Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

Mulanya *

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Seperti biasa, aku mencari data-data dari media massa di Google untuk kuunggah pada web http://sastra-indonesia.com/ yang telah berjalan sejak Juli 2008. Aku nekat membikin situs tersebut dari biaya transport acara sastra di Jakarta. Sepulang dari Ibu Kota, perasaanku seolah sudah menjadi penyair, apalagi membaca puisi sepanggung dengan para jawara sastra, pada malam pengukuhan Guru Besar Abdul Hadi W.M., di kampus Paramadina Jakarta.

Di kereta, dalam perjalanan pulang, aku berpikir mengenai tulisanku, pula karya kawan-kawanku yang tidak tercium media massa. Maka web itu kusengajakan sebagai alat propaganda. Lambat laun aku menyadari kegunaan kekaryaan di luar lingkaran yang kukenal. Oleh sebab itu, kujumput karya-karya mereka. Awalnya aku ragu, apakah itu tindakan ilegal, tapi setelah aku periksa, ternyata banyak juga yang berlaku demikian untuk arsip bersama.

Kata bersama bermakna karena di sana diriku tak mengambil untung, malah setiap tah…

Mendedah 'Warah' Sejarah

Judul buku: Syekh Bajirum dan Rajah Anjing
Penulis : Fahrudin Nasrullah
Penerbit : Pustaka Pujangga
Cetakan : 1, Februari 2011
Tebal : 142 halaman
Peresensi : S.W. Teofani
http://www.lampungpost.com/

MEMBACA kumpulan cerpen tak ubah melakukan tamasya kisah. Kadang kita mendapatkan pengalaman batin pun pengetahuan lahir yang membuat sejenak melancong ke alam cerita yang diwarahkan penulisnya. Begitu pun kisah yang diwedarkan Fahrudin Nasrullah dalam Syekh Bajirum dan Rajah Anjing. Pembaca disuguhi bermacam kisah dengan latar sejarah pada 11 cerpen yang diagitnya. Cerpen satu dan lainnya menyuguhkan tema dan cita yang berbeda, tapi tetap dengan latar sejarah.

Ada dua tema besar yang tertuang dalam beragam judul, yaitu sejarah dengan warna sejarah kolonial dan sufistik Islam yang kental dengan kejawaan. Apa pun tema besarnya, Fahrudin mampu menggiring pembaca lesap dalam cerita yang dibangunnya dalam silang sengkarut permasalahan sang tokoh.

Seperti pada pembuka yang bertitel Surabawuk Megatruh. …

Sebuah Pertanyaan

Rakhmat Giryadi
http://sastraapakah.blogspot.com/

Hidup di gang sempit, para tetangga seperti punya alat perekam yang canggih. Kupingnya seperti alat pendeteksi, matanya seperti hidencamera, yang setiap gerak gerik kita, semua terekam. Dan otak mereka seperti hardisc yang mampu menyimpan miliaran data. Sekali tekan tombol : mulut mengoperasikan data itu menjadi gosip yang berkepanjangan.

Hidup di gang sempit memang tidak ada rahasia. Kita seperti hidup di ruang kaca. Semua polah tingkah kita akan segera bisa diketahui dari gang satu ke gang lain, kemudian merebak bagai gelombang radio yang dalam sepersekian detik, kabar itu bisa diterima ke pendengar terjauh sekalipun.

Hidup di gang sempit, semua orang boleh mengetahui apa yang kami miliki dan tidak kami miliki. Hidup di gang sempit, ruang hidup kita memang benar-benar sempit. Mata, telinga, dan otak tetangga ada disisi kita, menempel di dinding, seperti lumut yang menggerogoti tembok.
Dan kali ini lumut itu menggerogoti tembok kami.

