Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2010

Air Terjun

Denny Mizhar *
Malang Post, 19 Des 2010

“Baiknya kau tak bepergian dahulu. Umur pernikahanmu baru memasuki selapan. Di sini saja, sampai kau punya anak. Biarkan suamimu saja yang pergi sendiri mengunjungi rumahnya. Toh, tak akan lama. Mungkin hanya seminggu atau dua minggu. Kami khawatir denganmu. Bila di jalan terjadi sesuatu denganmu”.

“Mak, aku juga berharap begitu. Tapi aku ingin menemani Kang Mas. Aku juga ingin menikmati daerah perbukitan di daerah Kang Mas. Aku tetap berangkat. Boleh kan kang Mas?”

“Dinda, semua keluargamu mengharap kau tak pergi. Tapi kalau kau memaksa, mau bagaimana lagi”.

“Terima kasih Kang Mas, Dinda sayang sama kang Mas”.

Hari yang cerah. Dewi Anjarwati bersama Suaminya pergi. Sebenarnya keluarga Dewi tak ingin melepas kepergiannya. Tapi Dewi memaksa. Keluarganya tak bisa mencegah. Sedang yang paling takut adalah Emaknya. Sebab semalam mimpi darah mengalir dari tubuh Dewi dan suaminya terbawa arus sungai. Emaknya, meneteskan air mata melepas kepergian Dewi denga…

DIAWALI DENGAN RESAPAN CINTA

M.D. Atmaja
http://sastra-indonesia.com/

“Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad
ruh bersaksi sederaian gerimis menghantarkan rasa atmosfer semesta
terkumpul di dasar laut di kedalaman rongga dada pujangga [I]” (KPM, 2007: 1)

Begitu, Nurel Javissyarqi (NJ) mengawali karyanya yang berjudul Kitap Para Malaikat (KPM) dengan muqaddimah. Butiran puitik yang dibingkaikan sosok NJ melalui KPM-nya ini digerbangi shalawat atas Nabi, Muhammad SAW. Melantun, sebagai pembuka dari catatan panjang yang sungguh tidak bisa dianggap remeh. Seolah sudah mendapatkan deretan wangsit (baca juga dengan: kesaksian), NJ menembangkan shalawat untuk mengabari kita kalau Para Malaikat yang ditemui tidak hanya mentasbihkan keagungan Allah Ta’ala, melainkan juga berderet dalam rangka merajut doa untuk pengagungan Nabi SAW.

Membaca Kitab Para Malaikat

Mencermati sebait di awal ini, saya pun kemudian undur diri untuk mengheningkan diri sejenak. Menyusupi dan ikut bershalawat dalam hening sambil menimbang bobot kata pemb…

Sajak-Sajak Nurel Javissyarqi

http://pustakapujangga.com/2010/12/poetry-of-nurel-javissyarqi/
[UNTUK PUTRI BENGAWAN SOLO]

Rupanya terjerat benang halus kasat mata
menaiki ketinggian ombak ke mana perginya
:
bersamamu tujuan musim perasaan muda.

Jari-jemari tangan bergelayut ke mega-mega,
hujan menyirami mimpi-mimpi hampir musnah.

Perbaiki langkah keluar menjelajahi rahasia,
takkan muncul jika tak ke penghujung masa.

Selendang kau terbangkan nyata warnanya
berganti-ganti sulaman tiadalah memudar
:
aku menyimak bau harum semerbak rupa.

Sanggullah mahkotamu membuhul tanggul,
sesekali geraikan kecupan gerimis kesucian.

Awan menyisiri tangkai bayu pesonakanmu,
cahaya berhamburan senyanyian rambutku.



[MATA KAKI PETAPA]
Untuk Suryanto Sastroatmodjo

Nafas-nafas gelombang
mengukir batuan karang,
gelak busa saksi matahari.

Sejauh hempasan ke pantai,
terjatuh di mata kaki petapa.

Rentangan sayap di angkasa
kedip bebintang disapu gerimis.

