Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2009

Sastra dalam Basis Orientasi dan Komitmen Estetika Lokal*

Satmoko Budi Santoso
http://satmoko-budi-santoso.blogspot.com/

WACANA desentralisasi komunitas sastra kembali menggemuruh pada awal tahun ini. Marwanto, Ketua Komunitas Lumbung Aksara Kulonprogo Yogyakarta membebernya dalam esei yang berjudul Temu Sastra Tiga Kota (Harian Kedaulatan Rakyat, 13 Januari 2008) lalu. Sayang, cuatan pikiran Marwanto hanya sebatas paparan pemetaan sastrawan yang ada di tiga kota, yakni Yogya, Kulonprogo, dan Purworejo. Selebihnya, hanya menyinggung sedikit tentang kemungkinan potensi yang bisa dikembangkan dari kegairahan bersastra yang ada di kota-kota tersebut.

Dalam khazanah dinamika sastra Indonesia, wacana desentralisasi sudah terlalu sering muncul. Sekadar kilas-balik, yang fenomenal adalah perbincangan mengenai revitalisasi sastra pedalaman yang berhasil menembus pasar isu nasional pada era pertengahan 1990-an. Karena polemik yang berkembang pada masa itu, sejumlah sastrawan dan karya-karyanya yang bernilai “lokal” menjadi terdongkrak dan ikut mendomina…

Sajak-Sajak Mujtahidin Billah

http://embun-tajali.blogspot.com/
PENYESALAN

ribuan awan mengarak sesal di langit
hujan lebat meneteskan air mata keluh
kilat menyambar gemuruh membakar perasaan
sedang aku terjebak sendiri
dalam ruang menyisa bisa menyisa perih

kemana kan kubawa sesal
di penghujung muram
yang sebentar-sebentar menyesak dada
oleh karena tergarami atas luka nestapa?

bermenung aku sendiri
seakan tak ada lagi harap terbagi
jiwaku tercabik habis
nyawa melayang tak kenal tuju

sungguh terluka aku
sungguh!

pengelanaanku tak kira sebutir biji sawi
sedang dosa menggunung timbun melulu



CEMBURU

ya Allah,
jika Kau cemburu
katakanlah kepadaku:

manakah cinta terindah
yang harus kupersembahkan kepada-Mu?

manakah puisi cinta paling syahdu
yang harus kusenandung kepada-Mu?

dimanakah tempat yang paling aman
yang tidak seorang pun tahu
bahwa kita sedang bercinta?

seseorang berkata:
“Hati-hatilah! Dia sangat pencemburu. Dia tidak ingin
di hati hamba-Nya ada ketertarikan kepada selain-Nya”



HUJAN MENJELANG SENJA

derit pintu yang tertinggal
menyisa suara tan…

Membedah Anatomi Cerpen Indonesia: Antara Kompleksitas Estetika dan Wilayah Sosialisasi*

Satmoko Budi Santoso
http://satmoko-budi-santoso.blogspot.com/

CERITA pendek (cerpen) Indonesia bersama eksistensi kritikusnya ternyata bisa menggelembung sebagai wacana yang bernilai gunjingan di warung-warung kopi atau melalui SMS. Namun, pastilah bisa juga diperdebatkan, sebagai konsekuensi penelaahan, setidaknya terepresentasi dalam tajuk Kongres Cerpen Indonesia III, 11-13 Juli 2003 yang silam, di Taman Budaya Lampung. Atas jasa Dewan Kesenian Lampung yang memfasilitasi dan mengakomodir pertemuan tersebut, kegelisahan acuan dan format estetik cerpen Indonesia terjembatani, baiklah, bisa dimulai dengan argumentasi Nirwan Dewanto (ND) sebagai Ketua Redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam yang mengusung idealisasi estetik bangunan sebuah cerpen.

Bagi ND, cerpen yang standar adalah cerpen yang mempertahankan fiksionalitasnya sehingga “aku-pengarang” tertuntut berkompromi dengan bahasa yang selayaknya ditundukkannya. Dalam bahasa ND, “Cerpen adalah bangunan cerita yang menyusut ke titik tak terh…

Mengenang St Iesmaniasita, Mutiara yang Terlupakan dari Mojokerto

Pengarang Perempuan Pertama dalam Kesusastraan Jawa Modern

Khoirul Inayah
http://www.jawapos.com/

Bagi penikmat dan pengamat kesusatraan Jawa zaman kemerdekaan, St Iesmaniasita merupakan nama yang sudah tidak asing lagi. Banyak karyanya yang tersebar lewat majalah-majalah berbahasa Jawa, atau lewat kumpulan cerita pendek serta antologinya yang telah diterbitkan. Hasil karyanya berupa sajak (dalam sastra Jawa disebut geguritan atau guritan), cerita pendek (cerita cekak disingkat cekak).

