Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2008

Puisi-Puisi Tjahjono Widijanto

Jurnal Nasional, 03, 08, 2008
BISMA

“telah kusediakan hari dan pengantinku sendiri…!”

desir pasir di gigir ini menyimpan rahasianya sendiri
ramalan musim berbiak sejarah melata di selakang waktu
memintal kembali tekstur buram rajah nasib lancip di urat nadi

tak ada waktu untuk kembali
seonggok jubah kelabu, mahkota terbelah
mengubur syahwat yang juga gelisah

jagat dalam tatapan lensa tua terbungkuk-bungkuk
menanggung riwayat larut oleh hujan
yang mendadak berubah lempeng logam

seperti memahat batu yang tak henti belajar beku
tafakur serupa bayang-bayang kastil purba
dalam tatapan letih mata malaikat tua
yang perlahan-lahan mendengkur

tak ada yang dapat dilakukan kecuali mentakzim sunyi
angslup ke dasar jantung dalam gelora gemuruh
sesaat setelah tabik terakhir
dalam sayatan yang juga terakhir

Ngawi, 2007



ARAFAH

entah siapa menyuruhku menghitung kembali tulang igaku, tetap saja hilang satu
berjuta yang lain juga mencari tak ketemu-temu sebelum pada senja yang mendekati gelap ia datang sendiri mengetuk pintu …

LELAP

Dewi Indah Sari

Malam telah tiba siang telah berlalu;
Jika malam telah datang, senja pun berlalu
melenyapkan mentari,
menenggelamkan ke ufuk paling purbawi,
munculkan bulan, menyinari seluruh alam.

Sejenak melepas semua yang ada dalam fikiran
rebahkan tubuh di tempat pembaringan
rasakan tidur, merasakan kebisuan malam.

Sunyi….sunyi….tiada suara …
tiada pembicaraan apapun. Lelap…
begitu nyenyak, tiada hal aku fikirkan;
ku sedang berada di bawa sadar penciptaan.

MASA ITU

Tri Nurdianingsih

Di sela kehawatiran
aku masih terbiasa memandangmu
bahkan dengan sebuah rindu.

Kini ku meratap sambil tatap ke segala jagad
hanya ku lakukan untukmu berjabat
hingga pagi ini kasih menanti
seperti tak kuasa hati berganti
pudar dari tali-temali pengikat hati.

Dan sungguh nalarku jua masih mampu
melabukan diam denganmu
mengganti hari, bulan serta harapan.

Akankah dirimu masih membayang?
Takkan ku biarkan semua jadi angan
karenamu kasih, aku masih mampu berdiri
meski tegak tanpa arti;

dan tenggelam menuai mimpi
berakhir bersama kenangan sepi
berkasih kini, ku labu sendiri.

RATAPAN SEORANG INSAN

Nurul Aini

Ketika cahaya bulan telah redup
ketika malam makin kelam, atau
sama disaat ilalang ditelan mentari
buat sinaran mata tak terpancar lagi;
seorang insan terlelap tiada daya
lukiskan impian-impian tanya.

Kehampaan terasa dalam jiwa
kesunyian pun mencekam kalbu,
dan sang waktu kian membisu;
ku tak tahu yang terjadi malam itu.

Raut wajah penuh noda, lalu ingin berkaca
namun cermin telah pecah berkeping
kepingan itu menyayat jiwa kering
hingga diriku terkapar di lorongan sinting.

DIALOG MALAM

Santi Puji Rahayu

Gemuruh ombak tak urung pecahkan karang
berbisik angin malam mengusir kesenyapan,
menutup tirai terang di lelap mimpi, ku terusik
ku buka jendela hatiku di tengah sepi, sejenak
berbunga rindu, harum mekar sungguh.

Ku berlari ke taman surga;
di depan mataku bercuci jiwa raga
usap lalu teteskan butiran cahaya.

Jauh dalam samudera sanubari
ku ucap salam nawaitu
ku ketuk pintu dua kali
kemudian terbuka lebar rahmat-Mu.

Terlepas bebaju duniawiku
ku pecahkan pepuing gelas derita dunia
ku tuang air kalbu, pasrah segenap jiwa raga.

Ku tanyakan segala solusi pada-Mu;
Akankah kau selalu iringi jalanku?
Jawablah segala kebisuan, kebodohanku
yang selalu paling tahu.

