Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2009

Kristal-Kristal Kesunyian

Indra Tranggono
http://www.jawapos.com/

Ya, kesunyian telah lama mengkristal di kota kami. Kesunyian telah memadat, nyaris tanpa celah, tanpa rongga atau sekadar pori-pori. Kesunyian telah menjelma serupa dinding kaca. Bening. Bercahaya. Namun tak teraba. Kami, yang tinggal di dalamnya, hanya bisa melambai-lambaikan tangan sebagai uluk salam bagi sahabat, kawan, dan handai taulan yang selalu datang dan menghilang.

Dinding-dinding yang melingkupi kehidupan kami, luas tanpa batas, pipih tanpa tepi. Dinding-dinding itu telah menyublim, namun tetap meruang dan membentuk jarak. Sekeras apa pun engkau berteriak di seberang sana, kami tidak akan pernah mendengar. Yang tertangkap hanya gerak bibirmu seperti bibir orang bisu. Jika hujan tiba, kami tak pernah basah meski tanpa atap. Hanya pahatan-pahatan jarum hujan yang kami lihat. Jangan salah paham, kawan. Ruang kota kami bukan seperti ruang interogasi yang sering kalian lihat dalam film luar negeri di bioskop atau layar televisi. Itu pengandai…

RELIGIUSITAS SANG BINATANG JALANG

Imamuddin SA
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Chairil Anwar merupakan seorang maestro dalam perpuisian Indonesia mutakhir. Dialah pendobrak stile puitis dari gaya ortodok kepada gaya yang lebih moderen dan terkesan tidak kaku. Karya-karyanya merupakan cermin eksprisi yang begitu tinggi akan kebebasan jiwa, entah itu dari kekangan penjajajah maupun dari tradisi lama perpuisian Indonesia. Ia membawa gaya dan visi baru dalam puisinya. Puisinya tengah keluar dari aturan puitis yang serba mengikat. Atas dasar hal itulah ia membentuk genetika baru dalam kanca perpuisian Indonesia. Ia telah membentuk angkatan baru yaitu angkatan 45 dengan gaya puisi yang lebih familier. Lebih dari itu, ada yang menyatakan bahwa dengan gaya puisi yang ditawarkan Chairil Anwar, sebenarnya sastra Indonesia baru terlahir.

Chairil Anwar lahir di Medan tanggal 22 Juli 1922. Ia tidak tamat sekolah di tingkat SMP sajaknya yang terkenal berjudul AKU. Sajak ini menggambarkan semangat hidupnya yang membersit-ber…

Riak Tanpa Gelombang Penerbitan Sastra Jawa

Sucipto Hadi Purnomo
http://kejawen.suaramerdeka.com/

SETIAP kali hasil penjurian Hadiah Rancage disampaikan, setiap itu pula muncul rasa haru. Haru karena sejauh ini masih saja ada yang berkarya dan mendedikasikan diri di jalur sastra daerah. Haru karena dari tahun ke tahun jumlah karya yang muncul tetap segitu-segitu saja. Haru karena justru yang memberikan hadiah buat sastra(wan) Jawa bukan ”wong Jawa”!

Hadiah Sastra Rancage 2009, yang hasil penjuriannya dirilis akhir bulan lalu, adalah yang ke-21 kalinya diberikan kepada para sastrawan yang menulis dalam bahasa ibu. Kali pertama tahun 1989, hadiah ini diberikan hanya kepada sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda. Maklumlah, Ajip Rosidi yang duduk sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, adalah urang Sunda deles.

Namun sejak 1994, para sastrawan yang menulis dalam bahasa Jawa juga mendapat hadiah ini. Sebuah upaya yang sejauh ini, terutama dalam dua dekade terakhir, tak pernah dilakukan oleh wong Jawa. Ya, hadiah pali…

Perbandingan Cerpen "Kiamat Kecil di Sempadan Pulau" dan "Cinta Ibu"

Dr Junaidi SS MHum
http://www.riaupos.com/

Ketika saya membaca cerpen yang terhimpun dalam buku Pipa Air Mata Cerpen Pilihan Riau Pos 2008, terbitan Yayasan Sagang tahun 2008, saya menemukan dua cerpen yang menarik untuk dibandingkan. Cerpen pertama berjudul “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” karya Fakhrunnas MA Jabbar dan yang kedua berjudul “Cinta Ibu” karya Hary B Kori’un. Cerpen lain yang terdapat dalam buku ini sebenarnya sangat menarik juga untuk dibincangkan. Namun demikian, tulisan singkat ini hanya akan membahas kedua cerpen tersebut. Common ground atau azas utama yang dijadikan dasar untuk membandingkan kedua cerpen ini adalah kedua cerpen menyampaikan gagasan kemunduran nilai-nilai kemanusian yang menyebabkan bencana dan duka mendalam bagi manusia itu sendiri. Berikut disampaikan beberapa gagasan yang dapat dibandingkan setelah membaca kedua cerpen tersebut.

