Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2008

KRITIK SEORANG DARA PADA LELAKI ISENG

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

“Rumah Dara” adalah cerpen pertama Titis Basino yang dimuat majalah Sastra, No. 12, Th. II, 1962. Sebagai cerpen seorang pemula yang ditulis Titis dalam usia 23 tahun ketika ia menjadi mahasiswa FSUI, tentu saja cerpen ini tergolong mengejutkan. Bahasanya mengalir tenang, potret sosial yang diangkatnya barangkali mewakili kondisi anak dara seusia itu pada zamannya, dan emosi yang dihembuskan si tokoh aku, terkesan begitu arif dan matang. Sepertinya, tokoh aku dalam cerpen itu laksana seorang dewasa yang melihat teman-teman sebayanya berbuat sesuatu yang tak pantas menurut norma.

Secara tematis, cerpen ini mesti diakui, tidaklah terlalu istimewa. Sebuah problem sosial yang sangat mungkin bisa terjadi tidak hanya di kota-kota besar di mana pun, tetapi juga di pedesaan ketika masuk pengaruh luar. Oleh karena itu, tema cerpen ini sesungguhnya universal. Bagaimanapun, peristiwa semacam ini, mungkin pula terjadi kapan saja. Dalam hal ini, ketika s…

Balada-Balada, Suryanto Sastroatmodjo

BALADA WURAGIL BUGIL

I
Salam sejahtera bagi Yang Esa!
Salam sejahtera bagi Yang Tunggal
Aku berbenam antara sembur cahaya suminar
Aku mengacu bumi bulat tanpa seteru

Kembali pundakmu di hincit nyinyir
Walau relungmu berbuku-buku
Tapi santunan jauh dari kehendak kutub!

II
Maka porak-porandalah barisan bergenderang
tatkala senyap-serangan memilih landung
dalamnafas tualang. Dalam bibit-bibit sakit

Kegusaran merobek desa-desa sejuk
dan kemiskinan ada di pelupuk
entahkan rela tanpa bismillah, kawan
Wuragil Bugil melatah di palangan Cinta

III
Aku merasuki dentum-dentum perant dunia
kendati jaman yang rengkah belum terundur
dari proklamasi bapa-biyung. Tercabut syaraf lembutnya

Deram-derum airterjun di pesawangan
tengok Wuragil Bugil bersiram
Meraup bayu, menguncur lelehan getir
persis abad berlalu kembali terpapar!

IV
Esok pekan jadilah perjalanan kereta senja
kita bakal memungkasi fatwa musim. Berkah mukmin
ditawarkan oleh Wuragil Bugil, si senantiasa jujur
melempangkan aksara hidup sebagai keterbukaan angan

Maka…

Sedikit Perihal Estetik

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

MULA-MULA adalah kata. Jagad tersusun dari kata. Demikian menurut penyair Subagio Sastrowardoyo.

Namun saya percaya dan menyakini bahwa nenek moyang segala ilmu, juga tentu saja kata adalah mitos. Bahkan jauh sebelum kata-kata diperas, diperah sampai apuh beban artinya, mitos telah lebih dulu menyingkap makna sampai akarnya yang purba.

Saya percaya dan menyakini amanah pengarang itu terletak pada kemuliaannya untuk mengingatkan bahwa menghidupkan kata pada karya itu semulia kreasi Tuhan meniupkan ruh hidup manusia di semesta ini. Seperti laiknya kepada partikel atau gelombang abstrak selaput jagad.

Jadi kata itu seperti manusia juga. Seperti juga manusia, ia tahu bagaimana harus hidup, bercinta dan menyusun pikiran besar melunasi hasratnya pada alam cita. Tentu saja laiknya pengalaman batin, hasrat yang demikian sangatlah subjektif. Bagai sajak dalam aku lirik.

Saya meneropong sedekat mungkin manusia dengan sudut pandang aku dengan bahasa mereka sendi…

INTRIK PENYAIR DAN KARYANYA

(Ini hasil perasaan saja, andai saya seorang penyair. Dan jika benar istilah perasaan itu, awal daripada ilmu pengetahuan).
Nurel Javissyarqi*

Apa yang kalian impikan pada tinggi kepenyairan? (Goethe).
Puisi ialah masa-masa mati. Terhenti atas kekakuan dirinya yang telah terselubung kelenturan. Ia tidak bisa bergerak terlampau jauh, ketika “kata-kata” sudah mewakili kehadirannya. Maka penciptaan puisi, sejenis latihan bunuh diri berkali-kali.