Tegakkan jiwa rapuh ini seperti langit-Mu
tinggi tanpa tiang, meski didera angin taupan.
Oh, temani hatiku, sedingin angin kelahiranku.

SETAN DI TENGAH INSAN

Lutfiah

Seiring detak lonceng terdengar
lantunan takbir, tahmid dan tahlil
menggema bersatuan adzan,
ingatku kewajiban seorang insan.

Sendiri sepuluh, seratus, seribu, sejuta
bahkan semuanya, telah membentuk shaf
untuk tunaikan sholat, namun tak kuasa
karena syetan. Kemudian mereka berkata:

“Wahai syetan, terkutuklah kalu
yang selalu halangi jalanku
untuk menuju rotasi kehidupan. Aku tak rela
atas semua perbuatanmu.”

Syetan pun berjawab senyuman
dan ngeloyor pergi tingalkan
yang masih terpaku
di atas sajadah kesucian.

31 mei 2006

LEMBAYUNG CINTA

Mia Arista

Andai ku dapat terbang ke langit biru
pastikan menangkap lega;
ku petik bintang yang ku puja
di dalam lamunan jiwa
lantas sepintas wajahmu melintas
hingga membuatku terjaga.

Daun lembayung menguak kisah
yang tak pernah ada di kisah;
Ku telusuri samudra biru
dari hitam jadi kelabu
getaran warna makin kuat
saat kau katakan cinta
dan debaran ini semakin kencang
kala kau terdiam membisu,
tatap wajah gemetaranku
mengukir parasmu,
tentang lebamyung jingga kan tumbuh.

AKU DAN KEHANCURAN

Aminah

Dunia masih enggan menatapku,
entah sampai kapan, saat ini masih sendiri.
Berjalan diriku tanpa sapa juga teguran.
Sepi, sepi ini jadi indah ternikmati
dengan deretan luka mencabik hati.

Kesendirianku menyenangkan
dengan dibayangi ejekan angin
menyempurnakan kehancuran cermin.

Sejarah Media dan Industri Kematian

A. Qorib Hidayatullah

Tak banyak yang diharapkan dihari itu. Seluruh sudut terkecil kota lengang, sepi, bercampur getir. Suasana itu konstruk media yang over gembar-gembor kematian H.M. Soeharto, mantan Presiden ke-2 RI. Minggu, 27 Januari 2008, Bapak Pembangunan tersebut mangkat selamanya keharibaan Tuhan. Seluruh media, baik elektronik maupun cetak berebut informasi saling mengup-date berita kematian Soeharto.

Dalam kolom-kolom media cetak tak kosong dari ulasan-ulasan obituari. Di TV beragam program reportase kematian Soeharto ditayangkan. Ada yang wawancara langsung kepada tokoh politik (Amin Rais), budayawan (Cak Nun), hingga aktivis mahasiswa 1998 (Fadjroel Rahman), dan banyak lainnya.

Selain itu, pampangan iklan disetiap media cetak maupun elektronik saling berdesakan untuk dimuat. Iklan tersebut terlansir bukan ihwal komersial produk atau promosi barang, melainkan iklan yang berisi garitan kalimat belasungkawa pada penguasa orde baru selama 32 tahun memimpin bangsa Indonesia.

Bahk…

Perjuangan Mengangkat Sastra Pinggiran

Musfi Efrizal*

Puisiku bukan batu Rubi ataupun Zamrud, Puisiku adalah debu, namun debu Karbala (Fuzuli, 1556)

Sastra jurnal memang jarang diperbincangkan oleh masyarakat pengkaji dan penikmat sastra. Hal ini dikarenakan sastra lebih populer lewat media koran atau buku (baca : sastra koran dan sastra buku). Tidak mengherankan jika muncul pernyataan “jangan sebagai seorang pengarang/pujangga/penyair apabila karyanya belum dimuat di koran”. Hal ini jelas sangat mendeskreditkan sekaligus melecehkan beberapa penulis yang berada di daerah pedalaman atau pinggiran.

Polemik sastra kota dan sastra pinggiran memang sempat didengungungkan, namun yang penting untuk disoroti adalah kualitas karya yang dihasilkan. Sastra pinggiran dengan segala kekurangannya bukan berarti kualitasnya rendahan, pun demikian meskipun sastra kota dengan segala hal yang dapat dijangkaunya dan didukung oleh upaya saling mengangkat nama di antara para penulis belum tentu karya mereka berkualitas.

