Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2011

MENDULANG SPIRITUALITAS MENULIS HELVY TIANA ROSA

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Dalam sebuah wawancara kecil dengan Kompas, seorang penulis perempuan berbakat pernah bilang begini: “Saya tidak ingin menyia-nyiakan talenta dari Tuhan dan menjadikan menulis sebagai salah satu bentuk ibadah.” Salahkah? Tentu, tidak. Karena, memang kita diciptakan oleh Tuhan untuk beribadah. Mengikat ilmu dengan menuliskannya, dengan sendirinya ibadah.

Perempuan penulis itu adalah Helvy Tiana Rosa, yang saat ini dikenal sebagai penulis cerpen dan novel. Karyanya sudah dipublikasikan di majalah anak-anak sejak ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar (SD). Lebih dari itu, konon, ia sudah mulai menulis catatan harian mulai kelas satu SD. (Ini tentu mengingatkan kita, tentang bagaimana pentingnya buku harian sebagai media berlatih, berasah, berempati, dan berekspresi dalam kepenulisan).

Menulis buku harian memang merupakan salah satu indikasi seseorang memiliki bakat kepenulisan. Di samping indikator lain seperti corat-coret, suka berkh…

Ketika Obor Menyala

Liestyo Ambarwati Khohar
http://sastra-indonesia.com/

Cemloteh ringan tawa anak-anak mengiringi tarian Api diatas obor-obor yang baru saja dinyalakan. Sementara di sudut dan lekuk tiap kampung, gema tabkir terus saja menggema membentuk ritme merasuki jiwa siapa saja pendengarnya.

Lebaran selalu seja melahirkan suasana melankolis dan romantis terhadap Tuhan ataupun kita sesama manusia seperti tahun-tahun sebelumnya aku melewati lebaran di rumah induk. Rumah dimana aku dilahirkan, dibesarkan. Serta ditumbuh dewasakan.

Diruang tengah dengan aroma “Bunga sedap malam” yang merebak dan kue-kue lebaran yang sudah tertata di tiap-tiap meja, aku masih saja suka melihat foto keluarga dengan figora yang kokoh, sehat dan kaca terawat yang terpanjang di ruang tengah. Terlihatlah Alm ayah di foto dengan gagah dan kumis garangnya, dan alm ibu dengan kerudungnya yang anggun dan disebelah kanan kiri mereka adalah aku dan mbakyuku poninten.

Takbir terus saja menggema atmosfer lebaran semakin terasa, dan sem…

Njaran1

Wong Wing King
http://sastra-indonesia.com/

“Dapatkah kau teruskan pekerjaan bapakmu?”
“Yang mana pak?”
“Yang mana menurutmu layak diperjuangkan?”

Bapak memalingkan muka kearah timur, tepat dikanan pundaknya, jidatnya ditempelkan pada kaca yang tertutup rapat, seolah mencari matahari yang akan terbit dari balik rimbunan siluet batang bambu. Aku menatap batang lehernya yang mengkerut kulitnya, terlihat tulang tengkuknya. Kuarahkan pandangan keatasnya lagi, dari beningnya kaca padang mbulan2 menampakkan kalangan3 nya. Menyejukkan sekali mataku, cahaya terang menyirami batang – batang jagung muda, berumur empat puluh lima hari yang terhampar seluas lima hektar di samping rumah. Sedikit aneh dari pandangan mataku, bulan purnama sekarang, menyembul dari ubun – ubun bapak.

Aku nyalakan sebatang rokok khas lintingan4 bapak, tinggal beberapa batang saja tak akan cukup untuk jagongan5 semalam suntuk.

Bapak…bapak, ada…ada saja. Tak merasa rindukah padaku yang baru masuk rumah selama empat jam. Jantung…

Rian

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Klak, klak, klak. Denting jam di tembok lembab itu kian berdengung di telingaku. Berbeda dengan malam malam sebelumnya, setiap detak jam kini bergema yang gaungnya terngiang merasuk ke sumsum tulangku. Dadaku sesak. Nafasku tersengal. Tubuhku gemetar. Ketegaranku runtuh. Kekuatanku lunglai. Keteguhanku roboh. Nyali-nyaliku raib.