Pertama, keserakahan manusia. Dalam “Kiamat Kecil di Sempadan Pulau” sifat serakah manusia terlihat dari aktivitas penamba…

Lelaki dan Televisi

Riki Utomi
http://www.riaupos.com/

Setiap bangun tidur, dia lantas krasak-krusuk setelah itu pasti menghidupkan televisi. Kehidupannya terus begitu. Dia tak bisa lepas dari televisi. Sepertinya televisi sudah menjadi makanannya. Entah bagaimana kalau seandainya di rumah itu tidak ada televisi, mungkin dia bakal mati.

Seorang tak dikenal datang kepadanya. Wajah orang itu memandang wajah Bilton yang sedang serius mengikuti rangkaian acara di televisi. Tapi Biston cuek saja, dia menganggap lelaki tua yang datang kepadanya adalah orang gila yang mengganggu kesenangannya.

“Mengapa hidupmu kau habiskan di depan televisi, Ton!”

Pertanyaan itu membuat Biston terkejut. Tapi ia tetap berusaha tak ambil peduli dan masa bodoh. Menurutnya hidup adalah bebas. Bebas menurutnya adalah lepas dari segala aturan. Mau apa saja terserah, tiada berhak orang melarang. Apalagi kini saat-saat di mana dia sedang asyik menikmati tontonan televisi.

“Aku telah menemukan orang gila model baru,” lanjut lelaki tua misteri…

Sajak-Sajak Mukti Sutarman Espe

http://www2.kompas.com/
Suatu Pagi: Puisi

sesekali pagi
burung-burung merebut angin dari dedaun
udara menyusut dan koma
terpelanting dari segala reranting

kemudian ada yang berharap
jendela
menyajikan teduh horizon jauh
sebagai puisi yang terkirim
ke sebuah sampai

kemudian berpasang cinta pun lena
sedalam batas impian pun kematian
anak-anak manis lelap dan mengigau
sedalam batas kembanggula pun matapisau

pagi ini namun
burung-burung merebut angin dari dedaun
tembang apa yang tak sumbang sampai
ke hatimu?

cintaku, pada pagi murung begini
mari bercermin pada bening air
mengosongkan jiwa dari kepalsuan
keruh keinginan sekejap
berkejap-kejap
bahkan.

kudus 2000.



Memasuki Bermacam Mawar

sebuah luar
-asing dan mengasyikkan-
menarikku dari kesetiaan dunia
kamar

di suatu mabuk
lalu kumasuki pukau mawar
bermacam pada taman
pada bianglala

begitulah,
maka sesegala pun membuka
menipiskan makna dinding
langit sebatas langit-langit

maka menghitamlah kamar
ruang paling terjaga
tak sesekali bercela

sebuah luar
-asing dan mengasyikkan-
membawaku…

Sajak-Sajak Lukman A Sya

http://www2.kompas.com/
Nafas Malam

Mungkin inilah yang disebut nafas malam
sunyi mendesah menggantikan angin
dalam kegaibannya. Cakrawala menyimpan
serpihan beling dalam ketabahan senyummu
semesta perjalanan bagi orang resah
menanti kilat cahaya, mengutuk malam.
Padahal setiap orang tak pantas mengabdi kepada bulan
dan bintang apalagi matahari.
Bagi jiwa yang terang malam adalah sahabat
dan sunyi adalah waktu
menyempurnakan kutuk cinta

Nafas malam merembes ke dalam sanubariku
kesendirianku menjadi pesona yang karib
dengan kata-katamu
O. Kata yang maha kekal
inilah aku yang liar minta kau
tandatangani jiwaku dengan jemari cahaya.
Nafas malam hampir berakhir
sementara aku tak hafal huruf-huruf kuasanya