Pada saat Kota Mojokerto merayakan HUT ke-90 pada 20 Juni lalu, nama Iesmaniasita sama sekali tak terdengar. Mungkin saja para pejabat di Kota Mojokerto ini tidak kenal, bahkan belum pernah mendengar namanya. Padahal, nama ini sudah tercatat sampai di mancanegara.

St Iesmaniasita memiliki nama lengkap Sulistyo Utami, lahir di Terusan, Mojokerto pada 18 Maret 1933. Terakhir menjadi guru di Kota Mojokerto.

Dari buku Wawasan Sastra Jawa Modern karya Poer Adhie Prawoto disebutkan bahwa Bu Is, panggilan akrab St I…

Aku Berkarya Maka Aku Ada

Arief Junianto
http://www.surabayapost.co.id/

Eksistensi sastra Jawa hanya bergantung pada sastrawannya. Minimnya media berbahasa Jawa mereka harus berjibaku menerbitkan karyanya sendiri.

Media berbahasa Jawa boleh dikatakan sangat minim. Di Surabaya media yang ada hanya dua, Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Itupun terbit hanya untuk kalangan tertentu yang berminat dengan bahasa Jawa. Di dua media ini, bisa dikatakan budaya Jawa, secara libih luas mampu disiarkan. Selain itu bila dibandingkan dengan sastra daerah lain, sastra Jawa masih memiliki tempat yang cukup menguntungkan. Hal ini disebabkan penutur bahasa Jawa memang masih terbilang cukup banyak.

Meski demikian bukan berarti praktisi sastra Jawa banyak bermunculan. Kenyataannya, tidak banyak sastrawan yang mau secara total berkarya demi kemajuan dan keberadaan sastra Jawa. Oleh karena itu, bisa dikatakan, sastra Jawa semakin terjepit di tengah banyaknya penutur bahasa Jawa.

Keterjepitan sastra Jawa tidak hanya didasarkan pada jumlah …

Centhini, Kekasih yang Tersembunyi

Seno Joko Suyono, Lucia Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

”…Kehidupan saya dan kehidupan penyair Jawa sejak berabad-abad, semua menyatu. Segala yang pernah saya alami di Jawa dan di tempat lain di Bumi ada dalam karya yang janggal, ajaib, dan raksasa itu, yang kelihatannya begitu cerai-berai, namun intinya begitu sempurna. Saya seakan ingin mencebur ke sungai yang luas, membiarkan diri ditelan tembang-tembang dan lenyap dalam gelombang cahaya para penyair yang telah wafat, terikat dengan silsilah mereka secara penuh rahasia….”

Pengakuan Elizabeth D. Inandiak, warga Prancis, pengakuan orang yang terpesona pada Serat Centhini. Ia menyadurnya ke dalam bahasa Prancis. Setelah terbit edisi Prancisnya, kini tafsirnya itu muncul dalam edisi bahasa Indonesia. Iqra kali ini membahas seluk-beluk bagaimana Elizabeth menenggelamkan diri ke dalam Centhini, sebuah karya sastra Jawa di era lampau yang sarat perbincangan religius dan erotisme, sesuatu yang dianggap suci sekaligus kotor itu.

”K…

Mengalir seperti Siklus Air

Rukardi
http://www.suaramerdeka.com/

HIDUP bagi Sosiawan Leak adalah berkesenian. Keseriusan dia menjadi seniman terukur dari deret panjang karya dan bejibun aktivitas. Sejak 1987 puisi-puisinya mengisi kolom sastra pelbagai media cetak di Indonesia. Di luar itu, puisi Leak juga menghiasi lebih dari 25 antologi yang diterbitkan berbagai forum dan festival sastra, baik lokal maupun nasional. Dua antologi puisinya bersama Gojek JS dan KRT Sujonopuro diterbitkan khusus oleh Yayasan Satya Mitra Solo, yakni Umpatan(1995) dan Cermin Buram (1996).

