Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

SURAT YANG TRAGIK’S BAGI KAWAN FAHRUDIN

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Gagasan dan gerilyamu adalah situs yang bergerak. Maka, teruslah berjuang kawan! Revolusi belum selesai.... (Fahrudin Nasrulloh, via sms)

Dulu, kawan pernah menuliskan kisah saya di koran JP, namun maaf karena tulisan ini takkan sampai ke Jawa Pos. Tentu dapat difahami, karena kualitas tulisan saya tak sebanding dengan guratan kawan. Tetapi harapan mengembangkan situs sastra-indonesia.com &ll itu, agar coretan saya bisa dibaca orang lain, atau minimal sebagai dokumentasi pribadi.

Dan siapa tahu di pekuburan nanti, tertera kalimah “telah bersemayam jasad seorang penyair Nurel Javissyarqi.” Kalaulah dimasa hidup kini, belum berani menyandang prediket penyair atau sastrawan, karena tulisan saya tak pernah nongol di koran-koran bergengsi, maupun Horison. Namun saya nikmati kesendirian ini. Meski pernah suatu malam, saya tulis kata-kata sebentuk kesaksian, yang bertitel; KESAKSIAN SEORANG BODOH

Bagaimana ia menulis sajak-sajak
Apa…

Pilkada

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Di depan Amat berdiri tiga orang kandidat gubernur. Mana yang harus dicoblos? Nomor satu, dua atau tiga? Amat bimbang. Ia tidak bisa memutuskan mana yang terbaik.

“Jadi mau nyoblos yang mana?” desak Ami..

“Itu rahasia, Ami.”

“Terus-terang saja, Bapak bingung!”

“Kenapa mesti bingung?!”

“Habis ketiganya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sebagai pemilih, Bapak tidak mau salah pilih, kan?!.”

“Betul!”

“Jadi?”

“Ya Bapak bingung.”

Ami tersenyum.

“Kalau begitu Bapak akan jadi golput?”

“Ya!”

Ami terkejut.

“Jadi bapak tidak akan memilih?”

Amat berpikir sebentar lalu menjawab.

“Tidak!”

Ami kontan marah.

“Bapak sadar tidak, dengan tidak ikut memilih berarti sebenarnya Bapak sudah memilih yang akan menang. Dengan mematikan satu suara, berarti Bapak memperkecil jumlah pesaing. Itu berarti tanpa Bapak sadari, Bapak akan memilih yang dapat suara terbanyak, meskipun calon itu sebenarnya bukan pilihan Bapak. Bahkan mungkin calon yang paling Bapak hindari!”

“Maksumu …

Perempuankah Aku

A. Rodhi Murtadho
http://rodhi-murtadho.blogspot.com/

Perempuankah aku? Sementara aku sendiri berpikir, aku bukan perempuan. Mungkin aku seharusnya dilahirkan sebagai laki-laki. Namun alat kelamin laki-laki yang seharusnya kumiliki tertinggal di rahim ibu saat melahirkanku. Perutku tergores pisau bidan saat persalinan ibu. Membentuk tubuh bagian bawah seperi perempuan. Sehingga aku diberi nama perempuan, dirawat dan dibesarkan layaknya anak perempuan.

Erlinda Putri. Nama perempuan yang seharusnya kumiliki. Namun ketika besar, nama itu berubah menjadi Dada Putra. Tak bisa kusalahkan mereka yang mengganti nama dan menyebutnya demikian. Memang dada yang seharusnya tumbuh, jika aku perempuan, tak juga tumbuh. Hanya rambut panjang yang menggambarkan aku perempuan. Memang aneh, tubuh yang kumiliki rata. Tak seperti perempuan seusiaku. Hampir dua puluh tahun umurku. Dada dan pantat seharusnya tumbuh menonjol dan memperlihatkan aku perempuan, tak juga tampak. Seperti laki-laki badanku tumbuh.

