Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Mengenang Chairil, Sebuah Perkenalan

Nelson Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

AKU berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,/ Jadi pucat rumah dan kaku pohonan?/ Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:/ Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Demikian sajak pendek Malam di Pegunungan karya Chairil Anwar. Pertama membaca membersit tanya: beginikah sajak? Sementara salah seorang kakak -yang kemudian saya yakini lumayan lugas mengapresiasi sajak tapi tak sempat jadi penyair- yang kebetulan memperhatikan bertanya, "Apa yang kamu pikirkan, he?"

"Ini," sahut saya. "Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan ini."

"Memang kenapa?"

"Yeah, gimana, ya," kata saya sambil menggaruk kepala yang sebetulnya tidak gatal," lucu!" sembur saya akhirnya.

"Coba bayangkan, bagaimana jika sekiranya kamu yang berkejaran dengan bayangan," kata kakak pula.

"Itu perbuatan yang sia-sia," gerutu saya. "Kita akan penat sendiri. Baya…

Bedah "Suluk Saloka Jiwa"

Sastra Pertemuan Jawa-Islam
Saroni Asikin
http://www.suaramerdeka.com/

SOSOK R. Ng. Ranggawarsita (1802-1873) dikenal sebagai pewaris sastra kapujanggan alias sastra yang ditulis demi kepentingan istana atau negara. Istana dalam hal ini adalah Keraton Kasunanan Surakarta. Lebih dari itu, dia pernah disebut sebagai pujangga pungkasan.

Maka muncullah beragam tafsir atas gelaran yang diberikan pada lelaki yang ketika muda bernama Bagus Burham itu. Tafsir yang paling dominan adalah soal titik pertemuan kebudayaan Islam dan Jawa (kejawen).

Itulah yang mengemuka dalam sarasehan di Dalem Padmasusastran Solo, Senin (1/7) malam. Sarasehan itu menghadirkan Mh Zaelani Tammaka dengan makalah Suluk Saloka Jiwa, Strategi Mencari Titik Temu Islam-Jawa. Pembahasnya, Mohammad Damami dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan makalah Suluk Saloka Jiwa: Sebuah Perspektif. Peserta yang hadir berasal dari berbagai elemen masyarakat Solo yang oleh panitia diundang dengan alasan perhatian mereka terhadap ke…

ISLAM DI JAWA

Mh Zaelani Tammaka
http://kotasendeng.blogspot.com/

Alkisah, seorang dewa Hindu, Wisnu didorong oleh keinginannya yang besar untuk mencari titik temu antara ajaran Hindu dan Islam, rela menempuh perjalanan jauh, dengan mengarungi lautan dan daratan, untuk datang ke negeri Rum (Turki), salah satu pusat negeri Islam, yang kala itu dalam penguasaah Daulah Usmaniyah.

Untuk mencapai maksud itu, Wisnu mengubah namanya menjadi Seh Suman. Dia pun menganut dua agama sekaligus, lahir tetap dewa Hindu namun batinnya telah menganut Islam. Dan demikianlah, setelah menempuh perjalanan yang demikian jauh dan melelahkan, sampailah Seh Suman di Negeri Rum. Kebetulan pada masa itu Seh Suman bisa menghadiri musyawarah para wali itu bertujuan untuk mencocokkan wejangan enam mursid (guru sufi): 1) Seh Sumah, 2) She Ngusman Najid, 3) Seh Suman sendiri, 4) Seh Bukti Jalal, 5) Seh Brahmana dan 6) Seh Takru Alam. Demikianlah ikhtisah Suluk Saloka Jiwa karya pujangga Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, R…

Religiusitas yang tak verbal pada Telepon Berdering Dini Hari

:Sebuah Sajak Bambang Kempling
Zawawi Se
http://sastra-indonesia.com/

Beberapa waktu lalu masih di tahun 2009 ini saya masih teringat ketika memposting sebuah puisi-puisi-an saya ke milist apresiasi sastra. Ketika itu puisi-puisi-an tersebut mendapat respon dari Hudan Hidayat yang menyatakan bahwa puisi-puisi-an yang saya buat tersebut masih terlalu verbal.