Selain baca puisi dan menghadiri undangan forum sastra di pelbagai daerah, sejak 1992 Leak tiga tahun mengasuh “Rubrik Puisi” di Radio ABC Solo. Pada 1994, dia secara sistemis menjalankan program “Deklamasi Keliling” di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Madura, serta “Deklamasi Keliling Sumatra” (1995).

Tahun 2002 dia diundang ke “Festival Puisi Internasional Indonesia 2002″ di Makassar, Bandung, dan Solo. Forum itu melibatkan penyair Jerman, Austria, Belan…

Ketika Barat Menginspirasi Timur

Hujuala Rika Ayu*
http://www.jawapos.com/

SEBAGAI seorang anak perempuan yang terlahir dengan latar belakang bangsawan, Kwei-lan merasa telah mempelajari semua hal yang harus dilakukan seorang istri untuk memenangkan hati suaminya. Tidak hanya masak dan berdandan saja, tapi ia juga telah memenuhi standar kecantikan di mana seorang gadis semenjak kecil harus mengikat kakinya sehingga kaki-kakinya menjadi pendek dan mungil. Namun, kaki-kaki mungil, pintar memasak dan berdandan tidak cukup untuk memenangkan hati suaminya yang telah mengarungi empat lautan itu.

Begitulah kurang lebih isi novel yang diusung Pearl Sydenstricker Buck, penulis Amerika yang mendapatkan hadiah Nobel Sastra 1938. Penulis yang biasa menyingkat namanya menjadi Pearl S. Buck ini tinggal di Tiongkok sejak kecil. Hal inilah yang membuat karya-karyanya -seperti Madame Wu, Surat dari Peking, dan Maharani- sarat akan budaya dan nilai-nilai Tiongkok. Karya-karya Pearl S. Buck secara khusus memotret kehidupan perempuan Tiong…

FSJ, Bukan Festival Kangen-kangenan

Bonari Nabonenar*
http://www.jawapos.com/

Suatu hari dalam sebuah surlek (surat elektronik) cerpenis Beni Setia menulis: ”Kenapa tak ada orang Jawa yang merasa terpanggil untuk nguri-nguri bahasa dan sastra Jawa dengan memberi dana dan kepercayaan yang sama pada PS (Majalah Bahasa Jawa Panjebar Semangat) atau JB (Jaya Baya), misalnya? Apa komunitas Jawa yang mayoritas penduduk Indonesia itu tak menghasilkan manusia berbudaya yang tertarik untuk mendinamisasi sastra Jawa dengan hadiah tahunan? Kenapa Bengkel Muda Surabaya bisa masuk jadi pos anggaran APBD Surabaya, mengalahkan DKS (Dewan Kesenian Surabaya) yang formal top-down building, tapi PPSJS (Paguyuban Pengarang Sastra Jawa Surabaya) tidak –padahal institusi ini strategik memberi hadiah tahunan yang mendinamisasi kreativitas sastrawan muda Jawa?”

Surat itu menunjukkan betapa Beni Setia sebegitu gelisahnya terhadap kondisi sastra Jawa saat ini. Seirama dengan kegelisahan saya dan kawan-kawan penggiat sastra Jawa pada umumnya. Menarik…

Korupsi Di Negeri Miskin

Judul Asli : Tanah API
Penulis : S. Jai
Penerbit : Pustaka Sastra LKiS Yogyakarta
Tahun : Cet. 1, Juni 2005
Tebal : xiv + 437 halaman (index)
Peresensi : Nur Hamzah*
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

“Kipang dalam hidupnya tidak pernah menemukan kedamaian selama hidupnya, sebelum kejahatan seperti perkara korupsi di negeri yang hilang ini ditumpas sampai akar-akarnya.”

Novel Tanah Api karya S.Jai tampaknya banyak mengurai pemikiran, ajaran, idiologi, peradaban dan kejahatan. Oleh karena itu, wajar bila sering terjadi sebuah pemikiran pada zaman keemasan saat dipimpin rezim Soeharto, namun pada zaman yang berbeda saat era reformasi terjadi masa keredupan.

Pada periode tertentu zaman telah dikutuk oleh rakyat, karena ketimpangan sosial, agama dan politik telah dinodai oleh rezim yang memimpin, sehingga terjadi kekacauan yang meluas di mana-mana.

Novel ini sangat menarik kerena memberikan cara pandang baru terhadap sejarah pergolakan bangsa Indonesia mulai zaman koloni hingga zaman reformasi. Denga…

Sastra-Indonesia.com