Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Profesi yang Terlupakan

Aguk Irawan MN
http://cetak.kompas.com/

Novel spektakuler Harry Potter tidak akan bisa dinikmati jutaan penggemar novel di Indonesia bila tanpa melalui proses penerjemahan. Berita-berita internasional yang berasal dari berbagai belahan dunia bisa dinikmati pembaca dalam negeri juga tidak terlepas dari jasa penerjemah.

Bisa dibayangkan, tanpa penerjemahan buku-buku berbahasa Inggris atau kitab-kitab berbahasa Arab, masyarakat akan kesulitan mengerti isi dari suatu buku atau kitab.

Namun, tahukah Anda, siapa yang berjibaku di balik penerjemahan karya JK Rowling sehingga karya itu bisa booming dan dinikmati jutaan orang di negeri ini. Siapa pula yang berperan besar dalam penerjemahan buku berbahasa Inggris atau kitab berbahasa Arab itu?

Pertanyaan seperti ini patut diajukan sebab harus diakui apresiasi masyarakat di negeri ini cenderung melupakan jasa seorang penerjemah. Hal ini bisa dibuktikan ketika karya terjemahan booming, penerjemahnya tak ikut terserempet rezekinya. Di dapur penerbit, s…

BERGURU PADA KETERBIUSAN MENULIS BUDI DARMA*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Tanggal 8 Desember 2007 adalah hari pelepasan seorang sastrawan besar Indonesia. Sastrawan itu sering memiliki jargon yang unik, jargon itu diantaranya adalah (i) bahwa dunia sastra adalah dunia jungkir balik, (ii) pada mulanya karya sastra adalah tema, (iii) menulis itu berpikir, (iv) menulis rangkaian dari peristiwa kebetulan, (v) menulis itu seperti naik pesawat terbang (kuatnya imajinasi), (vi) menulis sebagai identitas budaya, karena itu ia hampir menuliskan seluruh tulisannya dalam bahasa Indonesia, (vii) menulis asal menulis dan asal mengikuti mood, tanpa draft, dan tanpa apa pun (sebuah kondisi terbius), (viii) menulis adalah masalah waktu, karena itu menulis akan lancar, manakala suasana menyenangkan untuk menulis tidak terganggu-ganggu, (ix) falsafah “realitas burung” yang mengerakkan, (x) pengarang adalah proses mencari, dan karya sastra adalah rangkaian proses mencari itu, dan (xi) pengarang tidak pernah puas dengan karyanya send…

Sastra Indonesia, Satu Abad yang Sia-sia

Ribut Wijoto
Radar Surabaya (3/10/2010)

Bagaimanakah kondisi kesusastraan Indonesia 25 tahun ke depan? Pertanyaan ini penting dan mendesak untuk dijawab. Jawaban dapat berguna untuk menentukan visi dan dasar kreativitas kesusastraan saat ini.

Ke depan, secara alamiah, bahasa Indonesia akan terpinggirkan. Sastrawan Indonesia tidak akan lagi menulis dalam bahasa Indonesia. Sastrawan akan memilih menulis dalam bahasa Inggris. Mengapa? Beberapa gejala dapat diketengahkan.

Pada keluarga kelas menengah ke atas, saat ini, orang tua lebih suka mendidik anaknya untuk berbicara bahasa Inggris. Dalam kehidupan kesehariannya, orang tua membiasakan anaknya berbincang-bincang bukan dengan bahasa Indonesia tetapi dengan bahasa Inggris. Dalam bidang pendidikan formal pun, orang tua memilih memasukkan anaknya ke sekolah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Lihat saja, dalam dua tahun terakhir, orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar demi memasukkan anaknya ke sekolah berstandar interna…

Ketika Burung Garuda Menjadi Emprit

Teater Dinasti

Rakhmat Giryadi*
http://teaterapakah.blogspot.com/

“Sepinya hati Garuda. Dijunjung tanpa jiwa.Menjadi hiasan maya. Oleh hati yang hampa.Dendam tanpa kata.Mendalam luka Garuda.Disayangi tanpa cinta. Dipuja tapi dihina”

Itulah sepenggal lagu karya Emha Ainun Nadjib, yang akan dilantunkan oleh Novia Kolopaking dan 6 pemain anak-anak untuk mengawali pertunjukan ‘Tikungan Iblis’ Teater Dinasti Yogyakarta, malam ini. Enam anak-anak itu menanyakan arti pertunjukan teater. Dengan sabar Novia menerangkan arti teater dan drama.

