Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

MANUSKRIP DAERAH: PELESTARIAN IDENTITAS KULTURAL MENUJU KOMODITAS

Agus Sulton
Radar Mojokerto, 1 Mei 2011

Mayoritas masyarakat kita tidak mengenal apa itu filologi, apa itu manuskrip, dan arti pentingnya. Ini setidaknya menjadi suatu fenomena besar, mungkin terjadi kesalahan dari sistem pendidikan kita sehingga hal semacam ini tidak diperkenal di tingkat sekolah lanjutan. Padahal orang yang kredibel dibidang ini berpendapat manuskrip adalah benda bersejarah dan masuk dalam cagar budaya yang harus dilindungi akan keberadaannya. Edwar Djamaris menyayangkan apabila manuskrip tidak dirawat dengan cermat akan cepat sekali hancur dan tidak bernilai lagi sebagai warisan budaya nenek moyang. Manuskrip bukanlah perhiasan yang harus dibanggakan dan mempertontonkan saja. Manuskrip itu baru berharga apabila masih dapat dibaca dan dipahami isinya.

Dami N. Toda sebagai Kritikus Sastra

Yohanes Sehandi *
harian Pos Kupang, 23 Juni 2010

Sejak Dami N. Toda meninggal dunia 10 November 2006 di Hamburg (Jerman) sampai dengan pengantaran abu jenazahnya ke Indonesia/NTT, Oktober 2007, sejumlah koran nasional dan lokal NTT (Pos Kupang dan Flores Pos), memberitakannya. Wartawan Pos Kupang di Manggarai, Kanis Lina Bana, merekam kembali perjalanan hidup almarhum dan menghasilkan tiga tulisan berseri di Pos Kupang (25-27/10/2007). Dua penulis muda NTT, Bill Halan (Pos Kupang, 1/11/2007) dan Isidorus Lilijawa (Flores Pos, 24/10/2007) memberi sumbangan “opini sastra” tentang Dami N. Toda beserta jasa-jasanya.

Sastra dan Sepakbola

Asarpin *
http://sastra-indonesia.com/

Dalam sebuah cerita tentang bola, Ugoran Prasad—cerpenis dan penulis naskah teater kelahiran Lampung—menampilkan sebuah kisah amat sederhana, namun menggugah dan kena. Ugoran begitu pintar mengolok-olok dengan bahasa yang tak terduga, dan mengejutkan.

N Y E K A R

Akhiriyati Sundari
http://sastra-indonesia.com/

Ibu ingin nyekar. Keinginan itu disampaikannya berulang-ulang. Ibu ingin seperti umumnya warga di kampung kami. Bersiap jelang bulan suci Ramadhan dengan nyekar. Tradisi yang biasanya dirangkai dengan besik atau bersih-bersih makam itu diakhiri dengan berdoa, mendoakan arwah yang dikubur. Berikut moyang-moyang terdahulu. Ibu juga ingin kembali nyekar, lusa, usai sembahyang Ied di masjid kampung. Kebetulan, sarean atau pemakaman umum utama kampung kami terletak persis di samping masjid.

Cak Selamet

Ahmad Zaini*
__Radar Bojonegoro, 18 Des 2011

Peluh bercucuran dari wajah keriput menjelang tua. Kedua kakinya tiada henti mengayuh pedal becak yang menjadi temannya setiap hari dalam mengais rezeki. Caping lebar yang terbuat dari anyaman bambu masih melekat di kepalanya. Kemudian dia berhenti pada sebuah warung yang berdiri di pinggir jalan. Capingnya dilepas lantas ia kipas-kipas agar keringat yang meleleh di keningnya kering. Kedua kaki ia lemaskan sembari menyandarkan punggungnya di dinding warung. Perlahan kaki kanannya diangkat di atas kursi panjang membujur di dalam warung. Ia lantas menghela napas panjang melepas lelahnya.

“Pesan apa, Met?” Tanya tukang warung.

“Biasa, Mbok. Nasi pecel dan air putih saja,” jawab Cak Selamet.

Kemudian Mbok Darmi dengan tangkas melayani pesanan Cak Selamet.

Sepiring nasi pecel dengan lalap kangkung ia santap dengan lahap. Tangan yang kini kisut dengan sedikit gemetar bergerak cekatan menyodorkan suapan nasi pada mulut yang tiap hari tak pernah le…

Pak Tua dan Anjing Muda

Hasnan Bachtiar
http://sastra-indonesia.com/

“Cinta dan sakit jiwa adalah saudara kembar. Teruslah tertawa, bergembira dengan kegilaan.”

Entahlah, kegilaan ini dimulai dari cinta atau cinta dimulai dari kegilaan. Mencintai adalah seberapa sabar ia hari ini harus duduk berlama-lama menikmati secangkir kopi mocca, yang dihirup wanginya setiap setengah jam sekali.

