Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2010

Posisi Negeri Pengarang di Jawa Timur

(Surat Terbuka Buat Arif B Prasetya, W Hariyanto, Fachrudin Nasrullah, Rahmat Giryadi)
S. Jai *)
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

HAMPIR pasti tiada suatu negeri tanpa bayang-bayang penguasa. Fatalnya hal serupa terjadi pada negeri sastra—tempat berdiam puisi, prosa atau drama. Ini yang tertangkap dari sebalik ulasan kritikus sastra Arif Bagus Prasetyo tentang “Jawa Timur Negeri Puisi,” Jawa Pos 25 Juli lalu.

Prosa berada di bawah bayang-bayang puisi. Sementara ekspresi penyair berada di sebalik kurungan keengganan dan kemiskinan berbahasa Indonesia. Dengan kata lain visi kepenyairan lebih berada di bawah ketaksadaran ketimbang kesadaran akan—dalam bahasa Gadamer—bildung, weltanchauung, sensus communis, judgement, taste.

Artinya prosa Jawa Timur dapat dikatakan sedang koma atau luluh lantak di mata kritikus yang kini tinggal di Denpasar, Bali tersebut. Akan tetapi Arif tidak sendiri mensinyalir demikian. Tengara serupa terbit beberapa hari sebelumnya, Selasa 20 Juli 2010 dalam sebuah semin…

Tentang Penyair dan Penyakit Puisi

Fahrudin Nasrulloh*
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Apa hebatnya puisi sehingga tak lelah-lelah terus dituliskan? Penyair-penyair muda terus bermunculan. Yang lawas-lawas kian mengukuhkan kepenyairannya. Sedang yang lain adalah mereka yang telah kehilangan gairahnya, karena tuntutan hidup yang riil lebih mencambuk ketimbang mengurusi puisi. Memang, gairah pada puisi, pada belantara teks, pada kembara pengalaman puitik, pengalaman di kedalaman bahasa, merupakan kerahasiaan tersendiri atas segala proses itu. “The text you write must prove to me that it desires me. This proof exists: it is writing,” Begitu ungkap Barthes dalam The Pleasure of the Text. Ada semacam desakan besar di sana, yakni melahirkan corak puisi sendiri, menempanya bertahun-tahun, seperti Empu Gandring, dengan segala cinta, dengan segala yang bakal menghilang, dan yang tak mungkin direngkuh kembali.

Dua Penyair dalam kumpulan sajak Gobang Semarang (KataKita: Depok, 2009) berada pada perbatasan di “awang-awang” it…

Terpenjaranya Sang Guru

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Waktu berlari dengan cepat ketika manusia merangkak di dalam kegelapan di dalam ketakutannya. Mahluk berjalan tegak, melesat dengan dua tangan dan dua kaki terlipat. Bersembunyi dari kerlip bintang. Menyelidik malam ketika mahluk sejenisnya tertidur. Dia ini, seperti bukan manusia. Dia merambat, menapaki huruf demi huruf dan menafsirkannya seperti ketika para leluhur menatap semesta alam yang bergelayut dalam irama. Dia lah lelaki dengan bekal rasa yang tersemat di dada terus menjajaki setiap jejak-jejak kehidupan.

Perjalanan yang menelusup sampai pada usia yang renta terus dijalani dalam keyakinan yang tidak pernah memudar. Dia lelaki, yang pernah menjadi buronan di negaranya sendiri atas penolakan penuggalan negara. Di perbatasan perjalanannya itu, dia masih saja bersenandung lagu indah akan langit-langit surga bagi setiap laskar sang Raja Semesta Alam. Kidung yang telah bertahun-tahun dia nyanyikan, kini membawanya untuk berjalan ke tiang g…

ZIARAH MANDAR, ZIARAH SASTRA, ZIARAH NUSANTARA

Sabrank Suparno
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Apa yang melebar dari sekedar acara remeh bedah buku? Tanggal 14 Juli 2010 lusa, komunitas Geladak Sastra meneruskan estafet agenda sastranya yang ke-4 : membedah Kumpulan Cerpen Zirah Mandar karya Bustan Basir Maras : cerpenis kelahiran Mandar Sulawesi Barat : propinsi termuda di Indonesia. Enam belas kumpulan cerpen itu dibedah 3 aktor penggiat sastra : Abdul Malik (pengelola Balai Belajar Bersama Banyumili, Mojokerto), Nasrul Ilaihi (Cak Nas) pemerhati budaya dari Dinas Porbupora Jombang dan sastrawati Surabaya Gita Pratama. Masing-masing pembedah mengudal penyerapan makna yang amat sublim terhadap buku Ziarah Mandar.

Cak Nas membagi penilaian kumpulan cerpen ini menjadi 2 peta. Pertama, cerpen Paglao, Perahu-Perahu Berlayar ke Barat, Pak Sholeh, Mbah Sung, Ziarah Mandar, tergolong cerpen beralur datar dan lurus. Suspensi yang dibangun penulis tidak setinggi, bahkan setajam gunung Semeru disbanding gunung Anjasmara. Pada cerpen i…

Sastra-Indonesia.com