Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Ketika Penyair Mencari Ruang

Palupi Panca Astuti
http://cetak.kompas.com/

Hidup sebagai penyair bukanlah profesi menarik atau menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Sulitnya menerbitkan buku-buku khusus berisi puisi atau syair-syair sastra di industri perbukuan Tanah Air menjadi salah satu sebab eksistensi penyair sukar mengakar di masyarakat.

Minat pasar yang minim terhadap karya-karya sejenis menjadi alasan klasik penerbit dalam negeri untuk tidak mencetak secara khusus buku-buku puisi. Akibatnya, ruang berekspresi menjadi terbatas. Panggung pertunjukan pun menganaktirikan pentas-pentas pembacaan puisi dan lebih mengutamakan konser musik atau pergelaran seni lainnya.

Maka, alternatif ruang untuk memanifestasikan kemahiran menggelitik kata-kata dalam bentuk sajak atau deklamasi oleh para pujangga pun semakin sempit. Pencarian ruang alternatif ini kemudian menemukan tempatnya ketika teknologi informasi dan komunikasi semakin berkembang di periode tahun 2000-an.

Dan, blog adalah ruang alternatif i…

Tanah Perempuan

Indrian Koto
http://www.suaramerdeka.com/


AKU tidak akan bertanya padamu apa artinya menunggu. Di tanahmu, orang-orang merayakan keberangkatan seperti mempercakapkan kematian. Lebih sederhana lagi, seperti membicarakan hujan yang jatuh tadi malam, membanjiri kebun atau sawah siapa. Dan kepulangan, kadang begitu ganjil di telinga.

Tanahmu, sepenuhnya milik perempuan. Milik ibu dan para dara. Laki-laki memilih pergi sebagai lambang lain yang tak perlu kuceritakan. Mereka merasa terhormat menjadi orang dagang, anak rantau. Mereka memilih tanah jauh sebagai halaman barunya. Mereka terlempar di pelabuhan, di tempat parkir, menjadi tukang becak, atau menghilang ke negeri seberang sebagai buruh kasar yang setiap waktu berhadapan dengan rongrongan orang-orang berseragam —tak hanya pada waktu malam, tetapi di setiap simpang jalan pun.

Kepergian mereka akan disusul dengan kepulangan yang sebentar. Pada hari-hari baik, mereka berkumpul, menggumamkan banyak cerita-cerita indah, melengkapi ritual pada…

Bila Nirwan Seorang Penyair

Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/

Meski sama-sama wilayah kreatif, mungkin inilah takdirnya, penciptaan kritik sastra dan penciptaan puisi memiliki signifikansi keterbedaan. Keduanya menuntut ketekunan ataupun disiplin proses kreatif tersendiri.

Sejarah sastra Indonesia mencatatkan, banyak sastrawan yang sukses menulis kritik sastra. Kita memiliki Subagio Sastrowardoyo, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Linus Suryadi AG. Kesemuanya adalah sastrawan mapan yang telah menulis kritik-kritik cemerlang. Fakta lain yang tak bisa dipungkiri, banyak kritikus kita yang ternyata gagal mencipta puisi cemerlang.

Tahun 1930-an, tidak ada yang meragukan kapasitas kritik Sutan Takdir Alisjahbana. Pemaparannya dalam seri Kesusastraan Baru yang disiarkan majalah Pujangga Baru seolah menampar tradisi puisi Melayu Lama. Sebaliknya, puisi Takdir tampak tenggelam ditelan gagasan-gagasan puisinya. Lihatlah kumpulan puisi Tebaran Mega. Puisi-puisi yang nyaris layu sebelum berkembang. …

KA(E)PUJANGGAANNYA PAHLAWAN DIPONEGORO

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Sebelum jauh merambah pada karya Beliau. Terus terang saya terusik dengan ejaan Diponegoro menjadi Dipanegara. Kenapa Bojonegoro tidak dirubah menjelma Bajanegara? Dst. Bagi saya tetap menggunakan logat aslinya (:jawa) yakni Diponegoro, disamping mengukuhkan literatur yang terakhir ada. Berangkat dari asal dialek, daya pamornya dapat disadap lebih mantab, saat mengejawantahkan suatu kalimah, apalagi kerja bersastra.