Lelaki itu memang sudah beruban, wajahnya berkerut, tangan kirinya menyangga, menggaruk rambutnya yang terasa gatal karena ulah nakal kehidupan. Tangan kanannya menyeruput pelan tapi pasti, kopi yang belum dingin, lalu menghempaskan nafas serasa lega. “Hah…”.

Tetapi, sejurus kemudian seraya memaki-mbatin, “Anjing…!” duduk santai di depannya memelototi seonggok daging hidup yang tak berdaya di seberang jalan. Tubuh itu duduk-setengah berjongkok memeluk kedua kaki, sedang punggung dan pundak kirinya tersangga pohon besar yang kokoh.

Tempat duduk itu sangat nyaman, tak tergerus hangat terik mentari, tak terbelai halus rintihan ger…

Pisau Kembar Membedah Panji Tengkorak

Judul: Panji Tengkorak; Kebudayaan dalam Perbincangan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Cetakan: 2011
Tebal: xx + 537 halaman
Peresensi: Adhitia Armitriant
http://suaramerdeka.com/

SELAMA ini, komik seperti kurang beroleh perhatian dari para peneliti. Buktinya, referensi mengenai karya seni yang memadukan gambar dengan tulisan ini amat minim. Padahal komik amat populer di masyarakat, terlebih pascaserbuan komik Jepang, alias manga, lebih dari satu dasa warsa silam.

Karena itulah, buku Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang berjudul Panji Tengkorak; Kebudayaan dalam Perbincangan ini menjadi penting. Sebab menurutnya, “Panji Tengkorak karya Hans Jaladara yang terhadapnya juga telah dilakukan adaptasi sebagai film layar lebar maupun serial televisi, sangat mungkin menunjukkan bagaimana kebudayaan berlangsung (hal 217).“ Desertasi itu, seperti yang dia tulis dalam abstraksi, bertujuan untuk mencari tahu dan mengungkap bagaimana proses kebudayaan berlan…

Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers & Readers Festival 2011

Febby Fortinella Rusmoyo
http://www.kompasiana.com/febbyfortinellarusmoyo

Diskusi Sastra Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival 2011 kembali diselenggarakan di Pekanbaru, kali ini ini mengupas tema “Sastra Multikultural”. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 13 Oktober 2011, di Galeri Ibrahim Sattah, Kompleks Bandar Serai Pekanbaru. Hadir sebagai pembicara adalah dua orang penyair yang berasal dari negara yang berbeda, yaitu Sean M. Whelan dari Australia, dan Budy Utamy dari Indonesia, tepatnya dari Riau, dengan pembawa acara Refila Yusra (Komunitas Paragraf Pekanbaru) dan sebagai moderator sekaligus interpreter yaitu Febby Fortinella Rusmoyo (Komunitas Paragraf Pekanbaru).

Acara Satellite Event Ubud Writers and Readers Festival ini sendiri merupakan rangkaian dari keseluruhan acara Ubud Writers and Readers Festival yang sebelumnya telah diselenggarakan di Ubud, Bali, Indonesia pada tanggal 5-9 Oktober 2011. Sedangkan acara Satellite Event Ubud Writers and Readers Festiva…

HALIM HD: Perahu Bahan Refleksi Kita

Halim HD/ Anton Bae (Pewawancara)
http://www.beritamusi.com/

PADA Senin, 20 Juli 2009 lalu, penerbit Pustaka Melayu, Teater Potlot, dan BeritaMusi.Com, bertempat di kantor redaksi BeritaMusi.Com, Jalan Basuki Rachmad No.1608-I, Palembang, mengadakan peluncuran dan diskusi novel Perahu karya Conie Sema. Sebagai pembicara dalam diskusi tampil budayawan Halim HD, peneliti sastra dari Balai Bahasa Palembang Dian S, dan Sutrisman Dinah, seorang aktifis pers yang kini bekerja untuk Sriwijaya Post.

Banyak hal yang dibahas pada diskusi novel Perahu tersebut. Baik yang berkaitan dengan alur dan penokohan dalam cerita, hingga fakta-fakta social-politik yang menjadi tema utama dari novel yang ditulis lelaki kelahiran Palembang, 24 April 1965.

Diskusi mengenai tema politik ini menjadi perhatian peserta diskusi, yang sebagian besar adalah aktifis prodemokrasi, pers, mahasiswa, dan pekerja seni. Diskusi ini pun berlanjut hingga ke ruang lainnya, seperti warung makan, kamar hotel, dan ruang tamu.