Klak, klak, kak. Detak jam dinding itu berubah menjadi detak-detak langkah sepatu. Ia tidak banyak. Hanya seorang yang langkahnya tegak, pelan dengan ayunan langkah yang dibandul jarak lebarnya dengan kesamaan tepat durasinya, santai, perlahan namun pasti. Ia menyelinap dari keremangan malam yang sunyi. Ia mendekat. Mendekat. Semakin mendekat. Dan tak lama lagi sosok hitamnya dengan wajah samar sudah di depan, samping, atau belakangku.

Pemilik langkah itu adalah seorang berwajah dingin, hati beku, kapala batu. Kerut giginya segera menggerus-gerus ketika melihat orang yang dia cari sudah di depan langkah. Ialah orang yan…

Hantu Mei

Dadang Ari Murtono
http://www.surabayapost.co.id/

Sampai manakah batas kesetiaan itu barangkali tak ada yang tahu benar. Seperti pula tak ada yang tahu benar sejauh mana batas cinta itu. Kadangkala teramat tak masuk akal. Seperti kisah ini. Kisah tentang gadis yang memutuskan menjadi hantu. Setia menjaga rumah yang oleh orang-orang disebut rumah hantu. Setia menjaga dendam.

Semua dimulai ketika orang-orang mendadak lihai menjarah dan membakar, memperkosa dan membunuh pada suatu mei yang rusuh. Dan keluarga Mei adalah salah satu keluarga yang menjadi korban. Ibu dan kakak perempuannya diperkosa sebelum kemudian dipotong kedua puting payudaranya. Ayah dan kakak laki-lakinya dibunuh dan dibakar setelah sebelumnya dipaksa menyaksikan ibu dan kakak perempuannya diperkosa bergantian dengan brutal. Ia selamat. Mei selamat. Semata karena ayahnya memasukkannya ke dalam lemari kosong yang lama tak terpakai dab teronggok di sudut gudang. Orang-orang itu, pada akhirnya membakar pula rumahnya. Sepert…

SISWA DAN ASPEK PEMBELAJARAN DRAMA

Yusri Fajar
Seputar Indonesia 4 Feb 2007

Drama adalah karya sastra yang menggambarkan aktivitas kehidupan manusia yang dalam penceritaannya menekankan dialog, laku dan gerak. Meski drama adalah karya sastra yang bisa dibaca dan dianalisa secara tekstual karena menggunakan medium bahasa dalam penciptaannya, namun drama pada dasarnya ditulis untuk dipentaskan di atas panggung (stage). Oleh karena itu, dalam teks drama, selain terdapat unsur dialog sebagai penanda alur cerita, pembaca juga akan menemukan gambaran ekspresi dan laku (stage direction) yang ditulis pengarang untuk memberikan gambaran kepada para pembaca, calon aktor, dan juga sutradara tentang tingkah laku, ekspresi, gerak dan juga mimik tokoh-tokoh dalam drama.

Collie (1997) menyatakan bahwa memberi kesempatan kepada para siswa secara berkelompok untuk mementaskan teks drama akan membawa mereka pada sebuah pengalaman yang menarik dan menyenangkan karena pada dasarnya siswa senang dengan pementasan yang di dalamnya melibatkan u…

RENCANA PALING SEMPURNA

Juwairiyah Mawardy
http://www.surabayapost.co.id/

Dia akan menikahiku. Resmi sebagai istri. Tercatat dalam buku nikah yang bisa diperlihatkan pada siapapun. Begitulah janjinya. Semula aku selalu bertanya kapankah itu? Tapi lama-lama aku tak ingin bertanya lagi. Aku hanya perempuan luar pagar. Perempuan kedua. Mungkin saja dalam tingkatan-tingkatan pikirannya, aku bukan hanya nomor dua, melainkan nomor ke sekian puluh dari urusan hidupnya. Yang terpenting adalah urusan politiknya.

Dia hendak maju sebagai calon bupati. Ia katakan akan segera bercerai dengan istri yang belum juga dapat berbuah itu. Aku menunggu. Aku percaya padanya. Seperti ia percaya padaku bahwa aku tak akan membongkar hubungan kami ke publik. Aku menginginkan kesuksesannya terwujud. Seperti aku menginginkan pernikahan agung kami juga terwujud.

Hubungan kami adalah hal yang tak terelakkan. Kami tidak kumpul kebo, melainkan menikah di bawah tangan yang tersembunyi dari tatapan-tatapan mata yang nyata. Sepekan sekali ia akan…

Sabda Cinta al-Husna

Camelia Mafaza
http://sastra-indonesia.com/

“Sembilan bulan ini akan terasa nikmat ya mas”, ucap Anisa Al-Husna pada Rahmat suaminya.

