Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Pengertian Gaya dalam Perspektif Kesejarahan dan Hubungannya terhadap Karya Sastra Kumpulan Cerpen “Perempuan Semua Orang” Karya Teguh Winarsho AS

Didik Harianto
http://didikharianto.wordpress.com/

Pemahaman Gaya dalam Perspektif Kesejarahan

Dilakukan dengan memberikan gambaran tentang konsep style atau gaya pada masa sebelum masehi, abad pertengahan dan Renaissance sekitar tahun 1500-1700, Neoklasik dan Romantik sekitar tahun 1700-1798, Moderenisme yang berkembang setelah Perang Dunia I dan Postmodernisme. Pemahaman gaya ditinjau dari perspektif kesejarahan dapat memperkaya wawasan tentang keragaman konsepsi, gaya; hubungan gaya dengan berbagai fakta lain yang berkaitan dengan keberadaan gaya; keragaman sudut pandang; keragaman landasan teori; dan penentuan posisi sasaran kajian.

Oase Estetik di Tengah Modernitas: Sebuah Spirit Festival Kampung Cempluk 2011

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/

Kampung, dengan adanya modernitas yang salah satunya ditandai dengan pembangunan membuatnya terpinggirkan. Lahan-lahan pertanian yang dijadikan mata pencaharian masyarakat kampung berubah menjadi perumahan mewah , rumah toko bahkan mall. Begitu pula dengan semangat gotong royong menjadi terkikis dengan sifat individualis masyarakat modern. Kesenian tradisional yang menjadi spirtualitas ekpresi masyarakat pun sudah jarang ditemui karena media-media yang lahir dari modernitas bermunculkan yang menawarkan kesenangan sesaat dan populer.

BELAJAR MENULIS DARI KURNIA EFFENDI*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Dalam laporan gagas utama Mata Baca, edisi September 2005 (hal. 10-11), diungkapkan beberapa pengalaman yang kemudian menjadi tips menarik seorang cerpenis muda Indonesia yang sangat handal. Ia adalah Kurnia Effendi, yang lahir di Tegal Jawa Tengah 20 Oktober 1960. Berikut merupakan tips menarik itu: (a) membuat 10 file sekaligus untuk 10 calon cerpennya, (b) terinspirasi indera visual kemudian menyusur ke audio, (c) kala mood hilang melakukan kegiatan rutin atau mengerjakan sesuatu yang kita suka, (d) disiplin dalam menulis merupakan keharusan tetapi ingat jangan melakukan diri kita seperti robot, dan (e) jika naskah ditolak kita perlu arif menerimanya, anggap cerpen itu tidak cocok untuk media yang bersangkutan.

”Rumah Prosa” Indonesia

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Pramoedya Ananta Toer, prosais terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, cukup sering bicara soal rumah dan pulang dalam karya prosanya. Pram menempatkan rumah sebagai sejarah, rumah sejarah, sebagaimana ia menempatkan novelnya sebagai bagian dari ”novel sejarah” sekaligus ”filsafat sejarah”.

Dalam karya klasiknya, Bukan Pasarmalam, Pram dengan liris bicara soal rumah, kampung halaman, di samping tempat seorang anak di zaman revolusi.

Kekuatan Sastra Hingga ke Pelaminan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

“Jodoh, Rizqi, Mati, iku mung siji, tapi sewu dalane.”

A. Prolog

Kaidah filsafat Jawa di atas, sepintas ndemel terdengar, tapi akan terus menguntit-ngiang di telinga orang yang serius mendalami filsafat dan apalagi jika hendak menjadikan konsep pemikiran dan laku hidup. Coba fikirkan sejenak! Jodoh dimaksutkan untuk menyebut idiom pertemuan dua hal atau lebih yang saling menguntungkan (simbiosis mutualis).

Sajak-Sajak Hasnan Bachtiar

http://sastra-indonesia.com/
Daun Saka dari Surga

Daun saka, tlah jatuh dari surga

ada saka di balik pintu,
jelma hening dari rapuh

ada saka di balik jeruji erat,
rupa beban berlabuh berat

ada saka di ujung kebrutalan harimau,
singkap hikmah dari petaka

ada saka di hadapan cinta,
wujud kekosongan sebagai makna

saka yang penuh
gelasku terisi jernih
tiada keruh

saka yang utuh
abadi

16/9/2011



Pelukan Ibu

Saat kau balutkan kafan
untuk jasadku
wahai ibu
tangismu menerangi sukmaku

aku lahir dengan pelukmu
hingga waktu tibaku
dengan pelukmu jua

ibu, kuatkan aku
dengan doamu
ceritakan kisahku
untuk cucu-cucumu yang lucu

relakan aku
merelakanmu
ibuku,
surgaku

Rogojampi (Banyuwangi)



Salam untuk Kekasihku *

Kalau memang itulah yang kau inginkan wahai kekasihku, tak lagi mau menyerahkan nasibmu pada Tuhan, marilah hidup tanpa Tuhan, dan menghadapi kenyataan itu dengan lapang dada

Dengan tak bertuhan kau lebih religius, dengan tak bertuhan kau lebih muslimah, tidakkah muak setiap manusia dengan kebai…

Sajak-Sajak Bambang Kempling

http://sastra-indonesia.com/
Di Sebuah Ruang

Kau tersipu ketika tembang kanak-kanakmu mengalun kembali di antara kering ilalang lewat lirih suara dan tiba-tiba menjelma ajal.