Indonesia, 2000



Atas Nama Garis

Sekadar meluangkan waktu menulis sajak di dadamu
bukanlah garis yang membatasi
antara kesunyianku dan kesendirianmu
Cobalah kau terka apa yang tak pasti dari
kata-kataku.
Biarkanlah angin memenjarakan sunyi malam
kita akan mereguk kebebasan kabut
dan menyebut-nyebut cinta sebagai jiwa …

Puisi, Ekspresi dan Kesadaran Kolektif Personal

Indra Tjahyadi*)
http://www.suarakarya-online.com

Dapat dikatakan, bahwa puisi merupakan sebentuk ekspresi, yang meskipun teramat sangat bersifat individual, acapkali, entah sifatnya mengkritisi atau mempertegas, masih saja terikat dengan solidaritas kesadaran kolektif personal. Hal ini seperti yang dapat dilihat pada puisi-puisi yang terkumpul dalam kumpulan puisi "Duka Atjeh Duka Bersama" (Dewan Kesenian Jawa Timur & Logung Pustaka, 2005), seperti contohnya pada puisi karya Bonari Nabonenar yang berjudul

"Tragedi Bangsa Pemabuk":

dan layaknya pemabuk
dengan gagah kita berkata
kita adalah para pecinta
tetapi siapakah yang sejak
berpuluh tahun lalu
mengembangkan layar dengan serakah
dan mengebarkan bendera dengan
pongah
(2005: 15).

Atau juga pada puisi karya Adi Setijowati yang berjudul

"Tragedi I":

Kita sama-sama terasing
di tengah semburatnya
hiruk pikuk yang menyumbat otak
menjadi robot manusia baru
(2005: 1).

Pun hal yang sama juga …

Sajak-Sajak W Haryanto

http://www2.kompas.com/
Lukisan Pengantin
-buat Linang Dian

Sebuah lukisan tentang masa lalu adalah angin yang
Menggeraikan rambutmu. Tapi makna kesangsianku tak terpahat
Dan aku bermimpi dalam kabut; cahaya memercik dari senyummu
Menjadi kelepak kelelawar. Masih aku bermimpi tentangmu
Pada segala yang hendak kuartikan dari mawar hitam
Ketika dunia kini hanya bersisa abu.

Pada sepenggal musik sengau, pikiranku memudar
Menjelma kepulan asap. Dan matahari terbunuh di sudut
Matamu yang menyala-malam tak terkisahkan, di mana tawa hantu
Hanyalah auman di balik lukisan. Kupikirkan duniamu
Tanpa isyarat. Tatapanku lepas menjadi petikan puisi
Merubah auman hujan menjadi musik yang tak bertepi
Melebihi prahara di puncak malam.

Pucuk-pucuk hening saling bertemu. Tapi isyarat ini
Tak tersampaikan: menjadi masa lalu dalam masa lalu
Isakku terkubur di balik dinding, kesangsianku mengakhiri
Kepergianku dalam waktu. Tak ada yang mesti bersisa
Selain abu dalam lukisan-bisikmu memanggil angin
Agar pikiranku terdampar di s…

Sajak-Sajak Muhammad Aris

http://www.lampungpost.com/
Tertimbun Seribu Lumpur

"bila hati hilang api
pikiranpun tak penting lagi!"
ketika hujan tinggal gemuruh
seperti derap bayang-bayang
dari semak-semak yang jauh
mungkin ruang yang berdenting
dengan warna kecapi
melarung masa lalu, barisan waktu
tanggal di antara debu dan tanah-tanah ungu
retak dengan jejak
tak lagi nampak
aku kupas pikiranku lewat sayap serangga
di hening angin
saat malam mencambuk kelamin
di kertas-kertas buram; puisi mabuk!
lihatlah, O! aku gerakkan jari-jari hingga gelombang
tenang. menjahit daun-daun kering yang terbang
di bau-bau bangkai, mayat tanpa tubuh juga nama
tertimbun seribu lumpur dan terlempar
jadi puing-puing. asing.
O! dalam mata terkapar aku lontarkan mimpi
sejarah hitam seperti tetes embun
memecah jalan-jalan elan. dan aku
bekukan darahku melukis asap-angin
hingga aku tahu
seribu malaikat pelan mendekat
dan mati

Lamongan, 2005



Musik Dendam Musik Kambang

sebab gelengan kepalaku adalah musik yang membakar
dendam ruh-ruh purba hadir dan berteriak
m…

