Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Membaca Peristiwa dalam Pesona Sastra

Judul buku : Syair Lampung Karam: Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883
Penulis : Suryadi
Editor : Yurnaldi
Penerbit : Komunitas Penggiat Sastra Padang (KPSP)
Cetakan : II, Januari 2010
Tebal : xiii + 206 halaman
Peresensi : S.W. Teofani*
http://www.lampungpost.com/

MEMBACA peristiwa melalui berita adalah hal biasa. Tapi, menyimak kejadian yang tertuang dalam syair menjadi kenikmatan tak terkira. Apalagi peristiwa yang disajikan sebuah kejadian kemanusiaan mahadahsyat yang menggegerkan jagat. Dikemas dalam bait-bait kuartet dengan irama yang teratur dan penghayatan dalam, Syair Lampung Karam mampu membuat sisi kemanusiaan kita terkesima.

Sebagai orang yang menyaksikan langsung kejadian meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883, Muhammad Saleh, penggubah Syair Lampung Karam, mampu menggambarkan kengerian kejadian itu dari awal hingga akhir. Bukan hanya rangkaian peristiwa ke kejadian berikutnya, melainkan hal-hal kecil sampai sesuatu yang penting pada peristiwa itu mampu d…

Empat Potong Warahan Batu

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

MARI kukisahkan kembali beberapa potong cerita tentang batu. Cerita-cerita ini tercecer begitu saja di lepau atau kedai tuak Wa Isah sebelum kusampaikan lagi kepadamu. Cerita yang kupunguti satu per satu dari mulut kawan yang menyeracau sambil tersedak. Kebiasaan yang tak pernah kita lupakan: mangkal di kedai tuak sembari menunggu Abdul Manan, si tukang cerita itu menyampaikan warahan yang memikat.

O, si tukang cerita tak akan membuka warahan-nya bila tak disuguhi tuak. Mula-mula ia berlagak mengantuk atau mengempaskan batu gaple ke meja. Itulah pertanda ia ingin dibelikan tuak, kemudian mulai bercerita. Ya, cerita yang seban pagi kita tunggu-tunggu mengalir dari mulutnya yang lincah berkisah.

Di tanah kami, katanya, banyak batu yang memiliki kisahnya sendiri. Batu, meskipun tak lebih dari benda mati, tetapi tetap saja menyimpan nasibnya sendiri. Terkadang ia dipaksa menjadi terasa hidup dan menjadi bagian dari kehidupan kita. Sehingga batu tidak …

WATU PRAHU

Jayaning S.A
http://sastra-indonesia.com/

Kata ibuku, batu itu sudah ada di sana sejak pertama kali ibuku datang ke daerah ini. Ya, sebuah batu hitam memanjang berbentuk seperti perahu tertangkup yang ada di kaki bukit, tak sampai berjarak puluhan meter dari pintu rumahku.

Batu itu bisa kulongok tiap saat dari jendela depan rumah, asalkan bukan malam hari. Tampak jelas di antara pohon-pohon kurus yang tumbuh jarang di sekitarnya.

Saat kecil dulu, aku pernah beberapa kali bermain di sekitarnya, bersama teman-teman sepermainanku. Kami duduk sambil sesekali menggosok-gosok permukaannya yang tampak berkilat saking halusnya. Kau tahu, halusnya seperti hasil tatahan tangan-tangan ahli yang mengerti benar seperti isi hati si batu, hingga pahatannyapun jadi sedemikian sempurna.

Hingga suatu kali, kami yang penasaran berunding untuk menentukan siapa yang dapat giliran. Temanku yang kena giliran bertanya begini pada ibunya, “Lihat Bu, kenapa ada batu sebagus itu di bukit sana?” sambil telunjuknya me…

Gerakan Pencerdasan Bangsa

Judul Buku : Membumikan Gerakan Ilmu Dalam Muhammadiyah
Editor : Jabrohim Dkk
Pengantar : A Syafi’i Ma’arif
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : 231 halaman
Peresensi : Iksan Basoeky *)
http://sastra-indonesia.com/

Sebagai gerakan Islam yang modernis-reformis, Muhammadiyah telah mengukir kisah sukses melakukan perubahan ke arah kemajuan dalam kehidupan masyarakat dari kondisi tradisional ke modern selaras dengan tuntutan zaman.

Dengan semangat kembali pada sumber ajaran Islam (al-Quran dan al-Sunnah), Muhammadiyah mampu memperbarui alam berfikir dan model amaliah umat Islam dalam sejumlah bidang kehidupan, lebih-lebih dalam pengembangan keilmuan.