Kau tersipu ketika tak setitikpun derai gerimis singgah lalu memendarkan kesahajaan dan kesetiaan daun jendela yang senantiasa berkabar bahwa jalan setapak menuju ziarahmu tak lagi berkelok.

Kau pun tersipu ketika tak kau kenali wajah yang kau simpan sendiri dalam benakmu

Betapa sulit menerjemahkan itu, sementara tarian kupu-kupu di pagi hari kepaknya teramat sunyi

:rahasia debu.

19 Oktober 2011



Buat Gadis Kecilku FLA

di tepi telaga
kau menunggu bidadari
sementara rembulan
belumlah bundar

gayung
ember
bunga tujuh rupa
di tentengan tangan

amboi
nyanyian kanak-kanak
bertalu-talu
:blak ciblak ciblung
ciblak cibluk blak

begitu kau dengar dentum debur
dan selendang warna-warni
meliuk-liuk di angkasa
air mata haru tujuh bidadari
menderas di air telaga
dengan gayung kau isi ember
lalu segera kau bawa pulang
: di pelataran…

Sajak-Sajak Heri Listianto

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
TINGKAH DUNIA SAAT INI

Gemetar ubunku
melihat tingkah dunia saat ini
gemetar ubunku
menyimak berita malam ini.

Gemetar ubunku
Ketika Indonesia sudah sepi hilang hikmat,
hanya canda tak berisi

Indonesia …
Indonesia …
Seperti kapas terbang dari tangkai
Terombang-ambing angin barat
dengan belenggu
temali uang berdebu.

Indonesia…
Seperti itu kini aku melihatmu.

Perlis, 15 juni 2010



SEPERTI BENIH KAPAS

Seperti ribuan benih kapas
di atas altar peribadatan
aku melihat doa’- do’a dari kitab suci
yang melantun pada malam keagungan.

Riak kemricik air kali,
mengantar bisik kecil
untuk perenungan kisahmu
Rosul…

Sebagai perjamuan embun
mengalir ke sungai jasad ini
sampai akhir hayat ini.

Surabaya , 23 Juni 2010



MUNGKIN SUDAH TAKDIR

Mungkin sudah takdir.
Tuhan…
di setiap rongga-rongga tulang
kau alirkan rasa seribu tanya
tentang bumi dan langit

tentang perjalanan planet
tentang aliran meteor di sungai-sungai angkasa

sejengkal detik di kehidupan ini
menyusun h…

KAMBOJA MERAH

Sri Wintala Achmad
___Minggu Pagi Yogya

Hampir seminggu. Deretan rumah bordil di pinggiran kota Langensari berpintu rapat terkunci. Di luar, tidak ada lelaki-lelaki mabuk menyanyi parau dengan iringan gitar murahan. Perempuan-perempuan berias menor, beraroma menyengat, dan mengisap sigaret pula tidak kelihatan sibuk berburu tamu.

Lelah aku mencari Lastri. Pelacur tigapuluhan yang selalu berbagi suka-duka denganku manakala sepi tamu. Perempuan yang terpaksa menjalani hidupnya sebagai penghuni rumah Bordil Kasiyem karena dipekerjakan oleh suaminya itu, telah menjadi bagian hidupku. Lastri seperti cahaya pada lampuku.

Tidak seorang tahu kemana Lastri. Kasiyem hanya bilang, “Entah kemana perginya anak liar itu.” Pak Man, pemilik warung angkringan yang berseberangan jalan dengan rumah bordil itu hanya mengatakan. “Lastri tidak pernah menampakkan batang hidungnya semenjak musim garukan.”

