Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2008

Mayat yang Hidup Kembali

Gita Nuari
http://www.suarakarya-online.com/

Aku masuk ke dalam tubuh orang yang sudah mati. Orang-orang yang sedang berkerumun mengajikan sesosok jenazah tak melihat aku masuk ke dalam tubuh yang sudah terbaring kaku itu. Kemudian aku bangkit. Orang-orang yang sedang mengaji itu sontak berdiri lalu berlarian keluar rumah.

"Bang Rojak hidup lagi! Bang Rojak hidup lagiii!" Teriak beberapa orang yang panik berlarian keluar dari rumah Bang Rojak yang baru saja meninggal. Seorang ustadz yang ada di dalam rumah itu mengurungkan niatnya untuk ikut lari keluar. Ustadz Romli justru balik badan dan menghampiri mayat Bang Rojak yang kubuat duduk bersila.

"Assalamualaikum," sapa ustadz Romli memberanikan diri.
"Walaikumsalam," sahutku dari dalam mayat itu.

Lalu kami bertatapan. Tampak ustadz Romli ada sedikit rasa takut juga saat mataku tak berkedip menatap dirinya yang duduk bersila dihadapanku.

"Alhamdulillah, Allah telah mengembalikan hidupmu ke…

CERPEN INDONESIA KONTEMPORER

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Dalam perjalanan sastra Indonesia, periode pasca-reformasi merupakan masa paling semarak dan luar biasa. Kini, karya-karya sastra terbit seperti berdesakan dengan tema dan pengucapan yang beraneka ragam. Faktor utama yang memungkinkan sastra Indonesia berkembang seperti itu, tentu saja disebabkan oleh perubahan yang sangat mendasar dalam sistem pemerintahan. Kehidupan pers yang terkesan serbabebas-serbaboleh ikut mendorong terjadinya perkembangan itu. Maka, kehidupan sastra Indonesia seperti berada dalam pentas terbuka. Di sana, para pemainnya seolah-olah boleh berbuat dan melakukan apa saja.

Dibandingkan puisi, novel, dan drama, cerpen Indonesia pada paroh pertama pasca-reformasi mengalami booming. Cerpen telah sampai pada jatidirinya. Ia tak lagi sebagai selingan di hari Minggu. Kini, cerpenis dipandang sebagai profesi yang tak lebih rendah dari novelis atau penyair. Cerpenis tak diperlakukan sebagai orang yang sedang belajar menulis nove…

KIAT UNIK MENULIS ALA MAMAN S. MAHAYANA

Sutejo*
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Tujuh tahun berkenalan dengan seseorang adalah waktu yang pendek jika jarak membentang, tetapi jadi waktu yang panjang kala hati tertali dalam hubungan guru-murid. Begitulah, barangkali hal menarik yang dapat penulis petik ketika mengenalnya. Ia selalu memberikan motivasi, mendorong etos untuk berbuat, dan tak jarang “memberi” pujian. Begitulah selalu. Tetapi tidak jarang, lelaki itu langsung memberikan kritik ketika ada kekurangan yang menurutnya adalah kelemahan.

Pada tanggal 11/6/08 ketika ia mengenalkan penulis dengan seorang peneliti dari Malasyia, dia langsung komentar, “Kritik ya! Kalau berhadapan dengan orang kita tak perlu takut. Semua orang sama. Mereka belum tentu lebih pinter dari kita. Tegak dan sigap, katanya.” Bagi, penulis hal itu kritik konstruktif yang saya sambut dengan lapang dada. Dua lelaki Malasyia itu adalah Prof. Datuk Abdul Latif Abu Bakar dan Prof. Abdullah Zakaria bin Ghazali (Universitas Malaya Kuala Lumpur). Hal…

Air

A Rodhi Murtadho
http://rodhi-murtadho.blogspot.com/

Air tergeletak di jalanan. Mengalirkan diri mencari pori tanah. Namun struktur pemukiman mempermainkan. Air hanya mengalir di pinggir-pinggir jalan. Mengisi lubang-lubang beraspal. Atau tergenang di tempat busuk tanpa bisa menghindar. Got-got beralas semen tak terstruktur menurun. Rata. Hanya memenuhi program tata pemukiman.

Air menanti matahari. Ingin segera menguapkan diri. Terkatung-katung tak diperhatikan kadang memuakkan. Apalagi diinjak-injak penuh kotoran. Jiwa ion positif dalam dirinya marah. Keperkasaan telah sirna. Menjadi barang buangan tak bisa menemukan kekasih, jiwa ion negatif. Turun ke bumi. Ingin segera melengkapkan diri bersama kekasih di sela-sela perut bumi.

“Air, aku kehausan!” kataku.

“Minumlah aku. Memang aku tercipta untukmu,” Air membuka mulut. Unjuk bicara. Ramah. Sopan mempersilahkan.

“Bagaimana aku bisa meminummu? Kau tampak kotor dan menjijikkan.”

“Terimalah aku apa adanya. Aku seperti ini juga ulah kalian, man…

AIDS

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

“Momok yang pernah paling ditakuti adalah AIDS,” kata Ami memberikan ceramah, di depan sejumlah ibu kampung. “Keadaan kehilangan kekebalan pada manusia itu sampai sekarang belum ada obatnya.

