Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

Din

AS Sumbawi

Perkenalanku dengan Din berlangsung kebetulan. Malam itu, aku pergi ke warung angkringan untuk mengusir kesuntukan setelah seharian duduk di hadapan komputer. Di sana, kulihat beberapa orang teman duduk melingkar di atas tikar di bawah pohonan. Mereka tampak terlibat dalam obrolan yang mengasyikkan sembari menikmati sebatang rokok dan segelas minuman. Tentu saja, aku bergabung dengan mereka setelah mendapatkan segelas wedang jahe dari si penjual. Tak lama kemudian, salah seorang teman memperkenalkan aku dengannya.

“Din,” katanya mantap dan percaya diri, kemudian meneruskan bicaranya. Sejenak aku pun tahu bahwa tema obrolan yang mengasyikkan itu tak jauh-jauh dari dunia kesenian. Sastra khususnya. Maklumlah, beberapa temanku yang ada di situ juga menulis.

Sungguh enak mendengar Din berbicara. Sistematis dan rinci. Apalagi wawasannya luas dan pemikirannya kritis. Sebenarnya, nama Din Ufriza tak asing bagiku. Karena tulisan-tulisannya kerap menghiasi rubrik sastra budaya di beber…

Tan Malaka, Sejak Agustus Itu

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

SAYA bisa bayangkan pagi hari 17 Agustus 1945 itu, di halaman sebuah rumah di Jalan Pegangsaan, Jakarta: menjelang pukul 09:00, semua yang hadir tahu, mereka akan melakukan sesuatu yang luar biasa.

Hari itu memang ada yang menerobos dan ada yang runtuh. Yang runtuh bukan sebuah kekuasaan politik; Hindia Belanda sudah tak ada, otoritas pendudukan Jepang yang menggantikannya baru saja kalah. Yang ambruk sebuah wacana.

Sebuah wacana adalah sebuah bangunan perumusan. Tapi yang berfungsi di sini bukan sekadar bahasa dan lambang. Sebuah wacana dibangun dan ditopang kekuasaan, dan sebaliknya membangun serta menopang kekuasaan itu. Ia mencengkeram. Kita takluk dan bahkan takzim kepadanya. Sebelum 17 Agustus 1945, ia membuat ribuan manusia tak mampu menyebut diri dengan suara penuh, ”kami, bangsa Indonesia”–apalagi sebuah ”kami” yang bisa ”menyatakan kemerdekaan”.

Agustus itu memang sebuah revolusi, jika revolusi, seperti kata Bung Karno, adalah ”men…

MENGUSUNG KECENDERUNGAN DAN MAINSTREAM ESTETIK

Tentang Tiga Antologi Cerpen Creative Writing Institute
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Siapakah gerangan penggerak di balik layar Creative Writing Institute (CWI), sebuah lembaga baru yang konon bergiat di bidang pelatihan penulisan kreatif. Barangkali CWI ini semacam sanggar yang membina kaum muda agar menekuni bidang penulisan kreatif. Pertanyaannya: apakah mungkin penulisan kreatif dapat dilatihkan macam kegiatan olahraga? Bukankah –sebagaimana anggapan sebagian besar masyarakat— menjadi penulis –sastrawan—memerlukan talenta dan bakat yang luar biasa? Jawabannya ada pada tiga buku antologi cerpen yang diterbitkan CWI, yaitu (1) Lantaiku Penuh Darah yang menghimpun tujuh cerpen karya Poniran Kalasnikov, Pangeran Gunadi, Sarno Sensiby, dan Muslim Adi Pamungkas, (2) Membaca Perempuanku yang memuat enam cerpen karya Maya Wulan, dan (3) Keluarga Gila yang memuat tujuh cerpen karya Hudan Hidayat.

Dari nama-nama itu, hanya Hudan Hidayat yang sudah kita kenal sebagai cerpenis. …

Puisi-Puisi Ahmad S. Zahari

LAGU ROHANI

melodi indah dengan dentingan yang berirama
mengalir membasahi syaraf menuju dua masa
jalan lurus penyembuhan mengalun mendermagakan
puisi tentang hidup, merapat ke jari-jari manis
menurunkan emas dan perak serta darah sebagai
bekal juga menyertkan tulang dan sendi untuk
menuju penunaian rukun kehidupan
bermuqaddimah dengan semilir sejuk angin senja
musim semi sebagai pembawa janji yang
terbawa untuk sehidup semati dan selamanya

bermunajat dengan lagu rohani untuk mengalirkan
arti dan makna.

Lamongan, 2006



KERAJAAN KATA

menyapa alam yang membawaku terbang
membumbung tinggi ke surga bidadari
kutelusuri di cela-cela perjalanan
dengan sepenggal kosa kata yang ada

bercengkrama dikelilingi dinding-dinding kokoh
berucap di bawah naungan atap menjulang
berkata di balik gerbang megah istanamu

masuklah ke kerajaan kata-kataku
kata-kata yang akan membawamu
menyibak hutan belantara bahasa
tubuhmu sendiri.

Lamongan, 2007



SENANDUNG BERSAYAP

berayun lembut tetes embun di daun petang
mengkristalkan …

FENOMENA PRESIDEN PENYAIR DAERAH SEBAGAI DAGELAN POPULER

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Tentu kita kenal presiden penyair Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri! Kredo Tardji yang fenomenal itu, meluas mempengaruhi banyak penyair. Dan kita mendengar pula, seperti presiden penyair Surabaya, presiden penyair Lampung, presiden penyair Cirebon, bahkan ada presiden anak jalanan, dan sebangsanya. Dari sini terpancang jelas pengaruh Tardji, dalam belantika kepenyairan di tanah air. Apa maknawi wewarna itu, pada kaitannya dengan pribadi seorang penyair?

