Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Novel Sejarah Lamongan

Judul buku : Pendekar Sendang Drajat Memburu Negarakertagama
Penulis : Viddy A.D. Daery
Penerbit : Metamind (Tiga Serangkai), Februari 2011
Hal : 146 halaman
Peresensi : Arman A.Z.
http://www.lampungpost.com/

PENERBITAN novel-novel bergenre sejarah tampaknya sedang menjadi tren belakangan ini. Jika menilik rak-rak di toko buku, banyak novel-novel sejarah, mayoritas berlatar Jawa di masa silam.

Sastrawan Viddy A.D. Daery menerbitkan novel serial Pendekar Sendang Drajat Memburu Kertagama. Setelah meneliti sejarah Sendang Duwur dan Lamongan, penulis yang sekaligus keturunan Sunan Sendang Duwur, kakek Sendang Drajat, kemudian merekonstruksinya ke dalam novel. Tentu bukan hal mudah merekonstruksi sejarah dan memberi interpretasi baru ke dalam bentuk karya sastra.

Novel yang berkisah seputar Kerajaan Majapahit abad XV dibuka dengan deskripsi tokoh Pendekar Sendang Drajat alias Raden Ahmad yang bertugas menjaga keamanan Kasunanan Drajat dan Sendang Duwur. Dia hendak menyunting Dewi mengajaknya berja…

PERANG DINGIN GAGASAN ESTETIK PUISI DAN FIKSI

S. Jai *)
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

MEMBACA kembali fiksi dan realitas sastra kita kini, tentunya merupakan suatu upaya yang tepat dan pada waktu yang tepat pula—sebelum jatuh dalam nostalgia berkepanjangan. Kita hampir saja mengalami sindrom nostalgia pada kedua hal yang jelas berkait erat itu. Bahwa walaupun pada mulanya semangatnya untuk “membaca kecenderungan estetika fiksi kita” akan tetapi sudah barang tentu bakal mencermati subtansi di balik teks sastra khususnya pandangan dunia sebagaimana kerap kali mencuat di pelbagai media.

Termasuk kemungkinan bilamana mempertanyakan “realitas sastra,” tidak mustahil bisa mengembara pada hal yang terkait dengan pandangan dunia pengarang atau komunitas sastra. Akan tetapi sebelum pergi ke sana, penting bagi kita bersepakat bahwa sesungguhnya posisi seniman, sastrawan adalah selaku intelektual atau cendekiawan yang memantik perkembangan ilmu pengetahuan dengan ide-ide gagasan barunya di bidang sastra. Terlepas apakah kemudian sastrawan d…

Artikulasi Tubuh dan Penjara Kata-kata*

Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/

Bahasa teater tak sepenuhnya bisa diwakili dengan kata-kata. Jika teater hanya berkutat pada kata-kata, teater hanyalah aktualisasi dari sastra. Teater memiliki bahasanya sendiri sebagai eksplorasi ruang dan tubuh, dengan penekanan pada artikulasi dan pemahaman kemungkinan pada gerak dan distorsi tubuh, latar, kostum, musik juga tata lampu. Pada titik ekstrim, komunikasi teater bergaung secara metafisis dan spiritual tanpa perlu dibahasakan secara utuh dan verbal. Hanya saja jika teks naskah terlalu dominan dan teks terkesan berbeban makna dan diskursif, dengan sendirinya bisa menyita komunikasi yang seharusnya berlandasan pada pencerapan indra, untuk menangkap momen-momen dan kemungkinan dari menghidupkan tubuh dan ruang di panggung. Setidaknya itulah kesan sebagian dari pentas monolog Djarot B. Darsono di Gedung Utama Balai Pemuda, akhir April 2005.

Pentas itu berlandaskan naskah ‘Kapal Terbang dari Bantal’ karya Afrizal Malna. Bisa ditebak, naskah…

Sastra “Kebacut”

Beni Setia
http://cetak.kompas.com/

Pada 29 September itu saya seharusnya hadir di forum Temu Sastra Jatim-meski yang bertemu itu ya sastrawan bukan sastra. Lepas tengah malam ada sepak bola dan istri saya sedang ikut forum peningkatan guru kesenian di Surabaya.

Jadi, ketika terjaga oleh ribut anak-anak membuat sarapan sebelum sekolah, saya tak bisa gegas mencegat bus karena sudah terlambat, meski jarak dari Purbaya ke Menanggal cuma seloncatan.

Makalah Fahrudin Nasrullah bisa diakses di internet, lainnya hanya berita koran dan tulisan Lan Fang. Satu laporan rinci serta kritis, meski saya bimbang ketika membaca penutup artikel. Ia mengutip tulisan lain di Kompas dan kesannya jadi aneh.