Siapa yang mati di sana? Penciptanya, dipermalukan kejujurannya. Meski berselimutkan kerahasiaan, tetaplah ada keinginan untuk diketahui, difahami. Mungkin ini sisi lain kebinalan puisi sebelum mati, sedurung di kubur dalam keranda kata-kata.

Saya tidak hendak menghakimi. Ini realitas keindahan terbatas di muka bumi, sebuah musim bunga terhilangkan lewat gugurnya dedaunan atas musim berubah. Matahari yang kita nikmati, menciptakan hayalan, yang keinginannya terus bertambah dari dorongan naluri, dari kedalaman maksud jiwa.

Tapi siapa yang sanggup memeti…

JAKARTA INTERNATIONAL LITERARY FESTIVAL (JILFest) 2008

Sumber, http://www.jilfest.org/

Jakarta sebagai ibukota negara, pusat pemerintahan, kota internasional, dan berbagai predikat lainnya — yang melekat pada reputasi dan nama baik Jakarta yang merepresentasikan citra Indonesia — memiliki arti penting tidak hanya bagi warga Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat dunia. Artinya, posisi Jakarta sangat strategis bagi usaha mengangkat keharuman Indonesia serta menjalin kerja sama sosial budaya untuk memperkenalkan Indonesia dalam pentas dunia. Jakarta — yang juga dapat dimaknai sebagai miniatur Indonesia — dapat digunakan sebagai pintu masuk bagi masyarakat dunia untuk mengenal berbagai kebudayaan etnik yang tersebar di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, penting artinya mendatangkan masyarakat dunia ke Indonesia melalui Jakarta. Dalam kaitan itu penulis (sastrawan) sesungguhnya alat yang efektif untuk memperkenalkan dan mempublikasikan Jakarta ke masyarakat manca negara. Dalam hal itulah program Jakarta Internati…

Sajak-Sajak Liza Wahyuninto

Narasi Rindu

Tertunduk membungkuk kau memandangku
Beranikan diri kerlingkan indah dua bola
Tempat mengalir samudera

Aku terangguk dengar lima tanya berlalu
Walau tak berharap ada jawab terutara

Usah menunduk, sayang
Aku bukan dewa kaupun manusia
Tegaklah laksana alif
Biarkan ku menjadi hamzah di mahkotamu

Berlalu diri dalam tegap
Tanpa ada dawai mengalun
Pertemuan selalu sekejap
Selebihnya drama narasi rindu tak berkesudahan

May Ziadah tiada pernah bersua Gibran
Ia takut kelak kan jadi beban
Pertemuan terbaik adalah pertemuan mata
Karena di dalamnya tak ada dusta

Tahukah kau apa yang terjadi
Bila Rumi temukan Tabriz
Saat itu matahari mati dan rembulan padam

Tapi sudahlah,
Itu dongeng purba bagi pecinta
Laila sihir Qais jadi gila (majnun)
Rama pertaruhkan nyawa demi Shinta
Cleopatra bungkukkan lutut raja

Dan takluklah Nil ke tangannya
Kecantikan abadi ada di hati
Karnyalah mereka rela berkorban

Tanyakan pada hatimu
Sudahkah ada yang berkorban untukmu?