Penyair agung ialah sosok yang menyerap banyak pengaruh, mengolaborasikan dengan kualitas dirinya, kemudian mengungkapkan kembali secara kreatif. Bahasa Tardji, disebut mengingat dan melupa. Semacam prosesi menghindari keterpengaruhan dari karya-karya agung, pada saat itu juga menghapusnya melalui kreativitas sendiri dalam bentuk karya “yang boleh jadi lebih kokoh dari karya yang mempengaruhinya.” Itulah kedirian penyair, dayadinaya hayatnya dalam kancah penerimaan sekaligus …

Cerita Pilu Kepulangan TKW

Judul Novel : Sumi; Jejak Cinta Perempuan Gila
Penulis : Maria Bo Niok
Penerbit : Arti Bumi Intaran, Yogyakarta
Cetakan : I Mei 2008
Tebal : 198 halaman
Peresensi : Sungatno*
http://cawanaksara.blogspot.com/

Pada 16 Agustus 2007, sebuah keluarga di Dusun Tanjung Kerta, Kabupaten Karawang, terlihat bahagia dan memendam banyak harapan. Pasalnya, keluarga itu merestui puterinya, Lamah, untuk bekerja di Taiwan sebagai TKW. Sayangnya, pada 20 Maret 2008, kebahagiaan dan harapan itu sirna seketika. Sebab, Lamah sudah tinggal nama dan jenazahnya dipulangkan pada 21 April 2008. Pahlawan devisa itu telah 'gugur' di Taiwan. Nasib Lamah telah menyusul puluhan nasib para TKI-TKW yang lebih dahulu 'gugur' dengan kasus yang tidak jauh berbeda. Tragis, itulah kisahnya.

Tidak jauh berbeda dengan nasib Sumi. Gadis remaja asal Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah (Jateng) yang hanya mampu menamatkan sekolahnya di jenjang SMA ini, pulang dari Hongkong sebagai TKW terjangkit cerita yang memilukan. Sumi…

Masa Lalu Sebagai Kenang-Kenangan

Haris del Hakim
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Berapa kali kaujenguk masa lalumu setiap hari?
Kenangan masa lalu selalu tampak indah dan senantiasa diingat dengan wajah berseri-seri, seakan alam semesta telah berubah menjadi alat musik yang hanya memainkan nada-nada bahagia. Meski perih dan luka tidak lepas dari satu kurun dalam kenangan itu, namun tak ubahnya nada improvisasi yang menambah merdu irama. Dan cerita tentang masa lalu lebih sering diiringi dengan tertawa dan bangga, apalagi bila terlibat di dalamnya sebagai pelaku.

Akan tetapi, saat sekarang yang sedang dialami dan dijalani menunjukkan bahwa dunia ini hanya hidup yang getir, pahit, dan luka yang tak kunjung sudah. Irama saat ini hanya lagu sendu yang sering menguras air mata, seakan tidak pernah mendapatkan satu tangga nada yang mampu membuat gembira. Semua peristiwa saat ini seakan tersedot dalam pusaran melelahkan dan membuat putus asa.

Sekali waktu muncul kesempatan menyenangkan dengan hadirnya rezeki, kabar ge…

BUNG TOMO, PAHLAWAN PENYAIR INDONESIA

Nurel Javissyarqi*
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Terlepas bapak presiden penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri berpendapat; “sebuah puisi besar pernah tercipta dalam sejarah bangsa ini.” Yakni teks Sumpah Pemuda, yang diumumkan pada tanggal 28 Oktober 1928 itu. Dan terlepas sebelum adanya istilah sumpah serapah, sumpah pocong atau lainnya. Telah bergaung kokoh keagungan Sumpah Palapa, yang dikumandangkan patih Gajah Mada, dari kerajaan Majapahit tanah Dwipa, yang tidak mungkin terhapuskan di bumi Nusantara.

Untuk menyatakan Bung Tomo sebagai Pahlawan Penyair Indonesia, ataupun Pahlawan Sastra Indonesia, di sini dihadirkan teks pidato beliau, ketika membakar semangat perjuangan rakyat di Surabaya. Yang tidak kalah mendagingnya dengan puisi-puisi besar yang berdarah-darah.

Maka semua pintu bisa dibuka, semua telinga boleh menyimaknya, tak ada istilah hanya penyair yang dapat jatah, semuanya dapat bagian serupa. Kecuali para pecundang yang membawa kabur harta negara, kecual…

Zilot

Goenawan Mohamad
http://www.tempointeraktif.com/

WOLE Soyinka tahu apa artinya diinjak dan bagaimana rasanya ditindas. Pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra tahun 1986 ini sekarang berusia 74. Ketika ia 31 tahun, orang Nigeria ini ditahan pemerintah selama tiga bulan, dan dua tahun kemudian, ia—waktu itu direktur Sekolah Drama di Universitas Ibadan—dipenjarakan karena tulisan-tulisannya dianggap mendukung gerakan separatis Biafra. Selama setahun ia disekap, antara lain di sebuah sel yang sesempit liang lahat. Karena protes internasional, ia dibebaskan. Tapi ketika Jenderal Sani Abacha berkuasa di Nigeria (1993-1998), Soyinka dihukum mati in absentia. Kesalahannya: ia membela seorang pengarang dan aktivis terkenal yang dihukum gantung.

Dari riwayat itu kita tahu, Soyinka tak akan berhenti menentang ”sepatu lars yang menindas”. Tapi kemudian sesuatu yang lebih opresif datang: fundamentalisme agama, terutama di tanah airnya. Bagi Soyinka, kini jadi tugasnya untuk ”melawan mereka yang memilih b…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com