Sore y…

Kebangkitan Arab: Dalam Kedigdayaan Sastra

Zacky Khairul Uman*
Kompas, 15 Des 2007

Sihir sejarahmu senjakala sudah
Kubur wajah rendah diri itu, kubur warisan tolol itu…
Aku mampu mengubah:
tambang peradaban-inilah namaku

(Adonis, Waqt bayn al-Ramâd wa al-Ward, 2004:12)

PADA mulanya adalah kekalahan. Pada Juni 1967, hujan peluru membanjiri Perang Enam Hari dunia Arab melawan Israel. Inilah perang yang menentukan segalanya. Nasionalisme kerakyatan yang kemudian masyhur dengan Nasserisme, akibat pengaruh Gamal Abdel Nasser, yang sempat membikin gairah kebangkitan bangsa Arab era 1950-an hingga 1960-an, bertekuk lutut menderai air mata.

Pasca-1967 adalah petanda krisis mentalitas Arab. Mulailah, ramai diperbincangkan revitalisasi “tradisi”.

Yang tradisionalis memaksa untuk kembali ke otentisitas Islam sebagai warisan utama Arab. Yang neomodernis berupaya mendialogkan warisan tradisi dengan ide-ide kemajuan dari Barat. Bahkan, ada pula yang sekuler: mendekonstruksi tradisi dan mengambil inspirasi kemajuan Barat. Mulai saat itulah hingga kin…

Menulis di Atas Mantera

Sutardji Calzoum Bachri
Media Indonesia, 16 Des 2007

SUDAH lebih dari tiga puluh tahun yang lalu sikap kepenyairan saya paparkan di berbagai kesempatan, antara lain seperti dalam acara pembacaan sajak. Sedikitnya masyarakat pecinta puisi agaknya sudah tahu.

Saya adalah penyair yang menulis tidak dari suatu kekosongan. Saya menulis di atas kertas yang telah berisi tulisan. Saya menulis di atas tulisan. Tulisan itu adalah hasil budaya dari subkultur yang sangat saya akrabi, yaitu budaya Riau berupa mantra.

Dengan atau dari atau di atas mantra itulah saya menulis. Dalam aktivitas menulis, kadang bagian-bagian mantra itu saya pertebal dengan tulisan saya. Kadang mantra itu malah tertutup, terhapus, atau terlupakan karena tulisan saya yang berada di atasnya. Memang salah satu peran menulis ialah upaya untuk menutup atau melupa, yakni melupakan nilai-nilai atau ihwal yang tak lagi relevan untuk masa-masa kini atau masa depan, dengan demikian lebih terfokuskan (tambahan makna) pada bagian-bagian…

Kesederhanaan Saut Poltak Tambunan Yang Menyimpan Luka Bahagia

Judul Buku : Sengkarut Meja Makan
Penulis : Saut Poltak Tambunan
Penerbit : Selasar Pena Talenta – Jakarta Timur
Cetakan : I, Maret 2011
Harga : Rp. 44.000, 00
ISBN : 978-602-97300-1-2
Peresensi : Lina Kelana
http://sastra-indonesia.com/

Apa yang kita tangkap dari suatu kesederhanaan bukan hal yang sekedar “cukup” untuk dimaknai dengan sederhana terhadap sesuatu yang lumrah/lazim. Tetapi ternyata lebih dari sekedar batasan biasa dan tak biasa. Dari sinilah kita (bisa) “ter”mahfumi untuk memaknai sebuah kesederhanaan dengan sempurna.

Dalam “cerita” klise kepenulisan_sastra; gaya bahasa, metafora, diksi, dansebagainya mungkin menjadi hal yang patut mendapat “perhatian” yang lebih cermat dan seksama dalam penyampaian sebuah karya. Perkara nanti di”lontar”kan dalam “logat” yang “santun” maupun sebaliknya, “kasar”, itu menjadi hal yang dipertimbangkan selanjutnya. Namun yang menjadi inti permasalahan adalah “sampai tidak”nya pesan-pesan yang hendak dibagi kepada oranglain_pembaca. Bagaimana pembaca…

Ibu Bumi

Rodli TL
http://sastra-indonesia.com/

Sinopsis:
Seorang ibu, bagi anak-anaknya adalah bumi. Wajahnya adalah dedauanan menyambut fajar, sejuk menyelimuti. Jiwanya adalah ladang berbenih, penuh dengan kicauan burung pagi.