Jurnal Kebudayaan The Sandou…

Agama, Bunuh Diri Hakekat dan Habermas

(Pentas Teater Keluarga ‘Alibi’)
Mashuri

Seorang lelaki di panggung, dengan setting: satu kursi, satu ranjang, sejumlah pakaian di gantungan, sekat ruang putih, juga tabir hitam. Ia berbicara sendiri, tentang siapa dan apa saja yang menyangkut soal korupsi. Ia beralibi tentang sikapnya, tentang pilihan hidupnya, tentang hubungan-hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, juga keluarga. Ia berbicara tentang harapan-harapan, frustasi, mimpi, juga ideologi.

Kesan itu mungkin yang terasa pertama-tama dari pementasan Alibi oleh Teater Keluarga di Fakultas Sastra Universitas Airlangga, 6 November 2004, Minggu Pon. Sepertinya tak ada yang menarik dari pementasan ini, kecuali nama-nama pekerja teater di belakangnya: aktor tunggal berbakat F Azis Manna, sutradara idealis S Jai, serta pemusik eksperimental Widi Asy’ari.

Tetapi Benarkah demikian?
Kegilaan! Mungkin itu kata-kata yang pertama harus diungkapkan terhadap penggarapan teater ini. Bukan hanya karena si tokoh berbicara sendiri dan identik…

Sajak Mardi Luhung

Bukit Onik

Dia, seperti yang aku kenal belasan tahun dulu, memang masih terlihat cantik dan enak digarap. Dan langkahnya yang berjingkat pelan, seperti menabuhi lantai. Membuat tirai bergoyang. Padahal, di antara pedang samurai yang pernah aku hunus, dia cuma menjawil. Lalu berseloroh tentang pertempuran yang tak pernah dilakukan. Tetapi selalu saja dirampungkan. “Kau, lelakiku, memang milik Adam. Selalu kisruh dan selalu merasa paling unggul," sambil terus berbalik dan hilang di hutan bambu yang penuh warna.

Dan di hutan bambu itu, aku melihat matahari turun dan terbelah sama persis. Yang satu mirip kuldi. Satunya lagi tak pernah aku kenal. Apa itu jamu atau tuba? Dan ketika menjilatnya, mendadak aku menjelma sekuntum teratai. Teratai merah menyala. Teratai yang di hari-hari ganjil mewarnai bibirnya. Dan membuat senyumnya begitu indah. Senyum yang kini telah menjadi milik bukit onik. Bukit onik yang goyang karena tertakik. Tertakik oleh sebaris taklimat: “Percayalah, dia selalu me…

Sajak-Sajak Liza Wahyuninto

Sebatang Dosa

Ingatkah kau saat kuajak
Intip sebatang dosa di bawah ketiak sampah
Kau terperangah seolah menyerah
Tak kau lanjutkan tuk sekedar berusaha

Tak dosa sebenarnya mencurinya
Toh, Aku menyarankan kau mengambil pembalutnya
Bukan batangnya

Sebatang dosa tak lebih hanya sekedar berludah
Kau keluarkan lagi lewat kepulan yang menyala
Cukuplah tuk menyambung ide yang tertunda
Takut kelak kan terlupa

Tak dosa sebenarnya mencurinya
Toh, Aku menyarankan kau mengambil pembalutnya
Bukan batangnya

Sebatang dosa yang kutunjukkan
Takkan terulang di ketiak yang sama
Jadi, tak perlu kau sesalkan
Jika ini menyisakan kisah belaka

Malang, 08 Februari 2008



Semuanya Berakhir Di Halim Perdana Kusuma

Teman datang silih berganti
Keluargalah tempat kembali

Empat tahun yang manis
Indah hari-hari
Kukirimi kau puisi di paginya

Empat tahun yang ku jaga
Berjelaga santunkan diri agar tak berlari
Membimbingmu menghulu agar segera ke tepi

Masih jauh penghujung tahun
Masih ingin ku bacakan puisi di pagi-pagi milikmu
Kau lirihkan “lupakan a…

Mengasah Genius Keprigelan Membaca Ekologis

A. Qorib Hidayatullah

Sejarah ibarat gelombang pasang yang siap menggulung siapa saja. Manusia bukanlah sepotong gabus yang setelah terombang-ambing dapat dengan mudah dihempaskan ke daratan dan menjadi sampah di pantai. Sejarah tentang unggulnya harapan di zaman bergelimang daya-dera yang menggilas. Sejarah yang gagal membikin manusia bertekuk lutut menyerah pada nasib.

