Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2009

Wong Jawa

Bandung Mawardi*
http://www.jawapos.com/

“Siapa saja yang ingin menjadi wong Jawa harus membaca dan menulis.” Kalimat dengan pesan imperatif ini disampaikan secara kalem oleh Suparto Brata dalam diskusi Wong Jawa Ilang Jawane di Solo pada 14 Juni 2008. Laku membaca dan menulis diklaim Suparto sebagai pengalaman jadi wong Jawa. Ungkapan relasional tentang wong Jawa dengan tradisi membaca dan menulis memang cukup mencengangkan pada hari ini, ketika sekian orang sibuk mencari definisi, memerkarakan identitas hibrida atau tafsir klise tentang takdir kekuasaan Jawa.

Apakah ciri substantif orang Jawa adalah membaca dan menulis? Pertanyaan ini muncul oleh pengakuan Suparto sebagai pengarang mumpuni dengan puluhan buku sastra dalam bahasa Indonesia dan Jawa. Afirmasi sebagai wong Jawa terselamatkan dan menjadi produktif ketika orang mau menekuni tradisi membaca dan menulis. Kebenaran memang terkandung dalam ungkapan kalem itu jika publik mau membuka kembali lembaran-lembaran kepustakaan Jawa dar…

Gus Mus: Semua Penyair Guruku

Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Kiai yang juga dikenal sebagai budayawan, pelukis, dan penyair, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus, mengaku terus terang bahwa semua penyair yang ada di negeri ini, terutama sekali penyair yang usianya di atasnya, adalah teman sekaligus gurunya.

“Saya menganggapnya demikian karena dalam banyak kesempatan, saya tidak sekadar curhat dengan mereka, tetapi juga belajar, terutama dalam proses kreatif kepenyairan. Jujur, puisi-puisi yang saya buat untuk menerjemahkan tentang suatu kenyataan, kezaliman, keangkaramurkaan, kebatilan, dan cinta kepada Allah, mereka kok bisa pas membahasakannya dalam bait-bait yang pendek tapi komunikatif, sedangkan saya belum. Itu yang membuat saya banyak belajar kepada penyair-penyair yang sudah matang memandang kehidupan,” ujar Gus Mus.

Pengakuan Gus Mus itu diungkapkan ketika menjadi pembicara dalam acara peluncuran kumpulan sajak Sihir Cinta karya Timur Sinar Suprabana di DPRD Jawa Tengah, Semarang, Senin lalu, yang…

Cak Nur: Cendekiawan-Aktivis

Abdul Razak
http://www.jurnalnasional.com/

Nurcholish Madjid adalah ikon pemikiran pembaruan dan gerakan Islam di Indonesia. Cak Nur, panggilan populernya, bukan hanya seorang cendekiawan yang berdiam di menara gading intelektualitas. Namun dia juga adalah seorang aktivis pergerakan, bahkan politikus.

Politik praktis merupakan jalan hidup yang mendominasi perjalanan hidup Cak Nur. Dia lahir di tengah-tengah keluarga Masyumi. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal salah seorang tokoh partai politik Islam terbesar di era Orde Lama itu.

Politik praktis mulai ditekuni Nurcholish saat menjadi mahasiswa, pertengahan tahun 1960-an. Ia terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, tempat dia menimba ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta. Anak Jombang, Jawa Timur yang lahir 17 Maret 1939 ini bahkan menduduki jabatan Ketua Umum Pengurus Besar HMI dua periode berturut-turut, 1966-1969 dan 1969-1971. Meski begitu, seb…

Abdul Hadi WM: Malaysia Remehkan Indonesia

Abdul Hadi WM (Wawancara)
http://suaramerdeka.com/

KASUS model asal Indonesia Manohara Odelia Pinot dan Raja Kelantan Tengku Muhammad Fakhry serta konflik Ambalat memanaskan lagi hubungan diplomatik dan budaya antara Malaysia dan Indonesia. Sejak sama-sama berdiri tahun 40-an, hubungan bilateral selalu pasang surut. Ada kalanya panas, ada kalanya mesra. Untuk mengetahui kenapa pasang-surut itu terjadi, berikut wawancara dengan Prof Dr Abdul Hadi MW, pengajar Universitas Paramadina yang tahun 1991-1997 menjadi penulis tamu dan pengajar di Universiti Sains Malaysia.

Hubungan Malaysia-Indonesia memanas lagi sampai-sampai Wapres Jusuf Kalla menyatakan kita siap berperang. Menurut pandangan Anda, apa sebab relasi Indonesia-Malaysia begitu rapuh?

Ya jelas masalah politik dan ekonomi. Harap diingat, kolonialisme yang memisahkan negara-negara di Asia Tenggara. Pada masa kolonial itu, komposisi kependudukan Malaysia adalah China, Melayu, dan India. Usaha kolonial untuk memisahkan ras-ras itu tampa…

Amir Hamzah dan Jalan Terjal Menuju Tuhan

Grathia Pitaloka
http://www.jurnalnasional.com/

ADA banyak cara menuju Tuhan. Salah satunya seperti yang dilakukan Amir Hamzah melalui sajak-sajaknya. Dalam bait liris Amir berkeluh kesah tentang kerinduannya pada Sang Pencipta. Setelah Amir meninggal dunia, hampir tidak ada penyair Indonesia lain yang begitu bergetar rasa rindunya kepada Zat yang Mahagaib itu.

Amir terlahir sebagai seorang aristokrat Melayu. Ia merupakan anggota keluarga Sultan Langkat, bagian kelas feodal yang saat itu dipandang hormat oleh masyarakat. Semenjak kecil Amir sudah akrab dengan sastra melayu. Konon nama yang ia sandang merupakan bentuk kekaguman sang ayah, Tengku Muhammad Adil terhadap Hikayat Amir Hamzah.

Sejak kecil Amir dibesarkan dalam lingkungan agama Islam yang taat. Selain bersekolah di Langkatsche School (HIS), sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda, ia juga belajar mengaji di Maktab Putih. Setiap sore tiba, Amir dan teman-temannya melangkah ke rumah besar bekas istana Sultan Musa itu un…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com