Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

1927, Tagore dan Pablo Neruda bertemu di Jawa

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/

Puisi bertitel Kepada Tanah Jawa, bukti Rabindranath Tagore (7 Mei 1861 - 7 Agus 1941) pada tahun 1927, di usianya ke 66, selepas jauh mendapatkan Nobel Sastra 1913, dirinya berada di bencah tanah Jawa.

Halaman 357, tepatnya sub judul, Hubungan Kita dengan Rabindranath Tagore. Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya, bagian II A: Kebudayaan (terbitan Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1967), berkata, bahwa pada tahun 1927, Sang Pujangga Rabindranath Tagore berkunjung ke perguruan Mataram Jogjakarya.

Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Pablo_Neruda. Menyebutkan Neruda di tahun 1927 dalam usianya ke 23, putus asa oleh kemiskinan, menerima jabatan konsul kehormatan di Rangoon, kolonial Burma, tempat yang belum pernah didengarnya.

Lalu bekerja serabutan di Kolombo (Sri Lanka), Batavia serta Singapura. Di tanah Jawa, bertemu dan menikahi istri pertama, seorang Belanda pegawai bank, yang bernama Maryka Antonieta Hagenaar Vogelzang.

Sementara menjalani tuga…

Memotret Singkat Perjalanan Sang Pengelana (Catatan Kenangan Perjalanan)

Denny Mizhar

Udara panas kota Lamongan membuat gerah, waktu itu tak ada alasan untuk tidak berjumpa dengannya. Saya hubungi lewat hand phone, memastikan keberadaannya. Saya baru pertama kali jumpa dengannya waktu dia berkunjung ke kota rantau saya untuk membincang bukunya Kitab Para Malaikat kira-kira tahun 2008-an .

Sungguh buku kumpulan puisi yang tak biasa bagiku, bukan saja aku yang berkata demikian. Sehabis acara tersebut, saya tunjukkan pada kawan. Lalu bertanya padaku “Apa ini puisi?” aku jawab “Ya, ini puisi, lihat saja tertulis antologi puisi pada caver depan.” Begitulah awal perjumpaanku dengan pengelana dari Kendal Kemlagi, Karanggeneng, Lamongan, JaTim.

Saya yang baru saja memasuki dunia kata-kata (penulisan) khusunya puisi, ingin sekali berkunjung kerumahnya. Setelah saya pastikan ada dirumahnya. Motor saya pacu menuju kediamannya. Saya disambut hangat olehnya. Dan kita berbincang-bincang tentang kepenulisan, dia mengeluarkan buku-buku yang pernah di terbitkan stensilan, jug…

Nasionalisme Karya Sastra

Ahda Imran
http://www.pikiran-rakyat.com/

MESKI bentuk pengungkapannya tidaklah sama dengan generasi sastrawan terdahulu, karya para sastrawan Indonesia hari ini tetaplah menyimpan kesadaran dan gagasan tentang nasionalisme. Hanya, soalnya bagaimana seluruh gagasan itu bisa tertangkap oleh publik pembaca, terlebih lagi kehadiran karya sastra memang senantiasa seolah berada dalam dunianya sendiri. Terlebih lagi di tengah realitas ledakan budaya visual seperti hari ini dan lenyapnya peran para kritikus sastra yang semestinya bisa menjadi jembatan antara karya sastra dan publik.

Pasar sebagai panglima telah membentuk masyarakat dan budaya konsumsi serta cara berpikir yang terfragmentaris dan pragmatis. Belum lagi realitas global yang meniadakan segenap batas dan identitas, termasuk identitas dan watak nasionalisme. Di ruang inilah kini sastra Indonesia berada. Ruang yang memberi ranah lebih luas pada kehadirannya, tetapi yang sekaligus juga mengabaikan perannya dalam mengonstruksi gagasan-g…

Sisi Gelap Festival Sastra Internasional

Hikmat Gumelar
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Dengan rambut perak terurai sampai bahu, seorang lelaki kekar berkaus oblong merah dan bercelana jins biru melangkah menuju mikrofon yang berdiri sekitar dua meter dari pintu Pura Dalem Ubud, Bali. Cahaya lampu yang datang hanya dari arah depan membuatnya agak menunduk menahan silau. Setelah pembawa acara memperkenalkannya, ia menyapa publik yang kurang lebih 200 orang yang mayoritas kaum ekspatriat. Ia lalu mengucap bahwa satu kali Rendra membaca “Blues untuk Bonnie” untuknya. “Kali ini saya akan membaca Blues untuk Bonnie untuk Mas Willy.”

Tan Lioe Ie, lelaki berambut perak yang lazim dipanggil Tan itu, bukan saja seorang penyair kuat dari Bali yang rajin membaca puisi di panggung, tapi pun mengaku meyukai “Blues untuk Bonnie”. “Puisi ini musikalitasnya bagus. Sangat enak dan membantu pembacaan.”

Jamak jika pada malam “Tribute to W.S. Rendra” itu, publik terbius. “Blues untuk Bonnie” tak dibaca Tan seperti ditulis Rendra. Pun tak denga…

Surat Kawan Kepada Para Pengarang

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

KAWAN,
Bersiaplah bagi kita, pengarang untuk menggali kuburan sendiri! Lebih dari itu, nikmati kepedihan menyaksikan karya terbaik bakal menemui ajal karena dibakar di tungku api!

Pesan ini bukan cuma icapan jempol, bila Rancangan Undang-Undang Tentang Pornografi lolos diundangkan. Bukan berlebihan bila keadaan luar biasa mengerikan ini, sebanding dengan saat gaya absurditas novel dan drama berjaya di Perancis berkat pemantik tragedi perang dunia kedua.

