Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2011

Perlawanan Kaum Santri, 25 Februari 1944

Nina Herlina Lubis
http://pr.qiandra.net.id/

“I have nothing to offer but blood, toil, tears, and sweat.” Itulah “kata-kata bersejarah” yang diucapkan Winston Churchill pada tanggal 13 Mei 1940, tiga hari setelah dia diangkat menjadi perdana menteri Inggris. Kata-kata itu ternyata memberi spirit yang luar biasa kepada para pejuang Inggris untuk memenangkan Perang Dunia ke-2.

Empat tahun kemudian, di tempat nun jauh di Timur, di mana jam menunjuk angka enam jam lebih cepat, “kata-kata bersejarah” itu menjadi fakta sejarah. Pada tanggal 25 Februari 1944, yang jatuh pada hari Jumat, di sebuah kampung di daerah Singaparna, Tasikmalaya, terjadi sebuah peristiwa heroik. Ratusan santri terlibat dalam pertempuran dan perkelahian jarak dekat. Namun, dua kekuatan itu jelas tidak seimbang. Senapan mesin, pistol, dan granat pasukan Jepang (meskipun personelnya adalah bangsa kita juga) berhadapan dengan pasukan K.H. Zaenal Mustofa yang hanya bersenjatakan bambu runcing, pedang bambu, dan batu. Hanya …

Puisi Indonesia Miskin Diksi

Teguh Presetyo
Lampung Post, 4 Mei 2008

KARYA sastra Indonesia, terutama puisi, meski pertumbuhannya pesat, dinilai miskin diksi. Bahkan bisa dikatakan tidak ada perkembangan diksi-diksi terbaru yang mampu dihasilkan para penyair.

Penyair Binhad Nurohmat mengemukakan hal tersebut dalam kegiatan Bilik Sastra Membedah Buku 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 yang dikeluarkan Anugerah Sastra Pena Kencana, di PKM Unila, Rabu (30-4) malam. Padahal menurut dia, sekitar 10 tahun terakhir ini, karya sastra yang ada dan berhasil diciptakan para penyair sudah sangat banyak.

Apalagi berkaitan dengan sastra yang ada di Indonesia saat ini yang tidak bisa dimungkiri merupakan “sastra koran”, di mana kuantitas penerbitan karya sastra terutama puisi dan cerpen menjadi semakin intens. Sebab, jumlahnya yang diperkirakan mencapai ribuan judul puisi dan cerpen yang telah di keluarkan. Tentu saja ini merupakan angka yang tidak sedikit.

“Namun, ternyata pertumbuhan karya sastra yang tinggi tersebut tidak dibarengi…

Membawa Sastra Indonesia ke Panggung Dunia

Seri “Modern Library of Indonesia”
Benny Benke
http://suaramerdeka.com/

Buku Modern Library of Indonesia yang berisi seri terkini hasil karya sastra Indonesia modern akhirnya diterbitkan. Buku yang diharapkan menjadi usaha untuk meningkatkan peranan sastra Indonesia di panggung dunia itu, sebagaimana dikatakan Mira Lesmana dalam diskusi tentang “Kebangkitan Sastra Indonesia di Panggung Dunia”, bersama sejumlah pembicara lainnya diantaranya Putu Wijaya, Dewi Lestari, dan John McGlynn, diharapkan dapat mendekatkan karya sastra Indonesia dengan masyarakat Indonesia sendiri. “Bersama harapan lainnya, karya sastra Indonesia semakin dikenal di manca negara,’ katanya di Jakarta, Kamis (19/5).

Mira Lesmana, yang dinilai turut mengangkat pamor sastra Indonesia melalui film Bumi Manusia, yang sedang dimatangkan proses penulisan skenarionya, dan berangkat dari novel karya Pramoedya Ananta Toer, juga berharap penerbitan buku yang digagas yayasan Lontar dan Djarum Foundation itu, dapat merangsang kary…

Sepuluh Tahun Kebangkitan KOSTELA

Zawawi Se
http://www.kompasiana.com/news

Peringatan 10 Tahun Kebangkitan Komunitas Sastra Teater Lamongan (KOSTELA) bertempat di Gedung Serba Guna Kecamatan Sukodadi, Lamongan berlangsung sangat meriah. Dihadiri oleh berbagai elemen pelaku sastra dan budaya dari Lamongan dan sekitarnya. Beberapa nama yang cukup dikenal diantaranya ada Nurel Javissyarqi, Viddy AD Daery (novelis), Jumartono (pelukis), Pringgo Hr (penyair), Bambang Kempling (penyair), dan lain-lain.

