Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2008

AKU HARUS BICARA, BAPAK!

Imamuddin SA

Dan, mungkin saat ini aku harus berbicara, Bapak! Membuka pintu gejolak batinku yang berteriak. Memberontak dalam kerangkeng jasadku. Aku ingin mengutarakannya secepatnya. Mungkin dengan jalan ini aku sedikit bisa merasakan kebahagiaan. Merasakan kebebasan. Menikmati kelegaan. Sakit rasanya.

Tapi aku masih ragu dengan keputusanku. Aku kalah dengan ketakutanku. Aku lemah. Ternyata, aku masih saja seperti kemarin. Diam. Memendam luka begitu dalam. Tidak, aku harus bangkit. Membangun keberanian untuk mengungkapkannya. Membuat jejak perubahan. Mengukir kebermaknahan. Paling tidak perubahan untuk batinku. Perubahan bagi diriku.

Seketika itu aku tersentak. Dan beranjak dari tempat dudukku. Berlari membawa segenap keberanian yang sempat lunglai. Menghampiri sesosok tubuh yang melintas di lensa mataku. Menelusuri remang malam berselimutkan kesunyian.

Saat itu, persis di antara kampungku dan kampung sebelah, aku menghadangnya. Menghentikan langkah kaki sesosok tubuh yang telah kukenal…

Puisi-Puisi Anis Ceha

Jala Hitam Robek Ujungnya

Kau tebarkan jala hitam pada benakku
Katamu suatu ketika pada kawan lama
Yang kau tinggalkan di ujung jalan pengap
Sebab hujan terlalu deras turunnya
Dan belum sempat kering uapnya pada tanah
Dan dinding-dinding di bahu-bahu pengap itu

Lalu menderu hatimu, meradang karang membentuk
Bongkah-bongkah yang airnya bebas berlarian,
Kemudian bersembunyi lantas menghilang bersama
Molekul-molekulnya

Jala hitam yang ada, katamu robek bagian ujungnya
Lantas kau sambung perlahan dengan sisa dukamu

“Aku tersenyum waktu aku menjahitnya, sebab kemudian
Mata air air di mataku tlah menguap bersama anganku yang
Kau hempas ketika belum sampai di tengah,
Jalanku…”



Lantas, kemudian…

Lantas, apa yang kuperoleh dari sebuah duka…
Sebab maknanya saja aku tak mampu menilai
Sebab wujudnya saja aku tak jua meraba
Karena terlalu lama aku mengejanya
Kemudian berbaur, melingkar, dan memudar
Kemudian…

Tarianmu yang kau suguhkan padaku
Terlalu indah dan gemulai, setiap geraknya
Namun sayang, indraku mulai hilang …

Puisi-Puisi Dadang Ari Murtono

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
TIGA BELAS FRAGMEN BUAT SINDHU

sepasang mata selebar piring berdiri di dada ibumu,
di kelamin ayahmu

1. Tidur
aku bermimpi menjadi sebatang pohon
dan saat terbangun
rambutku telah berganti daun-daun

2. Pertemuan
menuju muara
tubuhku mencair dan mengalir
mengikuti liku-liku tubuhmu

3. Keberangkatan
satu persatu orang-orang pergi
dan tubuhku tinggal gerimis

4. Handphone
jerit yang terus menyala
ijinkan aku tidur di relung matamu

5. Di Bawah Akasia
gerimis telah menjadi hujan
mari, berlindung di balik puisi

6. Bir
di riak busanya
tertulis norma, agama dan dunia
“mabuklah”

7. Kerinduan
pantatmu tercecer di lorong-lorong sunyi
yang membentang dalam tumpukan
puisiku

8. Doa
setelah berjuang melahirkan kata
aku ingin mati di rindang senyummu

9. Buka
segera siapkan pisau paling tajam
kita tikam lapar di ulu jantungnya
agar tuntas segala dendam
biar lepas segenap beban

10. Sendiri
masuklah ketubuhku
penuhi relung dan lorong
juga gang-gang sempit berbahaya
tak perlu sungkan atau malu
sekian lama ak…

Duel Dua Bajingan

Fahrudin Nasrulloh
http://www.suaramerdeka.com/

Di tebing jurang Wuluh di bukit Kumbang, onggokan mayat-mayat berserakan di mana-mana. Gubuk-gubuk padepokan lantak terbakar. Amis darah meruap, menjelma bebayang hantu ditelan asap dan menyarang pedat ke rongga-rongga batu karang.