Tapi bagaimana lagi, sebagai seorang awam puisi memang sering terjebak pada keverbalan gaya ungkap. Menyatakan A untuk sebuah maksud yang A pula. Menulis B untuk bermaksud menyatakan B pula.

Dalam sajak karya Bambang Kempling berjudul Telepon Berdering Dini Hari yang tergabung dalam Antologi Bersama Lidi Segala Kata seperti mengungkap religiusitas yang tak verbal. Jadi religiusitas itu tidak harus mengungkap kata-kata seperti shalat, zakat, puasa, dan lain-lain

Dalam konsep Islam sepertiga malam akhir atau dini hari sampai menjelang fajar adalah waktu kesunyian dari hiruk pikuk kesibukan dunia. Pada saat itulah turun Tuhan dan para…

DARI DAN KE …

Bambang Kempling *
http://sastra-indonesia.com/

Mimpi masih berlanjut setelah itu.

Suatu perbincangan pada suatu sore masih saja mengiang di telinganya sepanjang hari yang dilalui kini. Apakah hal yang tampak selalu di depan mata, telah menjelmakan racun pada setiap lembut udara yang dihirupnya? Ataukah semacam tabir bagi kebanggaan jalan yang pernah dilalui?

Sore itu, selesai rintik hujan dan di barat matahari kuning keemasan hampir terhimpit di antara gedung-gedung tua tertiraikan pohon-pohon akasia, ketika sepasang kekasih duduk berhadapan di bawah tiang bendera yang menjulang di tengah lapangan rumput, ketika dia dan seorang temannya melintas di antara mereka tanpa begitu peduli, ketika mereka lalu menyapa,

“Hallo!!”

Ketika sapaan itu tak ada sahutan sama sekali. Ketika sang perempuan menyebulkan senyum kecil yang manis sekali, lalu bertanya pada sang kekasih:

“Kemana mereka?”

“Entah!” jawab sang kekasih.

Di perempatan jalan mereka berhenti, ketika seorang pengendara motor melamba…

Sastrawan Jawa Timur: Peta Kebangkitan Jaman

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Jawa Timur yang luasnya sekitar157.922 kilo meter persegi, dengan jumlah penduduk 36.294.280 merupakan wilayah fenomenik. Berbagai kajian keilmuan tak pernah sepi mengangkat Jawa Timur sebagai topik utama.

Dari sudut sastra, para esais sastra sedang gencar mengupas perihal tarik-ulur eksistensi kesusastraan yang pada akhirnya menguatkan titik fokus jati diri Jawa Timur sebagai wilayah kesusastraan tersendiri di Indonesia, wilayah yang tak lagi menjadikan Jakarta dan Melayu sebagai pusat imperium kesusasteraan.

Dari sudut politik, kita dapat amati setiap menjelang berlangsungnya pemilu. Partai politik, bahkan calon kandidat presiden sekali pun, memprioritaskan agenda utama dalam rangka menggaet suara dari Jawa Timur. Dengan jumlah penduduk yang padat dalam wilayah yang tanggung dibanding Kalimantan, Sulawesi, Sumatera serta Irian, diasumsikan kalau menang pemilu di Jawa Timur, kemungkinan besar menang pemilu di Indonesia.

Secara antropologi,…

Gerimis di Suatu Malam

Ahmad Zaini
http://sastra-indonesia.com/

Menjelang pagi, mataku masih sulit dipejamkan. Di setiap arah mataku memandang yang tampak hanyalah wajah Luna yang baru saja menghadap Sang Mahakuasa. Kelopak mataku terasa pedih seakan ada yang mengganjal. Lagi-lagi bayangan wajahnya yang mengganjal agar mata ini tidak terpejam. Di setiap sisi ruang kamarku terbayang ribuan lukisan wajahnya yang tersenyum manis. Tawa manja yang merayu saat aku bertemu dengannya setahun yang lalu. Setelah kutatap bayangan itu ribuan wajah Luna pun lenyap ditelan cahaya lampu temaram di ujung malam.

