Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

Puisi-Puisi Sabrank Suparno

De-Zaratrusta

1.
Sementara mata kian merabun
Gelembung keriput jidak pastilah aliran otakmu menghempas berkali-kali
Kerokak seri wajah rontok bersama jenggot dan uban yang terus bersalipan
pergi mengikis ruang-waktu.
Dutapun bersemayam untuk gemetarkan tangan dan kaki
Tinggalah kilasan waktu terus berkelebat sisa serapan dan tagihan tiap hembusan nafas di ujung detik-detik

2.
Sementara jalan kian gontai
Engkau bertahta atas domba-domba dan singa
Sambil terus membius, mencincang serdadumu sendiri biar terus ajeg berdansa di tarian bangkai
Kafilahmu musyafir ulung melebihi langkah
Bertapak-tapak jalan engkau rambah tanpa engkau lewati
Hanyalah sekedar menyandang pengemis ulung di pintu alam
Kasih sayang! Mana? Tak pernah hinggap di pangkuanmu
Kasih sayang bagimu hanyalah keberingasan kejam meremuk dada

3.
Muara ahirmu kian runyam
Berabad-abad tubuhmu terjerembab di belantara Zaratrusta
Terpendam dalam-dalam di pekuburan janji sendiri
Batu, angin, ataukah matahari yang telah kau buru dalam gembolan dadamu. S…

KIDUNG IMANENSI RUMI DI BALIK JUBAH MUSA

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Untuk tiap-tiap umat itu ada rasulnya (QS. Yunus, ayat 47). Berdasarkan ayat tersebut, dalam tiap umat manusia pasti memiliki seorang rasul di setiap zamanya. Rasul tersebut diutus tuhan hanya untuk menyampaikan ajaran kebenaran tentang esensi Tuhan yang telah diselewengkan dan bahkan diingkari oleh suatu umat. Ia mengajak sekaligus mengarahkan mereka yang berada dalam kesesatan agar kembali pada jalan yang benar serta memperoleh keselamatan di dunia dan akhirat. Hal tersebut ia lakukan dengan meneladankan sifat dan sikap yang terpancar melalui perkataan maupun perbuatan.

Ajaran-ajaran yang dibawakan oleh seorang rasul bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran-ajaran tersebut diterimanya sebagai wahyu dari Tuhan. Adapun proses penurunan wahyu itu dilakukan dalam situasi, tempat, maupun bentuk yang berfariasi. Hal ini menunjukan bahwa eksistensi wahyu berdasakan pada eksistensi Tuhan, sehingga seseorang tidak dapat mengetahui, apalagi menentu…

Nafas Keislaman dalam Macapat

Otto Sukatno CR
http://www.kr.co.id/

METRUM Macapat, yang dalam kebudayaan Jawa dikategorisasikan sebagai Tembang Cilik (kecil), jika dikaji secara seksama, sesungguhnya memiliki pengutuban atau mencerminkan nafas tradisi tasawuf (tarekat) Islam yang klop dan harmonis. Tarekat, yang dimaknai sebagai jalan atau stadia manusia dalam mencari kembali bentuk agregasi hubungan ‘kebersamaan Illahi’ (kemakhlukan dan Ketuhanan/Manunggaling Kawula Gusti), tercermin secara nyata dalam nama-nama genre Macapatan tersebut.

Di mana urutan kesebelas nama tembang Macapat itu, tidak lain mencerminkan perjalanan manusia dari sejak lahir hingga kembali bersatu dengan Tuhan. Artinya, urutan tembang Macapat itu tak lain merupakan dialektika sosial kemanusiaan sekaligus spiritual-religius bagi manusia Jawa dalam mencapai derajat kemanusiaannya yang lebih baik, bermakna dan bermartabat sesuai nafas ajaran (tasawuf) Islam. Karena nama-nama tembang tersebut menunjukkan arti masing-masing sesuai dengan maksud, tuj…

Kata-Kata Telah Membuat Teater Tersiksa*

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

Tahun 2009 menjadi tahun yang sibuk bagi proses berteater S.Jai. Di tahun yang penuh agenda politik ini, S.Jai melakukan serangkaian pentas monolog. Naskah yang diusung sama, Racun Tembakau. Saduran dari cerpen Anton Chekov berjudul “On The Harmful Effects of Tobacco.”