Disepakati dunia sebagai pembunuh kejam akibat percaulan seks bebas. Akibat berganti-ganti pasangan dan melakukan hubungan seksual yang tidak wajar, khususnya di kalangan kaum homo. Penularannya yang lewat hubungan kelamin dan darah itu, kemudian merebak ke seluruh aktivitas manusia.

Tranfusi darah, jarum suntik dan kemudian di klinik gigi antara lain, menggerus manusia yang tidak pernah melakukan kontak jasmani aneh-aneh. Bayi yang tak berdosa pun tak urung langsung terlahir mengidap AIDS.”

“Tapi sesuai dengan pepatah, alah bisa karena biasa,”lanjut Ami menyambung ceramahnya, “karena terlalu sering didengung-dengungkan, telinga kita sendiri menjadi tebal dan tuli. Bahaya itu semakin lama semakin akrab dan akhirnya sekarang sudah tidak menakutkan lagi.

Dulu s…

Sajak-Sajak Dahta Gautama

http://www.lampungpost.com/
MENGGAMBAR ANGIN

mari hikmati bunyi angin
yang berputar di pucuk alang-alang.
ada yang terlempar dari waktu
yang terus meranggas.
Serupa hujan dan malam
ada hantu yang tak memiliki kaki
dan engkau terlempar dirimbunan angin
waktu terus berputar
dan janji yang telah kita ucapkan
disuatu senja
menjadi cerita basi.
mari menggambar angin
ketika sesungguhnya, hidup sekadar
menelusuri jejak gerimis

Lampung, 2008



MATI

Engkau tak pernah memahami arti
bunyi angin di halaman rumahmu.
Engkau juga tak pernah bisa memahami
makna taman yang gelap tak berlampu.
kunang-kunang, kelelawar dan lengkingan
anjing tak terdengar.
Engkau tak mungkin paham
bahwa tuhan pernah tak ada.

Lampung, April 2007



BELATI DI JAKARTA

Kau torehkan belati di pipiku
sebagai kenang-kenangan bahwa kita
pernah bertemu dan bersahabat
di Tanah Abang.
Aku menjadi bromocorah
karena ibu mengutukku.
tapi aku tak pernah menjelma batu.
Sampai pada suatu malam penuh angin
kita jumpa di Bongkaran
ketika itu kita bertengkar soal Tuti
pelacur yang k…

Sajak-Sajak Yopi Setia Umbara

http://www.lampungpost.com/
Surat untuk Seorang Aktris
:Utami Aditiawardani

Utami, jika kesunyian selalu menjemput
lalu menyeretmu pada ruang-ruang murung
dari keriangan panggung drama
yang membuatmu merasakan denyut kehidupan
izinkanlah aku menjagamu agar tetap riang
aku rela menyaksikanmu berperan sebagai apa pun
dalam naskah semesta yang sulit kubaca
juga rumit kumengerti ini
melihatmu menikmati hidup sebagai aktris drama
yang menjiwai rupa-rupa peran, sudah cukup bagiku
aku tak pernah menginginkan apa pun darimu
selain turut mencintai yang kau sukai
kesetiaanmu menempuh jalan drama, Utami
akan mengajariku rupa-rupa mimik, perasaan,
juga gestur segala duka bahagia manusia
begitulah, aku tak menonton rupa dan tubuhmu saja
dan jika kau kemudian pura-pura mencintaiku
sebagai penghayatan peran utama sang pecinta
aku masih tetap menyukaimu
seperti kau tahu hidup sudah sangat dramatis

2008



Seribu Bulan Malam

aku yang terhimpit ketegangan langit
mencoba memahami keheningan
dari seribu bulan yang memancar
pada sorot …

Sajak-Sajak Jafar Fakhrurozi

http://www.lampungpost.com/
Lelaki dengan Tubuh Cemas
: Lasya

lelaki itu, berjalan dalam mimpi
dari matanya percik-percik api mengalir
bagai sungai di musim kemarau, sepi
sebuah pagi adalah doa kekalahan
diayun langkah-langkah tipis dan cemas
di antara sajadah waktu tubuhnya debu
di dadanya menggumpal siasat
bahwa sekian abad yang hilang
bukanlah tidur kita yang panjang
maka percayalah, kelak tepi hari baik itu
di mana malam turun tanpa hujan
meminang petang terang benderang

Am, 2008



Rumah Gawir*

rumah ini, tempat kami sembunyi
dari raung mesin yang asing
di tepi gawir punclut yang resah
melesat jalan yang tajam
di sana iring-iringan pejalan
sabar mengukur sejuta tangga
orang-orang kerap terpeleset
gadis-gadis remaja yang manja
menggelar sahwat di dadanya
sepanjang wangi yang berhembus
kita tak henti-henti bermimpi
mengawininya sepanjang malam
saat malam, kami berbincang
tentang siang yang membakar
lalu kami ramalkan revolusi
sambil mengintip orang-orang
melintas pulang. lihatlah itu
tubuh-tubuh luruh ditelan subuh!