Anak-anak kemudian bertanya tentang bapaknya. Ibu berkata bahwa bapaknya adalah matahari, pergi dalam gelap datang membawa cahaya. Anaka-anak terus menuntut jawaban yang lebih tentang ayah yang matahari itu. Ibu kemudian sulit bersikap, lalu dengan berat hati pergi meninggalkan anak-anaknya.

Lama ibu tak kembali. Anak-anak mencarinya. Kepergian ibu akan mencerabut akar-kar tumbuhan, padahal anak-anak masih ingin melihat taman di rumah yang bunganya bermekaran, kebun yang biji-bijiannya bisa dimakan. Kepergian ibu membuat anak-anak lunglai, dedaunan layu, tiada lagi nyanyian kumbang dan tarian kupu-kupu.

Anak-anak kemudian memutuskan untuk mencari ibu yang lama tak kembali. Mereka tak menemukannya. Yang mereka temukan hanyalah pertengkaran-pertengkaran tentang apa saja yang m…

Remo

Sabrank Suparno *
http://sastra-indonesia.com/

Winarsih berubah menjadi laki-laki, benar-benar berubah. Ia tampan, gagah, tanggap, cekatan, mengesankan. Busananya pun mentereng, dengan pernik warna-warni elegan, ditambah udeng kepala yang terselip lipatan berujung lancip ke atas, betapa ia seorang ksatria wibawa di medan laga yang kesaktiannya melindungi rakyat jelata. Bahkan lebih cocok jika namanya diganti Joko Galing, Joko Sambang, atau Joko Sembung, sebab gelagat, paras, naluri, kekuatannya tak selembek wanita lagi. Sendainya buah dadanya tak menonjol membentuk gunung kembar yang mengapit jurang, atau sedang tidak mengalirkan sumber merah mentrulasi, agaknya kesalahan takdir terjadi pada Winarsih. Kumis tipisnya jelas, bahwa serumpun rerumputan gelap itu hanya tumbuh di ladang bibir laki-laki.

Demikianlah ketika Winarsih menari remo saat mengawali pagelaran wayang kulit atau campursarian di daerahnya. Ia selalu tampil sebagai peremo ke dua, setelah peremo pertama selesai. Peremo pert…

Teaterawan Rodli TL, Dewa Kesenian Lamongan, Jawa Timur

Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Totalitas ampuh menggerakkan seluruh tubuh dan jiwa, memancarkan sorot tajam ke segenap penjuru panca indra para insan. Laksana tersedot magnetik, partikel-partikel berbaur mencipta gugusan kesadaran, melampaui hari-hari bangkitkan aura terang, kian sumringah di mana pun sampainya.

Menggempur batu-batu kemalasan, membasmi keminderan, menghardik kepicikan melalui membaca, menyimak ladang kemungkinan. Merangsek kendali fikir menancapi tiang-tiang pancang fitroh diugemi berkeseluruhan hidup bergema. Kumandang lakon-lakon dimainkan, di kedalaman ceruk kehidupan.

Rodli TL, teaterawan jebolan UNEJ, kukira sangat berjasa di dunia teater dewasa ini di Lamongan. Yang lain dilingkup kota Mbah Lamong hanya mengaku-aku senior, tetapi jarang berkesenian, perannya sehangat kucing membina komunitas, kembang-kempis mengikuti musim-musim.

Sedangkan ia merambah sampai masyarakat awam teater di desanya yang berbau kental ajaran Islam, lewat pelbagai pendekatan s…

Sastra-Indonesia.com