya ponari, dan laptop.

50 Penyair Korea Selatan dan ASEAN Berkumpul di Riau

Adrizas
http://www.suarakarya-online.com/

Riau menjadi tuan rumah Festival Penyair Korea-ASEAN (Korean-ASEAN Poets Literature Festival/KAPLF) II yang dibuka pada Selasa (25/10) malam oleh Gubernur Riau HM Rusli Zainal di Gedung Daerah, Pekanbaru. Festival itu diikuti 50 penyair Korea dan beberapa negara di ASEAN, termasuk Indonesia.

Direktur KAPLF II, H Rida K Liamsi, dalam kesempatan itu mengatakan, tahun 2011 adalah perhelatan lanjutan dari event KAPLF di Seoul, Korea Selatan, Desember 2010. Saat itu ditunjuk Riau, Indonesia, sebagai tuan rumah.

Menakar Puisi “Kamboja Bergoyang Seusai Pemakaman”

— Sebuah Puisi Edi Romadhon—
Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Juli tahun 2009 ini, usianya terhitung limapuluh tahun lebih tiga bulan. Sedang sebagai penyair —jika ditilik dari antologi puisinya yang pertama: Antologi Lingkaran Kosong (IKIP Yogyakarta, 1981)— usia kepenyairannya terhitung duapuluh delapan tahun. Sebuah perjalanan kepenyairan yang tak dapat dikatakan pendek, sebab telah ia tempuh lebih dari separuh usia kehidupannya.

Nostalgia ‘Ratu Dunia’

Bandung Mawardi *
Majalah Tempo, 9 Jan 2012.

Selisik sejarah bahasa sering melahirkan pertanyaan. Sejarah memang rimbun misteri. Saya mengurusi misteri ini dengan keinginan wajar: mengerti dan memiliki. Saya ingin mengerti sejarah agar tidak menanggung misteri sepanjang hidup. Saya ingin memiliki sejarah sebagai pengalaman untuk merawat takjub.

Saya membuka kembali koleksi buku-buku lawas di kardus-kardus kumal. Mata ini memandang buku berjudul Falsafah Ratu Dunia (1949) garapan Adi Negoro. Buku setebal 160 halaman ini menguraikan banyak hal. Adi Negoro menjelaskan melalui anak judul:

Kekonvensionalan Membaca Puisi Pada Pelajar; Sebuah Kondisi yang Mewaris

Rahmat Sularso Nh*
Radar Mojokerto, 12 Feb 2012

Pembelajaran Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah khususnya pada jenjang pendidikan menengah atas sudah lebih menyentuh kepada kekontekstualan perkembangan Pendidikan Bahasa dan Sastra itu sendiri. Artinya materi-materi ajar yang di suguhkan sudah tidak lagi terbatasi oleh referensi atau kumpulan data milik guru secara pribadi. Memulai membuka lembar-lembar perkembangan kesusastraan Indonesia akan menimbulkan keterbukaan informasi yang sangat luar biasa.

Václav Havel, Dulu Ditolak di Semua Pintu

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

Ada kritikus sastra yang mengatakan bahwa sastra Perancis sudah berakhir; setelah lenyapnya kelompok eksistensialisme terjadi kekosongan.

Akan tetapi seperti dikatakan dalam ‘’Label France’’ N° 58 2nd Quarter 2005 halaman 17 oleh kritikus Tirthankar Chanda, ‘’Mereka yang mengatakan demikian hampir pasti tidak membaca karya Patrick Modiano’’.

Penulis India Menjadikan Dunia Manusiawi

BI Purwantari
http://pelitaku.sabda.org/Kompas, 16 Sep 2006

Selain memiliki industri perbukuan yang merambah pasar dunia, India dikenal mempunyai banyak penulis dunia. Karya-karya mereka, selain dianggap turut mewarnai perkembangan kesusastraan atau pun bidang keilmuan lainnya, juga dilihat sebagai produk kebudayaan yang ikut mengubah dunia.