Paradigma tajdid berwawasan modernis-reformis selalu menuntut Muhammadiyah untuk lebih memperkaya khazanah keilmuan dan mempertajam orientasi tajdidnya yang bersifat pemurnian dan pengembangan supaya mampu menjadi gerakan alternatif di tengah lalulintas global dengan langkah pencerdasan.

Dalalam hal ini gerakan ilmu hadir menj…

The Alchemist “Sang Alkemis”

Fanny Chotimah
http://pawonsastra.blogspot.com/
Karya Paulo Coelho
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Jakarta, November 2005

Pernahkah anda bermimpi berpetualang ke Mesir melihat piramida lalu menemukan harta karun kepingan-kepingan emas? Saya sendiri belum pernah bermimpi seperti halnya mimpi Santiago seorang anak gembala dari Spanyol yang betul-betul mewujudkan impiannya.

Pertemuan Santiago dengan Raja Salem mengubah hidupnya. Sang raja memberinya inspirasi dan jalan untuk mewujudkan impiannya. Sang raja membekalin Santiago dengan sepasang batu yang disebut Urim dan Tumim yang akan membantunya membaca pertanda-pertanda.Saat dalam rombongan karavan dalam perjalanan menuju Al-Fayoum di Mesir, Santiago bertemu dengan seorang Inggris yang mencari Sang Alkemis seseorang yang mengerti bahasa dunia dan bisa mengubah tembaga menjadi emas. Sang Alkemis lah yang menuntun Santiago mengarungi gurun pasir dan mewujudkan impiannya.

Buku ini sudah pasti sangat populer sepopuler sang pengarangnya Paulo Co…

Mendengar Nyanyian Penyair, Renungkan Kehidupan

Judul : Ketika Penyair Bernyanyi
Karya : Ngurah Parsua
Penerbit : Pustaka Ekspresi, 2010
Tebal : 157 halaman
Peresensi : Nuryana Asmaudi S.A.
http://www.balipost.co.id/

PENYAIR adalah manusia yang bergerak di dunia seni puisi, Puisi terlahir dari tangan penyair lewat aktivitas kreatif yang dia tekuni. Ia memilih, atau bisa jadi juga “terpilih”, masuk dalam wilayah kehidupan seni tersebut secara sadar maupun tak sadar, sehingga jiwa-pikiran-imajinasi-ucapan serta perilakunya selalu berada dalam kondisi kehidupan yang puitik. Dari tangannya mengalir karya sastra berkat perenungan, suara hati, dan bisikan alam-kehidupan, yang diekspresikan dalam bentuk puisi. Sebuah takdir, sekaligus anugerah, kehidupan yang tak hanya tak bisa dihindari melainkan juga harus disyukuri.

Ngurah Parsua adalah salah seorang penyair yang bersedia menerima dan mensyukuri takdir-anugerah kepenyairan tersebut. Karenanya dari tangannya banyak lahir puisi. Ia bahkan tak henti-henti menuliskan puisi yang dianugerahkan pada…

Menjawab Pertanyaan Anak dengan Dongeng

Judul buku : Mengapa Manusia Tidak Melihat Dewa?
Pengarang : Made Taro
Tebal : 106 halaman+ix
Penerbit : Sanggar Kukuruyuk
Tahun terbit: 2010
Peresensi : Mas Ruscita
http://www.balipost.co.id/

BISAKAH dongeng menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anak jaman sekarang, yang makin kritis? Jawabnya bisa, asal yang mendongeng atau yang membuat dongeng punya jiwa kreatif seperti pengarang dongeng I Made Taro. Tetapi kalau ingin menjadi pendongeng yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anak, maka buku dongeng yang berjudul “Mengapa Manusia Tidak Melihat Dewa” karya I Made Taro bisa dipakai sebagai senjata. Dalam buku yang setebal 106 halaman ini, penulis menghadirkan 20 jawaban untuk 20 pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan oleh anak-anak yang kreatif kepada kita. Dari 20 jawaban, penulis seaakan mengajar pembaca untuk mencari jawaban-jawaban kreatif bagi pertanyaan-pertanyaan lain, yang agak masuk akal dan lucu. Kelebihan I Made Taro yang sederhana, tetapi kreatif dan kocak terlihat jelas d…

Paradoks Pariwisata dalam Senjakala

Judul : Senjakala
Penulis : Komang Ariani
Genre : Novel
Tahun terbit : 2010
Penerbit : Koekoesan
Jumlah Halaman : 135 + viii halaman
Peresensi : Ni Made Purnamasari *
http://www.balipost.com/