Jantung ombak memompa awan,
direngkuh malam-malam bestari.

Suara-suara sedari laut, ganggu
tidur panjang butir-butiran…

Sajak-Sajak Imamuddin SA

http://sastra-indonesia.com/
ELEGI SANG BURUNG MERAK
:WS. Rendra

duka telah mengeram
menjadi borok
menggumpal kepedihan

aku membuyarkan air mata
dari sumur hatiku
kala sayup kudengar tasbih sakaratmu

aku yang terhijab ruang waktu
tak sanggup berdiri di sisimu
hanya mendampingkan doa
di degup jantungmu yang kian terputus
-putus

ah, aku lebih terhentak
berteriak dalam gelombang tangisku
saat tubuhmu kau biarkan menguning
dan ruhmu kembali pada kesucian cahaya

sungguh, tiada lagi yang bercerita padaku
tentang balada-balada orang tercinta
tentang nyanyian sumbang penduduk kota

aku rindu suaramu
aku rindu,
pada siapa kan kusentuh
indah bulu emasmu

aku coba menggumpalkan luhku
mengubahnya jadi batu
mengukirkan kata
sekadar mengeringkan luka,
dan aku sempat berkata;
terbanglah
kabarkan senyummu di sana
padaku sang penabur bunga
walau hanya lewat sajak belaka

Kendalkemlagi, 2009



MATA AIR WAKTU

tumraping ilmu
dadi ugemane laku
nintingi ukoroe jagad
kang sinawang pucat;
gumantung ing rong mongso
rendeng lan ketigo
enom lan tuwo

rerintik…

Tema Maut dalam Puisi

Indra Tjahyadi
http://www.sinarharapan.co.id/

Dalam lapangan perpuisian Indonesia, bahkan sampai dengan hari ini, maut adalah salah satu tema yang paling sering diangkat oleh para penyair dalam puisi-puisinya. Seperti yang diperlihatkan oleh Kriapur dalam puisi-puisinya yang terkumpul dalam kumpulan puisi ”Tiang Hitam Belukar Malam” (FSB, 1996). Dalam kumpulan puisinya tersebut, Kriapur seakan-akan ingin menempatkan tema maut sebagai motor utama bagi puisi-puisinya. Tengok saja puisinya yang berjudul ”Kupahat Mayatku di Air”:

kupahat mayatku di air
namaku mengalir
pada batu dasar kali kuberi wajahku
pucat dan beku
(1996: 9)

Atau juga pada puisinya yang berjudul ”Kisah Matahari untuk Korrie”:

aku akan melarikan diri
pada saat yang telah dinantikan
kubur-kubur berbaris
tapi langit terlalu dangkal

(1996: 15)

Banyak munculnya kata-kata semacam mayat, kubur, kuburan, arwah, kematian, sukma, tulang-belulang dalam rasio yang kerap sekali pada puisi-puisinya yang terkumpul dalam buku Tiang Hitam Belukar …

Ambiguitas Kedirian Abdul Wachid B.S. di Banyumas

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Pada lembar Cakrawala, Minggu Pagi no 37 TH 61 Minggu II Desember 2008, termuat sebuah puisi dari penyair Abdul Wachid B.S. berjudul “Purwokerto-Sokaraja”. Dari judul itu, kita dapat melayangkan dugaan bahwa sang penyair hendak bercerita tentang dua daerah yang terletak di Banyumas. Dugaan awal itu memang tidak salah, sebab lewat puisi “Purwokerto-Sokaraja”, Abdul Wachid B.S. —lahir di desa Bluluk, Lamongan 7 Oktober 1966 dan menjadi dosen negeri di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto sekaligus dosen tamu di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sejak tahun 1997-sekarang— yang hampir setiap minggu melakukan perjalanan bolak balik antara Jogja dan Banyumas memaparkan pengalaman-pengalamannya ketika berada di Banyumas.

