Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2010

Melacak Tilas Santri Majapahit

Fahrudin Nasrulloh
Suara Merdeka, 5Agustus2007

Pada 27 April 2006 saya bertemu dengan seorang penelusur silsilah Kiai Hasan Besari, Tegalsari, Ponorogo; Pak Haris Daryono namanya (ia sendiri berdomisili di Tulungagung). Perjumpaan itu terjadi di rumah seorang sahabat di komplek perumahan Minomartani di Sleman, Yogyakarta. Sungguh pertemuan yang tak disangka-sangka. Sebab saya sendiri sedang mencari informasi tentang pesantren tertua di Jawa. Memang, menurut Martin van Bruinessen, Pesantren Tegalsarilah yang merupakan pesantren pertama di Jawa pada abad 18. Sebab pada abad 17, bahkan 16, tidak ditemukan data otentik yang menunjukkan adanya pondok pesantren. Sekali lagi kabar ini menurut Tuan Martin.

Terkait itu, hal istimewa dari Pak Haris, pertama ia membawa sebendel karya naskahnya, yang rencananya akan ditawarkan ke penerbit di Jogja (malangnya belum ada yang menerima), yang berjudul Dari Majapahit Menuju Babad Pondok Tegalsari. Sungguh, dari naskah ini, saya mendapatkan informasi yang…

INDONESIA-INGGRIS

Saut Situmorang
http://sautsitumorang.multiply.com/

Di sebuah koran daerah, dalam kolom bertajuk “Gaya Hidup”, saya membaca sebuah laporan menarik tentang pemakaian bahasa Indonesia terkini yang penuh didekorasi kata-kata bahasa Inggris. Menarik karena saya baru tahu setelah membaca laporan tersebut betapa parahnya sudah gejala gado-gado Indonesia-Inggris ini dalam pemakaian bahasa Indonesia sehari-hari terutama di kota-kota besar Indonesia. Tapi saya juga merasa geli membaca contoh-contoh bahasa Indonesia-Inggris yang disebutkan dalam laporan tersebut. Berikut ini saya kutipkan dua contohnya:

“Suatu pagi di sebuah ruang kuliah salah satu perguruan tinggi negeri . . . terdengar suara perempuan asyik menjelaskan materi kuliah. Di tengah kuliah ia bertanya, ’Oke, sudah mengerti semua? Atau ada yang get lost?’ Ketika tak ada yang menjawab, dosen cantik ini melanjutkan kuliahnya. Berarti tak ada mahasiswanya yang ‘tersesat’ alias get lost. Maksudnya tentu saja bukan tersesat dalam rimba tak …

Yasunari Kawabata (1899-1972)

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=313

Yasunari Kawabata, lahir di Osaka 14 Juni 1899, meninggal di Kamakura 16 April 1972. Novelis Jepang yang prosa liriknya memenangkan Nobel Sastra 1968. Usia dua tahun yatim, lantas tinggal bersama kakek-neneknya. Neneknya meninggal ketika ia berusia 7 tahun, kakak perempuannya hanya sekali dijumpai setelah kematian orangtuanya, meninggal ketika Kawabata berusia 10 tahun, dan kakeknya ketika ia berusia 15 tahun. Pindah ke keluarga ibu, Januari 1916 ke asrama setara SMP, yang bolak-balik menaiki kereta api. Setelah lulus 1917, ke Tokyo berharap ujian masuk Dai-ichi Koto-gakko’ di bawah Universitas Kekaisaran Tokyo. Berhasil lulus tahun yang sama, masuk Fakultas Sastra Inggris. Juli 1920 lulus SMA, mulai di Universitas Kekaisaran Tokyo. Selain menulis sebagai wartawan Mainichi Shimbun di Osaka dan Tokyo. Menolak semangat militer yang menyertai Perang Dunia II, juga tidak terkesan pembaruan politik sesudahnya. Kawabata bunuh diri 1972, mer…

Sebias Cerah di Kampung Warna

Agus B. Harianto
http://www.sastra-indonesia.com/

Kampung Warna telah terukir dalam black list kepolisian setempat. Setiap intel seringkali mendapati Kartu Tanda Penduduk yang terselip dalam saku celana tahanannya menunjuk alamat kampung itu. Hingga guyonan tersendiri merebak di gedung pemerintah tersebut. Yang lebih menggembirakan lagi, mereka dapat langsung mengarahkan pencarian kala tindak kriminal terjadi di sekitar Surabaya Selatan. Sebagian besar dari penghuni penginapan mereka adalah warga kampung itu.