“Ma…

Puisi-Puisi S Yoga

http://www.kompas.com/
http://syoga.blogspot.com/
ACINTYAPADA

pernah kumasuki gua tua
sumur kelam, candi purba
dan karang terjal menuju lorongmu
yang perawan dan asing dari dunia

tak kujumpa apa yang kucari selama ini
hanya kesunyian yang merobek hati
kusaksikan pula bayang-bayang berlarian berbalik arah
hilang dalam lobang kegelapan yang marak

Ngawi, 2008



JEJAKMU

di pohon-pohon purba tepi jalan
kuikuti jejakmu hingga ilalang panjang
kulukis wajahmu pada pasir putih
yang hanyut dibawa gelombang

Situbondo, 2008



RAJUNGAN

telah kusempurnakan kesunyian
pada laut lepas yang menanti
luka-luka telah kukuburkan
pada asin garam lautan

kini merayap di bawah lautan
tanpa cahaya dan matahari
hanya kuserap hidup dari pohon laut
sebelum pelayaran berakhir

Situbondo, 2008



DAUN JATI

sebuah senja telah dilafalkan hujan
dengan matahari yang muram
sebelum musnah ditelan malam

daun-daun jati berguguran
berserakan di antara akar mati
di hutan sepi

Ngawi, 2008
Kompas, Minggu 18 Januari 2009



MALAM BERKACA PADA REMBULAN

malam berkaca pada rembul…

Emas Sebesar Kuda, Peninggalan Ode Bartha Ananda

M Arman AZ
http://www.riaupos.com/

DUA tahun silam, tepatnya 5 Maret 2005, ranah sastra Sumatera Barat kehilangan sosok Ode Barta Ananda. Karya-karya almarhum (puisi, cerpen, dan esai) kerap menghiasai media massa nasional dan daerah. Sudah tentu dia layak mendapat tempat dalam sejarah sastra Indonesia umumnya dan Sumatera Barat khususnya. Sayang, hingga akhir hayatnya, belum ada satu pun buku kumpulan cerpen pribadi Ode Barta Ananda. Tahun 2007, beberapa sahabat almarhum, seperti Gus tf Sakai dan Yusrizal KW, memprakarsai penerbitan kumpulan cerpen Ode Barta Ananda. Menurut penerbit Akar Indonesia, lahirnya kumpulan cerpen Emas Sebesar Kuda ini hanyalah melanjutkan apa yang sudah dirintis Ode atas karya-karyanya sendiri yang direncanakan diterbitkan dalam sebuah buku utuh. Sebuah sejarah yang sempat tertunda karena keburu ditinggal pelakunya.

Cerpen-cerpen Ode Barta Ananda tergolong unik. Mayoritas berbentuk parodi satir dan karikatural. Mengangkat tema-tema sosial kemasyarakatan dan ke…

Glonggong, Sisi Lain dari Kepahlawanan Pangeran Diponegoro

Jody Setiawan
http://www.riaupos.com/

Namanya sebenarnya Danukusuma. Tapi ia lebih suka dipanggil Glonggong. Ia tidak mengenal ayahnya, Ki Sena, yang menghilang setelah terlibat sebuah pemberontakan yang gagal pada tahun 1810. Ibunya, Wahyuningsih, menikah lagi dengan Suwanda dan kedua kakaknya beralih menjadi tanggung jawab kerabat ibunya. Ia tidak pernah bertemu kedua kakaknya.

Sejak kecil Danukusuma memiliki kegemaran bermain glonggong --tangkai daun (pelepah) pepaya, yang dibentuk menyerupai pedang. Suatu hari, ketika sedang bermain glonggong, Danukusuma mendapatkan nama baru, yang akan melekat padanya seumur hidup, dari penunggang kuda yang kemudian dikenal sebagai Pangeran Diponegoro. Akhirnya, bukan hanya menyandang nama glonggong, pedang tangkai pepaya itu juga membuat hidup Danukusuma berbeda (dia mengatakan: tanpa ada glonggong, aku boleh jadi akan seperti ibuku).