Di dalam puisi “Purwokerto-Sokaraja”, Abdul Wachid B.S. selalu mengawali empat bait puisinya dengan melontarkan pertanyaan tentang kedirian: “Mengapa aku tak pernah merasa menjadi penghuni kota ini?” Anehnya…

Refrein di Sudut Dam, Puisi D. Zawawi Imron

Abu Salman
http://dunia-awie.blogspot.com/

Dulu, mungkin sekitar delapan atau tujuh tahun yang lalu, saya masih teringat betapa saya merasa seperti membaca sebuah narasi yang memprovokasi batin saya ketika menikmati “Panggil Aku Kartini Saja” nya Pramoedya Ananta Toer (PAT), meskipun bukan sebuah provokasi, hanya batin saya saja yang mudah terpengaruh dan tidak dapat menahan gemuruh dan geram di dada hingga akhirnya seperti terdengar terikan yang tertahan “kejam!!”

Barangkali bagi saya pribadi adalah salah apa yang dikatakan bahwa “One man death is a tragedy, but million death is a statistic” (Nikita Khruschev). Justru pada paragraph-paragraf “data-data statistik” itulah yang membuat saya tak henti-henti berpikir ketika itu, saat membaca angka-angka statistic yang dinarasikan oleh PAT dalam karyanya tersebut, yaitu angka-angka jumlah penduduk pulau Jawa semasa zaman colonial Belanda saat menerapkan culture stelsel atau tanam paksa.

Betapa untuk membangun negeri Dam(ed) harus dengan menggu…

MEMBACA JEJAK PERPUISIAN MALANG

W Haryanto
http://sastra-indonesia.com/

/1/

Puisi adalah jejak sejarah, tapi bukan anak kandung sejarah. Puisi adalah tindak individual—atau dalam pengertian Muh. Zuhri, tingkat kebenarannya bersifat subyektif, sekalipun bisa diuji secara ilmiah. Sekalipun, bertendensi individual, ranah perpusian juga ditentukan pada organisasi makna di luar dirinya. Inilah harmoni puisi.

Lama, setelah (alm) Hazim Amir dan Wahyu Prasetya, saya merasa asing dengan sebutan ‘puisi Malang’. Bukan sebatas konteks karya, tapi juga mereka yang menyebut dirinya—sebagai penyair Malang (dalam komunikasi di Jawa Timur), dan Malang hanya memiliki prosais Ratna Indraswari Ibrahim, juga hanya punya beberapa lembar ‘teoritikus’. Di akhir tahun 90an, Nanang Suryadi dan Kuswinarto merintis komunikasi dengan atmosfir Jawa Timur lewat gerakan puisi internet. Gerakan ini, dalam terawangan saya—adalah antiklimaks dari dinamika perpuisian Jawa Timur, seiring klaim yang menyatakan bahwa ‘puisi internet’ adalah keputusasaan para…

Sajak-Sajak Heri Listianto

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
JALAN HATI

Baru saja ku tutup
Satu jalan dari selatan desa kenangan

bumbu rindu pada keagungan nama Negara

dan seratus teriakan masa
melihat gumpal tanpa isi
terkupas siulan raja.

ku lihat tetes air mata
menelusur sungai abadi dari dalam qolbunya
menangisi Surabaya.

Perlis Selatan, 31 Mei 2010



KETIKA TANAH MASIH UTUH

Satu butir debu tampak depan muka ini
Pada siang gersang
yang mengelucut rumput kota.

Dulu…
ketika tanah masih utuh,
dan kaki berjalan tanpa alas

Masihkah ingat?
burung berjinjing selaksa putri
dari danau utara
dengan sepatu kacanya.

adakah bunga merekah di dataran sejuk?
seperti rumput memanjang
ke sungai bengawan solo

Hingga ujung-ujungnya
Hilang dalam semak.

Perlis, 31 Mei 2010



DAUN TANPA NAMA

Seperti musim lalu
Engkau membius sukma
dengan sehelai kain suci saat itu.