Berbalik fakta dalam Kampung Warna. Walaupun, kesedihan melanda janda-janda sementara, kesombongan semu tertelan waktu singkat, mengalun syahdu di sela-sela percakapan. Sudah menjadi rahasia umum, sebagian besar penduduk Kampung Warna merupakan residivis kambuhan. Hampir setiap warga merasakan kesenangan tersendiri dengan julukan yang terberi. Akibat yang timbul, kampung itu ditakuti warga kampung lain. Mereka tak pernah perduli dengan anggapan orang lain, tetap melangkah pada keteg…

‘Kemerdekaan Semu ‘ dan Pembaca Rupa yang Terluka

Ahmad Kekal Hamdani
http://www.sastra-indonesia.com/

“…Untuk membuat orang menertawakan kebenaran,
untuk membuat kebenaran tertawa…”

Ketika saya (penulis) menatap cukup serius lukisan grafis “ kemerdekaan semu” karya Brekele alias Ikhsan, ada pendar yang tiba-tiba menarik-narik tubuh saya ke dalam kamar gelap. Seseorang atau mungkin sesuatu telah memaksa saya melucuti segenap pakaian, meminta saya telanjang dan sungguh, saya kira lama benar saya tak menatap tubuh sendiri dalam ruang gelap. Saya tak melihat apapun, saya mulai meraba-raba tubuh saya. Tiba –tiba saya mesti menjadi lidah, menjilati sesuatu, menjilati apa saja yang ada di tubuh saya, bahwa betapa asin tubuh kita, asin air mata.

Rupa mungkin sebuah objek, mungkin juga sebuah metafora –sebuah transferensi ataupun karakter fundamental hubungan linguistik manusia dengan dunia - dan tak musykil ia adalah subjek yang menerjemahkan. Di mana kreasi justru membuka kemungkinannya membaca kreator (dalam hal ini adalah perupa). Di mana man…

Penggusuran dalam sebuah Pentas Teater

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Setan ora doyan
Demit ora dulit
Banyak orang mabuk duwit
Njarah milik banyak orang

Dimulai dengan pengucapan mantra di atas, lampu sedikit mulai mencahayai pentas. Berdiri lima patung dan seorang sedang memimpin ritual serta dua orang mengikutinya. Sebuah hal biasa kita jumpai, jika sebagian masyarakat kita, meminta bantuan dukun untuk menyelesaikan permasalahannya. Tetapi yang menjadi sesembahan mereka adalah patung pejuang, dengan adanya ritual tersebut patung-patung tersebut tidak terima. “Bukannya di lanjutkan perjuangannya tetapi di sembah dengan meminta permintaan-permintaan yang tidak rasional” dialog para patung monumen.

Itulah awal gambaran sebuah pementasan Monumen Karya Indra Tanggono yang di adaptasi dan di sutradarai oleh Leo Zaini dalam acara ulang tahun Teater Pelangi Universitas Negeri Malang.

Dua setting tempat, untuk memisah dua alam yang berbeda, pertama adalah roh-roh patung monumen dan kedua adalah kehidupan masyarakat yang me…

BAWEAN SENANDUNG DI ATAS AWAN

Judul Buku : Buwun
Pengarang : Mardi Luhung
Jenis Buku : Kumpulan Puisi
Epilog : Beni Setia
Penerbit : PUstaka puJAngga, Februari 2010
Tebal Buku : 66 hlm. 12 x 19 cm
Peresensi : Imamuddin SA.
http://www.sastra-indonesia.com/

Karya-karya besar kerap lahir dari tangan-tangan pengarang yang peka dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya. Tengok saja Gibran, Tagore, Octavio Paz, Albert Camus, setiap kali mereka melakukan suatu perjalanan, dapat dipastikan ada sesuatu yang mengendap dalam pikirannya. Membuncah-ruah menjadi ide bercahaya. Dan bergerak menghasilkan karya.

Peristiwa itu terjadi entah disengaja atau secara alamiah. Yang jelas, sebuah karya kreatif lahir dari fenomena yang telah tersapa. Hal itu ternyata tidak hanya terjadi dalam diri tokoh-tokoh besar kesusastraan dunia, melainkan juga merambah pada pribadi seorang Mardi Luhung. Melalui perjalanannya ke pulau Bawean, lahirlah sebuah karya ekspresif-inspiratif dari tangannya. Karya tersebut diberijudul “Buwun”.