Membaca adalah aktivitas niscaya. Agar masyarakat tak melulu dihantam dan dirundung masalah tanpa jeda, kegiatan membaca merupakan investasi mental. Yaitu, mental genius keprigelan masyarakat menggubah bahasa sekaligus mendalami refleksi (muhasabah) dengan bersikeras hendak mengubah tragika nasib hidup ini. Reading and writing is a basic tool in living of a good life (Membaca dan menulis merupakan salah satu piranti dasar kehidupan yang berkualitas)”, ujar Mortimer J. Adler.

Ayat suci yang kali pertama lahir dari rahim kitab universal, al-Qur’an, adalah kata Iqra’ (anjuran membaca). “Anjuran” Ilahi tersebut mengandung pr…

(Me) Revolusi Pendidikan Lewat Perlawanan

Judul Buku : Guru: Mendidik Itu Melawan!
Penulis : Eko Prasetyo
Penerbit : Resist Book
Cetakan : Pertama, Mei 2006
Tebal : xii + 206 hal
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*

Sepertinya tak dapat dipungkiri, kemajuan pesat sebuah bangsa atau negara disebabkan kemapanan bingkai sistem pendidikannya. Kedewasan berpolitik, majunya perekonomian, hidup berkesadaran sosial, dan budaya masyarakat - sangat sulit dilepaskan dari peran agung pendidikan. Satu contoh, mencuatnya kasus korupsi yang menyebabkan bangsa ini tertorehkan tinta hitam dunia sebagai koruptor rangking wahid. Serasanya, tak dapat dipisahkan dengan keberadaan pendidikan bangsa ini yang menggambarkan kegagalannya.

Kegagalan-kegagalan dalam bidang pendidikan, oleh Eko Prasetyo penulis buku ini, Guru: Mendidik Itu Melawan, cukup lihai dipotretnya. Meliputi, kebijakan kurikulum, pengelolaan guru, dan managemen pendidikan tidak luput dari amatannya . Dengan gaya eksplorasi ulasan yang mendalam dan ketajaman isi, buku ini memberikan angin s…

Dari Minder, Keblinger sampai Atos

Nurel Javissyarqi*

(I) Bagian pertama ini pernah dikorankan secara dadakan sekali terbit dalam acara DKL 2007, berjudul Lamongan Menuju Kota Buku dan sedikit ditambahkan. Yang kering-kerontang terbakarlah, yang basah tetap melempem. Oya sebelum jauh maaf, kiranya siratan perbahasaan ini tidak nikmat dikunyah, sebab guratan pena saya belumlah teruji media massa. Tapi diri ini tak hawatir, karena keyakinan kata-kata merupakan dinaya, yang sanggup menggempur kalimat teratur cepat dilupa.

Lamongan kelahiran saya, berpamorkan ikan bandeng dan ikan lele melingkari sebilah keris. Tahun 1993 saya meninggalkannya menuju kota Jombang, lantas pertengahan 1995 berhijrah ke Jogja, dan balik lagi ke Lamongan di tahun 2002. Entah bagaimana, saya lebih percaya diri jika di luar kota. Mungkin dikarena membawa beban identitas yang hilang (Sebelum kasus Amrozi dkk, kata Lamongan belumlah tampak di mata Nasional, apalagi Internasional. Entah ini berkah atau kutukan, atau sang penagih; sebab tak diberi ruan…

Puisi-Puisi Javed Paul Syatha

MUQADIMAH

menyapa-mu
aku aus
di dekap takdir

sampaikan salam ini pada lapis langit
jelmakan rintik hujan yang melebur segala kata
membingkis risalah magis kalbu
biar segala keheningan mengantarku

assalamu’alaikum bapa
aku datang sebagai anjing
berpijak di kegelapan purna
dan aku mencari jejakku di bulan
pada hijrah pada tubir mi’raj

biarkan hanya sunyi dalam keheningan jiwaku
seperti denting doa tak kumengerti
makin kalap kurapalkan
sunyilah menandaskan detik air mata
di tetes waktu

dari sendiri kau datang tanpa rupa dan bentuk
kau menjelma bukan cahaya dalam ketakberjasadanmu
wadag yang akan meleburkanmu dalam tafsir hijabku
o, kebekuan jiwa
terjebaklah pada wadagku yang nian absurd
menamaimu!