Roh memayat beterbangan
Diterpa cahaya purnama
Yang lahir dan yang mati
Tinggal kisah di sekotak peti
Jadi kenangan esok hari

Malam terus merayapi rasa kelam. Tapi kobaran api kian menerbangkan lelatu kematian. Membubung tinggi. Hitam pekat berliuk-liuk. Bergulung-gulung bagai ribuan naga sanca yang berlesatan menerobos angkasa. Di atas purnama bersaput warna kuning jingga, kejahatan malam itu bak geriap ajal yang membelit bayangan pandangan mata durja.

Ia mendengus beringas. Tatapannya sangar. Mengoceh ngalor-ngidul. Congornya memuncratkan ludah banger. Baunya bisa semaputkan orang. Ia berjubah hitam. Bertubuh gempal. Tegap gagah, tampan. Tapi rautnya penuh parut bekas bacokan. Mengerikan dan angker. Omongannya n…

KALIBAKAR

Jurnal Kebudayaan The Sandour, III 2008
Azizah Hefni

Ribut. Teriakan sahut-menyahut. Suara serak beradu suara kecil di ruangan berselambu. Ada nyala televisi dengan volume tinggi. Belum lagi bunyi sirine kereta jalan. Semua bercampur dan siap pecah. Lantaran selambu kamar tak ada, pantulan mentari jadi meraja. Gerah. Tiap titik kegerahan menyimbolkan resah serta amarah. Tak tahan, perempuan itu membanting tasnya ke lantai dan berjalan mantap ke ruangan.

Seorang gadis remaja, anak sulungnya itu, mengisyaratkan pada sang ibu untuk tenang. Laki-laki mendelik. Suara gagaknya tertahan. Mata menyala api. Dan bocah di sudut ruangan—dengan kereta sirinenya—menatap lugu ibunya yang siap meledak. Ia segera mematikan bebunyian itu dan berlari ke halaman. Si sulung mengikuti adiknya keluar ruangan.

Kini hanya tinggal dirinya; si bungsu dan laki-laki itu. Remote masih dipegang keduanya. Alis menyeringai dari muka bapak dan anak. Keheningan dari sentakannya hanya sesaat saja. Setelah itu, si bapak meny…

SELAMAT JALAN MAS SUR

Jurnal Kebudayaan The Sandour III, 2008
Herry Lamongan

RPA Suryanto Sastroatmodjo dikenal sebagai pengarang sastra Jawa modern. Pernah mengasuh rubrik “Bokor Kencana” Harian Berita Nasional (Bernas), ialah rubrik tanya jawab tentang budaya Jawa. Penjaga gawang rubrik “Sampur Mataram” harian Kedaulatan Rakyat (KR) yang juga membahas masalah budaya Jawa. Dan mengetuai Paguyuban Macapat Selasa Kliwon di hotel Garuda Yogyakarta.

Bupati anom sifat kapujanggan Keraton Surakarta dengan gelar KRT Suryo Puspo Hadinegoro ini, telah wafat Selasa Kliwon 17 Juli 2007 pukul 10.00. Dimakamkan hari Rabu 18 Juli 2007 di Pesareyan Pakpahan, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Kepergian budayawan kondhang ini cukup mengagetkan berbagai kalangan. “Pada malam Selasa Kliwon beliau masih tampak menghadiri acara macapatan di Hotel Garuda,” ungkap Nugroho, salah satu aktifis kegiatan itu. Pemimpin Redaksi Harian Kedaulatan Rakyat, Drs.Octo Lampito juga mengaku terkejut mendengar kabar wafatnya Mas Sur. Lebih lan…

SELIR, OH…SELIR

Jurnal Kebudayaan The Sandour, II 2006
KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Omong soal selir, pikiran pastilah langsung istri banyak. Paling tidak lebih dari satu. Tetapi istri lebih dari satu pastilah selir? Inilah yang menarik untuk disimak dan diperhatikan. Itu adalah gejala yang ada di masyarakat, yang kadang mengundang pro dan kontra. Biasa, seperti halnya hidup itu sendiri mengundang pro dan kontra. Lantas bagaimana tentang selir di tanah Jawa ini atau khususnya di seputaran kalangan kerabat raja yang disebut ningrat atau priyayi yang sering dijadikan panutan masyarakat.

