Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

Sajak-Sajak Saut Situmorang*

http://sautsitumorang.blogspot.com/
solilokui

makna macam apa yang
bisa didapat dari hitam aspal jalanan jam 12 siang?
bungkus rokok dan taik anjing
di trotoar bicara soal duit dan nasi
yang mesti dimiliki setiap hari.
di negeri kaya tapi miskin begini
jutaan bungkus rokok dan taik anjing
tercecer di trotoar jalan kota kota
cuma jadi jutaan bungkus rokok dan taik anjing!
sinis, katamu menanggapiku.
tak ada yang mengejek siapapun di sini.
soalnya cuma,
mungkinkah menulis puisi
dari hitam aspal jalanan jam 12 siang?
asap kotor sehitam pantat kuali
tergantung antara langit dan bumi
kentut busuk knalpot knalpot keparat
yang hiruk pikuk di sekitarmu.
siapa yang minta anugrah mewah ini!
debu beracun mengejarmu sepanjang hari
dan malam datang
membawa nyamuk nyamuk bangsat
yang sanggup mengantarmu ke liang lahat!
puisi? bagaimana kau bisa
menulis puisi tanpa bicara tentang semua ini!
bulan hanya indah
kalau lagi purnama
dan dilihat dari belakang kaca jendela rumah!
di luar mungkin ada maling
yang sembunyi di balik tanaman …

Cerpenis Koran Tak Akan Mati

Fahrudin Nasrulloh*
http://lembahpring.multiply.com/tag/surabayapost

Persoalan “sastra koran” ternyata masih menjadi cakap-kecap yang debatable (jika bukan kadaluwarsa) bagi sejumlah cerpenis, penulis puisi, atau esais. Kendati hal ini sudah lama dibahas dan menautkan berbagai wacana kesusastraan komtemporer Indonesia. Sebut saja semisal esai Katrin Bandel berjudul “Sastra Koran di Indonesia” (Jurnal Cerpen Indonesia, edisi 3, 2003), atau esai Saut Situmorang “Politik Cerpen (Koran) KOMPAS” (Jurnal Cerpen Indonesia, edisi 8, 2007). Saya di sini akan coba menanggapi esai Eko Darmoko “Pembunuh Cerpenis Adalah Koran” (SP: 28/6/09, dan 5/6/09).

Esai Eko sebenarnya tidak menghadirkan problem baru atau paparan yang analitik jika memang ia niatkan untuk memancing polemik. Tapi boleh jadi itu bisa terjadi. Tapi ia hanya mnghamburkan kenyinyiran yang genit dan dangkal, pembacaan yang sempit, dan impen-impen pesimistik seputar nasib cerpen dan cerpenis koran. Lebih-lebih, esainya terlalu berpanjan…

Menguak Misteri Krakatau

Muhammadun AS
http://www.jurnalnet.com/

Judul Buku: KRAKATAU: Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883
Apa yang terjadi di alam raya ini memang penuh misteri. Kemampuan manusia memprediksi kejadian-kejadian di masa sekarang dan yang akan datang hanyalah kemampuan indrawi yang akurasi kebenarannya sangat relatif.

Terbukti, ketika pemerintah dengan analisis para ilmuwan memprediksi Gunung Merapi dalam keadaan darurat, Mbah Maridjan justru berdiam 'menemani' aktivitas Gunung Merapi. Dalam logika Mbah Maridjan, merapi tidak akan mencederai dirinya karena dia telah membuktikan kecintaannya kepada alam.

Fenomena Mbah Maridjan dan Gunung Merapi merupakan dua entitas yang misterius. Karena misteri yang lahir dari keduanya selalu menghadirkan fenomena dan gagasan baru tentang bagaimana manusia hidup di alam semesta.