Buwun merupakan seb…

Fanatisme Novel

Bandung Mawardi
http://www.suarakarya-online.com/

Novel kerap membuat pembaca sanggup membuat ramalan atas jalan cerita dan kemungkinan karakterisasi tokoh untuk dikenali dengan sekian referensi dan pengalaman atas diri manusia. Kebiasaan membaca novel memberi stimulus mengenali manusia dalam taburan tema. Novel dalam sejarah peradaban manusia seperti medium menginsafi diri dalam pilihan menerima dan menolak sesuai dengan patokan realitas atau imajinasi. Novel telah membuat hidup manusia jadi ganjil dan genap mengacu pada kodrat menjadikan diri sebagai makhluk literasi.

Fanatisme terhadap novel menjadi kisah pembaca dalam ketegangan keimanan dan pengikhlasan diri atas nama pelbagai pamrih. Orang membaca novel mungkin dengan pengharapan belajar menjadi manusia, mencecap pengetahuan, memuaskan hasrat imajinasi, kerja menikmati waktu senggang, pencapaian martabat intelektual, tindakan menghibur diri, dan lain-lain. Fanatisme dalam pengertian positif menandakan diri pembaca memiliki ikatan i…

Ekstasi Puisi

Saut Situmorang
http://sautsitumorang.multiply.com/

Di saat sedang membaca puisi, terutama kalau puisi yang sedang saya baca itu mampu menimbulkan apa yang oleh si pemikir Junani Kuno Aristoteles disebut sebagai “katharsis”, yaitu semacam rasa nikmat ekstasi-tekstual, atau tekstasi, saya selalu dikonfrontasi oleh sebuah pertanyaan: Kenapa bisa timbul tekstasi tersebut? Apa yang menyebabkannya?

Tapi perlu buru-buru saya tambahkan bahwa “rasa nikmat ekstasi-tekstual” atau “tekstasi” itu tidak terjadi karena saya kebetulan membaca puisi seorang penyair yang sudah terkenal. Maksud saya, terkenal-tidaknya “nama” seorang penyair, bagi saya, tidak otomatis menimbulkan katarsis dalam peristiwa pembacaan yang saya lakukan. Reputasi biografis seorang penyair terkenal paling-paling cuma menambah rasa suspense, atau harapan-untuk-kejutan, yang lebih besar saja bagi kemungkinan terjadinya sebuah katarsis. Bahkan tidak jarang banyak sajak para penyair terkenal ternyata hanya mampu untuk tidak menimbul…

G. J. Resink (1911-1997) di Kaliurang, Yogyakarta

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

SULING DI KALIURANG
G. J. Resink

Seruas bambu merintih tinggi
semata-mata untuk rembulan,
yang nun di Timur, dari tepi
di balik lapis kejauhan,
dekat Klaten kira-kira,
mengambang: bunga-kemerahan
disepuh rintih seruling duka.

Telah lemas nafas bunyi ini;
rongga jiwa memuput isi
dan pada hembus penghabisan,
putih dan tinggi tegun rembulan
di atas kawah gemerlapan
karena gunung mengirai api.

Semua istirah malam ini,
sampai bulan pagi pelan
berdiri ditumpuk pegunungan,
dimana Borobudur setumpak maja

Lalu lurah pun berbegas kemari
dari desa di kejauhan
dan rusuh tergores pada mukanya,
kala ia berkata: “Ada bayi
mati semalam. Demikian
konon kabarnya.”

Gertrudes Johan Resink, lahir di Yogyakarta 1911, dari keturunan Belanda dan Jawa. Belajar di Sekolah Tinggi Hukum, Batavia. Tahun 1947 sebagai Guru Besar Hukum Tatanegara. Setelah penyerahan kedaulatan 1949, masuk kewarganegaraan RI. Di tahun 1950 menjadi guru besar sejarah modern, sejarah diplomasi, selain mengajar Hukum …

Antologi Resensi Buku Sastra

Judul Buku : Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut di Baca Sebelum di Kuburkan
Penulis : An. Ismanto dkk.
Penerbit : I:Boekoe, Yogyakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal : 1000 halaman
Peresensi : Sungatno*
http://cawanaksara.blogspot.com/