Selama bulan Oktober kemarin, S.Jai bersama Teater Keluarganya menggelar Campus Tour Monologue di Universitas Dr Soetomo Surabaya, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Trunojoyo Madura. Sebelumnya, Drama ini dipentaskan dua kali di Unair Surabaya dan satu kali di RRI Surabaya.

Apakah spirit yang menggelibat dalam diri S.Jai? Apakah hal ikwal dramaturgi yang dikukuhinya? Dan, Apakah visi sosio-kultural yang sedang diperjuangkannya? Kepada Kidung, S.Jai membeberkan secara panjang dan lebar.

1. Beberapa seniman, saya tidak perlu menyebutkan namanya, mencibir kerja teater Anda yang bekerjasama dengan LSM yang bergerak di bidang kampanye anti rokok. Dikatakan, teater Anda pun tidak te…

Kongres Bahasa Jawa V

Tirto Suwondo*
http://www.jawapos.com/

Pelaksanaan Kongres Bahasa Jawa (KBJ) V masih sekitar 1,5 tahun lagi: kira-kira pertengahan 2011 di Jawa Timur (Surabaya). Tetapi, bagi hajatan akbar lima tahunan itu waktu 1,5 tahun tak dapat dikatakan longgar, malahan boleh dibilang mepet. Sebab banyak hal yang harus disiapkan dengan matang: anggaran, program, kegiatan, persembahan, dll. Kalau KBJ V ingin lebih bergengsi dan membawa kemaslahatan masyarakat, Pemda Jatim selaku penyelenggara mesti banyak belajar dari pengalaman KBJ sebelumnya. Harus diakui KBJ sebelumnya masih banyak kekurangan. Karena itu, beberapa catatan berikut patut menjadi pertimbangan.

Pertama, perlu evaluasi kritis terhadap keputusan/rekomendasi KBJ yang lalu. Sudahkah poin-poin keputusan/rekomendasinya diakomodasi Pemda Jatim, Jateng, dan DIY? Sudahkah masyarakat merasakan manfaatnya? Kalau dilihat masa 4 tahun terakhir tampak bahwa sebagian besar keputusan/rekomendasi KBJ IV (2006) belum dapat direalisasikan. Di bidang pen…

Lamongan: Gerakan Sastra dan Buku “Indie”?

Abdul Azis Sukarno
http://sastra-perlawanan.blogspot.com/

Ada yang menarik ketika dengan tidak sengaja saya berkunjung ke kota kecil di sebelah utara Surabaya akhir Maret 2007 lalu, di mana sosok Amrozi si pelaku salah satu kasus bom Bali berasal. Tapi, tentu bukan dalam masalah di mana kota tersebut akhir-akhir ini akrab dengan kata-kata ‘teroris’, ‘bom’, atau semacamnya, dan diam-diam menjadi bahan perhatian pihak keamanan baik dalam maupun luar negeri. Melainkan, peranannya dalam bidang kesusastraan Indonesia, khususnya di Jawa Timur.

Lamongan, demikian nama kota tersebut, tiba-tiba menggelitik ‘adrenalin’ saya (istilah ini senang sekali digunakan kawan saya Fahrudin Nasrulloh dalam tulisan-tulisannya yang konon biar terkesan gagah, he-he…), untuk minta ditulis perihal anak-anak mudanya yang bersastra dengan gerakan “aneh” dan semangat yang lumayan tidak kalah dengan kawan-kawan seperjuangannya di kota-kota lain seperti Malang dan Surabaya, barangkali.