Am…

ALUR PEMIKIRAN KRITIK SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Tradisi ilmiah dan kehidupan intelektual di negeri ini, mesti diakui, masih centang-perenang. Para dosen dan peneliti kita terpaksa harus menggunakan kata nyambi dan cawe-cawe sekadar untuk menghidupi asap dapurnya. Meski begitu, masih banyak di antaranya yang tetap setia dan bertanggung jawab pada profesi. Mereka juga tidak melupakan peran sosialnya dengan bekerja dan berkarya. Bagaimana hasilnya, masyarakat yang kelak menilainya.

Dalam kondisi kehidupan ilmiah yang masih centang-perenang itu, sejak zaman Belanda hingga kini, kiblat dunia pendidikan kita masih saja ke Barat. Jadilah, suka tak suka, sistem pendidikannya juga berorientasi ke sana. Termasuk di dalamnya tradisi kritik sastra! Dalam lingkaran itulah, kritik sastra Indonesia ngulet, menggeliat, kemudian merangkak bangun.
***

Jika ditarik ke belakang, sesungguhnya tradisi kritik sastra Indonesia relatif belum bersejarah panjang. Meski begitu, praktiknya justru terjadi sejak awal ab…

Sebuah Kota, Sajak, dan Pembangunan

Y. Wibowo
http://kebunlada.blogspot.com/

ISBEDY stiawan Z.S. menuliskan artikel fantastis sekaligus miris dalam momentum Hari Ulang Tahun ke-322 Kota Bandar Lampung, 17 Juni 2004, berjudul "Kota tanpa Ruang Kontemplatif" (Lampung Post, 19 Juni 2004). Menurut penulis, dalam merefleksikan "kenangan yang berjalan", Bang Isbedy melihat Kota Bandar Lampung adalah sebuah sajak yang terdedah karena alam dan didedahkan sistem dan kebijakan. Namun, dari sisi wajah arsitektur yang dinamik dan problematik belum terungkap.

Memang hal ini bisa saja terjadi dan dialami setiap insan atau warga yang tinggal dalam satu komunitas/masyarakat di mana pun ia berhuni. Terlebih ungkapan-ungkapan perasaan akan kenangan dalam kurun waktu dan tempat tertentu, yang sekaligus dapat mengingatkan dan menghapus jejak ingatan kita.

Dapat diamati bagaimana dinamika kota dipengaruhi perkembangan masyarakatnya. Demikian pula sebaliknya. Artinya, perkembangan masyarakat terungkap dalam perkembangan kota.…

Pemberdayaan Sastra Indonesia

Putu Wijaya
http://putuwijaya.wordpress.com/

Sastra dalam pelajaran kesusastraan ketika saya masih belajar di sekolah menengah, didefiniskan lewat padan katanya. Karena sastra berarti tulisan, maka kesusatraan adalah segala tulisan yang indah. Yang kemudian langsung menjadi khazanah sastra adalah buku-buku karya fiksi dan puisi.

Tetapi sampai kepada istilah sastra lisan, pengertian tersebut menjadi sedikit bingung. Secara harfiah, sastra lisan berarti tulisan yang diucapkan. Mesti ada wujud tulisannya dulu, agar bisa diucapkan. Namun pada prakteknya sastra lisan sejak lahir sudah merupakan tutur yang bukan perpanjangan dari tulisan. Kemudian memang tutur itu ditranskripsikan ketika mulai diposisikan sebagai kekayaan budaya. Namun ketika ekspresi lisan itu dibekukan dalam bentuk tulisan, kenikmatannya berbeda. Ia tak menjangkau seluruh eksistensinya ketika masih lisan.

Sebagai seorang penulis, saya tak memandang sastra sebagai hanya tulisan, tetapi sebagai pengertian, sehingga ia bisa disa…

AJAR KEJUJURAN MENULIS DARI NUKILA AMAL*

Sutejo
http://thereogpublishing.blogspot.com/

Dalam jurnal Prosa4 ketika diangkat tema Sastrawangi, Nukila Amal, termasuk salah seorang yang tidak setuju dengan istilah sastrawangi. Sebagaimana wawancara dia di BBC London. Karya monumentalnya, Cala Ibi oleh beberapa pihak dinobatkan sebagai puncak karya sastra mutakhir. Hal itu paling tidak dikemukakan oleh Budi Darma dalam resensinya di Tempo bulan Juni 2003 dan Bambang Sugiharto, pengajar Pascasarjana Seni Rupa ITB yang menobatkannya sebagai karya yang tidak biasa, sebagai puncak sastra mutakhir (Prosa4, 2004:219).

Perempuan Ternate ini, dilahirkan pada bulan Desember 1971, dan menamatkan sekolahnya di Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung. Dia sempat berprofesi di industri perhotelan dan perusahaan keuangan. Apa yang menarik dari proses kreatif Nukila Amal, berikut merupakan refleksi dari surat tertulis yang dimuat Prosa4: (a) bahwa menulis itu bukan sesuatu yang mudah, (b) soal kualitas karya merupakan otoritas pembaca, dan (c) menaru…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com