Dari keterangan Pak Man, aku berfikir bahwa Lastri terkena razia. Maka pada pagi harinya, aku starter Va…

Ibuku Perkasa

Ahmad Zaini
http://sastra-indonesia.com/

Di bilik rumah sebelah kanan, terdengar suara suamiku mengerang-erang kesakitan. Riuh rendah suaranya terbawa oleh hembusan udara yang memenuhi ruang depan. Rintihan-rintihan itu seakan seperti sembilu yang menyayat-nyayat kalbu. Rasa sakit yang berkepanjangan belum juga sampai ke muara kesembuhan. Pedih rasanya mendengar erangan suami yang menahan rasa sakit di luar kemampuannya. Suara itu semakin lama semakin keras hingga aku harus berdiri dan beranjak menghampiri suamiku yang masih tergolek di ranjang kamar. Sarung yang membungkus kepalanya perlahan kusingkap, lantas kuusap keringat yang mengucur deras di keningnya. Terasa di telapak tanganku suhu badan suamiku sangat panas. Lalu aku bergegas mencarikan kain kemudian kucelupkan di sebuah ember yang berisi air di samping suamiku. Kening yang mulai berkerut kukompres dengan kain yang sudah kubasahi air. Dengan rasa kasih sayang kuusap perlahan lelehan air mata yang mengalir dari matanya yang a…

Kehidupan Sastra di Dalam Pikiran

Seno Gumira Ajidarma
Kompas, 3 Jan 1993

Ketika Jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Karena bila Jurnalisme bicara dengan fakta, sastra bicara dengan kebenaran. Fakta-fakta bisa diembargo, dimanipulasi, atau ditutup dengan tinta hitam, tapi kebenaran muncul dengan sendirinya, seperti kenyataan. Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku sastra bisa dibredel, tapi kebenaran dan kesusastraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tertahankan. Menutupi fakta adalah tindakan politik, menutupi kebenaran adalah tindakan paling bodoh yang bisa dilakukan manusia di muka bumi.

Kesusastraan hidup di dalam pikiran. Di dalam sejarah kemanusiaan yang panjang, kebenaran dalam sastra akhirnya menjulang dengan sendirinya, di tengah hiruk-pikuk macam apapun yang diprogram secara terperinci lewat media komunikasi massa. Rekayasa media massa yang paling canggih pun akan cepat lumer se…

Surat Terbuka Pramoedya Ananta-Toer kepada Keith Foulcher

Surat Terbuka Pramoedya Ananta-Toer kepada Keith Foulcher
http://arusbawah20.wordpress.com/

Salam,

Surat 26 Februari 1985 saya terima kemarin, juga surat terbuka Achdiat K. Mihardja untuk teman-teman (sarjana) Australia yang dilampirkan. Terimakasih.

Lampiran itu memang mengagetkan, apalagi menyangkut-nyangkut diri saya, dan tetap dalam kesatuan semangat kaum manikebuis pada taraf sekarang: membela diri dan membela diri tanpa ada serangan sambil merintihkan kesakitannya masa lalu, yang sebenarnya lecet pun mereka tidak menderita sedikit pun. Total jendral dari semua yang dialami oleh kaum manikebuis dalam periode terganggu kesenangannya, belum lagi mengimbangi penganiayaan, penindasan, penghinaan, perampasan dan perampokan yang dialami oleh satu orang Pram. Setelah mereka berhasil ikut mendirikan rezim militer, dengan meminjam kata-kata dalam surat terbuka tsb.:

“All forgotten and forgiven” dan revisiannya: “We’ve forgiven but not forgotten.” Saya hanya bisa mengelus dada. Kemunafika…

Perahu kita dulu

THE PRAHU. TRADITIONAL SAILING BOAT OF INDONESIA
Oleh: Adrian Horridge
Penerbit: Oxford Universiy Press, 1981
Moh. Amir Sutaarga
http://majalah.tempointeraktif.com/

TENTANG Borobudur lebih dari seratus buku telah diterbitkan. Sebaliknya tentang perahu, buku yang ada bisa dihitung dengan jari. Padahal perahu adalah unsur utama kebudayaan bahari Indonesia, warisan kejayaan maritim yang sudah lama lewat. Tidak heran bila di antara relief di Borobudur kita masih terlihat 4 pahatan perahu layar bercadik dengan gaya dan teknik abad ke-8.

Adrian Horridge berusaha mengurangi kelangkaan itu dengan sebuah buku yang banyak membahas jenis perahu di Indonesia dan teknologi perhubungan laut di negeri ini dari masa ke masa. Dilengkapi dengan foto dan ilustrasi gambar, buku ini tak salah kalau dikatakan telah membawa kita lebih dekat dengan warisan bangsa sendiri.

Lewat kacamata orang asing tentu saja. Dan kacamata itu memantulkan betapa ia terpukau melihat berbagai jenis perahu yang mengharungi samu…

DAMPAK LICENTIA POETICA BERNAMA “KREDO PUISI” TERHADAP EKSISTENSI BAHASA

Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

Pada tanggal 02 Oktober 2011 yang lalu, tepatnya pukul 20:08 WIB, di Grup Komunitas Bengkel Puisi Swadaya Mandiri (BPSM), terjadi satu interaksi sangat menarik dengan tema pembahasan “licentia poetica” dalam sebuah diskusi yang diawali oleh posting Dimas Arika Mihardja (DAM) melalui tulisan:

Sastra-Indonesia.com