Berbagai acara dilaksanakan mulai hari minggu siang sampai minggu malam (6/12/2009). Beberapa agenda acara diantaranya adalah pembacaan puisi, pementasan teater, dan bazaar buku murah. Acara diawali dengan sambutan oleh salah satu senior dalam komunitas tersebut yaitu Herry Lamongan dalam sebuah pidato kebudayaan. Dalam sambutannya Herry Lamongan menyatakan bahwa tujuan untuk lebih mengaktifkan kembali KOSTELA adalah untuk menghidup-hidupkan sastra dan budaya di Kabupaten Lamongan.

Setelah pidato kebudayaan oleh Herry Lamongan, a…

Sastra di Titik Persilangan

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Memimpikan kata ‘perubahan’ di Indonesia, sama halnya mengidamkan hadirnya sebuah revolusi. Tentu banyak pilihan di dalamnya untuk berkiblat, ada revolusi yang berdarah-darah (simak detik-detik terhangat revolusi Mesir), ada pula revolusi ‘aman saja’ (sluman, slumun, slamet yang terjadi di Iran). Revolusi sesungguhnya bermakna membongkar keburukan ‘kita’secara menyeluruh dari berbagai segi.

Setiaknya ada dua syarat yang bisa menyebabkan terjadinya revolusi menurut pakar politik DR. Ruslan Abdul Gani. Pertama: Tingkat kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap hukum, hak dan kewajiban sebagai warga negara. Kedua: Terjadinya gab, kesenjangan yang akut antar dua kubu. Revolusi adalah hasil perkalian dua syarat tersebut.

Kilas tahun 80-an, ketika Indonesia ingin menyamai Malaysia dengan pendapatan 2000 dolar/kapita/tahun, Polandia sudah mencapai 20.000 dolar/kapita/tahun.,Artinya secara perekonomian Polandia berada pada taraf kemapanan, namun karena…

Busur Pelangi di Ngarai Sianok

MEMBACA KOVER BELAKANG MANGKUTAK DI NEGERI PROSA LIRIS
Fadlillah Malin Sutan
http://www.harianhaluan.com/

seperti lukisan
siluet seorang perempuan duduk
merentang tangan di bibir lembah Sianok
ketika senja, ketika dilihat dari jauh
seakan memegang pelangi jadi busur,
memanah ke langit

Tidak seperti biasa, membaca kumpulan puisi Mangkutak di Negeri Prosa Liris (2010) dari kover belakang, yakni memba­canya dari belakang, dimulai dari kanan, tidak dari kiri, seperti membuka Alquran, terasa lain. Bagian belakang merupakan sesuatu yang ter­ping­girkan, di zaman semua orang lebih mementingkan kulit depan. Jangan kan bagian belakang, bagian isi pun sering di anggap tidak begitu penting, karena yang lebih penting kulit depan. Sebuah puisi di kulit belakang, yang bukan bagian dari kumpulan puisi, mungkin puisi “dari kumpulannya ter­buang” (cf Charil Anwar). Kulit depan sebagai pusat, belakang sebagai pinggir dan diping­girkan, orang struktural menye­butnya oposisi binner.

Pada manusia, jika mulai membac…

Hakikat Bahasa, Mantra, dan Tanggung Jawab

(Tanggapan atas buku Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri)
Mahmud Jauhari Ali
http://sastra-indonesia.com/

Apakah yang terbayang di benak Anda ketika membaca judul saya di atas? Wujud bahasakah? Dukun yang sedang membaca mantra? Seorang lelaki yang sedang menunaikan tanggung jawabnya? Atau apa?

Hari itu, di sebuah ruang belajar, saya pernah menyimak sebuah pertanyaan singkat, “Apakah bahasa itu?” Mungkin Anda juga pernah mendengarnya. Mungkin juga tidak. Mengenai pertanyaan tersebut, banyak orang menjawabnya dengan kalimat sederhana, “Bahasa ialah alat komunikasi.” Pertanyaannya sekarang adalah, benarkah bahasa itu memang alat komunikasi?