Di antara buku-buku yang berjejer di rak sebuah Toko Buku di Yogyakarta, saya pernah tertarik pada sebuah buku dan langsung membelinya. Selain penulisnya terasa tidak asing bagi saya, judul buku dan catatan dalam endorsment-nya cukup memikat. Terlebih, ketika pihak toko tidak –atau mungkin lupa- menyediakan contoh buku itu yang bebas dari penjara plastik srink (plastik putih-bening). Sayangnya, setelah melihat-lihat isi yang ditawarkan penulis, minat untuk segera menenggak gagasan-gagasan yang ada tiba-tiba surut. Tulisan-tulisan dalam buku itu pernah saya nikmati dari beberapa koran sebelum buku itu terbit. Di dalamnya, hanya kumpulan tulisan-tulisan penulis yang pernah dipublikasikan koran dan beberapa makalah yang pernah disampaikan dalam diskusi. “Kok, ngga…

Masalah Naskah Teater di Jawa Timur

Rakhmat Giryadi*
http://teaterapakah.blogspot.com/

Jawa Timur, mengalami kelangkaan naskah teater. Sejak periode tahun 1970-an, periode Akhudiat, penerbitan naskah teater baru terjadi satu kali. Pada tahun 2001 lalu Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) menerbitkan Tiga Kitab Lakon dari Jawa Timur, yang hanya memuat tiga naskah antara lain, Jaka Tarub (Akhudiat), Sang Tokoh (Anas Yusuf), dan Kuman (Meimura). Namun penerbitan ini juga tidak mampu menjawab kelangkaan naskah di Jawa Timur.

Kelangkaan naskah teater bisa jadi disebabkan oleh kesalah pahaman, bahwa naskah teater semata-mata urusan sastra an sich. Begitu juga sebaliknya, sastrawan juga menganggap naskah teater semata-mata hanya urusan teater an sich. Karena itu jarang sekali para sastrawan kita menulis naskah teater. Apalagi sang teatrawan.

Selain itu tidak banyak pemimpin teater, sutradara teater di Jawa Timur, tidak memiliki latar belakang (menulis) sastra. Sementara kita tahu Akhudiat, adalah seorang sastrawan, Anas Yusuf seorang …

Geger Gember Genjer-Genjer

http://cawanaksara.blogspot.com/
Novel : Kantring Genjer-Genjer; Dari Kitab Kuning Sampai Komunis
Penulis : Teguh Winarso AS
Penerbit : Pustaka Pujangga, Lamongan
Cetakan : I, 2007
Tebal : 120 hlm.
Peresensi: Sungatno
http://www.sastra-indonesia.com/

Andaikan saat ini masih era pembasmian ideologi komunis di negeri ini, jangan sekali-kali anda menyenandungkan lirik Genjer-genjer. Sebab, sekali saja anda menyenandungkan lirik tua ini dan didengar oleh orang atau pemerintah, anda akan dituding sebagai antek-antek komunis. Anda akan dicekal, dibuang, disiksa hingga mati dan dibuang dalam gelapnya lobang; lobang buaya. Inilah kenyataan yang pernah terjadi di negeri bekas penjajah ini.

Dalam novel ini, Teguh Winarso AS terasa memiliki nyali yang cukup gede. Dari judul novel ini saja, Teguh telah memberikan rangsangan informasi bagi calon pembaca bahwa didalam novel yang tercover warna darah ini bergelantungan kisah kehidupan manusia yang senang dan atau takut terhadap komunis.

Pembaca akan diajak me…

Jl. P. DiponegoroNo. 46

AS Sumbawi
http://www.sastra-indonesia.com/

Bagaimana jika anda mengetahui rahasia orang lain? Apa yang akan anda lakukan? Barangkali kita akan sepandangan bilamana untuk sementara mendiamkannya sembari menunggu apa yang akan terjadi. Nasehatku, kita tak boleh sembarangan mengungkapkannya. Akan menjadi sesuatu sia-sia bila kita begitu saja mengobralnya. Tidak memperdulikan waktu yang tepat. Karena bagaimanapun juga rahasia tersebut bisa menjadi sesuatu sangat berharga. Bisa menjadi sebuah senjata untuk merobohkan lawan, jika kebetulan rahasia tersebut mengungkapkan keburukan. Namun, jika kebaikan yang termuat di dalamnya, akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri tentunya bila diungkapkan dengan ceroboh. Suatu hal yang selalu kucamkan dalam benakku bahwa hanya orang-orang yang pandai memanfaatkan kesempatan, beruntung di dunia ini.

Ngomong-ngomong soal rahasia, sekarang ini aku mengetahui rahasia seseorang. Dia bernama HeniSaraswati. Dia tinggal di rumah nomor 46 di jalan P. Diponegor…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com