Kusandarkan tubuhku pada tembok berwarna kelabu. Guratan-guratannya menarik khayalan saat aku bersuka cita dengan Luna kala itu. Namun, khayalan itu hanyalah kamuflase belaka. Ia lenyap lantas berganti air mata membanjiri kamarku.

”Andaikan aku tak berangkat saat itu, mungkin malam ini aku duduk berdampingan dengannya,” kataku dalam lamunan.

”Ah, tidak! Luna telah tiada. Aku pembunuh! Aku pembunuh!” teriakku menyala…

Membelah Septum Sastra

Soegiharto *
http://www.lampungpost.com/

Tidak dimungkiri kenyataan sastra kini hanya berkembang di kota-kota. Tokoh-tokoh sastra kita kebanyakan tinggal di daerah urban. Demikian pula dengan penikmatnya. Tidak heran kalau Arief Budiman pernah mengatakan kalau sastra Indonesia merupakan sastra kota.

TENTU Arief tidak sembarang bicara, karena hampir seluruh karya sastra kita muncul dan syiar hanya di kota-kota. Senada pendapat Arief, pada Temu Sastra ’82 Arifin C. Noer tak gamang mengatakan kalau sastra kita adalah sastra borjuis. Kenyataan kalau sastra juga harus dihidupi dan sumber penghidupan itu ada di kota. Pas. Lantas, haruskah sastra kita hanya berkembang di sana? Pastilah sastra kita akan mandek dan sumpek. Sebab, mayoritas penduduk Indonesia masih tinggal di daerah. Ibarat orang lapar: nasi sesuap diharap, sepiring terhidang dibuang.

Sungguh memprihatinkan, penduduk Indonesia yang hampir seperempat miliar semestinya menjadi jaminan investasi bagi karya sastra. Seandainya sastr…

Ateisme Kepenyairan, Jalan Menuju Tuhan

Damhuri Muhammad*
Kompas, 9 Desember 2008

BISAKAH sastra dan agama bersekutu, lalu mendedahkan kebenaran yang sama? Bila pertanyaan ini diajukan kepada Adonis, dipastikan jawabnya mustahil. Bagi penyair Arab terkemuka itu, puisi dan agama bagai dua sumbu kebenaran yang bertolak belakang.

Puisi adalah pertanyaan, sementara agama adalah jawaban. Puisi adalah pengembaraan yang dituntun oleh keragu-raguan, sedangkan agama adalah tempat berlabuhnya iman dan kepasrahan. Lebih jauh, di ranah kesusastraan Arab, puisi dan agama bukan saja tak seiring jalan, agama bahkan memaklumatkan, jalan puisi bukan jalan yang menghulu pada kebenaran, tetapi menjerumuskan pada lubang kesesatan. Agama menyingkirkan para penyair Arab jahiliah ke dalam kelompok orang-orang sesat, orang-orang majnun (gila), penyihir. Inilah muasal segala kegelisahan dalam kepenyairan Adonis, yang disampaikannya pada kuliah umum di Komunitas Salihara, Jakarta (3/11/2008).

Tak ragu Adonis mengatakan bahwa sejak munculnya agama, t…

Penyair, Kembalilah ke Akarmu

Triyanto Triwikromo, Langgeng Widodo
http://www.suaramerdeka.com/

”SETIAP seniman pasti memiliki akar,” kata Goenawan Mohamad, sesaat sebelum Diskusi dan Pembacaan Puisi 18 Penyair Jawa Tengah, di Teater Arena, Taman Budaya Surakarta, yang berlangsung 27-28 Desember, berakhir.

Budayawan gaek tersebut menyatakan premis indah itu bukan untuk penyair, tetapi untuk para penari. Dia juga tak mengatakan di Teater Arena, tetapi di kantin sederhana. ”Akar itu tak mungkin kalian hilangkan. Jadi, jangan terlalu asyik ke mana-mana. Kalau Anda penari, ya tengoklah tarimu. Jangan terlalu melibatkan ke hal-hal jauh yang berada di luar dirimu.”