“Tentu, dan akan lebih nikmat setelah sembilan kedepan kita lalui, yakni saat anak kita lahir”, jawab Rahmat. “ Pasti indah ya Ma, ada aku, kamu dan anak kita”, sambung Rahmat yang memang sudah lama mendambakan kehadiran seorang anak.

Husna dan rahmat telah menikah selama 7 tahun, tapi karena Tuhan belum memberikan kepercayaan pada mereka, mereka belum juga dikaruniai anak. Banyak usaha sudah mereka lakukan, baik secara medis maupun non medis, namun usaha itu selalu berujung sia-sia.

Hingga hari itu tiba, Husna dinyatakan hamil oleh dokter, sujud dan syukur mereka panjatkan keharibaan Tuhan yang telah menanamkan benih dirahim Husna.

“Mas, aku kepingin pepes mangga”, rajuk Husna suatu malam
“Pepes mangga, ma? Mana ada orang jualan pepes mangga malam-malam begini ma?”, tanya Rahmat.

“Pokoknya aku mau pepes mangga, sekarang!”, kata Husna.

Setengah mengantuk Rahmat …

Air Mancur Kedua

A. Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Tiba-tiba saja aku sudah menemukan diriku di tempat ini. Dingin bangku di taman yang biasa disebut orang sebagai Alun-Alun Kota ini sudah bersiap menyambut. Rimbun beringin yang tertanam di empat sudutnya, juga sudah hendak menuntun tubuhku untuk masuk lebih dalam ke taman itu. Riuh orang yang berada di sana seperti terus memanggil namaku untuk masuk ke dalamnya dan duduk di salah satu bangkunya yang lembab dan dingin. Begitu pula tekukur ribuan burung dara yang terdengar seperti teriakan histeris yang terus memanggil-manggil namaku.

Lalu coba kuperhatikan sepintas, tidak ada yang berubah dari taman ini sejak tepat sebulan lalu aku ke sini. Sebuah masjid besar yang mulutnya menganga tepat mengarah ke gerbang taman juga masih tampak sama. Di sanalah kini aku sedang berdiri. Menatap ke arah kolam yang berada tepat di tengah taman.

Semua tampak diam, tampak bisu. Puluhan orang yang berada di dalam taman, tak ubahnya seperti sebuah manekin berjalan. …

Puisi-Puisi Samsudin Adlawi

http://sastra-indonesia.com/
MEMUTAR SAMPAN

adakalanya arah sampan harus putar haluan
tapi kapan? ketika gelombang meradang?
ketika badai menerjang? ketika cadik patah sesisi?
atawa ketika kukukuku tajam angin mencabik layar?

ah tidak, ku putar haluan ketika karat bersikujur
di tubuh seketika gigigigi rontok satusatu lalu
menggoreskan lubanglubang di sekujur sampan

the sunrise of java, 13052009



PA DAN NEN TI DAN BA

biji terakhir perawan
semayam di coredan

disiram perasan peluh
akarakar mulai tumbuh

dipupuk beruntai doa
batangbatang mulai tengada
mengukir senyum di bibir
menghias tunas di jantung hati

setelah melompatlompat di
lembarlembar senja pucat
bijibiji menjelma batang
bertakhta bulir berlapis emas

setelah ajar ujar pa dan nen
ti dan ba mereka kawin
di lumbung jantung
ditimpuk alu talu lesung

the sunrise of java, 15052009



RUMAH BAIT

begitu lepas dari belenggu kalimat
puisipuisi yang pernah kutulis
semburat dari rumah bait
menjelma kembali jadi katakata

mereka mengepungku dengan
aum dan lolong kata seru
:
jika kau …

ELEGI SUKMA, TELANJANG…

Anggie Melianna
http://sastra-indonesia.com/

(I)
Telanjang-telanjanglah kau di sini
di bukit-bukit asing ini
bersetubuh
dengan para binatang

mencium dan menjilati
anjing-anjing liar
merasakan desahan
nafas-nafas setan,

beradu lewat gejala api
kehinaan, menggeliat-
laiknya cacing dan ular

menuntaskan birahi demi birahi
manusia kotor berkumpul mencari
kenikmatan jahannam!

Lalu yang tersisa
janin-janin terbuang.

(II)
Wahai dewa kehidupan
di mana lagi harus kucari
kelezatan-kelezatan semu?