Di tanah Jawa, sebutan Pangeran yang kesohorannya melebihi raja-raja kecil ialah Pangeran Diponegoro. Padahal jauh di benaknya tiada membanggakan titel itu, ia lebih nyaman sebagai rakyat biasa, lebih berasa mengunyah asin garam kehidupan jelata. Tak ada pantulan lain, selain kesadaran berontak-lah hal tersebut terbit, menyunggi matahari bencah Dwipa kala itu.

Saat membaca roman sejarah karangan J.H. Tarumetor TS. yang bertitel “Aku Pangeran Dipanegara” penerbit Gunung Agung Djakarta 1966. Saya merasakan betapa seng…

Sajak-Sajak Eddy Pranata PNP

http://nasional.kompas.com/
SERPIHAN CAHAYA, LAUT DAN BUKIT

dari angin basah dalam teluk berjubah kabut
serpihan cahaya dari permukaan laut dan gundukan bukit
menjelma tubuh ringkihmu, menyeretku ke tanggul dermaga
"malam ini aku dijemput maut," bisikmu, dingin
lama aku tatap mata malaikat dalam pekat matamu
hingga daun-daun senja luruh
kami bergandeng tangan menyisir pantai
mendaki bukit menuruni lembah
mengendap di sudut-sudut kota
dengan napas tersengal kembali ke pelabuhan
lama berdiskusi tentang maut
di bibir dermaga
di ujung malam sebuah sampan merapat
di atasnya keranda gemerlap
"aku harus pergi," bisikmu, lebih dingin
ia melompat ke atas sampan
angin basah membawanya pergi
membelah teluk menuju laut jauh
serpihan cahaya berpendar di ujung dermaga.

Cilacap, 8 Desember 2008.



AKU MELIHAT DIRIKU
TELAH MENJADI ZOMBI

aku melihat diriku telah menjadi zombi
berdiri tegak di pintu pelabuhan tanjung intan
lalu melayang dari satu palka ke lain palka
kapal yang sandar, kapal rapuh dan tua
tempat …

Sajak-Sajak Danusantoso

http://batampos.co.id/
Kita Seakan Tempat

Ini malam, kita anugrahkan jahitan jahitan rombeng perasaan kepada pelukis
pelukis senyum di pementasan perangkap perangkap ruang yang selalu lajang pada jalang.
Mungkin kita sudah dirajam sedemikian kejam sampai pahitnya malam jadi gagap
sejejak arah yang tak pernah basah. Sedang kata telanjang sudah kita sandang

Padang amuk adalah air mata seladang tabuhan dzikir yang kita hadirkan
dengan kikir beranak pinak busuknya kutuk bisu naluri.
Pada bibir ada liur bertegak tubuh berkarib candu. Hujan denyut asam karang
Dan kita merasa serupa sajak bernasib malang. Orang orang berinstalasiarakan arakan cinta di bintang terang. Binal rembulan tak berwujud kabur

Kita seakan tempat. Sampai jauh kelelawar menggelincirkan hakekat
atau kiamat nanti membakar sempat menjauhkan kembali kita punya tempat.

Ini malam, kita alamatkan kabar kabar mesra menghadapi rimba
rimba jejak sekarang ranjang setanah rumah di segala waktu tentang
pecahan trotoar yang ganjil dan ngilu salura…

Kami Bongkar Rumah Kami

Imam Muhtarom
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

KAMI turunkan genteng sepanjang siang yang terik setelah jendela, pintu, beserta jeruji-jeruji kami lepaskan dari tembok rumah yang dibangun kakek-nenek kami 90 tahun yang lalu. Kami memutuskan untuk membongkar rumah warisan itu dan menggantinya dengan yang baru. Kami akan mengubahnya dengan gaya "spanyol" yang lagi mewabah di daerah kami. Rumah dengan satu pintu di bagian depan, kaca hitam tanpa kerai kaca di sebelah kiri, dan dinding sebelah kanan akan dilekatkan keramik mengilat dengan bagian atasnya terdapat angin-angin dari kaca hitam. Di serambi akan kami pancangkan dua tiang dari beton berhias ukiran khas Jepara dan lantainya tentu dengan keramik mengilat. Rumah itu tidak membesar tetapi memanjang ke belakang dengan satu kamar utama di samping ruang tamu dan dua kamar tidur bersebelahan dengan ruang peristirahatan keluarga. Kami bayangkan tersedia satu televisi berukuran 21 inci dan satu perangkat lengkap elektronik un…

ABSTRAKSI PENCARIAN TUBUH BAHASA

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

“Sesungguhnya sebagian dari perkataan fasih itu ada sesuatu yang mempesonakan laksana sihir, dan sesungguhnya sebagian dari syair terdapat hikmah.” (Sabda Rasulullah Saw).