Jauh sebelum Mbah Maridjan menjadi sosok fenomenal, 123 tahun yang lalu, tepatnya pukul 10.00 WIB, Senin 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dan menyemburkan ejekta, yaitu debu…

SKETSA DI BALIK HURUF KATA-KATA DARI PELUKIS

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Bahasa ibu ibarat bakat tertanam. Sebagai pelukis menuangkan warna, penulis menyiratkan makna; kata-kata menghadirkan warna. Bagaimana penyair melukis kemerahan senja keindahan fajar, seolah purnanya kata yang sanggup mewakili pewarnaan bunyi menghasilkan imaji.

Semisal kata “mawar,” m di depan berasal imajinasi merekah, dan w di tengahnya menawan, ini sketsa yang kerap memasuki perasaan insani. Contoh kata “senja” berhasil menampakkan warna sesungguhnya, atas awalan s ditarik artian sementara atau hidup yang sementara. Kerapkali pandangan umum dikatakan senja berkaitan kematian. Dan kedekatan ajal, huruf j di tengahnya berdaya pantul jasadiah atau tubuh kefanaan.

Ini mengangkat ingatan sebelumnya dinyatakan, sehingga mendapati pengesahan magis. Tentu ada yang membantah hanya rangkaian semata, tapi aku katakan inilah kesepakatan universal yang dihasilkan pribadi tengah melampaui pembenaran.

Kata dalam bahasa Inggris “flower,” di mana imajinatif…

Sajak-Sajak di Ruang Ujian

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

I: Pintu
kalaulah ku buka mungkin bidadari sudah
menyambutku dengan dadanya yang pepaya
tetapi ia masih terkunci dan aku tersekap
dalam udara dingin di sekitar ini.

II: Kartu Tanda Mahasiswa
ada nama yang tergantung pasrah. bersalahkah
aku di persidangan kemarin itu dengan vonis
hukum gantung ini? padahal aku tak menyontek,
tak menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan,
bertanya pada teman-teman yang sepertinya
tunduk atau takluk pada kursi-kursi yang menekuk.

III: Kursi
kursi-kursi rapi. sesekali mata ini ingin saling
mengintip. ingin saling mengutip
seperti hujan di luar tadi yang masih berlomba
memperebutkan matahari yang masih malu-malu
mengadu rindu.

IV: Kertas
kertas kosong garis-garis ini sepertinya ingin
ditulisi. atau rindukah ia dengan mata pena
yang ahli mengkhianati udara untuk sekadar
mencumbuimu itu? aduh, apa yang mesti kutulis
sementara hati masih menyimpan gerimis yang
basah dan gelisah?

V: Pena
seperti tangan yang menjelma aksara. getar
bibir dari h…

Kegundahan Sastra Saut Situmorang

Zamakhsyari Abrar - wartaone
http://www.wartaone.com/

Jakarta - Saut Situmorang, nama penyair ini, dalam beberapa tahun belakangan mencuat namanya dalam panggung sastra negeri ini. Lewat kritik-kritiknya yang tajam dan keras, ia menyerang Goenawan Mohamad dan kawan-kawan atas apa yang disebutnya sebagai politik sastra Teater Utan Kayu.

Bersama dengan penyair Wowok Hesti Prabowo, sastrawan yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, pada 29 Juni 1966, ini lalu menerbitkan jurnal Boemipoetra, sebuah jurnal yang terbit dwibulanan, wadah tempat mereka untuk menulis dan mengekspresikan tulisan untuk "menyerang" politik sastra Goenawan cs.

Terkait banyaknya reaksi yang kaget ketika membaca Boemipoetra, Saut menilainya hal itu wajar-wajar saja. Menurut pria berambut gimbal ini, selama pemerintahan Orde Baru, seniman kita memang tidak terbiasa berpolitik dalam kesenian.

Apa dan bagaimana Boemipoetra? Bagaimana tanggapan Saut terhadap pernyataan Goenawan yang beberapa waktu sebelumnya men…

Sastra-Indonesia.com