Keintiman yang membawaku
ke hamparan syahwat membelenggu,

berapi-api keringat demi keringat
menetes bercucuran, lantas
diterbangkan abu jahannam
yang semakin ganas menggilas.

Tuhan, beri aku kenikmatan
meski kutahu semua itu bukan surga
beri aku rahmat, meskipun kufaham
yang datang hanya bersandar kekejian…

(III)
Di sini
ombak menggulung hati
mengobrak-abrik sukmaku
yang kurasa amat labil itu,

kemudian laut menjadi beku
menenggelamkan pada masa
yang menyerupai kematian.

Kemudian
kebangkitan dan kesakitan
semuanya menggerogoti tubuh
terbuangnya pa…

Malam Lentera Sastra Sepuluh (Versi Besut Urakan)

Sabrank Suparno

Malam kerap meyembunyikan hal yang tak terduga. Dimikianlah kiranya. Karena dalam kegelapan, benda terhijab daya pantulnya ke indera. Yang artinya bukan mata yang tak mampu melihat, tapi benda kekurangan syarat berposisi sebagai bagian rumus kealaman.

Keganjilan sesuatu terjadi di Malam Lentera Sastra Sepuluh ini. Nyeleneh. Sebuah kajian diskusi sastra, diadakan oleh sekelompok komunitas mahasiswa AMIK (Akademi Manajemen Informatika dan Komputer) Jombang: Kampus yang bertempat di jalan KH. Hasyim Asy’ari no 5. Tak terbayangkan bagaimana mahasiswa ini bisa nyletuk ide untuk berdiskusi tentang sastra. Sedang keseharian keilmuan mereka ialah mengotak atik perangkat jaringan komputer, baik skala mega prossesor atau pun mikro posessor dalam tatanan otomata seluler, mega-cyborg, jagat kerat, ultra modern, cybernetic, taek asu, dll lah..!

Acara yang dimulai pukul 19:00, Senin 10 Januari 2011 itu mengupas cerpen ‘Njaran’ karya Wong Wing King, salah seorang pegiat teater di Jomba…

TEMBANG ILIR-ILIR

Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Ilir ilir lir ilir
tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo,
tak sengguh penganten anyar
Cah angon, cah angon,
penekna blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu peneken
kanggo masuh dodotira,
Dodotira kumitir bedhah pinggire
dondomana, jlumatana,
kanggo seba mengko sore
Mumpung gedhe rembulane
Mumpung jembar kalangane
Ha suraka … surak … hore…

Konon kabarnya, “Tembang Ilir-ilir” diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalidjaga, salah seorang wali sanga terkemuka di tanah Jawa, semasa abad XIV—XV Masehi. Tembang ini digunakan sebagai sarana berdakwah bagi Sunan Kalidjaga dalam rangka menyebarkan agama Islam di pulau Jawa pada masa itu. Mengingat masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa pada umumnya adalah masyarakat agraris, petani, dan masih dipengaruhi kuat oleh budaya lama (seperti Animisme, Dinamisme, Hindhu, Budha, dan kepercayaan lainya), maka tembang dolanan anak-anak itu dibuatlah melalui simbol-simbol masyarakat agraris di pedalaman Pulau Jawa. Makna dari tembang Ilir-ilir terseb…

KURANG PEDULINYA MASYARAKAT PADA NASKAH KUNO

Agus Sulton
http://sastra-indonesia.com/

Kepulauan nusantara sejak kurun waktu yang lampau memiliki banyak sejarah peradaban dan kebudayaan yang cukup berfariasi—yang terus mengalami perubahan sesuai dengan pola pikir masyarakat. Di antara peninggalan-peninggalan itu antara lain berupa naskah kuno atau manuskrip. Orang awam menyebutnya sebagai buku kuno biasanya kondisi buku tersebut sudah kumel, warna kuning kecoklatan, bersifat anonim, dan banyak bagian lembaran sudah hilang atau sobek, walaupun ada juga yang kondisinya masih utuh.

Naskah kuno itu merupakan salah satu warisan budaya lelulur kita yang ditulis tangan di atas kertas (impor dari eropa), lontar, tumbukan kulit kayu (deluwang atau kertas jawa) kemudian orang yang ingin memiliki naskah tersebut dan mendalami isinya diperbanyak dengan cara menyalin secara pribadi.

Karya tulis nenek moyang kita itu—yang berupa naskah kuno diindikasikan banyak menyimpan berbagai puspa ragam isi, diantaranya; pengobatan herbal, perdukunan, cerita …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com