Saya pikir Surat As Syu’ara hadir tak dalam konstatasi harus berhati-hati kepada sastra atau sastrawan. Tak persis seperti itu, tapi Allah SWT justru memperingatkan penyair agar tak liar mengumbar imajinasi dan kefasihan berbahasa, dan membuat kitab suci tandingan karena beranggapan Al Qur’an karya puisi yan…

PAKAIAN BAHASA

Muhammad Rain
http://sastra-indonesia.com/

Di antara banyaknya pengguna kata dalam dunia sastra puisi, pakaian kata tentu berganti-ganti dipakai oleh penyairnya. Tuntutan adanya variasi akibat keseringan menggunakan kata yang sama disokong oleh pengaruh yang ingin menjembatani penulis puisi (penyair kata-kata) agar bahasa yang diramunya dapat terus terasa segar saat dibaca. Harapan puisi dapat mengalir seiring berkembangnya mode kata-kata selalu ada di setiap even penulisan. Dekade setelah reformasi, lemari kata-kata makin ramai dipenuhi oleh rujukan modernitas pengucapan. Bahasa (kata) yang biasa disusun ulang itu selanjutnya mempertemukan kemungkinan-kemungkinan pemaknaan baru, pola susunan putar-balik, transendent dan revision dari kedua sisi yang melingkupinya, baik secara ejaan maupun semantiknya.

Konsep kata pada dasarnya berunsur konvensional. Penyair tidak menulis untuk kalangan biasa, selanjutnya pakaian umum kata ini (kata bermakna lugas) dibordir, digosok dalam lajurnya yang b…

Mengenal Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri

Judul: Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri
Penulis: Nurel Javissyarqi
Penerbit: Pustaka Pujangga
Terbit: Mei 2011
Tebal: 100 halaman
Harga: Rp. 19.000,-
Peresensi: Heri Listianto
http://tunaspustaka.blogspot.com/

Tidak asing lagi, nama Sutardji Calzoum Bachri di belantika kesusastraan Indonesia atas Kredo Puisinya. “Kata-kata harus bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri”.

Kemunculan tekat sebagai pengamat, penikmat, pengkritik, dan juga sebagai pelaku sastra terus bermunculan dan benar-benar ditunjukkan Nurel Javissyarqi dalam web http://sastra-indonesia.com/ salah satunya adalah tanggapan untuk esai Sutardji Calzoum Bachri berjudul Sajak dan Pertanggungjawaban Penyair orasi budayanya di dalam acara Pekan Presiden Penyair, yang dimuat Republika, 9 September 2007.

Dalam tulisan itu Sutardji Calzoum Bachri menyatakan teks Sumpah Pemuda sebagai puisi, yang dilandasi faham Ibnu Arabi mengenai kun fayakun, kemudian…

Dari Ruang Kesunyian Menuju Pesta Makna

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/

Bagaimana sebuah hasil ciptaan ada? tentu saja lewat proses kreasi dari penciptanya. Sebuah lukisan, hasil kreasi dari pelukisnya, sebuah puisi hasil kreasi dari penyairnya yang memiliki sifat personal kekhasan. Proses penciptaan tak lahir begitu saja dari kreatornya, beragam jalan yang ditempuh: dari mamasuki jenjang studi, belajar otodidak dan lain sebagainya. sebuah pilihan atas jalan proses kreasi penciptaan.

Bukan hanya jalan proses penciptaan tetapi keresahan-keresahan yang timbul dari obyek estetiknya diperlukan penyubliman atau perenungan, sehingga nantinya dapat dihasilkan karya yang bermakna. selain itu, pandangan-pandangan atas diri penciptanya juga memberikan pengaruh pada hasil ciptaannya atau gagasan yang berada dalam karya ciptanya. Proses perenungan dari objek estetika yang saya maksud adalah keberadaan dalam ruang cipta kesunyian: diri dan ide-ide serta konsep-konsep yang akan diwujudkan. Tak beda dengan sekelompok mahasiswa ya…

Saut Situmorang: Lahir Seorang Besar dan Tenggelam Beratus Ribu

Asep Sambodja*
http://boemipoetra.wordpress.com/

Ketika saya mendapat pesan singkat dari Saut Situmorang bahwa buku puisinya, otobiografi, telah terbit, saya sedang berada di kereta Taksaka menuju Yogyakarta. Dan saya memutuskan untuk segera mencari buku itu begitu sampai. Keesokan harinya, saya kesusahan mencari buku itu di Toko Buku Social Agency Kaliurang yang terkenal murah itu. Setelah lelah mencari, akhirnya saya meminta bantuan petugas untuk mencarikan di komputernya. Ternyata buku otobiografi Saut Situmorang itu diletakkan di rak buku sejarah, berdekatan dengan biografi Tan Malaka dan Pengantar Ilmu Sejarah Kuntowijoyo.

Memang kalau kita lihat cover buku itu sama sekali tidak ada informasi yang menjelaskan kepada pembaca bahwa buku otobiografi merupakan buku puisi. Nama Saut Situmorang baru dikenal di kalangan penyair, namun tidak semua orang di republik ini mengenalnya sebagai penyair, termasuk pedagang buku di Social Agency, Gunung Agung, Toga Mas, dan Gramedia. Makanya, tidak …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com