Saat Novia bercerita, pertunjukan teater pun dimulai. Pertunjukan itu dibuka dengan tari remo jugag (sepenggal) dan disusul barisan rampokan (bala tentara) yang bersliweran di atas panggung. Sementara itu dua saudara Khabal dan Khabil, sedang berkelahi. Namun sesaat kemudian mereka berdamai. Tetapi, perdamaian itu berlangsung sesaat, saat lengah, Khabal dibunuh Khabil dengan batu bersar. Gegerlah para malaekat di akherat.

Setelah pembunuhan itu, muncul para mala…

BUWUN: BAWEAN YANG KE ARAHKU*

(PULAU YANG BERGANDUL POTONGAN KUPING)
Mardi Luhung
http://sastra-indonesia.com/

I
Bawean adalah sebuah pulau yang ada di utara Gresik. Dan salah satu dari Kecamatan Gresik. Bawean, dalam pikiranku, bukan saja nun jauh di sana, tetapi juga sebagai khayalan yang terus menghantui diriku. Sebab meski bagian dari kotaku (Gresik), tapi aku tak pernah ke Bawean. Aku hanya mengenal dan membaca Bawean dari cerita-cerita yang ada.

Bawean adalah pulau perempuan, sebab para lelakinya cenderung merantau. Bawean adalah pulau misteri, sebab sampai kini banyak tempatnya yang masih tertutup oleh kabut rahasia. Dan yang lebih mencengangkan, di Bawean juga ada Pecinan, meski tak ada peninggalannya yang tersisa. Dan menurut cerita, Bawean dulunya pernah disebut Buwun. Dan seterusnya. Sampai suatu ketika, di bulan September 2007, aku dan dua temanku berangkat ke Bawean.

Keperluannya: aku dan dua temanku itu akan membuat sebuah dokumentasi video pendek dan beberapa foto untuk penerbitan buku tentang Bawean. Dan…

Suramadu

D. Zawawi Imron
http://www.jawapos.com/

Inilah jembatan yang terpanjang di Indonesia, ”Suramadu” yang terentang antara kota Surabaya dan Pulau Madura, telah diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, 10 Juni lalu. Banyak orang kagum, banyak orang gembira, dan berbagai harapan sepertinya ditumpahkan pada jembatan itu. Ada yang menyebut jembatan perekonomian, jembatan industrialisasi, dan jembatan pariwisata untuk merambah Madura. Semua itu, tentu baik, asalkan untuk kesejahteraan bersama.

Bagi saya, jembatan itu bisa juga berperan sebagai jembatan nurani, atau jembatan kasih sayang. Katakanlah jembatan budaya. Pasalnya, sampai saat ini sebagian orang Madura kalau mau pergi ke Surabaya atau ke tempat-tempat lainnya di Jawa, menggunakan istilah ”onggha” yang artinya, naik. Sedangkan kalau mau pulang ke Madura digunakan istilah ”toron”, artinya turun. Jadi, kalau ada seseorang yang bertanya kepada temannya, ”Kapan akan pulang ke Madura?”, yang diucapkan adalah ”Bila se torone ka Madura (K…

Tentang Ubud yang Eksoktik dan Keterasingan yang Unik

Hary B Kori’un
http://riaupos.com/

“Kami sangat bahagia, dari tahun ke tahun penyelenggaran festival ini semakin membaik dan diminati banyak penulis maupun pecinta sastra. Kami juga sangat senang, Ubud, juga Bali, kini telah kembali pulih, menjadi salah satu tujuan wisata dunia, setelah tragedi bom yang mengenaskan pada Oktober 2003. Kami bahagia, festival ini bisa diadakan setiap tahun dan kami terus berupaya melakukan perubahan menuju perbaikan…”

Janet De Neefe, perempuan asal Australia yang menikah dengan Ketut Suardana, pengusana kafe dan restoran di Ubud (Kabupaten Gianyar, Bali) —pemilik dua restoran besar dan ternama di sana, yakni Casa Luna dan Indus— tak bisa menyembunyikan kebahagiannya ketika memberi sambutan dalam Gala Opening Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2010 di Puri Ubud, Rabu, 6 Oktober 2010. Wanita asal Melbourne yang sudah hampir 20 tahun hidup di Ubud itu, adalah penggagas UWRF di bawah Yayasan Mudra Swari Saraswati, sebuah yayasan yang didirikannya bersam…

Belajarlah Sastra kepada yang Lebih Tua

AF. Tuasikal
http://m.kompas.com/

Adalah hal yang kurang tepat, bila Beni Setia tidak hadir di Forum Temu Sastra Jatim, lalu menyinggung hal tersebut sehingga asumsi yang dia tulis tidak tepat dan mengambang (kurangnya keakuratan data). Lepas dari hal tersebut di atas, Beni Setia beranggapan bahwa problem sastra di Jatim adalah kemarahan para penyair-penyair yang tidak kunjung di beri kesempatan tampil di media massa, lalu menerbitkan buku sendiri. Ini adalah anggapan dan asumsi yang salah.