Di tengah-tengah keriangan masa kecil, menjalani hidup bermain dan bertanding glonggong, Glonggong diperkenalkan den…

Puisi-Puisi Fahmi Faqih

http://www.kompas.com/
Bohemia

aku ada di sini entah mengapa
seperti setiap perjalanan yang usai kulalui
yang selalu saja tak punya alasan tepat
untuk kusodorkan padamu -
seperti udara yang senantiasa kuhirup
namun selalu gagal untuk kulukiskan

aku ada di sini entah mengapa
tapi tolong beri aku kesempatan, sekali saja -
setidaknya sampai aku punya alasan tepat
mengapa aku selalu berpindah kota
sampai kulukiskan udara itu



Januari

dan aku pun pulang
menuju rumah
yang hanyut pada kalender

tanggal demi tanggal
bertanda lingkaran hitam

air di sini
menjelma kuburan



Zakaria

hanya sekeluh aduh terucap dari bibirmu
ketika ratusan kampak majusi
mencincang-cerancang pohon itu

tapi bukan lantaran sekeluh aduh
bumi goncang, langit menggemakan firman

"zakaria! itu kata hanya pantas keluar
dari mulut berhati sumbing. jahitlah ia
atau nubuat ini kutarik kembali"

kau yang akhirnya mengerti, memilih diam
bersama gugur daun-daun yang bernyanyi

dalam cinta, tak ada beda mawar dan duri



Kesaksian
- almarhumah nenek

kau sungkurkan …

Puisi-Puisi Johannes Sugianto

http://www.kompas.com/
Gemah Ripah

dari jendela kereta kuhitung sawah
yang digenangi air mata petani
karena air irigasi makin mahal
dan pupuk terus meninggi

petani lebih sering menanam sepi
sembari menghitung hasil kerja yang merugi
sekilo gabah tak cukup untuk setakar beras
sedang perut anak isteri terus merintih

oalah...jaman apa ini
gemah ripah loh jinawi, kata pujangga
tinggal mimpi yang tak henti menepi
makmur cuma dinikmati mereka yang berkuasa
yang dengan bijak merundingkan pasal dan ayat di hotel
sambil mengelus paha mulus

aku terbangun dalam gemuruh roda kereta
kulihat masih ada air mata
di jutaan petani dan penggarap
sedang di mataku telah mengering
seiring masa depan yang garing

siang,24 agustus 08



Nak

Kau datang juga
Menyapa dan genggam jemariku

Lalu kita menari
diiringi gamelan, rebab, sitar, seruling
gemulai gerakanmu
rambutmu terurai
sebarkan wangi melati

jangan cepat berlalu,kekasih
kangen ini belum terpuaskan
selalu ingin kudekap kamu
seperti dalam mimpi-mimpiku

lambaian tangan
senyum manismu
membuatku …

PERANG

D. Zawawi Imron
http://www.jawapos.com/

Dalam sebuah tayangan televisi, saya pernah menyaksikan seekor kijang yang dikejar beberapa ekor harimau di atas padang sabana yang sangat luas. Kijang yang akan dimangsa itu lari sekencang-kencangnya, agar selamat. Tapi si predator tidak kalah kencang. Mungkin karena dipacu oleh kelaparan akhirnya salah seekor harimau itu berhasil menerkam si kijang. Dalam waktu beberapa menit saja tubuh kijang itu sudah tidak bernyawa.

Saya merasa ngeri melihat kekerasan yang terjadi dalam dunia kebinatangan. Meskipun, hal yang demikian itu mungkin bisa dianggap wajar karena akal dan perasaan binatang tidak lengkap dan sempurna seperti manusia. Binatang tidak punya belas dan kasih sayang sebagaimana dimiliki oleh manusia.

Tetapi, setelah melihat kenyataan, kekerasan yang dilakukan harimau terhadap kijang atau yang dilakukan burung elang terhadap puyuh dan kelinci, ternyata ada yang lebih ganas lagi. Perhatikan film The Killing Filds yang dibintangi Dip Pranh pada …

MENUMBUHKAN PERADABAN MELALUI MURAL DAN PUISI RUANG PUBLIK

Sri Wintala Achmad*
http://sastrakarta.multiply.com/

Apa ada di benak kita, manakala menyusuri jalanan kota Yogyakarta yang diwarnai kesemrawutan lalu lintas; ketidakrapian penataan papan-papan reklame; dan lebih banyak ditanami gedung-gedung, mal-mal, pusat-pusat perbelanjaan, atau hotel-hotel ketimbang pohon-pohon perindang; serta tidak adanya taman kota yang dapat diakses gratis oleh publik?