Saat itu filsuf Jean Paul Sartre melempar konsepsi filsafat eksistensialis yang gemilang, kendati justru dalam lapangan sastra ia tak sebaik penganut-penganutnya: Albert Camus, Samuel Beckett, Eugene Ionesco, Friedrich Nietzsche. Mereka melalui karya-karyanya adalah manusia yang menyerupai nabi yang berjuang membebaskan umat dari gurita zaman modern.

Mereka sastrawan yang mengkritik puncak-puncak nalar yang diboncengi cemburu, ambisi, serakah, dan berbuah sikap metafisik atau sikap jiwa, yang nampaknya…

MEMBACA JARAN GOYANG, HATI PUN BERGOYANG;

Catatan Kecil Sajak Samsudin Adlawi

Imamuddin SA
http://www.sastra-indonesia.com/

Waktu itu, kira-kira sehabis Isya’, saya menguhubungi kawan saya. Saya bermaksud mau ngobrol-ngobrol denganya. Seketika itu saya lansung mengambil motor dan memacunya ke rumah kawanku tadi. Bukan sekedar kawan, tapi lebih dari itu. Entah apalah, yang jelas dia istimewa bagi saya. Namanya Nurel Javissyarqi.

Sesampainya di rumahnya, saya langsung bertemu dengannya. Seperti biasa, saya menemukannya sedang khusyuk dengan leptopnya. Membuat esai dan berkutat dengan facebook.

Kami ngobrol-ngobrol panjang lebar tentang face book dan sastra. Kami berbicara masalah pempublikasian karya sastra lewat facebook. Tampaknya akhir-akhir ini karya sastra ramai diperbincangkan di face book. Padahal beberapa saat yang lalu, bloog-lah yang meramaikannya. Sungguh perputaran peristiwa yang begitu cepat.

Selain ngobrol tentang facebook, kami juga nyentil sedikit masalah memudarnya media cetak dalam kalangan sastra, khususnya puisi. …

Inilah, ‘Kitab Suci’ Sastra Kita

Judul : Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia
Penulis : Ribut Wijoto
Penerbit : Dewan Kesenian Jawa Timur
Tebal : 278 halaman
Cetakan : Cetakan I, November 2009
Peresensi: Risang Anom Pujayanto
http://www.surabayapost.co.id/

“Supaya menjadi suatu ilmu, sejarah sastra haruslah tahan uji.” —Ju Tynjanov (1927).

Meminjam apologi Ribut Wijoto dalam Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia (Pengantar Penulis: Sebab-Sebab yang Tidak Mutlak), jika seorang esais yang bersandar pada teks bisa menempatkan tulisannya seperti seorang pengkotbah, maka seorang peresensi yang juga bersandar pada teks yang dibuat oleh si esais seharusnya bisa menempatkan tulisan resensi esai sastra bak seorang pengkotbah pula.

Pada lidah sang pengkotbah tergores garis keniscayaan. Mereka bisa begitu mudah mentahbiskan banyak sekali klaim, pernyataan, tuduhan, dan pujian. Bersandar pada kitab Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia, maka penulis menyatakan ayat pertama, ”Jangan mengaku mengenal kesusastraan Indonesia tan…

Bandung dan Puisi Indonesia

Soni Farid Maulana*
http://www.pikiran-rakyat.com/

Kegiatan sastra yang dilakukan oleh komunitas-komunitas sastra di atas pada dasarnya lebih kepada acara mengundang orang untuk baca puisi, diskusi, dan menerbitkan buku. Sedangkan kegiatan yang membicarakan lahirnya kemungkinan daya estetik baru dalam penulisan karya sastra boleh dibilang tidak tersentuh.

TUMBUH dan berkembangnya gerakan puisi mBeling di Bandung, yang digagas oleh penyair Jeihan Sukmantoro dan Remy Sylado pada awal 1970-an, merupakan reaksi atas digelarnya Perkemahan Kaum Urakan yang diprakarsai penyair sekaligus teaterawan Rendra bersama Bengkel Teater Rendra pada 16 Oktober 1971, di Pantai Parangtritis, Yogyakarta.

Lahirnya gerakan puisi mBeling dalam konteks yang demikian pada satu sisi menunjukkan sebuah semangat pencarian baru dalam bentuk pengucapan puisi, yang pada saat itu bentuk pengucapan puisi liris mulai mendapat tempat yang tak tergoyahkan di majalah sastra Horison, Basis, dan Budaya Jaya.

Tentu saja gerakan y…

Teddy Muhtadin, "Kritik Itu Alat Perubahan"

Ahda Imran
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Secara umum bagaimana Anda melihat perkembangan tradisi kritik dalam sastra Sunda dalam korelasinya dengan perkembangan sastra Sunda itu sendiri? Dari mulai wacana pemikiran, estetika, hingga regenerasi?

Kritik dalam sastra Sunda itu tertinggal jauh di belakang perkembangan karya sastranya. Namun, walaupun lamat-lamat, kita pun tak bisa menampik bahwa ada juga jejak kritik dalam perkembangan sastra Sunda. Jadi, kritik dalam sastra Sunda itu antara ada dan tiada. Ada karena hingga saat ini karya Sunda tidak pernah terlepas dari penilaian, baik melalui sayembara maupun melalui berbagai acara pembagian hadiah sastra.
Tiada karena faktanya kini sulit menemukan kritik yang kreatif seperti yang pernah dilakukan oleh Rukasah S.W. ketika membicarakan lagu "Oyong-oyong Bangkong" atau Utuy Tatang Sontani ketika membicarakan Sangkuriang dan Si Kabayan. Kita pun susah menemukan kritik yang tajam seperti yang dipraktikkan Ajip Rosidi dalam Béb…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com