Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2009

Puisi-Puisi A. Ginandjar Wiludjeng

RIWAYAT KEMATIAN

Dia disini lagi, entah dari mana dia datang
kuyup dibulir-bulir hujan, kemarau mengeringkan
merenggut segala rengkuh,
menghampa segala udara
melepas segala rupa,
memburai segala bentuk,
bersama usia, tipis saja
datang dan pergi, segaris saja
tak berjarak, tak berjarak.

Kusentuh dia berguguran :
seperti galau, seperti resah, seperti sangsai,
seperti sepi, seperti dingin, seperti sangsai,
terpisah.

Terentang,
teregang,
terpasung,
tersalib,

Dia menungguku
di hari kelahiran
di kematian

Akupun tak bermaksud tuk pergi, karena ku takkan bisa berlari
akupun tak bermaksud menolak, karena ku tak bisa



SEMUSIM BERSAMA LUKA YANG MAHA DUKA

Limbung segala jiwa, angin membawaku linglung,
serasa anak kecil, yang berlari mengejar layang-layang daun gadung,
tersesat dia dikembara senja, sendirian terjebak rumpun-rumpun bambu,
disitu jalan kecil penuh kerikil, sayup menabuh kesunyian senja,
jiwamu Yang Paling Sunyi, terdampar dipesisir gamang

Dalam pusara musim, angin terus meringkik, memanggigil-manggil
kalan-jalan …

TAFSIR SEJARAH DALAM NOVEL “SALAH ASUHAN”

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Setiap karya sastra adalah hasil pengaruh yang rumit dari faktor-faktor sosial-politik-kultural. Novel Salah Asuhan (1928) karya Abdoel Moeis, juga kelahirannya tak dapat dilepaskan dari faktor-faktor tersebut. Itulah sebabnya, usaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dibalik teks Salah Asuhan, penting artinya untuk menangkap amanat pengarangnya yang juga berkaitan erat dengan situasi sosial dan semangat zamannya.

Novel Salah Asuhan ditulis awal tahun 1927 ketika Abdoel Moeis sudah meninggalkan kegiatan politiknya dalam Sarekat Islam (1912-1924), dan menjadi petani di Garut sejak tahun 1924. Waktu itu (sejak 19 Januari 1924), Abdoel Moeis dikenai larangan mengunjungi semua daerah di luar Jawa dan Madura sebagai akibat terjadinya peristiwa Toli-Toli di Sulawesi Tengah (Juni1919), pemogokan pegawai pegadaian di Jawa (11 Februari 1922), dan keterlibatannya dalam membantu masyarakat Minangkabau dalam memperjuangkan hak-hak tanahnya yang …

BAHASA KAUSALITAS YANG RAHMATAN LIL ALAMIN

Nurel Javissyarqi*
http://ja-jp.facebook.com/people/Nurel-Javissyarqi/1355886977

Prolog:

Sebelum membahas pokok persoalan, marilah berserah kepada Sang Penyebab segala sebab. Bagaimana dikatakan kegentingan karena seringkali mengartikan akibat sebagai sebab atau sebaliknya mengerti sebab padahal itu akibat. Tentu itu menghawatirkan kesehatan iman di alam fikiran. Jika yang terpaparkan ini tidak bertepatan dengan ketentuan ayat-ayat-Nya, tinggalkanlah. Andai ada senyawa tiupan ayat-ayat-Nya yang tersirat pun tersurat, bukan dari penulis semata.

Saya harap saudara memiliki jarak pengamanan agar yang tersampaikan bukan belenggu. Telah banyak para tokoh mengupas kausalitas, tetapi perlu menilik ulang untuk mendapati pencarian itu bersesuai dengan pribadi. Tidakkah yang baru berangkat biasanya menemukan keganjilan. Harapan saya ini sanggup memberikan kesan terdalam, menempati kedudukannya sebab-akibat, atas kesamaan irama tarian Ilahiyah, amin.

Kegagalan teori Darwin terdapat pada pemilihan con…

Sepotong Bali di Tanah Belgi

Wita Lestari
http://jurnalnasional.com/

Keberadaan Taman Indonesia di Belgia akan memicu bangsa Eropa berkunjung ke sini untuk menikmati Indonesia yang sebenarnya.

KITA bersyukur punya Bali. Sampai saat ini ia bermagnet besar bagi orang asing. Utamanya bagi orang Eropa yang umumnya sangat pandai menghormati dan menghargai suatu budaya dan keindahan alam. Bukti ini dapat kita jumpai di tanah seluas 6 hektare yang dinamakan the Kingdom of Ganesha atau Taman Indonesia. Taman tersebut berada dalam kawasan Parc Paradisio yang punya luas 60 hektare. Parc Paradisio sendiri adalah kawasan kebun binatang yang dibangun oleh pengusaha asal Belgia, Eric Domb. Lokasinya di pinggiran kota Cambron. Tepatnya di kota Mons, sekitar 80 km dari kota Brussel, ibu kota Kerajaan Belgia. Belgia sendiri adalah negeri yang terletak di bagian barat benua Eropa, yang termasuk negara pendiri Uni Eropa. Negeri yang berluas wilayah 30.528 kilometer persegi dan berpenduduk sekitar 10,5 juta jiwa ini merupakan ibu kota …

Pacitan, Ibukota Prasejarah Dunia

David Kuncara
http://jurnalnasional.com/

Manusia purba dari Sangiran dan Trinil memanfaatkan Pacitan sebagai bengkel peralatan.
PREDIKAT “ibu kota prasejarah dunia” layak disandang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sebab, kota yang terletak di perbatasan Jatim-Jateng ini menyimpan ratusan lokasi situs prasejarah. Tak kurang dari 261 lokasi situs prasejarah. Baik dalam tahapan eksploitasi maupun yang telah disurvei tim arkeologi.