BOLEH jadi Ni Komang Ariani, dalam novel terkininya Senjakala (2010), tengah ingin membuat suatu ironi perihal kekinian kepariwisataan Bali. Kisahan dalam buku, yang mulanya merupakan cerita bersambung peraih Pemenang Pertama Sayembara Femina 2007, memang seolah terkesan biasa saja: mengambil latar kehidupan masyarakat adat seputar kawasan wisata situs Candi Gunung Kawi-Gianyar, dengan tokoh-tokoh manusia Bali pada umumnya. Namun, begitu membaca bagian demi bagian cerita, jelas tersirat bahwa penulis kelahiran 19 Mei 1978 ini sedang menuturkan sebuah narasi besar, yakni bagaimana turisme yang seharusnya berfaedah kesejahteraan malahan memberi ruang bagi tindak kejahatan; serta bagaimana mitos lokal dan sikap-sikap rasional kerap kali bersinggungan, bahkan juga dipertentangkan. Atau dapat dikatakan, cerit…

Mooi Indie Vs Jiwa Ketok

Judul : Sang Ahli Gambar Sketsa, Gambar & Pemikiran S Sudjojono
Penulis : Aminudi TH Siregar
Penerbit : S Sudjojono Center dan Galeri Canna
Cetakan : Pertama, Oktober 2010
Tebal : 410 Halaman.
Peresensi : Muh. Muhlisin
http://balaibelajarbersamayuk.blogspot.com/

Praksis sejarah pemikiran seni rupa Indonesia pada awal abad ke-20, tidak bisa dilepaskan dari pemikiran Sundudarsono Sudjojono. Ia dikenal sebagai tokoh besar seni lukis Indonesia pada masa pergerakan nasional dan pada masa terjadinya polemik kebudayaan tahun 1930-an. Buah pemikirannya telah memberikan kontribusi besar bagi kelompok yang ingin menampilkan seni lukis yang bernafaskan kerakyatan.

Dalam buku ini S Sudjojono yang akrab di panggil Pak Djon di tempatkan sebagai tokoh sentral dalam pergolakan seni di Indonesia. Sebab dialah tokoh yang berani mengkritik seni yang bercorak Hindia Belanda. Sindudarsono Sudjojono adalah putra kelahiran Sumatra Utara, pada 14 Desember 1913.

Kemauannya untuk menjadi seniman sudah dia perlihatk…

Bandar Negeri Semuong *)

Asarpin
http://www.lampungpost.com/

MATAHARI di Teluk Semangka hampir tenggelam dibalut awan hitam. Senja masih memancarkan separuh cahayanya di ufuk langit. Bukit Barisan Selatan segera tertutup kabut. Awan hitam bermandikan cahaya keputih-putihan muncul dari lereng Gunung Tanggamus.

Sore itu saya duduk di bawah pohon dadap yang sedang berbunga kemerah-merahan di dekat Bandar Negeri Semuong. Dulu tempat ini dikenal dengan nama Bandar Brunai, pelabuhan kapal mengangkut rempah-rempah yang hampir sama ramainya dengan Teluk Bayur. Para pedagang dari Brunai dan Bengkulu sering singgah ke pelabuhan ini melewati hulu Teluk Semangka melintasi pesisir Krui.

MEMBACA KULIT LUAR “KITAB PARA MALAIKAT” NUREL JAVISSYARQI

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

Membaca karya sastra, dalam hal ini adalah karya puisi sama halnya dengan perjalanan panjang menyusuri jalan setapak yang dipenuhi cabang dan penunjuk jalan (baca: tanda). Berbagai macam (bentuk) penunjuk jalan tersebut membawa pada pengungkapan pengalaman, baik pengalaman realitas maupun pengalaman batin si kreator tanda. Aspek pengalaman seorang kreator mempengaruhi bangunan struktur tanda yang dibangun. Pengalaman menjadi dasar atas pembangunan bangunan tanda yang kelak akan diterjemahkan oleh pembaca. Pengalaman itu sendiri yang sebenarnya menjadi inti dari pembangunan struktur tanda, baik yang dalam pengertian transenden maupun yang imanen. Bangunan struktur atas tanda tersebut, mutlak sebagai pencerminan diri kreator tanda (sastrawan).

Bangunan struktur yang sudah jadi dan dilepaskan akan diterima masyarakat pembaca sebagai struktur makna yang diperlukan usaha interprestasi. Dalam aktivitas ini, pengalaman kembali memainkan peran yang pentin…

Ketika Semua Berjalan Mundur

Sungging Raga
http://korantempo.com/

Tak ada yang kita tinggalkan kalau kita berjalan mundur….