Lagu indah yang bertasbih
menemani setiap jengkal langkah
rasaku kepadamu

dari ujung rumputan sawah ujung desa
hingga pohon kering di pinggir jalan kota
satu asma berjalan
lewat hati kecil ini.

tapi say…

Mortalitas dalam Immortalitas

Agus B. Harianto
http://sastra-indonesia.com/

Kita selalu disuguhi dengan dua kata antonim tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Mortalitas yag berasal dari kata berbahasa Inggris “mortality”, adalah ihwal yang pada akhirnya mati oleh berbagai faktor. Sedang imortalitas (immortality) berarti suatu kondisi keabadian. Atau, sesuatu yang dapat menjadi abadi.

Al-qur’an adalah salah satu contoh karya imortalitas yang diwariskan kepada umat islam, bahkan kepada seluruh umat manusia. Dalam bidang kebahasaan, sejarah telah menyebutkan keindahan bahasa yang ada di dalamnya. Berbagai upaya dilakukan umat manusia untuk membongkar rahasia di dalamnya. Tetapi, semua itu harus kembali pada esensi yang termaktub, bahwa ia bukanlah hasil kreasi manusia.

Di kehidupan ini, sangatlah tepat mengkaji kandungan makna dari warisan leluhur pembawa ajaran kedamaian. Baik itu mengkaji maupun mengaji. Mengajinya dengan ilmu bahasa dalam membacanya, seperti yang dilakukan khalayak umum di dunia. Ataupun, mengkajinya…

TAMSIL ETOS MENULIS NANING PRANOTO*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Seorang aktivis kepenulisan yang begitu populer, Naning Pranoto dalam bukunya, From Diary to be Story (Penebarplus, 2006), ada mutiara yang menarik untuk dikuak: etos (kerja keras). Bukankah kerja keras dalam bidang apa pun adalah kunci utamanya? Jika kita ingin sukses menulis, maka etos kerja ini menjadi samurai penting dalam memasuki dunia persilatan kepenulisan.

Sebuah ilustrasi tentang etos yang ditamsilkan Naning itu mencakup hal-hal berikut: (a) melatih imajinasi tinggi dengan cara antara lain banyak membaca, (b) banyak bergaul (untuk mengenal watak) dan traveling (agar banyak mengenal tempat, budaya, gaya hidup) untuk mempertajam imajinasi, (c) menjadi pribadi yang komunikatif, (d) menjadi pribadi yang adaptif dan fleksibel, (e) banyak membaca buku psikologi dan sosiologi, (f) dapat menyendiri minimal 1 jam sehari untuk berenung dan berkhayal, (g) mengikuti pelatihan menulis untuk menimba pengalaman, (h) mengintip cara kerja pengarang …

Lidi Segala Kata, Sajak Herry Lamongan

Zawawi Se
http://sastra-indonesia.com/

Mungkin adalah benar bila sebuah pendapat menyatakan bahwa ketika kita menyakiti seseorang itu ibarat menancapkan sebuah paku pada sebuah kayu. Bila berkali-kali kita menyakiti seseorang berarti hal itu seperti berkali-kali pula kita menancapkan paku-paku itu pada sebuah kayu.

Sedangkan ketika permohona maaf kita lontarkan atas kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, mungkin hal itu ibarat kita mencabut paku-paku yang telah kita tancapkan tersebut dari sebuah kayu.

Memang benar dengan permohonan maaf seolah-olah kita telah mencabut paku-paku tersebut dari kayu, kita telah mencoba menghilangkan rasa sakit akibat perbuatan kita pada seseorang.

Namun demikian bila kita perhatikan, benarkan kita telah menghilangkan rasa sakit secara keseluruhan dengan mencabut paku-paku itu, melalui permintaan maaf tersebut.. Bila kita perhatikan lebih teliti ternyata bekas paku-paku yang telah kita tancapkan pada diri seseorang itu menyisakan lubang-lubang. Lubang-lubang …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com