Situs-situs tersebut berada di jajaran Gunung Sewu (Pegunungan Seribu). Tersebar mulai di Kecamatan Punung, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung hingga Kecamatan Tulakan.

Gunung Sewu secara geologis dan geografis terpisah dari wilayah Pulau Jawa lainnya. Iklimnya kering. Relief bukit kapur, gua dan gua payung banyak terdapat di daerah ini. Cukup ideal sebagai tempat tinggal bagi manusia purba. Pun ada banyak jenis bebatuan sileks lokal bermutu sebagai bahan baku pembuatan peralatan dan senjata.

“Melihat banyaknya situs prasejarah yang ada, Pacitan bisa disebut sebagai ibukot…

Ghirah Sastra Tionghoa Terus Menyala

Lan Fang
http://www.jawapos.com/

China adalah negara besar yang dikenal dengan timbul tenggelamnya banyak kerajaan dan dinasti. Juga karena kesengsaraan dan kemiskinan akibat perang yang berlarut-larut selama berabad-abad. Selain itu, yang penting dicatat dari China adalah kearifan yang diwariskan para filsufnya melalui berbagai macam bentuk karya sastra. Salah satunya adalah puisi.

Sejarah sastra dunia menahbiskan China sebagai negeri puisi. Bila hendak diteliti, selama masa Dinasti T’ang (618-906) saja sudah tercatat kira-kira 2.200 penyair yang menghasilkan lebih dari 50.000 puisi.

Pada waktu itu, perkembangan puisi di China mencapai puncaknya dengan kelahiran penyair-penyair besar seperti Wang Wei, Li Po, Tu Fu, dan Po Chu I. Bahkan, Po Chu I pernah menjabat ketua dewan pada 841. Karena itu, dia juga dikenal sebagai politikus sekaligus penyair yang menguasai seni kaligrafi, melukis, dan pandai bermain catur.

Seiring dengan perkembangan zaman, bangsa China berikut keturunannya pun terse…

Banyak Festival Terancam Batal

Ribut Wijoto*
http://www.surabayapost.co.id/

Tahun ini, masyarakat seni di Jawa Timur terancam kehilangan beragam sajian festival seni. Misalnya Festival Cak Durasim, Surabaya Full Music, Festival Budaya Adhikara, dan sebagainya. Apakah yang sebenarnya terjadi?

Kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memindahkan kewenangan mengurusi bidang kesenian, dari dinas pendidikan ke dinas pariwisata terbukti tanpa persiapan yang matang. Padahal pemindahan tersebut bukanlah rencana mendadak. Pemindahan telah dibahas dalam beberapa tahun belakangan. Apalagi, Jawa Timur bukanlah satu-satunya yang mengambil kebijakan serupa. Provinsi lain semisal Yogyakarta dan Bali pun melakukan kebijakan yang sama. Anehnya, latar belakang yang semestinya terprogram tersebut, tetap saja kacau balau. Imbasnya harus disandang masyarakat luas.

Beberapa bulan lalu, masyarakat dikagetkan oleh berita memalukan. Isinya, tahun 2009 ini, Pemerintah Provinsi tidak akan menganggarkan dana untuk kebudayaan (baca: kesenian). Art…

Ludruk Karya Budaya, Cermin Yang Hidup

Jabbar Abdullah*
http://id-id.facebook.com/people/Jabbar-Abdullah/1020385855

Marsudyo wong cilik biso gumuyu (Berupayalah membuat orang kecil bisa tersenyum)– Semar –

Segala yang menjadi perhatian sudah barang tentu memiliki “sesuatu” yang menarik dan patut untuk disimak. Begitu pula ketika membincangkan Ludruk Karya Budaya (LKB) yang menurut saya telah menjadi “legenda hidup” sebagai salah satu ludruk yang –mungkin– tertua dan pernah ada di Jawa Timur yang mampu bertahan hidup selama 40 tahun. Berangkat dari hasrat dan adanya “sesuatu” yang menarik itulah tulisan ini dimunculkan dengan maksud untuk menyelami lebih dalam proses kreatif LKB dalam melangsungkan tugas berkeseniannya untuk menjadikan kesenian ludruk lebih bermartabat dan terhormat serta bukan hanya sekadar hiburan saja.

Bagi yang sempat membaca, secara historis, sosok LKB telah diuraikan cukup gamblang oleh Khairul Inayah dengan judul “40 Tahun Ludruk Karya Budaya” pada Minggu (31/5) di rubrik Serambi Budaya, Radar Mojokerto.…

Sastra-Indonesia.com