Lamongan, 2007



MUNAJAD

belum sempat ku eja puisi senjamu
daun kering tibatiba rontok di latar
rumahku yang penuh debu
seperti kau telah menyapaku
di selembar helaian itu

kekasih
gelap ini
kugenggam
munajad
serapuh
ranting
hati
dan embun yang basah
bertasbih
tanpa wadag
aku yang sesungguhnya

kunukil seayat malam
dari hati yang kosong
dala…

PERNIKAHAN DUA BULAN

Haris del Hakim

Purwani menjatuhkan dua butir jagung di atas tanah yang telah di-cebloki. Angin sawah musim kemarau yang panas menembus kain bajunya. Keringat menetes dari dahinya. Kulitnya yang sawo matang tampak semakin gelap mendapatkan sinar pantulan dari tanah yang coklat. Sementara itu, suaminya terus menjatuhkan batang kayu yang berfungsi untuk membuat lubang di atas tanah. Pandangan matanya terus ke bawah.

Mereka menikah dua bulan yang lalu. Bagi mereka bulan madu hanya berumur seminggu dan selebihnya adalah kembali bekerja, memeras keringat untuk mencukupi kebutuhan mereka sendiri. Tidak ada yang luar biasa dalam pernikahan. Seperti sendawa. Nafas berhenti sejenak kemudian mengalir kembali.

Sejak pagi mereka telah bekerja dan baru separuh lahan yang tertanami. Mereka seperti sengaja menentang panasnya matahari dan menakar kekuatan kulit kakinya. Kaki-kaki mereka yang telanjang terus melangkah.

“Ndalu, aku lelah,” ujar Purwani menyeka keringat di dahinya.
Pandalu menoleh ke belakan…

Melankolia

Javed Paul Syatha

Adalah Wisata Bahari Lamongan; disana ada hotel yang cukup sederhana untuk para pengunjung yang berdatangan atau sekedar ingin melepas lelah di tepi pantai beberapa waktu, meski sederhana, banyak orang bersepakat bahwa hotel itu cukup nyaman untuk dihuni. Ia terletak pada suatu ketinggian antara laut dan pusat pariwisata kota Lamongan: bagian utama terdiri dari tiga lantai dan ada sayap tambahan yang hanya satu lantai. Sebagian dari kamar-kamar menghadap ke arah laut yang memberikan pandangan indah kepada kota yang terletak sebagai cawan di pantai utara itu.

Sauqi berdiri di jendela kamar hotelnya di lantai dua sembari memperhatikan lampu-lampu yang gemerlapan di beberapa wilayah laut. Sebentar lagi matahari akan tenggelam, sebagaimana selalu terjadi pada bagian perjalanan masa. Ada perubahan warna yang ditimbulkan matahari dan yang memantul ke langit, kemudian awan yang datang berarak memberikan lanskap yang menggetarkan.

Ia berdiri gamang, merenungkan apa yang akan di…

GERAKAN BARU SASTRA LAMONGAN:

Catatan Singkat atas Forum Sastra Lamongan (FSL)
Haris del Hakim

Tulisan ini tidak hendak merekonstruksi sebuah gerakan secara komprehensif, namun sekadar mengambil salah satu sebuah gerakan halus yang terjadi secara simultan dan dapat disebut sebagai fenomena yang luar biasa. Selain dari itu, tulisan ini tidak menjamah ranah analisa karya yang memerlukan waktu yang panjang dan kajian lebih intens, tapi sekadar ulasan beberapa hal yang dapat dianggap penting.

Keberadaan sastra Lamongan patut mendapatkan perhatian. Sastrawan yang lahir dari Lamongan ikut mewarnai peta sastra Indonesia, sebut saja nama Satyagraha Hoerip, Djamil Suherman, Abdul Wachid BS, Viddy, Aguk Irawan MN, Mashuri, dll. Di samping itu di Lamongan sendiri sebenarnya nafas sastra telah mengakar kuat, sebagaimana yang pernah disaksikan sendiri oleh Emha Ainun Nadjib pada tahun 80-an. Geliatnya semakin kentara dengan kehadiran Harry Lamongan yang sebenarnya lahir di Bondowoso namun berdomisili di Lamongan.

Selama bertahun-t…

Sastra-Indonesia.com