Yogyakarta memang belum berhati nyaman sebagaimana slogannya. Yogyakarta musti berbenah. Tidak hanya pada sektor tata kota atau penghijauan yang sangat kontekstual dengan ancaman global warming, melainkan pula pada sektor budaya yang berpotensi untuk menumbuihkan kesadaran peradaban manusia. Mengingat apapun bentuk pembangunan fisik yang tidak disertai penumbuhan kesadaran peradaban manusia hanya seperti membelikan mainan baru berharga mahal buat anak-anak kurang ajar. Dirusaklah maninan itu tanpa diperbaikinya kembali.

Pembangunan fisik kota Yogyakarta melalui hampiran budaya dapat dijadikan langk…

Kekerasan

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Warga menyerbu rumah Afandi. Ada kabar burung pelukis itu adalah bandar pornographi. Ketika massa menemukan lima buah lukisan bugil, kontan diseret ke lapangan. Lalu sambil berteriak-teriak lukisan dibakar beramai-ramai.

Afandi mencoba untuk mempertahankan haknya. Tetapi ia langsung digebuk babak belur. Rumahnya nyaris dibakar. Untung saja istrinya kemudian menyembah dan meminta ampun pada pimpinan massa.

“Tetapi dalam waktu 3 kali 24 jam, kamu harus minggat dari sini. Kalau kamu nekat masih berkeliaran berarti menantang! Akan kami sikat habis, sebab kami tidak mau hidup berdampingan dengan manusia bejat yang otaknya dikendalikan oleh setan!”

Istri Agandi menangis tersedu-sedu. Itu dianggap sebagai persetujuan.

Afandi sendiri tak mengatakan apa-apa. . Tetapi air matanya tetes karena lukisan yang merupakan pantulan hati nuraninya hangus. Ia merasa dirinya ikut terbakar mati. Seluruh kegairahan hidupnya lenyap. Ketika istrinya membereskan barang-ba…

BAU BUSUK DI KAMAR MANDI

http://www.suaramerdeka.com/
http://syoga.blogspot.com/
S Yoga

Jam berapa sekarang?. Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Apakah aku harus berangkat? Rasanya tubuh ini masih bau, aku cium sendiri tubuhku. Apakah aku harus mandi lagi? Rasanya tidak enak kalau tidak mandi lagi. Kenapa tubuh ini akhir-akhir ini baunya tidak enak? Jelas aku takut dan malu sekali bila tercium oleh teman-teman sekantor. Ah kenapa mulutku baunya tidak enak sekali, pantas istriku seringkali tidur di kamar sebelah. Aku harus mandi lagi. Aku tak peduli pertemuan di kantor terlambat. Aku tidak peduli.

Aku terkejut dengan reaksi perutku yang tiba-tiba sakit luar biasa seolah ada yang mencabik-cabik dari dalam. Berarti obat dari dokter itu tak ada artinya. Dokter hanya bilang ini semua ada kaitannya dengan pencernaan. Dan alat pencernaan ada kaitannya dengan menu makanan dan minuman yang saban hari aku santap. Dokter mengingatkan bahwa semua yang dimakan manusia ada sebab akibatnya. Kalau yang dimakan hala…

NGALOR-NGIDUL TENTANG KEBUDAYAAN

(Bukan berarti kita tidak perlu mampir ke Barat atau Timur)
Haris del Hakim
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Corak budaya satu warna yang bertaraf nasional yang mengiringi kekuasaan Orde Baru ternyata mempunyai imbas yang signifikan terhadap tradisi dan budaya yang bercorak kedaerahan. Kisah-kisah, kearifan, ataupun dongeng asal-usul suatu daerah menjadi tertepiskan oleh jargon-jargon yang mendukung pembangunan nasional, sebagaimana dicanangkan oleh masa pemerintahan Presiden Soeharto. Contoh paling gampang adalah pudarnya kekuatan baureksa sebagai penguasa di suatu daerah.