Saat mengupas suatu karya, kita melintasi sepanjang jalan penalaran di sampang perhitungan jiwa perasaan. Layaknya pelaut menemukan pantai demi melayarkan kemuliaan kehendak.

Berusahalah bijak bagi suatu bibit, andaipun rumput. Sebab banyak rumput yang berbunga masih dianggap sama. Padahal rumput itu bunga yang malu atas sanjungan. Tapi jika suatu pohon tidak dikenal, atau keanehan menghipnotis, yang diluncurkan dari langit inspirasi. Bagaimana?

Kata Picasso; “Saya tidak pernah mencari tetapi menemukan.” Memang tidak pernah mencari walau bagaimana, namun dengan terus melangkah, tentu menguasai karakter yang ada. Maka temukanlah baju, tapi jangan terlalu longgar atau sempit. Yang sempit tak enak dilihatnya, yang longgar menimbullah bencana.

Ketika membaca sejara…

Solilokui Hidup Serampangan

A Qorib Hidayatullah
http://indonimut.blogspot.com/

Bukan sebuah kebetulan bila Ponari —dukun cilik asal Jombang— berkat batu ajaib yang ia temukan, konon, mampu mengobati beragam penyakit. Dan konon pula Ponari adalah bocah yang gemar bermain di musim hujan, hingga petir menyambarnya sekaligus mengganjar Ponari dengan batu ajaib. Kini, masyarakat pun dibikin geger berduyun-duyun menyambangi rumah Ponari.

Ponari mendadak menjadi sang fenomenal. Media cetak maupun elektronik berebut melansir ketenaran sang dukun cilik itu. Yang menarik dari fenomena Ponarisme adalah ekspektasi masyarakat jamak ditengarai terancam solilokui (amal kesepian hidup yang berlarat) hingga berebut berobat kepada Ponari dengan biaya murah demi kesembuhan penyakitnya.

Saat ini masyarakat kita bisa dikata bergaya hidup serampangan. Rasionalitas telah menjadi mitos. Rasio masyarakat terjebak mempercayai bahwa batu ajaib Ponari bila dicelupkan ke air bisa bikin sembuh segala penyakit. Rasio medis lambat laun terkubur d…

NH DINI, PERJALANAN KARYA YANG TIADA HENTI

Agnes Rita Sulistyawaty
http://www2.kompas.com/

Meskipun tidak ada tanggal 29 Februari-yang merupakan tanggal kelahiran sastrawan Nh Dini-di tahun 2006 ini, peringatan kelahiran penulis Pada Sebuah Kapal itu tetap berlangsung meriah, Rabu (1/3) malam, di Bentara Budaya Yogyakarta.

Tak kurang dari budayawan Bakdi Soemanto, penyair Joko Pinurbo, dan musisi Sapto Raharjo turut andil dan mengapresiasikan karya Nh Dini sesuai jalur seni pilihan mereka. Sastrawan Sapardi Djoko Damono juga hadir pada acara yang digelar Gramedia Penerbit Utama dan Toko Buku Gramedia itu.

"Novel dan cerita pendek Mbak Dini memberi kesan dan merangsang tanggapan lebih tentang perempuan. Yang dimaksudkan di sini bukan perempuan yang tertindas laki-laki dan memberontak, seperti yang sekarang sedang ngetren, tetapi tentang hati perempuan," tutur Bakdi dalam sambutannya.

Bukti yang paling mudah tentang eksistensi karya Nh Dini terlihat dari sejumlah buku yang sudah dicetak ulang berkali-kali. Pada Sebuah Kapal…

Sastra-Indonesia.com