Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2012

Gus Mus, Puisi, dan Politik

M Thobroni *
http://www.republika.co.id/

KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, selain kiai, adalah seniman, pengarang, dan aktif di berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Juga, pernah menjadi anggota dewan. Beragam kegiatan ini memberi implikasi unik dalam ziarah kreatifnya. Ia bertegur sapa dengan realitas sosiologis dan psikologis tertentu. Maka, menarik menilik bagaimana warna puisi Gus Mus terkait momentum Pemilu 2009 kini. Dibandingkan Taufik Ismail, puisi politik Gus Mus memiliki corak khas berlatar pesantren dan tradisi pesisir.

Perempuan Gembel Debleng

Jusuf AN
__Majalah Esquere, Apri 2011

Bagaimana mungkin? Bawuk, perempuan paling cantik di kampung itu, yang telah sekian lama hidup di kota, ternyata memiliki rambut gembel, rambut kusut yang seolah membeku—beratus helai menyatu menjadi gumpalan-gumpalan—berwarna coklat kemerah-merahan, tak sejuk dipandang. Warga di daerah itu percaya rambut gembel tak boleh dipangkas sekehendak hati. Konon, selain rambut serupa akan tumbuh lagi, si empunya juga akan diserang sakit yang tak remeh.

Bermain dengan Blues Rendra

Khudori Husnan
Kompas, 26 Sep 2010

KESEMPURNAAN Rendra tecermin dalam tiga buku yang diterbitkan setelah ia wafat dan didedikasikan kepadanya. Pertama, Rendra: Ia Tak Pernah Pergi (Penerbit Buku Kompas, 2009); kedua, Rendra Berpulang (Burung Merak Press, 2009); dan ketiga, Stanza dan Blues. Buku ketiga ini berisi puisi-puisi yang diambil-pilih dari dua buku puisi Rendra, Empat Kumpulan Sajak (Pustaka Jaya, 1961) dan Blues untuk Bonnie (Pustaka Jaya, 1971).

Senyum Soeharto dan Politik Kesenian

Binhad Nurrohmat*
http://www.jawapos.com/

Presiden Soeharto berkata dalam otobiografinya, ”Di depan para seniman dan seniwati itu saya tegaskan, ketahanan sosial budaya tak kalah pentingnya dengan ketahanan militer dan ketahanan ekonomi dalam memperkuat ketahanan nasional” (Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 1989).

Perkataan Soeharto yang membungahkan itu merupakan ”petunjuk” bahwa andil kaum seniman bisa sederajat dengan kiprah kaum tentara dan pedagang. Lain kata, kesenian itu berguna atau sekurangnya tak mubazir bagi ”ketahanan nasional” –bila mengandung pesan atau menyuarakan kritik yang ”membangun”.

Sahabat Lan Fang Baca Puisi Bersama

Ribut Wijoto
http://www.beritajatim.com/

Kepergian Lan Fang benar-benar dirasakan oleh kalangan sastrawan di Surabaya. Tak hanya sastrawan dan seniman, para politisi, pengusaha, dan masyarakat umum juga turut berduka cita.

Sore ini, di rumah dr Ananto, Jl Trunojoyo 63 Surabaya, para sahabat Lan Fang menggelar pembacaan puisi bersama. Halaman rumah yang biasanya menjadi markas Bidadari (Pusat Deteksi Dini & Diagnostik Kanker) itu disulap menjadi panggung terbuka.

Melankoli Sebentar Sembari Minum Kopi

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Entahlah..
Perkenankan saya buka kalimat saya dengan kata bermakna ketidaktahuan itu. Dalam batin saya hanya ingin sekadar menulis.

Jogja mendadak garang saat ini. Lepas beberapa jam di belakang, hujan yang sebentar. Lebih tepatnya gerimis yang merintik-rintik. Nuansa melankolik [melankolis? melankoli?] bermunculan di seputar tempat saya duduk.

Pertunjukan Teater Negri Sungsang dan Silaturrahmi Budaya

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/

Sore tampak cerah, orang-orang sedang menata barang dagangannya, berharap mengais rejeki di sebuah pagelaran teater. Desa Wisata Jono Kecatan Temayang Kabupaten Bojonegoro akan ada pergelaran Teater dari Komunitas Suket Indonesia dari Jombang. Kali ini mereka akan menampilkan Negri Sungsang. Desa Wisata Jono adalah tempat perdana yakni pertunjukan teater Komunitas Suket Indonesia dengan kalaborasi dengan Komunitas Jaran Kepang Wahyu Budaya Mojowarno pada Minggu, 22 Januarai 2012.

Sastra-Indonesia.com