Sayang sekali, para penyair (Jawa Tengah) tak mendengarkan nasihat itu. Karena itu, hanya sedikit penyair yang kembali memperhatikan akar atau ”tabiat kata”. Hanya sedikit penyair yang benar-benar bergaul dengan kata-kata. Mereka kebanyakan hanya bergaul dengan seolah-olah kata, sehingga yang muncul ke permukaan hanya seolah-olah puisi.

Simpulan semacam itu p…

Gerson Poyk Terharu Menerima Anugerah Kebudayaan 2011

Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Duduk berpangku tangan di pinggir meja rapat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik, di lantai 16 Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu pekan lalu, Gerson Poyk nampak lebih muda dari usianya. Seluruh rambutnya yang telah putih, dicukur pendek, mengenakan setelan jas warna gelap dilengkapi dasi warna merah.

Sesekali pria kelahiran Nomodale, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, 16 Juni 1931 ini memperhatikan ruangan rapat orang nomor satu di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata itu. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya ke masyarakat lain dari berbagai daerah, yang kebetulan duduk berdekatan dengannya karena hari itu bersama-sama Gerson Poyk akan menerima penghargaan dari Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Dan, satu persatu Menbudpar Jero Wacik menyerahkan penghargaan tersebut kepada mereka yang dinilai sangat pantas – tahun ini – menerima tanda jasa dari Pemerintah.

Seluruhnya ada 48 orang yang menerima penghargaan Maestro Seni …

Ratu Kidul, Mitos yang Tak Akan Hilang

Ardus M Sawega
Kompas, 21 Des 2009

”Tadi terjadi pertempuran alus. Banyak kelompok orang yang ingin gagalkan acara. Ratu menangis lihat perbuatan mereka. Dia juga terharu karena melihat besarnya animo orang untuk ikut seminar.”

Pesan singkat lewat ponsel itu dikirimkan oleh MT Arifin, satu jam seusai seminar ”Membongkar Mitos Ratu Kidul” di Balai Soedjatmoko, Solo, Kamis (17/12). Di seminar itu, dia menjadi salah seorang pembicaranya. Dari pesan singkat MT Arifin itu, seolah benar-benar telah terjadi ”pertempuran” di dunia gaib di tengah seminar.

Padahal, faktanya, tidak ada yang aneh selama seminar yang dipadati sekitar 200 peserta yang datang dari sejumlah kota. Tak ada bau semerbak mewangi, dupa, atau kemenyan selama berlangsung seminar yang makan waktu hampir lima jam ini.

Lho, apakah Ratu Kidul bukan hanya sosok dongeng yang hidup di dunia mitos? Lebih absurd karena dalam pesan dari MT itu disebut kata ”Ratu”—maksudnya adalah Ratu Kidul. Di sana seolah-olah dia ini adalah ”seseor…

‘Tiga Jagoan’ dan Orang-Orang Merdeka

Eep Saefulloh Fatah
http://www.bookoopedia.com/

Sastra, Kebebasan dan Peradaban Kemanusiaan; merupakan buku karya sastra yang dihimpun oleh 3 penulis berlatar pemikiran progresif, ideologis, visioner, dan humanis.

Buku himpunan esai, prosa liris, puisi, cerpen, dan esai liris; telah menegaskan fungsi sastra sebagai alat pelurusan sejarah, pembebasan dan perjuangan bagi nilai-nilai kemanusiaan.

Heri Latief, Mira Kusuma, dan Leonowens SP; adalah 3 serangkai sahabat yang selama ini berkonsentrasi dalam perwujudan karya-karya sastra sebagai alat pencerdasan dan pembebasan di bidang: politik, ekonomi, budaya, lingkungan, negara, kekuasaan, gender, dan globalisasi.
***

‘Tiga jagoan’ kita berkolaborasi menerbitkan buku yang Anda pegang ini. Lalu, apa yang bisa saya bilang? Kata pengantar sederhana ini adalah jawabannya.

Orang-orang Merdeka

Dunia perbukuan di Indonesia dalam lebih dari satu dasa warsa terakhir telah berkembang secara dramatis. Banyak sekali buku diterbitkan dalam periode ini …

Sastra-Indonesia.com