A.D. Pirous, Zikir Visual Pelukis Tak Berbakat

Dipo Handoko, Ida Farida
http://www.gatra.com/

SETELAH 17 tahun absen berpameran tunggal, Abdul Djalil Pirous, pelukis yang banyak menekuni kaligrafi, kembali menggelar pameran serial bertajuk Restrosepktif 2. Perhelatan yang dihadiri 300 tamu itu diselenggarakan di Galeri Nasional, Jakarta, Senin pekan lalu. Forum ini sekaligus menandai usia ke-70 tahun lelaki kelahiran Meulaboh, Aceh, itu. Acara juga diisi dengan peluncuran buku perjalanan berkeseniannya berjudul A.D. Pirous: Vision, Faith and a Journey in Indonesian Art, 1955-2002.

Adonis: Puisi, Tuhan, Seks

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Hari ini telah kubakar
fatamorgana Sabtu dan fatamorgana Jumat
hari ini telah kulempar topeng rumah itu
dan telah aku ganti Tuhan batu buta
dan Tuhan hari-hari tujuh
dengan seorang Tuhan yang sudah mati.
–ADONIS, puisi Tuhan yang Sudah Mati, terj.Ahmad Mulyadi

Mochtar Lubis: Pahlawan Saya Mahatma Gandhi

ditulis ulang: Leila S. Chudori
http://tempointeraktif.com/

Dalam usia 70 tahun pekan lalu, wartawan sejak sebelum perang ini mengenang banyak hal. Dari “zaman keemasan pers Indonesia”, hubungannya dengan Bung Karno, sampai bagaimana menjaga semangat dalam sel penjara.

Dialah wartawan Indonesia yang banyak memperoleh penghargaan internasional. Antara lain Hadiah Ramon Magsaysay dari Filipina, dan Pena Emas dari Federasi Pemimpin Redaksi Sedunia. Sastrawan yang juga banyak meraih hadiah ini, yang mendirikan majalah sastra Horison, dan salah seorang anggota Akademi Jakarta ini bertutur tentang semua itu kepada Leila S. Chudori.

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis).

Agar kita tidak minder

Budiman S. Hartoyo
http://majalah.tempointeraktif.com/

SEBUAH acara sederhana — tapi cukup penting sebagai usaha memperkenalkan wajah manusia Indonesia — Kamis pekan lalu berlangsung di rumah Adilla dan Soewarno di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Malam itu diperkenalkan terbitnya kumpulan puisi penyair Sapardi Djoko Damono yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh John H. McGlynn, dengan judul Suddenly the Night. Malam itu juga diperkenalkan berdirinya Yayasan Lontar — penerbit kumpulan puisi itu — yang dibentuk beberapa budayawan pada hari Sumpah Pemuda tahun lalu.

Memupuk Kebangsaan dengan Sastra

Arie MP Tamba
http://www.jurnas.com/

Pada masa awal ‘terbentuknya‘ Indonesia, banyak karya sastra Indonesia yang bisa menjadi saksi bagaimana proses indonesiasi berlangsung. Dengan penuh semangat, dalam segala keterbatasan, para sastrawan masa itu menghasilkan karya mereka berupa buku sederhana, terbitan terbatas, yang kadang beredar dari tangan ke tangan. Dan setelah kemerdekaan tercapai, sebagian besar penulis itu kesulitan menyelamatkan naskah mereka.

WAWASAN KREATIF DALAM DUNIA PUISI

(Esai ini disarikan dari buku “Sejumlah Esei Sastra” karya Dr. Budi Darma, MA. dengan penyesuaian sewajarnya).
Muhammad Rain
http://sastra-indonesia.com/

Membentuk nilai dan mewariskan nilai merupakan dua hal berbeda. Nilai yang dimaksud di sini adalah nilai sastra, nilai kreatif berupa hasil wawasan seorang pengarang puisi. Membentuk nilai merupakan hal tak mudah dan perlu intensitas lebih. Bila dibandingkan dengan mewariskan nilai, maka kegiatan berkarya hanya berhasil pada sisi apresiasi, penghargaan terhadap pekerjaan-pekerjaan nilai yang sudah ada.

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com