Sebelum kita masuk ke wilayah yang lebih jauh menyangkut hakikat bahasa, dan juga menanggapi buku karangan Nurel Javissyarqi yang judulnya saya tuliskan di atas itu, saya katakan terlebih dahulu, bahwa saya bukanlah seorang linguis atau pun sastrawan hebat. Dalam hal ini saya hanyalah seorang penulis yang ingin menuliskan apa yang …

Lelaki Penghias Kubur

Aguk Irawan MN*
Minggu Pagi, Juli 2011

TAK bisa dipungkiri, bagi banyak orang sejauh mata memandang, harta dan kehormatan itulah kebahagiaan. Orang mengejar mati-matian agar menjadi pejabat, tidak lebih tujuannya adalah demi itu. Menjadi pejabat, atau orang terhormat tanpa materi adalah semacam aib besar. Tetapi tidak pada seorang lelaki tua. Di keheningan pagi yang buta, ia seperti berkelakuan aneh, padahal orang seantero negeri ini tahu, kalau ia adalah lelaki terhormat dan kaya. Ia terliihat sedang membongkokan tubuhnya, membersihkan sebuah kuburan di halaman rumahnya, dan kuburan itu masih tanpa nisan, tanpa nama, tapi selalu saja terlihat seperti ada bekas siraman bunga mawar. Dan bau harumnya semerbak sampai ke jalan-jalan.

Ada yang aneh di kuburan itu, kalau dilihat dari seberang jalan ia nampak lapuk dan berlumut hitam, namun bila diperhatikan lebih lama kubur tersebut nampak eksotik dan bersih. Tanpa menghiraukan sesiapa yang sesekali mencuri pandang pada dirinya, lelaki tua itu…

Nina dari Kampung

Aminullah HA.Noor
http://www.suarakarya-online.com/

Tanpa menanggalkan pakaian panjangnya, Nina langsung memba- ringkan tubuhnya pada tikar usang di sudut ruang tengah yang sekaligus jadi ruang tamu dan ruang makan. Nina lelah, tapi pikirannya tak mau istirahat. Menerawang, Nina tak mengerti mengapa ia tiba di kompleks perumahan ini.

Memang, baru pertama kali ia memasuki kompleks perumahan sederhana yang sesak dan sumpek. Nina gugup mendengar suara yang menurutnya aneh. Suara seperti itu selama ini belum pernah ia dengar. Betapa lagi ketika malam sudah larut. Ada desing dan bising kendaraan, ada teriakan memekakkan gendang telinga dan ada erangan panjang yang amat memilukan. Dan ada pula tangis anak kecil yang mungkin sangat haus dan karena itu memerlukan air susu.

Padahal, di kampungnya, Nina terbiasa dengan udara dingin kala malam dan alangkah sejuk ketika siang. Pada malam hari ia sering mendengar suara burung hantu dan binatang-binatang malam. Dan pada malam- malam tertentu ia mendeng…

Pita Ungu Multatuli

Beni Setia
http://www.suarakarya-online.com/

Berkali-kali Nina bermimpi jadi kembang api. Terdorong ke ketinggian langit kota yang kelam, dengan bunyi bercericis yang membuat orang-orang menengadah mengawasi gerakannya melintas, lantas tiba di zenit dan meledak menebarkan aneka lentik api warna-warni dalam bentuk bola cahaya. Terbahak-bahak melihat mata [orang-orang] yang membelalak, mulut yang ternganga heran, dan kemudian lirikan pada yang di sebelah sambil berdecak kagum dan menggeleng-gelengkan kepala.

Kata-kata mereka itu, yang berkubang dalam kekaguman dan takjub keheranan, akan mengalun dan meluas seperti efek lemparan kerikil di tengah kolam yang tenang. Menjilat-jilat pematang kolam, menggoyang-goyang benda-benda yang terapung di atas muka air, dan membuat ikan-ikan resah selusupan sebelum kembali di permukaan bila goncangan jadi tenang. Celingukan memeriksa lengkung langit yang disangkanya rubuh itu tetap lengkung biru dengan sedikit hiasan awan yang meng-geliat dan melintas me…

Memaknai Sastra Religius dari Pesantren

Linda Sarmili
http://www.suarakarya-online.com/

Dewasa ini, secara kualitatif, dinamika sastra pesantren bisa kita analisis. Salah satunya adalah melalui pelbagai macam perubahan serta pergeseran corak orientasi paradigmatik yang menjadi substansi dalam karya sastra yang bersangkutan.

Maka, bertambahlah 'spesies' baru, genre baru ke dalam khazanah sastra pesantren mutakhir; sastra pop pesantren dan sastra pesantren yang subversif. Keberadaan dua spesies baru ini tidak hanya melengkapi dan menemani kanon sastra pesantren yang sudah ada, tetapi juga di banyak sisi menyimpan suatu potensi dialektis dan kritis baginya; intertextual clash (benturan intertekstual).

Sebagaimana kita kenal dari jejak historisnya, sastra pesantren kita dikenal sebagai genre sastra yang giat mengangkat tema-tema nilai esoterik keagamaan; Cinta Illahiyyah, pengalaman-pengalaman sufistik, cinta sosial (habluminannaas), atau ekspresi dan impresi transendental keindahan alam semesta (makrokosmos).

Mayoritas begi…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com