Karena problem sastra di Jatim bukanlah hal tersebut, melainkan sedang terjadi krisis eksistensi. Ini semua dapat kita lihat dari para pengurus-pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) yang menerbitkan buku karya-karya pengurus dan anggota mereka sendiri. Seperti halnya R Giryadi, Ketua Komite Teater DKJT menerbitkan buku karyanya sendiri drama pilihan 1994-2007 dengan judul Orde Mimpi. Lalu Ribut Wijoto, anggota Komite Sastra menerbitkan buku karyanya sendiri juga sebuah kumpulan esai Kondisi Postmo…

Taufiq Ismail Salah Tafsir Puisi Mawie Ananta Jonie

Asep Sambodja
http://oase.kompas.com/

Dalam buku Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI DKK (1995), Taufiq Ismail menulis, “Enam bulan menjelang Gestapu, Mawie sudah berkata ‘kunanti bumi memerah darah’. Tepat, karena dia sudah tahu sebelumnya” (lihat halaman 219).

Apa yang salah dari kalimat Taufiq Ismail itu? Pernyataan itu merupakan interpretasi terhadap puisi Mawie Ananta Jonie yang berjudul Kunanti Bumi Memerah Darah yang dimuat di harian Bintang Timur pada 21 Maret 1965. Merujuk pada jalan pikiran kalimat itu, enam bulan kemudian terjadi peristiwa G30S. Dan, Taufiq mengatakan, “Dia sudah tahu sebelumnya.”

Pernyataan “Dia sudah tahu sebelumnya” sama sekali tidak bisa dipertanggung jawabkan. Apakah benar Mawie sudah mengetahui rencana pembunuhan enam jenderal—yang disebut Dewan Jenderal oleh Letkol Untung—dan satu perwira Angkatan Darat pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari—sehingga Bung Karno menyebutnya sebagai Gestok; Gerakan 1 Oktober? Saya pikir Mawie tidak mengetahuinya, …

Mazhab Sastra Facebookiyah

Fahrudin Nasrulloh**
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Sarang teknologi telah pecah. Menyebar ke pedalaman renik manusia. Buku, tradisi membaca, dan perjalanan kepengarangan telah dipadatkan jadi arca di kamar facebook. Kemanakah gelombang kesusastraan dan kepengarangan kita sekarang, ketika tentakel teknologi dan gerak perubahan berada di tubir ketidakpastian?

Dunia maya terkini telah menghadirkan produk terbaru yang kita sebut “facebook”. Terkait dengan dunia penulis, tak dapat ditampik, mereka juga menggunakan teknologi tersebut yang berdaya-guna praktis, cepat, dan berbagai kepentingan apa pun bisa digentayangkan di dalamnya secara serius maupun main-main. Inilah bagian dari ekses “guncangan media”, seperti yang disinyalir Afrizal Malna, di mana percepatan bersilang-salip, muncul-tenggelam, dalam aras gigantis yang terus merangsek keseharian manusia. Di sanalah dirayakan segala keterbukaan dan ketakterbatasan itu. Beberapa penulis yang terbilang berduit, pasti memiliki lapto…

Senyum Menyibab Ilalang

Teguh Winarsho AS
http://www.infoanda.com/Republika

Senja yang indah telah lama lewat disusul gelap merayap. Gelap yang selalu mengingatkanku pada seseorang yang pergi diam-diam kala gerimis turun pada suatu malam. Gerimis yang menyerupai jarum-jarum tajam berdenting di atas genting bagai petikan gitar seorang musafir di hamparan padang luas menyuguhkan kesunyian dan kekosongan. Membuat perasaanku cabik, ngilu dan perih, seperti ada luka lama yang kembali menganga, menjemput resah segenap kenangan.

Ketika malam bergetar di tangan anak-anak pulang mengaji. Membawa obor. Mendekap kitab suci. Berceloteh riang sembari sesekali mencuri pandang di antara semak ilalang, pohon-pohon tua dan temaram cahaya bulan. Tapi, ah, betapa cepat semua itu berlalu. Betapa cepat waktu melesat. Membuat hidup menjadi terasa singkat seperti laju pesawat.

Dan malam itu, mungkin empat tahun berlalu, untuk kesekian kalinya aku mimpi bertemu seorang gadis cantik yang senang menyembunyikan senyum di balik jilbab puti…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com