Sajak-Sajak Mashuri

http://www.lampungpost.com/
Estri Mustakaweni

seperti musim, angin selalu berkutat antara pantat
dan khianat
lalu cuaca berkejaran di reranting, seperti kutilang
mengekalkan gigil dalam kicauan
lalu menepikan segala dusta
dengan kaca
menjelma montase luka
di gereja
tubuh mungkin tersalib
tapi siapa bisa mengintip, di jendela
di antara dua daun
sebuah mata tak berkedip
lalu jubah turun satu-satu, menanting darah
seperti gembala turun ke padang
tandus, dengan tongkat terhunus
: kembalilah!
jalan kudus tak pernah berhenti
tuk satu janji
meski maut merenggut, bagai domba pada rumput
dolorosa, dolorosa!
kesakitan memanggul beban
tubuh dipaku
dan keheningan memuncak di abu
hingga luka kembali luka
dada merobek dada
mungkin tak ada yang kembali
kerna sungai telah menyuci jalan-jalan
peruntungan
di sini, biri-biri dikebiri, buntung hati
di sana, purnama terluka
kerna gerhana menjelma malam
yang tiada habisnya
lalu lumut memberi saksi
pada pembaptisan dini hari
bahwa dusta, dosa dan ihwal lelara
hanya ikan-ikan, sisik yang bakal …

Menyoal Sastra Satu Kamar

Bonari Nabonenar
http://www.jawapos.com/

Penghargaan seniman Jawa Timur 2008 sudah diserahkan 30 Juni lalu. Padahal, penghargaan kali ke-11 itu biasanya dilangsungkan seminggu menjelang Lebaran Idul Fitri saban tahunnya. Hal ini berkaitan dengan posisi ''sang pemilik tradisi'', Gubernur Imam Utomo, yang Agustus ini sudah harus mengakhiri masa jabatan keduanya.

''Tentu para seniman dag-dig-dug, karena Pak Imam tidak lama lagi akan meninggalkan jabatan ini, apakah ada pemberian penghargaan yang ke-12?'' ujar Dahlan Iskan saat diminta memberi sambutan pada acara yang diadakan di Gedung Grahadi itu. Para penerima penghargaan, panitia, bahkan Imam Utomo sendiri bertepuk tangan.

Harus diakui bahwa dari tahun ke tahun pelaksanaan penghargaan seniman Jawa Timur semakin baik, dan bahkan sepertinya kini tidak ada lagi suara-suara miring seperti di awal 2000-an. Meski begitu, saya masih menilai ada persoalan yang tampaknya sepele, tetapi cukup mengganjal dan mestinya …

Hak Berimajinasi dan Berwawasan

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Sastra memberi peluang berimajinasi dan keluar dari kebiasaan berpikir instan.

Prosa Peter Pan versi J. M Barrie (seorang penulis naskah asal Skotlandia) adalah kisah tentang kepahlawanan dari dunia fantasi yang bernama Neverland. Secara keseluruhan, karangan tentang Peter Pan dijadikan simbol "pelarian" seorang anak maupun dewasa dari kehidupan nyata. Sebut saja kemujuran Peter Pan yang hidup abadi dalam kemudaan. Ini jelas merepresentasikan setiap mimpi manusia dewasa yang umumnya enggan beranjak tua. Hal ini diungkapkan dalam Literature for Children: Contemporary Critism yang ditulis oleh kritikus sastra sekaligus peneliti novel Victorian dan sastra anak Sarah Gilead.

Menurut Gilead, Peter Pan merepresentasikan pandangan romantis orang dewasa mengenai masa kanak-kanak sebagai kebebasan berimajinasi. Mrs. Darling dreams ‘that the Neverland had come too near and that a strange boy had broken through from it...(S)he thought she had seen …

Mengambil Telur Tuhan

Hasan Aspahani
http://batampos.co.id

MARI bicara lagi tentang sajak. Kali ini kita bicarakan sajak presiden penyair Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri. Konon, gelar presiden itu ditabalkan oleh sahabatnya Abdul Hadi WM. Di Taman Ismail Marzuki, keduanya mabuk. Sambil berangkulan Abdul Hadi bilang, ”Dji, malam ini kau kuangkat jadi presiden, dan aku wakilnya…”Esoknya koran-koran menulis: Sutardji jadi Presiden Penyair Indonesia. Sejak itu gelar presiden penyair seakan menempel padanya. Tapi, gelar wakil presiden penyair bagi Abdul Hadi sama sekali terlupakan. Ah, memang, jadi wakil presiden itu tidak enak rupanya. Gampang dilupakan.