Be…

Sastra (mistik) Puncak Merapi

(Catatan Orang Maiyah Sebagai Relawan Merapi)
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Seberapa maksimalkah kemampuan media, relawan, tim SAR, atau pihak terkait sekali pun dalam pemberitaan hiruk pikuk seputar Merapi? Pertanyaan diatas jika ditarik pendekatan metodologi semisal dari 293 titik pengungsi, ternyata yang didatangi media massa sebagai bahan liputan hanya 2 prosennya saja, tentu akurasi datanya tak memadai untuk dijadikan bahan kaji metodologi keilmuan dalam rangka menentukan ketepatan penyelesaian Merapi tahun tahun mendatang.

Ketidaktepatan team ahli dalam menentukan prediksi penanganan Merapi merupakan rujukan kelemahan sistem keilmuan modern. Contoh: 1. Kenapa pemerintah justru menempatkan pengungsi di kawasan Kali Urang yang justru kawasan itu dilibas awan panas-wedhus gembel? 2. Kenapa lokasi pemakaman massal yang salah satunya adalah jenazah Mbah Maridjan, juga kawasan yang besoknya dilibas wedhus gembel? 3. Data rekam seismograf dengan perlakuan Merapi itu send…

CYBERSASTRA: PENTINGKAH?

Pengantar buku “SENYAWA KATA KITA” Antologi Puisi Komunitas Cybersastra TITAH PENA HAMBA – DISKUSI SASTRA ONLINE
Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

Jika ada yang bertanya tentang muasal lahirnya buku Antologi Puisi SENYAWA KATA KITA yang sangat sederhana ini, maka jawabannya adalah: cybersastra. Ya, sebuah transformasi baru dalam laju periodisasi kesusastraan yang mulai familiar dikenal sejak sekitar tahun 2001. Atau lebih tepatnya kala budaya internet mulai mewabah dalam geliat kehidupan sehari-hari di seantero negeri. Tak dapat dipungkiri, bahwa kehadiran cybersastra memang telah membawa dampak besar dalam dunia sastra. Laksana tamu tak diundang yang datang mengetuk pintu hati para penggiat, pemerhati, hingga peneliti sastra yang selama ini seakan terkunci. Meski oleh berbagai kalangan, diam-diam masih menjadi perdebatan, apakah kehadiran gaya baru bersastra ini membawa hal positif atau negatif? Lantas, apa saja sebenarnya yang telah, sedang dan akan terjadi melalui cybersast…

Air Mata Cinta yang Mencari Ruang Maha

Imron Tohari
http://sastra-indonesia.com/

Airmata itu menari-nari mencari ruang Maha layaknya angin yang bertiup, melayuk, membelai dedaun di ruang-ruang jumantara. Dan langit terang jua adanya murai berkicau di pucuk-pucuk cemara, pun entah di mana kicaunya lesap kala kelam menggulat alam, seperti saat tubuh-tubuh tak lagi berpeluk, bibir-bibir tak lagi berkecup, kesendirian mengantar tangisan kekasih. Masihkah burung merak bisa membanggakan bulu-bulu indahnya? Sedang para pemburu terbuai nyanyian perdu peri-peri hutan.

O, jangan pertentangkan lagi kelahiran dan kematian. Seperti halnya keramaian juga keheningan, begitu pula kelahiran dan kematian tak seharusnya merapuhkan asa. Lihat saat anak-anak ayam mulai mencicit, suara cicitnya adalah penghambaan pada induknya untuk selalu memberikan kehangatan. Keheningan itu kehidupan, ulat yang bermetamorfosa pada kepompong, lalu moksa berubah menjadi kupu-kupu, Dan tidak seharusnya tangis seperti batu bisu, karena hanya kesiaan bila tangis …

Skizofrenia, Kegilaan, dan Modernitas: Perihal Prosa Iwan Simatupang

Asarpin *
http://sastra-indonesia.com/

Novel pelacur mesti diuji keampuahannya
dari suatu keadaan tepi-tepi terakhir
tepi yang menari-nari di remang kejauhan
Tepi, daerah terakhir sebelum ketamatan

–IWAN SIMATUPANG

Seorang novelis terkemuka memutuskan untuk menarik diri dari situasi politik yang sedang riuh. Setiap saat ia merasa dipaksa oleh suatu tata pemerintahan di negerinya untuk patuh dan mengikuti segala aturan yang telah ditetapkan. Si pemuda yang calon seniman itu merasakan kesuntukan yang tak terlukiskan, dan nyaris tak ada pilihan bagi hidupnya. Satu-satunya jalan adalah berpura-pura patuh mengikuti garis yang dipancangkan pada semua orang, termasuk pada dirinya. Si pemuda bertingkah kekanak-kanakan, dan terkadang pula meledek situasi yang sedang terjadi pada realitas politik dan seolah-olah mengikuti begitu saja kenyataan sesuai dengan garis partai yang sedang berkuasa (namun, sekali lagi, ia cuma pura-pura).

Setiap hari pemuda itu berjalan ke gedung kesenian mengirimkan t…

Sastra-Indonesia.com