Tak mawar tak berduri

Malang, 18-19 Juli 2008



Aku Cinta

Aku takut me…

SEKOLAH MENULIS PADA GOLA GONG

Sutejo

Gola Gong adalah salah seorang pendiri dan pengajar Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) yang telah begitu banyak melahirkan penulis muda berbakat di tanah air (dan ini merupakan bagian mimpi besar hidup saya). Penting diketahui, tahun kedua sudah menerbitkan kumpulan cerpen Kaca Mata Sidik (Senayan Abadi, 2004), Qizin La Aziva melahirkan novel Gerimis Terakhir (DAR! Mizan, 2004) dan Ibnu Adam Aviciena dengan karyanya berjudul Mana Bidadari Untukku (Beranda Hikmah, 2004).Tahun kelima, karya tulis mereka beterbaran di majalah dan koran lokal Jakarta. Tiga antologi cerpen dari penulis angkatan pertama sampai kelima dipajang di rak-rak toko buku: Padi Memerah (MU3, 2005), Harga Sebuah Hati (Akur, 2005), Masih Ada Cinta di Senja Itu (Senayan Abadi, 2005). Tahun 2005 itu, kedua siswanya, Qizink La Aziva dan Ade Jahran merintis sebagai wartawan lokal Jakarta (lihat Gola Gong, Menemukan Ide, MataBaca edisi September 2005:36-37).

Ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari pengalaman…

Psikotik dan Penyair Psikotik

Muhammad Aris
Jawa Pos, 15 Juni 2008
Tanggapan untuk K.Y. Karnanta

Masih perlukah sebuah workshop penulisan sastra? Pertanyaan K.Y. Karnanta (JP, 25 Mei 2008) tersebut merupakan klaim yang gegabah. Klaim yang tak ubahnya sebuah kekesalan, rasa sakit hati, melihat sesuatu dari satu sisi saja. Karnanta kurang begitu memahami apa yang dinamakan dengan workshop.

Sejak dulu, workshop penulisan sudah ada. Perbedaan dari workshop saat ini hanya soal ruang. Pada era 70-an, Umbu Landu Paranggi di Jogjakarta mempunyai kelompok workshop yang terkenal dengan Persada Study Klub. Kelompok workshop tersebut melahirkan sastrawan-sastrawan berbobot seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Ashadi Siregar, dan banyak lagi.

Umbu dalam kelompok tersebut melakukan workshop secara langsung dan intens. Umbu menjadi seorang ''guru'' dan kemudian dikenal dengan gelar ''Presiden Penyair Malioboro''. Sebab, komunitas para penyair itu biasa mangkal di emperan Jalan Malioboro.

Era 8…

LORONG GELAP YANG MENGASYIKKAN

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Hamparan semangat menggelegak. Manakala ia tak dapat ditahan dan pecah, seketika itu pula ekspresinya muncrat berhamburan, bercipratan, menerabas apa pun. Lalu hinggap di berbagai tempat yang dijawilnya sesuka hati. Mungkin sama sekali ia tak bermaksud melakukan tegur-sapa, say hello, atau bahkan juga gugatan. Ia sekadar hendak merepresentasikan gumpalan kegelisahan yang lama bersemayam dan mengeram dalam kerajaan gagasannya. Boleh jadi ia lahir atas kesadaran, bahwa gagasan yang sekian lama dipenjara, bakal berakibat buruk pada denyar pikiran dan denyut batinnya. Mungkin juga ada kesadaran lain, bahwa tuhan tidak melarang makhluknya berkisah tentang apa pun. Bukankah tidak ada undang-undangnya yang menyatakan bahwa tuhan kelak akan menghukum manusia yang mengumbar imajinasinya bergentayangan ke berbagai wilayah imajinasi yang lain? Bahkan, sebaliknya, tuhan menempatkan manusia sebagai makhluk yang berada lebih tinggi derajatnya dari makhl…

BELAJAR MENULIS DARI DINAR RAHAYU*

Sutejo

Dinar Rahayu adalah sosok perempuan mutakhir yang beberapa tahun lalu dikukuhkan Nirwan Dewanto sebagai tokoh 2005 bersama Sitok. Dia adalah perempuan yang oleh MSNB.Com. dan situs Puisi.Net disinggung sebagai perempuan tradisonal berjilbab tetapi menguak seksualitas, dan karena itu, ia dikeluarkan dari sekolah di mana ia mengajar. Ia mengungkap aspek masokisme dan perilaku transeksual dalam bungkus mitologis Skandinavia. Menabrak tradisi?

Tentu, dan hal itu merupakan variasi lain dari menjamurnya tema-tema seksualitas setelah Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu, dan penulis perempuan lainnya. Meskipun demikian, dari realitas yang demikian ada hal menarik yang dapat dipelajari sebagai bekal kepenulisan awal. Bagaimana ia mengembangkan kepenulisannya? Hal berikut merupakan refleksi kritis dari akuannya dalam wawancara dengan jurnal Prosa4 (2004:186-189).