Kondisi tersebut mengakibatkan generasi yang lahir setelah itu “kehilangan” akar tradisi. Duapuluh tahun setelah berdirinya Orde Baru muncul fenomena generasi muda yang tidak memperhatikan nilai-nilai kearifan lokal, sehingga sering terdengar istilah “malin kundang si anak hilang yang durhaka terhadap ibunda kampung halaman”. Gelombang reformasi yang turut menghembuskan otonomi daerah seakan menyentak kesadar…

DIALOG ANAK LAUT

: Catatan Kecil tentang Puisi Mardi Luhung

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Imamuddin SA

Siapa yang tidak kenal dengan Mardi Luhung! Penyair yang kerap dipanggil Hendry ini adalah seorang guru sebuah lembaga pendidikan di Gersik. Selain ia tekun dalam dunia pendidikan, yang tidak kalah lagi adalah ketekunannya dalam dunia kesusastraan. Ia dapat dikatakan sebagai motor kesusastraan di Gersik. Perjuangan sastranya di kota tersebut sungguh luar biasa. Hal itu terbukti dari eksistensinya sebagai gerilyawan sastra. Ia mencoba memasyarakatkan sastra mulai dari lingkungan bawah sampai atas. Dari sekolah sampai jalanan.

Mardi dalam karya-karyanya, khususnya puisi kerap menyuarakan realitas sosial kemasyarakatan kotanya. Ia kerap menyuarakan kultur sosial masyarakat kota Gersik yang notabenenya adalah kota pantai atau pelabuhan. Itu tecermin dari logat bahasa dalam puisinya. Yaitu keras tanpa dihalus-haluskan, ujaran atau kosa kata nelayan, suasana pelabuhan dan pantai, narasi keseharian…

Sajak-Sajak Mashuri

http://mashurii.blogspot.com/
Kabut
: Ubud, Sebuah Senja

ia yang disebut rangda
---bunyi dada
bertambur: dari ubur-ubur ke laut
dari kubur ke maut
telah menetaskan titisannya
ke dosa asal, ketika geguna dirapal
ke ujung mantra ---mantram merajam
akal
digemiricikkan sunyi
bunyi
gamelan ditabuh, bangkitkan riuh darah
merah, merah, merahkanlah…
---dunia: pura, kembang, arca, mata…

mata meleleh, taring menjema tebing
raseksi
menggunung ---ke lekuk suwung
yang tak terpahami kata
kata: peta yang rapuh oleh kluwung

rangda, bunyi dada, yang bertalu
ke lubuk hulu
sambil menyibak jejak belatung
yang bersirayap di tengkorak
jejak rambut
: bukti keabadian
yang retak dan tercerabut
seperti rerumput di sela padi, yang gigil kepada mati
mimpi para pencabut…

2008.



Tongkat Mimpi

Ku belah kembali laut yang susut di telukku
ketika pagi membawa nampan sesaji: sekantung embun
sejari sepi, juga fajar yang berbinar
mendahului matahari
---tapi malam masih menjalari nafasku
bagai insang terpasang di paru: aku pun bermadah
bagai nelayan
buta, y…

Seniman Abai Catat Konsep Karya

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

SEMOGA ini bukan kegelisahan pribadi, sehingga luput dari sindiran cerdas Albert Einstein: “Seluruh masalah di bumi ini bisa dipecahkan ilmu pengetahuan, kecuali masalah pribadi.” Bermula dari sepinya gagasan seni, sejak dari sejarah, kritik, dan karya seni ditambah kebimbangan proyeksi akademisi di perguruan tinggi, memicu pentingnya seniman mencatat sendiri “konsep gagasan estetik maupun artistik” karyanya.

Tanpa kerendahan hati atas catatan seputar pemikiran sang seniman, lantas, apa yang kemudian bisa ditawar dari perjalanan sejarah, kritik dan karya seni?

Sejarah seni pasti ada, mungkin tidak terbaca. Kritik seni barangkali tidak bekerja. Sementara karya boleh lahir, berbiak, lalu mati tanpa jejak. Padahal ketiga hal itu adalah subtansi seni yang tak bisa disapih, apalagi dianiaya. Jawa Timur, mustinya tumbuh subur dalam ketiga ranah itu karena kekayaan sub-kultur yang plural, beragam, dan menjanjikan bagi perkembangan jagad seni sejak sastra, …

Sastra-Indonesia.com