KALIMAT itu berputar-putar dalam pikiran Ruminah, semacam sugesti yang kuat. Ia mendapatkan kalimat itu dari sebuah buku puisi berjudul Pada Bantal Berasap. Di situ tertulis nama pengarangnya, Afrizal Malna. Siapa ia, Ruminah tidak tahu. Ia hanya menemukan buku itu di atas meja, sepertinya milik tamu ayahnya yang ketinggalan–atau sengaja ditinggal?

Setengah jam lalu Ruminah memang masih melihat ayahnya berbincang dengan seorang tamu laki-laki yang menurutnya cukup aneh, suaranya agak berat, sepatunya besar, kepalanya botak, dan bahasa Indonesianya sangat baku. Ayah Ruminah memang sering berdiskusi dengan tamu-tamunya tentang puisi. Ia bisa memaklumi kalau teman ayahnya hampir semua aneh, sebab ayahnya penyair, suka berteman dengan yang aneh-aneh. Misalnya, ada teman ayahnya yang suka berbicara dengan celana, Ruminah lupa namanya. Tetapi Ruminah tidak pernah merasa ayahnya aneh, atau mungkin saja…

Sastra Singo Edan Meraung Gemontang

(Reportase, bedah “Salam Mempelai” karya Tengsoe Tjahjono)
Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Ada beberapa analis yang pernah mengatakan, perihal seluk-beluk kesusastraan Malang. Termasuk asumsi yang dikemukakan bahwa sastrawan Malang cenderung inklusif, tipikal, kaku dll. Asumtor itu menunjuk satu indikator yang menurut pengamatan mereka, sikap sastrawan Malang selama ini menutup diri dengan jaringan komunitas lain, egois, ber-megalomania atas kebesaran masa lalunya. Pendeknya berputar membangun kediriannya, pandangan mengenai kepribadiannya di hadapan dirinya sendiri.

Mungkin demikian kenyataannya. Sambatan serupa juga kita temukan di wilayah mana pun ketika aktivitas kesusastraan mengalami stagnan. Akan tetapi terlalu kerdil, jika sumbatan yang pada akhirnya berakibat kemampatan kesusastraan tersebut dipahami sebagai satu-satunya dikhotomi baku. Sedangkan situasi yang sebenarnya hanya kondisional, untuk merubah lebih sumringah, bukan karena pelakunya tidak mampu, melainkan ta…

Pergerakan Sastra di Malang

Denny Mizhar
http://sastra-indonesia.com/

Polemik pembacaan atas pergerakan sastra di Malang dan pengakuannya pada wilayah Jawa Timur terjadi sejak lama. Tan Tjin Siong (1989) pernah menulis dengan nada gugatan dengan judul “Peta Sastra Malang” : “Sebagai warga Jatim pecinta sastra, rasanya kurang sreg kalau selama ini hanya keberadaan atau kegiatan sastra di Surabaya yang mendapat porsi paling banyak untuk dibicarakan. Ada kesan penganak tirian terhadap daerah lain…. Nah, apa Malang tak punya peta sastra yang menarik untuk dibicarakan? Ada. Bahkan bahkan peran sastranya di Jawa Timur tak bisa diabaikan”. Apa yang dituliskan oleh Tan Tjin Siong mendapat balasan oleh Sauripan Sadi Hutomo (1994) dalam bukunya “Kronik Sastra Indonesia di Malang” bahwa gugatan oleh Tan Tjin Siong tidak berdasar jika melihat dokumentasi-dokumentasi secara mendalam apa yang dilakukan oleh generasi pendahulunya di Malang. Sauripan Sadi Hutomo membagi dua pembacaan atas sastra Malang yaitu pembacaan sastra seca…

Lembar-lembar Gelap Seorang Pram

Andari Karina Anom
http://tempointeraktif.com/

SECARIK surat mendarat di meja panitia hadiah Magsaysay di Manila, Filipina, pada Juli 1995. Dua puluh lima sastrawan dan budayawan kenamaan Indonesia membubuhkan tanda tangan di lembaran itu. Mochtar Lubis, salah satu peneken surat itu bahkan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya sebagai tanda “berduka”.

Mereka memprotes diberikannya penghargaan sastra itu kepada Pramoedya Ananta Toer karena “peran tidak terpujinya pada masa paling gelap bagi kreativitas di zaman Demokrasi Terpimpin, ketika dia memimpin penindasan sesama seniman yang tidak sepaham dengan dia.”

Apa gerangan “peran tak terpuji” Pramoedya hingga mengalami penolakan sebegitu rupa?

Mari kita tilik pernyataan Pram dalam seminar sastra di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, April 1964-yang dimuat di harian Bintang Timur. Ia menyatakan “jika para sastrawan tak ingin ketinggalan dengan perkembangan politik, maka mereka haruslah aktif dalam perjuangan rakyat dan revol…

Sastra-Indonesia.com