Masih ingat Douwes Dekker yang nulis Max Havelaar? Ia menyebutkan, ada empat hal yang dominan dalam kehidupan priyayi. Pertama, bahwa dalam kehidupan lahir-batin bangsa berkulit coklat (pribumi), para priyayi banyak yang ambigous atau mendua. Misalnya, di satu pihak setia terhadap Gubermen van Nederlandsch-Indie, di lain pihak haruslah setia pada raja atau ratu pribumi sendiri yang ketika itu dalam lingkungan Praja Kejawen …

WACANA KEKUASAAN PERWAKILAN KEBENARAN

Jurnal Kebudayaan The Sandour, II 2006
Haris del Hakim

Pendahuluan
Tulisan ini hanya sketsa ringan untuk mendekonstruksi wacana kita tentang ambisi kekuasaan yang mengatasnama-kan kebenaran (baca: dogma keagamaan) dan bagaimana mewujudkan dan mempertahankan cita-citanya tersebut. Seperti yang kita saksikan, pada saat ini muncul gerakan-gerakan yang mengatasnamakan kebenaran dan dengan itu merasa berhak melakukan berbagai macam tindakan untuk mewujudkan cita-citanya. Dan ternyata fenomena tersebut bukan hal yang baru di panggung sejarah panjang manusia ini.

Hancurnya Mitos Kekuasaan
Maha sempurna Allah telah menahbiskan Muhammad sebagai nabi dan utusan terakhir.
Kalimat tersebut sangat pendek, tetapi mengandung prinsip-prinsip yang luar biasa: Muhammad merupakan uswah hasanah, namun seiring perjalanan waktu penokohan tentang Muhammad pun mengalami pergeseran sehingga perlu verifikasi informasi agar tidak ada klaim yang paling berhak mengatasnamakan kebenaran atau mewakili Islam, hancurnya mi…

Karya Almarhum Suryanto Sastroatmodjo

dipetik dari Jurnal Kebudayaan The Sandour I, 2006

Balada Segelas Kahwa
Suryanto Sastroatmodjo

(1)
Aku tahu bahwa pahit
Teronggok dalam cangkir sukma
hanya menunggu bedug malam
dengan terompah kayu dan bersalam
Aku tahu risau nan kelam
menggelepar dalam kamar samar
dan tak kukenal seraut kenang
tatkala mengetuk pintu pertama

(2)
Mungkin adalah dendangsayang
dendang gebalau hari-hari cendawan
Sungguh, alangkah gawal
mendera ufuk tanpa sepeluk faal
Padahal bumiku punya pelatuk
juga bukan cancangan ufuk
bila lusa dituntut ujung telutsujud

(3)
Dengan mentari teramat pahit
aku gulung helai kain aksaramu
kendati kopi pun pahit. Cuma sehaluan
menyebut simpati pada bocah-bocah rimba
Aku menggapai sulur gadung
dan rebahan batang-batang lengkung
Tanda sebuah janji bakal pupus
ditunda oleh kemarau berpeluh

(4)
Dan alangkah sibuk dan suntuk
pedalaman benua di ini ufuk
Kala kita punya persinggahan barang dua bentar
seraya menengadah ke langit gumelar
Atau biar segelas kahwa panas
aku teguk dalam pahitnya gemas
Seraya mencari sesuatu…

Menikmati Sastra Lamongan

Judul Buku : Gemuruh Ruh; Antologi Sastra Lamongan
Penulis : Nurel Javissyarqi dkk.
Penerbit : Pustaka Pujangga, Lamongan
Cetakan : I April 2008
Tebal : 140 halaman
Peresensi: Sungatno*
Sumber: Jurnalnet.com

Dalam konteks pariwisata, seni, budaya dan sastra di Indonenesia, Bali, merupakan daerah di kawasan nusantara yang paling di 'anak emas' kan oleh Indonesia. Selain potensi alamiyyahnya yang memang mampu mempengaruhi tinggi rendahnya devisa Indonesia, Bali juga menjadi ikon Indonesia dalam mentransformasikan keIndonesiaannya terhadap masyarakat negara asing. Sehingga, tidak jarang ketika masyarakat asing apabila ditanya tentang Indonesia, mereka akan menyinggung tentang Bali. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, dalam mengenal Indonesia, masyarakat tersebut berangkat dari dikenalnya pulau dewata itu.

Pasca tragedi meledaknya Bom di Bali, 12 Oktober 2003 lalu, dengan gamang dan kekecewaannya, Bali terpaksa menggandeng 'saudara se-Indonesia-nya, yakni Lamongan, sebagai salah satu d…

Sastra-Indonesia.com