Ya, gerakan “aneh”, jika kita men…

Menelisik Pledooi: Pelangi Sastra Malang Dalam Cerpen

Judul Buku : Pledooi: Pelangi Satra Malang Dalam Cerpen
Penulis :Muyassaroh El-yassin dkk
Penyunting : Ragil Sukriwul
Tahun Terbit : 2009
Penerbit : Mozaik Books
Tebal : 126 Halaman
Peresensi : Denny Mizhar*
http://www.malang-post.com/

MALANG adalah kota pendidikan. Hal tersebut ditandai dengan banyak berdiri kampus. Sehingga banyak aktivitas yang berkaitan dengan dunia pendidikan atau kebudayaan seringkali menghiasi kampus. Begitu halnya dengan percaturan sastra di Malang. Kampus menjadi ruang berdirinya komunitas-komunitas sastra, baik terikat sama kampus secara kelembagaan (baca: unit kegiatan mahasiswa) atau tidak ada ikatan sama sekali; tetapi yang beraktivitas adalah mahasiswa kampus tersebut. Sehingga yang meramaikan kegiatan sastra di Malang adalah para pendatang yang sedang menempuh studi. Ada juga yang asli Malang.

Begitu halnya kebanyakan para penulis dalam buku Pledooi pelangi malang bersastra Mereka adalah pandatang hal tersebut dapat dilihat pada biografi penulis, hanya sedikit y…

KSJ Tidak Menandingi KBJ

Bonari Nabonenar*
http://www.jawapos.com/

Tulisan ini akan lebih bersifat klarifikasi dalam konteks pertentangan yang dikesankan antara Kongres Sastra Jawa (KSJ) dan Kongres Bahasa Jawa (KSJ) sekaligus menggarisbawahi salah satu usul Kepala Balai Bahasa Jogjakarta Tirto Suwondo dalam tulisannya bertajuk Kongres Bahasa Jawa V (Jawa Pos, Minggu, 21 Maret 2010).

Pada butir ke-3 usulnya, Tirto antara lain menulis, ”Di satu sisi, KSJ memang dinilai positif. Tetapi, pengalaman Semarang menunjukkan ada kesan KSJ diselenggarakan hanya untuk ‘tandingan’ KBJ.”

Sebagai salah seorang penggagas KSJ, saya tidak sedang membantah bahwa KSJ terkesan untuk menandingi KBJ. KBJ kali pertama digelar di Semarang pada 1991 era Gubernur Ismail. Kegiatan lima tahunan itu merupakan proyek pemerintah yang didukung tiga daerah: Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.

Pada awalnya, KBJ memang disambut sebagai kabar baik, terutama oleh mereka yang menginginkan agar bahasa Jawa mendapatkan iklim yang lebih baik untuk tetap be…

Sastra Jawa dan Persoalan Estetika

Mashuri
http://mashurii.blogspot.com/

Peristiwa yang menyerupai Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir yang diselenggarakan Yayasan Arena di Aula Universitas Parahyangan Bandung pada 8 September 1974 kembali terjadi. Kali ini, terjadi di Ruang Sawunggaling, Taman Budaya Jawa Timur pada tanggal 30 Agustus 2002, yang dilakukan oleh sejumlah sastrawan Jawa. Tetapi, terdapat perbedaaan mendasar di antara kedua pengadilan itu.

Kiranya mengomentari masalah pengadilan terhadap sejumlah sastrawan Jawa penerima hadiah Rancage memang sudah agak basi. Tetapi, ada beban moral bagi saya, jika saya tidak turun tangan dalam masalah ini, untuk sedikit memperingatkan pada generasi-generasi yang lebih dulu berkarya daripada saya. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab saya pada sejarah.

Sementara itu, perbedaan kedua pengadilan dalam jagat sastra itu kiranya bukan mengarah pada masalah ‘subyek’ dan ‘obyek’ yang diadili, tetapi lebih pada latar belakang terjadinya pengadilan itu. Jika pengadilan puisi di Band…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com