Baiklah, kita bicarakan saja sajaknya. Sajak dari buku ”Atau Ngit Cari Agar” (2008). Saya kira kita beruntung punya Sutardji Calzoum Bachri (SCB) yang menulis sajak dalam rentang waktu yang panjang. Kita catat dulu, ia lahir tahun 1941. Tahun ini 68 umurnya. Nah, mari kita manfaatkan keberuntungan kita itu dengan membandingkan dua petikan sajak. Dua sajak ber…

Jurus Menulis Esai

Bandung Mawardi*
http://www.suaramerdeka.com/

TRADISI menulis esai di Indonesia memiliki jejak panjang sejak tahun 1930-an. Majalah Pujangga Baru memiliki ruang besar untuk tradisi penulisan esai dengan pelbagai fokus: bahasa, sastra, seni, kebudayaan, pendidikan, sosial, dan filsafat. Esai pada saat itu adalah tulisan bebas dengan acuan pengamatan, pembacaan, penafsiran, penilaian sesuai pandangan pengarang yang cenderung subjektif.

Penulis-penulis esai di Indonesia memiliki karakter, keunikan, dan ciri pluralistik. Penulis-penulis esai mumpuni di Indonesia antara lain Sutan takdir Alisjahbana, Iwan Simatupang, HB Jassin, Wiratmo Soekito, Goenawan Mohamad, Ariel Heryanto, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Arief Budiman, Ignas Kleden, Afrizal Malna, dan lain-lain. Esai-esai para penulis ini memiliki kekuatan dalam sisi-sisi tertentu untuk membuat pembaca merasa takjub, tersihir, tergoda, atau terlena.

Menulis esai adalah menulis dengan gairah dan pertaruhan ekspresi. Esai merupakan k…

Sajak-Sajak Faisal Kamandobat

http://www2.kompas.com/
Tatahan Laut

anak bumi tatahan laut
kalap lagu menembus
gerbang petang langit hangus
bulan mengapung dalam kalbu
riang puja menyentuh
lidah dalam impian pelarian
tersiksa melawan kenikmatan
dalam bayangan
angin menghening perlahan
bibir pantai mengilhami
mencari laut dalam sendiri
mengusir berhala dari hati
piala kemerdekaan abadi
di alun-alun nyanyi
di ubun-ubun sunyi
kata-kata saling menggilai
mengelak tersesat dalam lari
mimpi sia-sia dicari
pasir pantai menghapus jejak-kaki
tak ada jalan kembali
rumah abadi hati sendiri
tinggal di sana dikerumuni ilusi
memberi dan merobohkan arti

2001



Malam Berputar

terang bulan cahaya pinjaman
surya di seberang kelam
lelap dunia menyimpan nama-nama
katup pintu-jendela merogoh iba
gemintang lagu jalanan lampu
pusat-pusat kenangan pancarkan rindu
angin menebar nafsu di kalbu
ladang penghidupan musim tanaman
serapah puja menggenang diam
kegelapan dinding ratapan
luka nasib diperingan impian
sungai medan ikan-ikan bersebadan
air bumi melayarkan generasi
terdampar di…

Pertengahan November yang Menikam-nikam1)

Ghassan Kanafani2)
Alih Bahasa Oleh Misran3)
http://www.riaupos.com/

Duhai Ibrahim...!

Entah kepada siapa pesan ini harus kutujukan. Aku tak tahu. Padamu sudah kujanjikan, tiap pertengahan November akan membawakan karangan bunga tanda kasih ke makammu, untuk kutebarkan. Sekarang sudah pertengahan November pula, dan belum satu karangan bunga pun kudapatkan. Sekiranya kudapat, bagaimanakah aku dapat sampai ke makammu dan memberikannya padamu? Padahal sudah dua belas tahun berlalu.

Kuyakin, saat ini kamu jauh dari apapun. Sebagaimana jauh terhunjamnya kamu ke perut bumi dan terurai, sedalam itu pula kamu kian menghunjam dalam ingatan kami dan terurai. Raut mukamu ikut terurai. Bahkan aku tak dapat lagi mengingat raut mukamu itu dengan baik. Suaramu memang menjadi agak sulit kukenali, bahkan kerlingan matamu pun tak dapat lagi kuingat. Aku pun menjadi sulit membayangkan bagaimana anggota tubuhmu melakukan gerak-gerik. Kini, di benakku tinggal jasad kaku, dengan telapak tangan terlipat di dada …

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com