Dari pengalaman Dinar, ada beberapa hal yang menarik (a) menulis itu ya mengalir begitu saja, sedangkan prosesnya berjalan sesuai den…

MENGUAK JENDELA KEPENULISAN DJENAR MAESA AYU*

Sutejo*

Djenar Maesa Ayu, adalah sastrawan perempuan mutakhir yang tidak pernah ambil pusing dengan berbagai sebutan. Sebutan yang mengganggu sebagian perempuan itu adalah sastrawangi. Dalam Prosa4, 2004) terungkap bagaimana sisip-sisi proses kreatifnya yang menarik untuk dikritisi sebagai cermin ajar. Beberapa karyanya telah dimuat di beberapa surat kabar dan majalah seperti: Kompas, Media Indonesia, Republika, Lampung Post, Horison, dan Majalah A+.

Perempuan eksotik ini membersitkan beberapa hal yang menarik (a) bahwa dia menulis karena ada desakan untuk menulis (ekspresi jiwa), (b) belajar secara tidak langsung pada karya orang lain, macam Hans Christian Andersen, (c) karya itu refleksi zamannya, dan (d) menulis itu memeri hadiah untuk diri sendiri. Perempuan pengarang ini memang luar biasa, pengalaman hidupnya yang tidak “menguntungkan”, lahir dari keluarga perceraian, namun dia sangat bersyukur mampu merefleksikan pengalaman “kecilnya” ke dalam teks. Bahkan, dalam akuannya dengan D…

Meneropong Masa Depan Komunitas Sastra Jawa Timur

Liza Wahyuninto
Sumber, www.kabarindonesia.com

KabarIndonesia - Sejak munculnya beberapa sastrawan dan penyair dari Jawa Timur, saat itu pula Jawa Timur menjadi sorotan utama pengkajian sastra Indonesia. Diakui memang, bahwa Jawa Timur masih kalah dengan Yogyakarta yang hingga kini masih berada pada urutan pertama dalam hal sastra di Indonesia. Namun, diliriknya sastra Jawa Timur tidak menutup kemungkinan akan menggeser posisi Yogyakarta sebagai bumi yang banyak melahirkan sastrawan dan penyair Indonesia.

Dapat dikatakan bahwa kemajuan sastra Jatim tidak terlepas dari jasa sastrawan dan penyair yang pulang ke kampung halamannya yang kemudian memberi andil untuk melahirkan tokoh-tokoh baru dalam dunia sastra. Sebut saja, Emha Ainun Nadjib, D. Zawawi Imron, Ratna Indraswari Ibrahim dkk, mereka awalnya belajar sastra ke luar Jatim kemudian kembali untuk melanjutkan kiprah mereka di tanah kelahirannya. Kendatipun demikian, minat akan sastra oleh masyarakat Jatim juga ikut mendukung kemajuan …

D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern

Jamal D. Rahman
Sumber, http://jamaldrahman.wordpress.com/

Dia adalah manusia ajaib dalam khazanah sastra Indonesia. Dari mana datangnya penyair ini? Apa yang bisa menjelaskan bahwa dari Batangbatang, sebuah desa sekitar 20 km sebelah timur kota Sumenep, Madura, lahir seorang penyair penting Indonesia yang sangat produktif, tanpa pendidikan dan pergaulan intelektual yang memadai? Tidak seperti banyak pernyair Indonesia, D. Zawawi Imron tetap memilih tinggal di desa kelahirannya, tempat inspirasi bergumul dengan imajinasi yang kemudian diolahnya menjadi konstruksi estetis yang relatif memukau. Dalam hubungannya dengan kepenyairan Zawawi, yang paling penting dari desa kelahirannya mungkin kekayaan alamnya —kekayaan alam di mata seorang penyair. Sudah barang tentu terdapat hubungan kompleks antara alam desa dengan kepenyairan Zawawi, yang tidak mungkin direduksi menjadi sekedar hubungan kausalitas linear. Tapi apa pun bentuk hubungan itu, desa Batangbatang pastilah memiliki arti penting ba…

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com